Kesabaran Istri Kedua

Kesabaran Istri Kedua
Kesepakatan


Seperti ucapannya saat di telepon, Syntia pun datang ke rumah sakit untuk menjenguk Dinda. Meskipun bukan itu alasan utamanya, yang pastinya wanita itu tetap bersikap ramah di depan mama mertuanya, tak mau membuat masalah, apa lagi di sana ada keluarga Dinda juga.


Mau ngapain dia datang kesini?


Bu Yanti memilih untuk menghindar dari pada harus beratap muka dengan menantunya tersebut, dan itu tersorot oleh Bu Tatik. Sedangkan Alan menemani Syntia yang sedikit canggung untuk bertemu dengan Dinda.


''Gimana keadaan kamu?'' tanya Syntia mematung di samping brankar madunya.


Dinda tersenyum dan meraih tangan Syntia.


''Aku baik, terima kasih Mbak sudah sudi untuk datang kesini.'' kali ini Dinda kembali menatap keluarganya yang masih ada di ruangan itu, tak mungkin jika ia mengatakan rencananya saat itu, pasti mama mertuanya dan ibunya tidak akan mengizinkan nya.


''Ma, Bu, ini kan sudah malam, apa kalian nggak ingin istirahat?'' ucap Dinda mencari alasan untuk bisa bicara bebas dengan Syntia dan Alan.


Semua menilik jam, dan ternyata benar, se khawatir apapun mereka juga butuh istirahat sejenak.


Bu Tatik yang tau akan ucapan putrinya itu langsung keluar dengan yang lain, kini di ruangan itu tinggal Alan dan Syntia serta Dinda, Faisal pun ikut keluar, baginya ini adalah urusan rumah tangga adiknya, dan Faisal yakin kalau Dinda bisa memutuskan perkaranya.


''Mbak.'' Cicit Dinda, Alan yang ada di sampingnya itu membantunya untuk bangun.


''Anak aku sudah lahir.'' menggenggam kedua tangan Syntia.


''Dan aku harap Mbak bisa menjaganya dengan baik.'' mulai terbata.


Alan diam masih mengikuti alur pembicaraan istri mudanya.


''Aku akan bercerai dengan kak Alan, dan aku akan menyerahkan bayiku untuk Mbak, Dinda yang tak kuasa menapung air matanya itu pun menitihkannya.


''Maksud kamu?'' seru Syntia memastikan.


Aku harus kuat, aku harus rela anak aku di asuh olehnya, dan aku akan pergi bersama kenangan pahit ini.


''Anak aku akan menjadi anak Mbak dan kak Alan, dan aku akan pergi dari kalian.'' ucap Dinda menjelaskan.


Tanpa fikir lagi, Syntia langsung memeluk tubuh Dinda.


''Jaga dia dengan baik seperti anak kandung Mbak sendiri, dan mbak akan menjadi satu satunya istri kak Alan, kalian akan bahagia seperti dulu, sebelum aku hadir.'' Dinda meraih tangan Alan.


Semoga keputusanku ini adalah yang terbaik, bukan cuma buat kalian tapi buat anakku juga.


''Maafkan aku yang selama ini selalu kasar sama kamu Din,'' ucap Syntia, kini wanita yang sudah di katakan mandul itu bahagia karena sebentar lagi akan mempunyai anak dari madunya, meskipun bukan anak kandungnya setidaknya itu adalah darah daging suaminya.


Alan yang sudah merasa tak betah dan ingin mengungkapkan isi hatinya itu pun menatap Syntia.


''Syn, kamu bisa kan keluar sebentar, aku ingin bicara sama Dinda.'' ucap Alan.


Syntia mengangguk.


'' Sekalian aku mau jenguk anak kita, setelah itu aku langsung pulang.'' ujarnya diiringi dengan senyuman.


''Kakak mau bicara apa, kalau soal perceraian abang yang mengurusnya, kakak tenang saja, aku tidak akan minta harta gono gini,'' cetusnya tanpa menghadap.


''Apa kamu yakin dengan keputusan kamu?'' seolah olah tak percaya dengan ucapan Dinda.


