
''Kakak mau ke mana?'' Dinda meraih tangan Alan yang sempat memunggunginya, sepertinya ponselnya membawa kabar yang membuat Alan marah, itulah yang di baca Dinda dari wajah suaminya.
Dadanya yang sudah meletup letup terpaksa di balut dengan senyuman semanis mungkin di hadapan istrinya.
''Jangan tinggalkan aku sendiri,'' mencoba merayu suaminya untuk tidak pergi.
''Aku akan tetap ada di sini. Tapi kamu jawab yang jujur.'' Alan mulai menyelidik.
Dinda mengangguk tenang.
''Kenapa kamu bisa jatuh?''
Sebuah pertanyaan yang tak di inginkan Dinda, namun itulah yang meluncur dari sudut bibir suaminya.
Apa yang harus aku katakan, aku nggak mau kak Alan marah ke Mbak Syntia gara gara ini, melihat nasibnya saja aku kasihan, apa lagi kalau sampai kak Alan membencinya.
"Ayo jawab!" menekankan Dinda untuk membuka suara.
"Aku yang kurang hati hati," jawabnya bohong.
Sudah kuduga, kalau kamu pasti akan berbohong. batinnya.
"Apa nggak ada alasan yang lebih tepat dari pada kurang hati hati?" Nada menyindir dan menyelipkan rambut Dinda yang menutupi pipi mulusnya.
Apa kak Alan sudah tau penyebab aku jatuh. tapi dari mana, bukankah sebelum pingsan Mbak Syntia sudah meninggalkan kamar mandi.
"Kakak nggak percaya?" Dinda memiringkan tubuhnya memunggungi suaminya, alih alih ngambek.
Alan langsung naik memeluk Dinda dari belakang.
"Mau sampai kapan kamu menutupi kesalahan orang yang sudah mencelakai kamu, harusnya kamu itu jujur, dan aku tidak bisa membiarkan orang lain tertawa saat kamu harus terluka seperti ini." Celetuknya.
"Itu artinya kakak dendam," Dinda kembali kenghadap ke arah Alan.
Alan diam, itulah yang ingin di ucapkannya, namun ia tak bisa begitu saja berucap di depan Dinda, yang sudah pasti akan melarangnya.
"Maunya kamu bagaimana?"
"Biarkan saja, setiap orang memiliki hak masing masing, aku tau kenapa Mbak Syntia benci sama aku, karena aku sudah merebut kakak darinya. Kehadiranku membuat rumah tangga kakak dan mbak Syntia hancur, seandainya saja kita nggak saling kenal dan nggak di jodohkan, pasti kakak akan bahagia dengannya."
"Sudah selesai kumur kumurnya?" masih saja menggoda, padahal Dinda sudah merasa bersalah dengan apa yang menimpa mantan istri pertamanya.
"Mau sampai kapan kamu menyalahkan diri kamu sendiri, berapa kali aku harus bilang kalau perceraianku dengan Syntia tidak ada sangkut pautnya dengan kamu, dia selingkuh, dan bagiku itu tidak bisa di maafkan lagi." Alan mulai mendekati wajah istrinya. "Sudah, jangan merasa bersalah dengan apa yang menimpanya, dia saja nggak peduli dengan kamu, jadi aku mohon jangan pikirkan orang lain."
Tapi aku nggak bisa kak, meskipun dia sudah menyakiti aku, tetap saja dia pernah menjadi bagian dari hidup kamu, bahkan dia pernah menjadi ratu di hati kamu.
"Anak anak kemana?" tanya Dinda mengalihkan pembicaraan, Tak ada jawaban, karena Alan masih kesal dengan istrinya yang selalu saja membela orang lain.
"Kak, kamu nggak dengar?" imbuhnya lagi saat Alan pura pura cuwek.
Gitu saja marah.
Dinda menyibak selimut yang menutupi separuh badannya, tanpa aba aba wanita itu melepas infus yang menghiasi tangannya.
"Kenapa dilepas, kamu tau kan ini bahaya." Panik.
Alan segera memanggil dokter, khawatir dengan Dinda yang kini sudah turun dari ranjang.
''Bukan urusan kakak, mendingan aku pulang dari pada aku bicara dengan orang bisu.''
mengerucutkan bibirnya.
