
Seakan semua orang bungkam dan menyembunyikan keberadaan Dinda saat ini, bukan hanya Bapak dan ibu mertuanya, Mama Dan papa Alan pun mengatakan kalau mereka tidak mengetahui keberadaan istrinya.
Namun Alan tak percaya begitu saja dengan ucapan Bu Yanti yang seperti mengejek kebingungannya dan menertawakan penyesalan yang menyelimutinya saat ini.
Sepulang dari kampung, Alan tak pulang ke rumah melainkan ke rumah kedua orang tuanya untuk menanyakan lebih jelas tentang istrinya, tak mendapat informasi Alan malah mendapatkan kemarahan dari mamanya yang memang sudah meletup letup ingin di luapkannya.
"Bawa cucu mama kesini!" titah Bu Yanti di sela sela tangisnya.
Pak Heru hanya bisa menenangkan istrinya yang dari kemarin hanya bisa menangis saat mendengar kabar tentang menantunya dari Daka.
"Aku akan bawa cucu mama kesini, tapi aku mohon mama izinkan aku ketemu Dinda." lagi lagi Alan tak kuasa menahan air matanya. Pria itu menunjukkan keseriusannya.
Bu Yanti menggeleng dan kembali terisak di pelukan suaminya.
''Alan, sekali lagi mama tanya sama kamu.'' Bu Yanti menarik baju anaknya dan menatap matanya yang sudah memerah, selain kurang tidur, Alan juga merasa lelah, apa lagi air matanya itu terus menetes saat mengingat istrinya.
''Apa perasaan kamu untuk Dinda?'' tanya Bu Yanti, kali ini wanita itu ingin tau tentang isi hati putranya.
''Aku nggak tau ma, yang pastinya aku ingin Dinda ada di sini, aku kangen sama dia, aku ingin memeluknya, aku ingin menciumnya dan aku tidak ingin melepaskannya lagi.'' sebuah ungkapan dari hati meluncur begitu saja dengan lugas.
Itu artinya kamu mencintainya Al, hanya saja kamu tidak menyadari itu semua.
Iba, melas, itulah pak Heru melihat kehancuran anaknya yang di buat sendiri.
''Baiklah, mama akan telepon Faisal, dan kamu lihat sendiri keadaan Dinda.''
Alan menyeka air matanya saat Bu Yanti mengambil ponselnya untuk melakukan Video call. Perasaan yang tadinya sangat kacau itu kini merasa lebih tenang.
''Halo tante.'' suara Faisal menyapa. Alan yang ada di belakang ponsel Bu Yanti ikut merasa lega mendengar suara familiar itu.
''Halo Sal, gimana keadaan Dinda?'' tanya Bu Yanti terbata, sebenarnya wanita itu tak kuat melihat keadaan menantunya yang sangat kacau, tapi karena Alan yang memaksa, terpaksa Bu Yanti menghubungi Faisal kembali.
''Masih sama seperti kemarin, tapi saat ini dia sedang tidur, setelah mendapatkan suntik penenang.'' jawabnya pelan, Faisal pun seakan lemah saat mendekati adiknya.
Bahkan di saat tiga hari itu hati Faisal merasa tercabik cabik dengan keadaan Dinda.
''Mana Dia?'' tanya Bu Yanti.
Faisal menggeser ponselnya ke arah Dinda yang terlelap di atas ranjang sembari memeluk sebuah boneka besar.
"Jeda dulu, Sal, aku ingin menatap wajahnya, sepuluh menit saja!" ucap Bu Yanti.
"Baik tante, seperti permintaan Bu Yanti, Faisal mengarahkan ponselnya ke arah wajah teduh Dinda dengan rambut acak acakan.
Bu Yanti menyerahkan ponselnya ke Alan untuk bisa melihat istrinya.
Ingin rasanya Alan membuka suara mengatakan isi hatinya saat ini, namun itu di urungkannya setelah Bu Yanti menggeleng, karena Faisal sudah mewanti wanti Bu Yanti untuk tidak memberi tau keberadaan Dinda pada Alan.
Dinda, maafkan aku, aku nggak tau harus berbuat apa, aku merindukan kamu, sampai kapan kita akan seperti ini.
