
Akhirnya malam pun bertepi, Dinda yang sudah kenyang dengan mimpinya itu menggeliat, meregangkan ototnya sebelum kembali menyapa dunia yang di harapkan cerah ke depannya, malam yang indah terlewati, dan baru kali ini Ia merasakannya kembali setelah menikah, dan ingin mengulanginya lagi di malam berikutnya, namun siapa yang tau dengan apa yang ada di masa depan?
Dinda terkejut dan menoleh, membuka matanya lebar lebar saat tangannya menumpu sesuatu yang terasa hangat dan keras.
Kak Alan, batinnya menatap wajah yang kini masih memejamkan matanya.
Dengan pelan Dinda kembali mengangkat tangannya yang mendarat tepat di wajah Alan.
''Apa semalam Kak Alan tidur disini, atau baru tadi Dia ke sini, tapi nggak mungkin ini kan masih pagi sekali,'' gumamnya, setelah menatap jam yang ada di nakas Dinda melangkahkan kakinya dengan pelan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Semoga saat Kak Alan bangun tidak memarahiku karena aku pergi dan tidur disini, ucapnya lagi masih memikirkan banyak hal yang akan terjadi nantinya di saat suaminya membuka mata.
Setelah terlihat segar setelah mandi, Dinda kembali keluar dari kamar mandi, di liatnya Alan yang kini masih tertutup selimut tebal, hanya menyisakan wajahnya saja.
''Mendingan aku keluar, kasihan kak Alan, pasti capek, baru juga menaruh handuk kecilnya, Dinda kembali menoleh ke arah Alan yang terdengar mendesis, bahkan laki laki itu sesekali merintih.
Kan Alan kenapa,apa dia sakit? batinnya lagi menerka.
Dinda yang belum berani memegang Alan itu hanya mondar mandir menyetrika lantai.
Namun Alan terlihat makin gemetar dan itu membuatnya makin panik.
Ah bodoh amat dengan ucapannya nanti yang penting aku tau keadaannya.
Dengan tekadnya yang sudah bulat Dinda menghampiri tubuh Alan yang masih terbaring, gadis itu memegang jidatnya dengan punggung tangannya.
Badan Kak Alan panas banget.
Karena makin khawatir Dinda keluar dari kamarnya menuju dapur mengambil baskom dan air untuk kompres dengan bantuan pembantu mama mertuanya.
''Itu untuk apa Din?'' tanya Bu Yanti saat keduanya berpapasan di meja makan.
''Kak Alan badannya panas banget ma, aku mau kompres dia, siapa tau bisa reda, jawabnya tanpa menghentikan langkahnya menuju kamar suaminya.
Bu Yanti hanya bisa tersenyum kecil saat menatap punggung Dinda yang sudah berlalu.
Semoga ini awal dari semuanya Din, dan semoga Alan membuka matanya dan bisa mencintai kamu.
Meskipun tau kalau Alan sakit Bu Yanti tak mau terlalu ikut campur, baginya ini adalah jalan Dinda untuk lebih dekat dengan suaminya tersebut.
Sesampainya Dinda langsung saja mendekati Alan dan mengambil handuk kecil yang sudah basah, dengan hati hati wanita itu menempelkan di kening Alan.
Syntia, ucap Alan dengan mata terpejam, sepertinya kata yang pas untuk pria itu adalah mengigau.
Di saat sakit pun kamu nggak ingat nama ku kak, kenapa hanya Mbak Syntia terus yang ada dalam ingatanmu apa aku nggak pantas untuk masuk ke ruang hatimu.
Tak mau bergelut dengan hatinya, baginya saat ini kesembuhan Alan yang terpenting wanita itu terus saja telaten merawat Alan yang masih saja belum membuka matanya.
Selang beberapa menit, dengan perlahan Alan membuka matanya yang masih terasa berat, nyatanya tidur semalaman tak bisa membuatnya sembuh total dan masih sedikit pusing.
''Kakak sudah bangun,'' sapa Dinda mengambil lap yang masih menempel di keningnya.
