
Tak hanya menyampaikan pada suaminya, Dinda pun memberi tau sang mama dan papa mertuanya langsung, tak mau lewat telepon baginya ini juga penting, untuk memberi sebuah kejutan Bu Yanti yang sudah meng idam idamkan seorang cucu tiga tahun lamanya.
Baru juga datang, Dinda sudah di sambut dengan pelukan hangat, tak hanya itu, Bu Yanti dan Pak Heru pun merasa bahagia, tak bisa di ungkapkan dengan kata kata, kedua orang tua Alan itu hanya bisa bersyukur dengan anugerah yang di berikan Tuhan.
''Mama bahagia nak, merengkuh tubuh Dinda dengan erat, namun tetap merenggangkan bagian perut yang sudah makin menonjol.
''Papa juga bahagia, terima kasih ya nak, kamu sudah memberi hadiah yang begitu berharga untuk keluarga ini.'' ucap Pak Heru.
''Apa Alan sudah tau?'' tanya Bu Yanti.
''Tadi aku sudah kasih tau Kak Alan ma, dia juga bahagia, jawabnya, meskipun Dinda tak melihat itu yang pastinya itulah jawaban yang menurutnya tepat.
''Ma, kapan Ibu dan bapak ke sini?'' tanya Dinda sedikit merengek karena kangennya sudah tak bisa di bendung lagi.
''Bentar lagi, dua bulan lagi Ibu dan bapak kamu akan di jemput.''
''Lama, masih kekeh ingin bertemu kedua orang tuanya.
Bu Yanti mengelus pucuk kepalanya masih juga melihat Dinda yang seperti di landa kerinduan, Akhirnya Bu Yanti menuruti permintaan Dinda.
''Ya sudah, besok pak Sujad akan jemput Bapak dan Ibu kamu, menenangkan Dinda untuk tidak cemberut lagi.
''Ma, aku langsung pulang ya, biasanya jam segini Kak Alan sudah pulang.
''Biar mama dan papa yang antar,'' meraih ponsel yang ada di meja, Pak Heru yang sedari tadi duduk ikut beranjak menghampiri keduanya.
Tanpa penolakan Bu Yanti dan pak Heru mengantar Dinda pulang.
Setibanya di rumah, Bu yanti yang masih dihiasi senyum itu langsung turun, begitu juga dengan pak Heru.
Namun kali ini pandangan Bu Yanti makin melebar saat menampakkan mobil baru yang ada di garasi.
''Bentar ya, menghentikan langkah Pak Heru yang hampir saja menuju teras.
''Suami kamu beli mobil baru?'' tanya Bu Yanti menatap wajah Dinda.
Wanita yang sudah lima bulan menikah dengan putranya itu hanya mengangguk.
''Kenapa tipe perempuan gini, untuk siapa?'' tanya Bu Yanti lagi penasaran.
Dinda diam, tak tau harus jawab apa, apakah jujur lebih baik, ya sepahit apapun kenyataan, lebih baik jujur dari pada berbohong, apa salahnya?
Karena mendapat tatapan yang penuh harap akhirnya Dinda buka suara.
''Itu mobil Mbak Syntia, hadiah ulang tahunnya,'' jawabnya sedikit ragu takut kalau Bu Yanti marah.
Benar saja, Bu Yanti terlihat ber api api saat mendekatinya.
''Terus dia belikan apa untuk kamu?'' tanya Bu Yanti penuh dengan penekanan.
Gimana ini, jalan jalan aja waktu itu nggak jadi, bagaimana kalau mama tau aku nggak di belikan apa apa, apa mama akan marah sama kak Alan.
"Aku-nya yang nggak mau ma,'' jawabnya meyakinkan Bu Yanti untuk tidak membahas masalah yang sudah lalu.
"Sekarang kita masuk!" menggandeng tangan Dinda.
Saat membuka pintu, Bu Yanti langsung menatap Alan yang duduk berduaan dengan Syntia, karena terkejut keduanya menghampiri Bu Yanti dan pak Heru yang masih mematung di ambang pintu.
"Mama, mengulurkan tangannya, namun seketika itu Bu Yanti menepis tangan Alan.
"Kamu kasih kado apa untuk Dinda?" cetus Bu Yanti tanpa basa basi, sedangkan Dinda hanya menunduk dan menautkan kedua tangannya.
