
''Kita tidur yuk!" ajak Alan di tengah tengah obrolan keluarganya, kali ini Faisal juga ikut menginap disana karena sudah sangat larut.
Dinda masih bingung, dan mengangguk menerima tangan Alan yang sedari tadi di ulurkan ke arahnya, ingin rasanya wanita itu menghentikan waktu dan tidak berlalu begitu saja, karena setelah Ibu dan bapaknya pulang pasti ia tak bisa bersentuhan dengan suaminya.
Faisal tersenyum, selama menikah, baru kali ini Ia melihat adiknya dan Alan itu mesra di depan umum, karena selama bosnya menjadi adik iparnya, Faisal jarang sekali untuk keluar bersama karena kesibukan yang berlipat ganda, apa lagi terkadang Alan sengaja nggak masuk dan menumpukkan pekerjaan padanya.
Keduanya langsung masuk kamar, Alan menutup pintunya, dan Dinda memilih untuk duduk di sofa, karena ia tau pasti Alan tak mau tidur se ranjang dengannya.
"Kamu belum ngantuk?" tanya Alan saat mendapati Dinda menatap layar ponselnya.
"Belu, Kakak tidur duluan saja, kalau masih nggak nyaman aku disini, nanti aku pindah setelah Ibu dan bapak ke kamar. jawabnya datar matanya masih fokus dengan benda pipihnya.
"Ngapain, kita kan sandiwara, kalau sampai ketahuan pasti mama akan marah, dan aku nggak mau, tidur disini saja."
Dinda merapikan bantal yang ada di sofa dan membaringkan tubuhnya.
Sedangkan Alan hanya menatap saja tanpa basa basi atau menawarinya untuk tidur di sampingnya.
Alan pun meraih ponselnya menelepon Syntia kalau malam ini ia menginap di rumah mamanya. dengan entengnya wanita itu menerima tanpa protes karena Syntia tau kedatangan kedua orang tua Dinda, ya pastilah mama mertuanya itu yang menyuruh Alan.
Alan membaringkan tubuhnya dan berusaha memejamkan matanya, begitu juga dengan Dinda, setelah merebahkan tubuhnya di sofa wanita itu dengan cepatnya beralih ke dunia lain.
Selang beberapa menit Alan masih saja meringkuk ke kanan dan ke kiri sesekali mendesis karena tak bisa memejamkan matanya, sedangkan Dinda sudah terbang ke alam mimpinya bahkan ponsel di tangannya pun terjatuh mengejutkan Alan.
Laki laki itu terbangun menilik Dinda yang hanya terlihat rambutnya.
Kelihatannya Dinda sudah tidur sampai ponselnya jatuh saja tak terasa.
Dengan jalan mengendap endap Alan menghampiri tubuh Dinda dan memungut ponselnya tanpa ingin tau isinya Alan meletakkannya di meja.
Kasihan juga dia, kayaknya nggak nyaman tidur disini, menatap tubuh Dinda yang sepertinya tak bisa leluasa untuk gerak.
"Aku pindahin saja kali ya, tapi gimana kalau dia bangun, apa dia akan marah padaku, tapi kayaknya nggak mungkin." gumamnya.
Akhirnya Alan mengangkat tubuh Dinda dan membawanya ke ranjang dengan hati hati, pria itu merebahkan tubuh Dinda, jika waktu itu Alan merasa enteng, kini Alan merasa kalau tubuh Dinda makin berat saja, mungkin karena anaknya yang juga makin hari makin tumbuh.
Alan kembali membaringkan tubuhnya di samping Dinda dan kembali mengarahkan pandangannya ke perut buncit itu, kini ia bisa merasakan gerakan dari sang buah hati yang belum lahir.
Dengan pelan Alan kembali mendaratkan tangannya ke sana, di elusnya dengan lembut dan perlahan takut kalau sang empunya terusik dan bangun, dan sesekali Alan mencium perut buncit itu, entah dari hati atau tidak, Dinda yang dari tadi memang sudah terusik itu sangat bahagia.
