
Pancaran sinar mentari yang masuk dari sela sela jendela membuat Alan mengerjap, bukan lupa akan misinya, namun tubuhnya yang butuh istirahat sebentar dan mengembalikan energi untuk beraktivitas kembali.
''Tu, papa Sudah bangun.'' suara itu membuat Alan membuka matanya lebar lebar, bukan lagi wanita yang menemani hidupnya selama empat tahun yang di pandang, melainkan bayi mungil yang ada di gendongannya.
Seandainya Dinda yang menyambutku, aku pasti akan lebih bahagia.
''Anak papa juga sudah bangun.'' suara seraknya mengiringi saat beranjak lalu ke kamar mandi sebelum mendekati putranya.
Aroma wangi khas bayi menghiasi kamar Alan saat ini, meskipun bukan anak kandung, Syntia begitu menyayangi anak dari madunya.
''Mau ikut papa, nggak?'' mengambil alih putranya dari tangan Syntia.
''Mas, apa nggak sebaiknya kamu kasih nama sekarang?'' saran Syntia mengikuti Alan yang saat ini duduk di sofa.
Alan menggeleng tanpa suara.
''Kalau kamu nggak setuju dengan nama yang aku buat, sekarang kamu dong yang kasih nama,'' mode ketus, ''Masa iya sudah satu bulan lebih nggak ada nama buat Dia.' Kini Syntia semakin sewot dengan sikap Alan yang akhir akhir ini cuwek dengannya.
''Aku nggak akan kasih nama sebelum Dinda kembali.'' tegasnya.
Seketika Syntia menoleh, tatapannya penuh tanda tanya yang akan di ajukan.
''Kembali? maksud kamu apa, bukankah kamu ingin menceraikannya?'' tanya Syntia memastikan ucapan Alan yang baru saja terlontar.
''Aku tidak akan menceraikannya, dia akan tetap menjadi istriku dan akan menjadi Ibu dari bayinya.'' jawab lagi Alan.
Sialan, apa mas Alan mulai mencintai wanita itu, apa dia akan menyingkirkan posisiku yang tidak punya anak, apa kehadiran bayi ini akan membuat cinta mas Alan surut padaku.
Rasa takut mendominasi dengan marah, itu kini menguasai hati Syntia yang masih setia duduk di samping Alan, wanita itu berfikir keras untuk tetap menjadi satu satunya istri yang dicintai suaminya.
Syntia memilih diam, namun pikirannya berkelana mencari cara untuk tetap berada di hati Alan seutuhnya.
Di saat suasana hening, tiba tiba saja bayi mungil itu menangis sembari mencengkeram baju Alan.
''Cup... cup... cup.. anak papa kenapa ini, haus ya?'' meraih botol susu yang baru saja di antar Bi Romlah.
Tak seperti biasanya yang langsung membuka mulut, bayi itu malah makin histeris dengan mata terpejam.
Syntia yang tak tega itu ikut mendiamkan bayinya yang masih mengeluarkan suara emasnya.
''Mas, badannya panas.'' ucap Syntia menempelkan punggung tangannya di kening sang bayi.
Alan ikut menempelkan pipinya di jidat bayinya, ternyata apa yang di katakan Syntia benar.
''Kita bawa ke rumah sakit.'' Dengan keadaan panik Alan langsung saja keluar dari kamarnya, sedangkan Syntia menyiapkan barang bawaannya.
Tak perlu banyak waktu Alan mendekap tubuh mungil itu, meskipun beberapa kali Syntia mencoba mengambilnya namun pria dengan kekhawatiran yang begitu tinggi itu tak mau melepaskan bayinya.
"Pak cepetan dikit!" titahnya pada pak Tedi.
Untung jalanan tidak macet dan itu membuat Pak Tedi lebih tenang karena nggak kena marah oleh bosnya.
Sesampainya di depan rumah sakit, dengan keadaan yang hanya memakai kaos oblong dan celana pendek Alan dengan bayi di gendongannya itu berlari menuju ruangan Daka.
Belum sampai di depan pintu, Alan mendapati Dokter sekaligus sahabatnya keluar dari ruangannya itu berlari kecil menghampirinya.