Baru saja ingin mengangkat tubuh Dinda, Pintu terbuka, ternyata Dokter dan suster yang datang.
Alan menoleh, begitu juga dengan Dinda yang merasa malu saat menatap seluruh keluarganya di belakang Dokter.
''Dok, lain kali kalau merawat anak kecil mendingan tangannya di borgol, biar nggak bisa sembarangan lepas lepas.'' Dinda makin malu dengan apa yang di adukan Alan.
''Untung bukan celana mas Alan yang di lepas.''
mendengar ucapan Dokter, semua hanya bisa terkekeh.
Bluuusss.... Dinda makin bersemu, ternyata tak hanya suaminya yang suka mesum, dokter botak di depannya juga bisa menggoda dengan ucapan absurd.
Ada ada saja, Dinda kembali ke ranjangnya dengan menggandeng tangan Alan.
Yang lain ikut mengintil di belakang.
''Sekarang bu Dinda sudah bisa pindah ke ruang rawat,'' Ucap sang dokter setelah beberapa menit memeriksa pasien.
Dengan tubuh yang melayang di perut Alan, kini Dinda sudah tiba di ruang rawat. tubuhnya makin merasa nyaman, dan perutnya juga tak merasakan sakit seperti saat jatuh.
''Kak, aku kangen sama anak anak.'' Rengeknya setelah Alan membaringkan tubuhnya di atas brankar.
''Nanti ya sayang, pasti anak anak kesini, kamu istirahat dulu, kesehatan kamu juga penting, jangan pikirkan apapun, mama itu takut sekali mendengar kabar kamu jatuh.''
''Maafin Dinda, ma, Dinda ceroboh.''
Lagi lagi Alan sibuk dengan ponselnya yang kini berdering.
''Sayang, aku keluar sebentar ya, biar mama yang jaga kamu.''
Pamit Alan mencium kening Dinda.
Sebelum keluar Dinda menggenggam tangan suaminya.
''Aku tau kakak mau ke mana, aku hanya pesan, jangan terlalu kasar sama dia, jangan dendam, ingatlah anak anak kita, aku nggak mau kalau sampai sikap kakak itu menular ke anak anak.''
''Tidak, aku hanya mau minta keadilan dengan apa yang menimpa kamu.''
Semoga kak Alan bisa meredam emosinya.
Tak mau terlambat, Dinda meminjam ponsel mama mertuanya untuk menghubungi abangnya.
Halo, Bu, sapa Faisal dari seberang sana.
''Ini aku Dinda bang, kak Alan pergi dari rumah sakit, tolong abang jangan biarkan kak Alan menguasai emosinya, jangan sampai dia membuat keributan.
Kamu tenang saja, aku akan jaga dia untuk kamu, aku pastikan Alan nggak akan berbuat macam macam.
Dinda menutup sambungannya dan bernapas dengan lega.
''Sebenarnya ada apa, kenapa kamu bilang seperti itu?''
Kini Dinda tak bisa berbohong lagi, ia menceritakan kejadian di mall yang membuat dirinya harus di rawat secara intensif. Baginya sang mama wajib tau dengan apa yang sedang menimpa dirinya sebenarnya.
Benar, buah tak jatuh dari pohonnya, Bu Yanti pun langsung terlihat marah mendengar pengaduan Dinda. Sama seperti Alan, wanita itu tak bisa menyembunyikan amarahnya dan langsung mengepalkan tangannya.
''Nggak jera juga ya perempuan itu, papa nggak bisa apa membuang dia di tempat yang jauh dari manusia, biarkan dia hidup dengan tarzan di hutan, biar nggak bisa mengganggu kehidupan menantu kita lagi.''
Bukan Syntia yang kena imbasnya, melainkan pak Heru yang kini harus menghadapi macan betina di depannya.
''Itu urusan Alan dan Faisal, bukan urusan papa, tapi kalau mama yang minta nggak apa apa, biar papa yang antar Syntia ke pulau, tapi papa nggak janji kalau papa pulang lagi.''
Seketika tas tangan Bu Yanti melayang di punggung pak Heru.
Amel dan Dinda saling mengukir senyum melihat tingkah kedua orang tua tersebut.