Malam ini akan menjadi malam bersejarah untuk aku dan anakku, Jika memang aku tidak bisa masuk ke dalam hatimu setidaknya kamu masih menyayangi putramu.
Dan tanpa sadar Alan ikut memejamkan matanya dengan tangan yang masih tertumpu di perut sang istri.
Setelah puas merasakan tangan yang dari tadi meraba perutnya, kini Dinda ikut memejamkan mata berharap pelukan dari Alan itu akan selamanya, meskipun mustahil.
Setelah mendapat telepon dari Alan, Syntia yang masih nongkrong dengan temannya itu tak pulang melainkan pergi ke apartemen Rey.
Tak menjawab wanita itu menerobos masuk setelah menyingkirkan tubuh kekar Rey yang masih mematung di ambang pintu.
Syntia melempar tasnya dan menghempaskan tubuhnya di sofa, tak peduli dengan Rey yang dari tadi menatapnya penuh nafsu.
''Mas Alan tidur di rumah mamanya, karena orang tua Dinda disana, jadi di rumah sepi, tadinya aku mau pulang, tapi aku teringat kamu, ujarnya tanpa menatap, karena seharian Syntia memang tidak bertemu Rey sama sekali.
Heh.... Rey tersenyum getir sembari melipat kedua tangannya, ingin rasanya tak terima karena ia hanya di hampiri saat di butuhkan, itulah kata Rey dalam hati, namun pria itu masih saja diam menunggu waktu yang tepat untuk mengungkapkan isi hatinya dengan Syntia yang menggantung cintanya.
''Kamu datang ke sini karena suami kamu tidur di tempat lain, itu artinya kamu butuh kehangatan kan?'' celetuk Rey mesum.
Syntia langsung membuka matanya mendengar celoteh Rey.
''Maksud kamu apa?'' Syntia mundur dan menarik dress hingga menutupi lututnya, ada rasa takut saat menatap wajah Rey yang tak seperti biasanya.
Rey yang sedari tadi maaih mematung itu makin mendekati dan duduk di samping Syntia, bahkan makin dekat.
''Kita tidur berdua di kamar.''
''Nggak, mendingan aku pulang,'' meraih tasnya kembali dan beranjak, namun dengan sigap Rey menarik tubuh Syntia hingga terjerembab dalam pangkuannya.
''Hai, ini sudah malam, ngapain juga kamu pulang, toh Alan nggak akan tau kalau kamu disini,'' bisiknya.
Syntia sedikit menahan nafasnya dan mencengkal tangan Rey yang sudah mengunci tubuhnya hingga tak berkutik.
''Lepas Rey, Aku teriak nih,'' mencoba lolos namun tenaga Rey yang lebih kuat itu membuat Syntia tak mampu melawannya.
Ssstt.... Rey mendaratkan jarinya di bibir Syntia dan menyelipkan rambut yang menutupi pipinya.
''Aku nggak akan apa apain kamu, aku hanya ingin kamu tidur seranjang denganku malam ini, dan percuma saja kamu teriak, nggak akan ada yang dengar, malah burung yang sudah tertidur akan terbangun, jadi diamlah dan nurut apa kataku.'' ucapnya lagi makin pelan seperti berbisik karena menahan hasrat yang terpendam.
Syntia menoleh hingga keduanya bersitatap.
''Kamu yakin nggak akan apa apain aku?'' tegasnya, meskipun Syntia tidak mau di jamah oleh Rey, namun Syntia juga enggan untuk meninggalkan laki laki itu.
Rey mengangguk, ''Tapi nggak janji,'' godanya.
''Rey...'' teriak Syntia seraya memukul dada pria itu.
''Iya aku janji, sebelum kamu jadi jandanya Alan aku nggak mau menyentuh kamu,'' janji Rey pada Syntia.
Wanita yang merasa lega itu akhirnya mau menuruti Rey untuk tidur seranjang dengannya dengan batasan guling di tengahnya, dan catatan tak boleh lebih dari sekedar tidur bersama.