Alan menoleh ke sumber suara, di liatnya istri keduanya itu sedang mematung di pinggir ranjangnya.
''Maksud kakak apa?'' tanya Dinda yang tak mengerti apa yang di ucapkan Alan.
''Heh,... jangan pura pura, kamu ke sini ngadu ke mama kan, apa yang sudah aku lakukan sama kamu selama kita menikah, jelasnya dengan lantang.
Dinda menggeleng, ''Enggak, aku nggak pernah ngadu ke mama apapun yang terjadi sama kita, apa untungnya kalau aku ngadu, toh ujung ujung nya juga akan menimbulkan masalah, Dinda tak mau kalah karena memang itu adanya.
'''Kalau gitu kita pulang, menyibak selimut yang dari tadi menutupi tubuhnya.
Namun Alan kembali duduk saat kepalanya kembali terasa pusing.
Aaawww..... Alan mendesis dan menjambak rambutnya.
''Mendingan kakak istirahat dulu, nanti aku akan pulang, membantu Alan untuk kembali berbaring.
Dinda keluar dari kamarnya menghampairi Bu Yanti yang saat ini menata makanan di meja makan.
''Ma, Kak Alan sakit, aku mau bawain makanan untuk dia di kamar,'' mengambil piring dan lauknya.
Bu Yanti tersenyum dan membantu Dinda menyiapkan makanannya.
''Kok banyak sih ma, perasaan kak Alan nggak sampai segitu porsinya,
''Kamu kan juga belum makan, mendingan kalian makan bersama. cicitnya menyodorkan nampan yang berisi makanan yang lengkap dengan minuman.
Tak membantah, Dinda meraih makanannya dan membawa ke kamarnya, mungkin makan berdua akan bisa membuatnya sedikit mendekatkan dirinya dengan Alan, menurutnya.
''Iya, nanti aku pulang, kepalaku masih sedikit pusing nih,'' ucap Alan dengan telepon genggamnya yang menempel di kuping serta memijat pelipisnya.
Pasti itu Mbak Syntia, batin Dinda masuk menuju sofa.
Dinda duduk sembari menunggu Alan yang masih berbicara dengan orang di balik telepon dengan begitu mesra, dan sesekali percakapan keduanya di hiasi dengan senyum kecil yang bikin hati iri, karena selama menikah dengan Alan, jangankan membuatnya senyum berbicara halus pun belum pernah Ia rasakan.
Setelah Alan menutup teleponnya Dinda menghampiri Alan dan membawakan nasi untuknya.
''Kakak makan dulu biar cepat sembuh, meletakkan segelas air minum dan duduk di samping ranjang.
''Mau makan sendiri apa Aku suapi?'' tanya Dinda lagi tak mau salah langkah.
''Makan sendiri,'' merebut piring yang ada di tangan Dinda, gadis itu tak bicara dan kembali beranjak menuju sofa, mungkin menjauh akan membuat Alan lega. Meskipun makan satu kamar Faktanya juga makan berdua tak membuat mereka akur dan saling tau apa yang mereka makan masing masing.
''Siapa yang nyuruh kamu tidur di kamarku?'' tanya Alan di sela sela makannya.
Karena selama hidupnya tidak ada wanita yang masuk ke kamar itu termasuk Syntia istrinya sendiri, tapi tiba tiba saja Dinda orang baru sudah mengetahui isi kamarnya.
Dinda menatap wajah datar Alan dari jauh, ''Mama yang suruh. jawabnya menjelaskan karena tidur dikamar kesayangan Alan memang bukan keinginannya sendiri.
''Ya sudah, setelah makan kita pulang, aku nggak mau kalau mama curiga sama Aku.
''Iya aku akan ikut kakak pulang, jawabnya melas karena tak ada jawaban yang lebih baik selain itu.
Jika boleh memilih aku pun tidak ingin pulang, tapi apa, aku tidak mau abang dan Bapak serta Ibu khawatir, dan semoga saat Aku pulang sikap kakak jauh lebih baik padaku.