Pak Heru memilih untuk pergi ke ruang keluarga membiarkan istrinya untuk menghakimi anaknya.
Alan melirik Dinda, seakan penuh tanya dengan kemarahan mamanya.
"Jawab!" bentaknya lagi menegaskan.
''Ma, aku yang nggak mau kado dari kak Alan, jadi mama nggak perlu marah marah, Dinda menggeser tubuhnya dan mematung di depan Bu Yanti.
''Tolong kamu jangan bela dia lagi, mama tau kalau dia itu memang belum terima kamu sepenuhnya, tapi nggak gini juga caranya, Bu Yanti masih dengan wajah yang merah padam.
''Ma, ini urusan keluarga Dinda, jadi Dinda tau apa yang seharusnya Dinda lakukan, Berulang kali Kak Alan sudah menawari Dinda kado, tapi Aku yang nggak mau, masih kekeh untuk meredakan sang mertua yang dadanya mungkin sudah meletup letup.
Bu Yanti menghela nafas panjang.
''Baiklah, demi kamu mama tidak akan ungkit masalah ini, memegang kedua lengan Dinda.
''Tapi, sekali lagi mama lihat Alan tidak adil, mama sebagai orang tua akan pastikan kalau dia akan menyesal karena sudah menyia nyiakan kamu, ingat itu,'' menunjuk wajah Alan yang makin menciut, bahkan laki laki itu tak mampu mengeluarkan sepatah kata pun karena bibirnya merasa keluh.
''Sekarang kamu istirahat ya, mama pulang.'' memeluk dan mencium kening Dinda.
''Din, Papa pulang ya, Al ingat apa kata mama kamu, setiap ibu pasti akan mendoakan yang terbaik untuk anaknya, tapi jika dia sudah murka papa pun tidak bisa menghalanginya.''
''Iya pa,'' jawabnya seraya mengepalkan tangannya.
Entah kenapa bukan hanya Bu Yanti, kini pak Heru pun tidak terlalu suka dengan sikap Syntia yang makin angkuh saja.
Seperginya Bu Yanti dan Pak Heru, Dinda kembali masuk dan menghampiri Alan dan Syntia yang masih mematung.
''Puas kamu sudah membuat mama marah, ucap Alan mengeratkan giginya.
''Maksud kakak apa?'' tanya Dinda.
''Kamu sudah ngadu kan sama mama kalau aku nggak kasih kado?'' ucapnya lagi.
''Aku di lahirkan bukan untuk menjadi tukang ngadu, kalau mama sampai tau, itu karena kecerobohan kakak sendiri, jadi aku rasa kakak jangan fitnah aku, dan kalau aku mau, aku juga punya rahasia besar yang belum kakak ketahui, ingatlah sekali kakak menindasku, semua akan terbalas, dan setiap tetesan air mataku akan ada imbalannya,'' tanpa rasa takut Dinda langsung melangkah melewati Alan dan Syntia.
''Kamu lihat kan mas, makin lama istri muda kamu makin kurang ajar saja, mentang mentang dia dapat dukungan dari mama, seenaknya dia berani sama kamu, ucap Syntia melipat kedua tangannya.
Dinda menghentikan langkahnya dan menoleh.
''Maaf ya kak, aku kira omongan Mbak Syntia salah, bukan aku berani sama kakak, dan bukan maksud aku untuk melawan kakak, tapi aku ingin kakak membuka mata, karena diam diam sudah ada yang lebih berani menikung di belakang kakak.'' menegaskan Alan untuk sadar dengan mata hatinya yang buta.
Syntia langsung membulatkan mata menatap Dinda yang malah tersenyum.
Apa maksud Dinda, kenapa dia bilang seperti itu, apa yang di maksud hubunganku dengan Rey, tapi dari mana dia tau, bukankah selama ini dia di rumah, gawat, aku harus bilang sama Rey untuk tidak ketemuan, dari pada harus panjang urusannya.
Jika Syntia harus bergulat dengan otaknya mencari cara untuk menjaga jarak dengan pria yang bernama Rey, Alan masih menerka dengan maksud yang di ucapkan Dinda, meskipun masih ingin bertanya, namun itu di urungkannya dan tak mau ambil pusing.