Alan menghentikan hatinya yang sedang bermonolog, pria itu kini benar benar tak bisa melihat wajah istrinya tanpa bisa memegangnya.
Sepuluh menit berlalu begitu cepat, Alan segera menyerahkan ponselnya ke mamanya, takut kalau Faisal mengetahui keberadaanya, meskipun ia masih ingin menatap wajah itu.
''Tante.'' panggil Faisal, namun ponselnya masih menghadap ke arah Dinda.
''Iya Sal, sudah kok.'' Alan sedikit menjauh namun tetap pria itu masih dengan jelas mendengar suara Faisal dari sebrang sana.
''Sal, apa kata dokter?'' tanya Bu Yanti ingin Alan tau keadaan Dinda saat ini.
''Kata Dokter Dinda terlalu banyak fikiran yang berkepanjangan, Dan Dokter menyarankan untuk membawanya ke psikiater, aku tidak bisa menjelaskan banyak, tadi aku sudah hubungi Daka, katanya dia yang akan mencarikan dokter terbaik untuk Dinda.'' ucapan Faisal kembali membuat Alan berlinang air mata, namun saat ini ia tak bsia berbuat apa apa, hanya bisa menerima kenyataan yang begitu pahit setelah mengetahui kondisi istrinya yang jauh dari kata baik baik saja.
''Sal, jaga anak perempuan tante, jika kamu butuh sesuatu hubungi Tante.''
Faisal mengangguk, namun sedikitpun tak ada keinginan Faisal untuk masuk lagi kedalam keluarga Sudrajat setelah apa yang di lakukan Alan pada adiknya.
Setelah sambungan terputus, Bu Yanti menghampiri Alan yang masih mematung di sana.
''Puas kamu sekarang, kamu sudah membuat Dinda seperti itu, dan setelah ini apa lagi yang akan kamu perbuat, mama nggak ngerti di mana otak kamu Al, bagaimana jalan fikiran kamu sampai dengan teganya kamu menyakiti wanita selembut Dinda, kamu yang berbuat, itu artinya kamu juga yang harus bertanggung jawab, kembalikan dia seperti dulu. Jika sampai kamu tidak bisa, mama tidak akan menganggap kamu sebagai anak mama lagi.''
Setelah puas mengatakan uneg unegnya di dalam hati, Bu Yanti pergi meninggalkan Alan yang saat ini sudah merasa lemas.
Namun tetap pria itu meresapi setiap kata yang keluar dari mulut mamanya.
Aku akan membuat Dinda seperti dulu lagi, aku harus mencari keberadaan Dinda, dan aku sendiri yang akan mengembalikan senyumnya.
Setelah tekadnya sudah bulat Alan menghampiri papanya yang kini duduk si sofa.
''Pa, aku titip perusahaan, dan aku nggak tau kapan aku kembali, yang pastinya aku akan membawa menantu papa pulang.''
Pak Heru menepuk bahu Alan lalu memeluknya, sebesar apapun kesalahan Alan tetaplah pria di depannya itu darah dagingnya
''Pergilah, segala sesuatu itu tergantung dengan niat, jika niat kamu baik pasti kamu akan mendapatkan kebaikan, semoga kamu di beri kelancaran.''
Walaupun sudah larut malam, Alan tetap pulang ke rumah untuk menemani putranya.
''Halo, sapa Alan saat menghubungi seseorang di seberang sana.
''Halo, tuan.''
''Kalian cari keberadaan Dinda dan bang Faisal secepatnya, aku tidak mau kalau kalian gagal lagi.''
Menegaskan kalau kali ini Alan tidak mau anak buahnya itu mengecewakannya seperti waktu itu.
Capek, ngantuk, semua berkumpul jadi satu meliputi tubuh Alan saat ini, namun saat masuk ke dalam kamarnya, Alan kembali mengulas senyum saat mendapati anaknya yang juga terlelap, di dekatinya box bayi itu.
Doakan papa ya nak, semoga mama cepat sembuh dan kembali di tengah tengah kita.
Setelah puas menatap wajah putranya, Alan langsung ke kamar mandi, mungkin mengguyur tubuhnya dengan Air shower akan sedikit menghilangkan bebannya saat ini dan kembali menjernihkan fikirannya yang sudah keruh.