"Kenapa dengan anak kamu?" tanya Daka panik.
"Badannya panas, nafasnya sedikit sesak." ucap Alan, karena itu yang dari tadi di lihatnya saat di mobil.
"Kenapa bisa seperti ini?" tanya Daka lagi memasang alat pernapasan di ruangan itu.
"Aku nggak tau, tiba tiba saja dia seperti itu, padahal semalam belum." jawab Alan merasa bersalah dengan apa yang terjadi dengan anaknya.
Setelah Dokter Karlina datang, Alan keluar dan menunggu di depan ruangan, tak lupa pria itu menghubungi mamanya, takut di salahkan.
Selang beberapa menit dengan hati yang sangat kacau Alan mendongak saat Daka keluar dari ruangan itu.
"Gimana keadaan anakku?" tanya Alan meminta kepastian kondisi bayinya.
Daka menyela nafas panjang.
"Dokter Karlina sedang berusaha, mudah mudahan dia baik baik saja." menepuk pundak Alan.
Sedih, itu pasti, apa lagi suasana hatinya yang sangat kacau karena permasalahan Dinda, namun Alan hanya bisa menerima musibah yang lagi lagi menerpanya.
"Kamu yang sabar, berdoa saja, apapun yang terjadi, itu sudah takdir." lagi lagi Daka menyemangatinya.
Alan menarik tangan Daka yang hampir saja melangkahkan kaki meninggalkannya.
"Ada apa lagi?" Daka menoleh menatap tangan kekar Alan.
"Kamu tau kan, keberadaan Dinda?" celetuknya.
Daka mengangguk, "Tau, tapi maaf aku tidak bisa memberi tau kamu."
"Kenapa, anaknya butuh dia saat ini, apa nggak sebaiknya dia datang kesini?"
Sebuah tamparan dari sang sahabat mendarat di pipi Alan tanpa permisi.
Pria itu terpaku, ini pertama kalinya Alan melihat Daka marah, dan ini pertama kalinya pria itu berani menamparnya, apalagi di depan umum.
Maafkan aku Al, tapi kebodohanmu tidak akan hilang jika aku masih saja diam.
''Kamu fikir dengan Dinda melihat keadaan anaknya seperti itu akan baik baik saja, Kamu jangan bodoh Al, saat ini Dinda juga butuh perawatan yang intensif, bahkan aku sebagai seorang dokter sangat miris melihat keadaannya, lebih baik dia tidak melihat anaknya dari pada harus lebih menderita.'' ungkap Dokter Daka.
Alan hanya diam mendengarkan ucapan Daka, hatinya ikut merasakan sakit setelah mengetahui keadaan Dinda meksipun belum pasti.
''Kalau begitu sekarang kamu katakan, apa yang harus aku lakukan supaya Dinda sembuh!"
Daka menggeleng, karena ia pun belum tau langkah yang akan di ambil selain memberikan perawatan yang terbaik.
Perdebatan kecil itu mengundang perhatian bagi yang melintas, namun Alan sudah tak punya rasa malu lagi, yang terpenting saat ini adalah istri dan anaknya, sedangkan Syntia hanya menyaksikan dan duduk di belakang keduanya.
''Untuk sekarang kita harus fikirkan bayi kamu, mudah mudahan dia cepat smebuh.''
Daka meninggalkan Alan yang terlihat linglung dan tak tau harus berbuat apa selain berharap yang terbaik untuk keduanya.
Baru duduk bebepara menit, Bu Yanti dan pak Heru datang, wanita itu langsung mendekati pintu melihat dari kaca kondisi cucunya yang saat ini di penuhi dengan peralatan medis.
''Kenapa dengan cucu kita, pa?'' menggoyang goyangkan lengan pak Heru yang juga menatapnya.
''Bagaimana bisa seperti ini, Al?'' kali ini Bu Yanti mendekati Alan yang bagaikan tubuh tanpa roh.
''Mama tenang dulu, kita tunggu dokter, dan papa akan mencari dokter terbaik untuk menyembuhkan penyakitnya.''
Apa semua ini karma untuk aku yang sudah menyakiti Dinda, apa aku akan kehilangan Dinda untuk selama lamanya, tapi aku ingin dia kembali.