Dinda mengangguk, ''Aku yakin, aku tidak mau menjadi yang kedua lagi, dan aku ingin hidup tenang, sudah cukup sembilan bulan aku hidup menderita, tanpa kasih sayang dari seorang suami, dan itu sangat menyakitkan.'' Sekuat mungkin Dinda menyembunyikan kelemahannya, meskipun ada tetesan bening di pipinya, wanita itu masih berusaha untuk tersenyum.


Setelah puas menatap tembok, kini Dinda beralih menatap wajah suaminya.


''Terima kasih karena kakak peduli dan mau menolong anak kita, setelah pulang dari sini aku akan pergi.'' jelasnya.


Alan yang dari tadi menjadi pendengar setia itu kini memegang tangan Dinda.


''Tapi aku ingin kita balikan, aku ingin kamu tetap menjadi istriku, jangan pergi, kita bisa rawat anak kita bersama sama.'' ucap Alan mencoba meyakinkan Dinda untuk mengurungkan niatnya.


Seketika Dinda menarik kembali tangannya. ''Tidak, sampai kapanpun aku tidak akan kembali sama kamu, bukan aku dendam, Aku hanya ingin hidup bahagia.''


''Aku akan memebahagiakan kamu, dan kita akan hidup bersama dengan anak kita.'' masih kekeh membujuk Dinda untuk membatalkan permintaannya.


Heh.... Dinda tersenyum getir, tak menyangka kalau suaminya bisa seperti itu di depannya bahkan Alan terlihat memohon.


''Berapa kali kamu janji, tapi apakah pernah kamu tepati, apa lagi ini tanggung jawab besar, hanya menemaniku keluar saja kamu ingkar, tidak, aku tidak mau lagi mendengar janji palsu dari kamu, maaf, hubungan kita memang cukup sampai di sini.'' tetap dengan ngeyel kalau ia akan pergi dari kehidupan Alan.


''Din, aku tau aku salah, tapi beri aku kesempatan sekali lagi, aku tidak ingin kita berpisah, aku akan menjadi suami yang baik yang akan selalu ada untuk kamu.'' Masih berusaha keras untuk meluluhkan hati Dinda yang sekeras batu.


Dinda kembali tersenyum dalam tangisnya.


''Baiklah, kalau itu mau kakak, tapi ada satu syarat yang akan aku ajukan.'' mengangkat jari telunjuknya.


''Apa itu?'' tanya Alan penasaran dan berharap ia bisa memenuhi syarat dari Dinda.


''Kalau kakak ingin kita tetap bersama, ceraikan dulu Mbak Syntia.'' Seketika Alan melepaskan genggaman tangan Dinda.


''Maksud kamu apa, itu nggak mungkin?'' ucap Alan lantang, karena sedikit pun pria itu tak punya niat untuk berpisah dengan istri pertamanya.


''Ya sudah, kalau gitu kita tetap cerai.'' tegasnya lagi.


Seakan keputusan Dinda itu memang sudah final dan tak bisa di ubah lagi.


Alan semakin bingung, di satu sisi ia ingin menebus kesalahannya pada Dinda dengan cara membahagiakan wanita itu untuk mempertahankan rumah tangganya, tapi di sisi lain tidak mungkin Alan menceraikan Syntia, karena dari lubuk hatinya yang terdalam rasa cintanya itu masih ada, meskipun kini sedikit memudar karena pria yang bernama Rey, Dan Alan tidak mau gegabah dalam mengambil keputusan.


Maaf kak, jika itu alasan yang membuat kakak setuju untuk kita bercerai, kenapa tidak, bukan aku tak mau balikan, tapi aku sudah jenuh dengan semua ini, aku ingin melanjutkan cita citaku yang pernah tertunda, dan soal anak, aku ikhlas karena aku yakin kalau Mbak Syntia akan menjaganya dengan baik seperti aku menjaganya.


''Baik, kalau itu yang kamu inginkan, aku akan kabulkan.'' dengan sigap Alan menjawab.


Aku tau kalau kamu memang memilih Mbak Syntia dari pada aku, karena sampai kapanpun aku tidak akan ada artinya di mata kamu, sebesar apapun cintaku, kamu akan tetap memandangku sebelah mata.


Meskipun Dinda masih merasa sangat ngilu dengan keadaannya, wanita itu terus menatap ke depan berharap ada cahaya yang akan menyinarinya kelak.