Kesabaran Istri Kedua

Kesabaran Istri Kedua
Rencana Faisal


Menurut Dinda pena takdir sudah menulis kalau Alan dan dirinya akan segera berpisah, ia pun hanya bisa menjalani, mengikuti alur yang mengalir tanpa bisa berbuat apa apa, namun tidak bagi Alan, menurutnya ia masih bisa berjuang dengan jalan APAPUN.


Tidak ada yang tidak mungkin jika berfikir keras, memutar otak untuk mendapatkan kembali yang dia inginkan. Di apartemen itu terasa hening saat mobil Faisal belum datang, dan kini hanya Dinda dan Alan yang ada di ruang keluarga. Lagi lagi Alan mendekati Dinda yang duduk manis di depannya.


''Kamu yakin tidak mau merawat anak kita sama sama?'' tanya Alan meraup kedua pipi Dinda lalu mencium keningnya.


Dinda menggeleng, baginya ikhlas lebih baik dari pada harus merasakan sakit lagi. Karena untuk saat ini itulah yang ingin di hindari, meski tak mudah untuk mengembalikan hatinya yang sudah hancur berkeping keping karena suaminya, Dinda masih saja bisa tersenyum saat berhadapan dengan laki laki itu.


''Aku kira jawabanku kali ini sudah cukup, silahkan kakak tinggalkan tempat ini!" titahnya menunjuk pintu depan.


Alan masih bergeming mengepalkan tangannya, baru kali ini ia merasakan sakit yang tak bisa di jabarkan, kemarahan bercampur emosi ingin segera di luapkan, pria itu memilih untuk pergi, takut kalau Dinda melihat amarahnya.


"Mau langsung pulang Nak?" tanya Bu Tatik tiba tiba saat di depan.


Wajah yang sudah berapi api itu mencoba di padamkan untuk menyapa sang mertua.


"Iya Bu, maaf kalau aku tidak bisa menemani Dinda." menggenggam kedua tangan mertuanya.


"Tolong Ibu bujuk Dinda untuk kembali sama aku." ucapnya tanpa basa basi, karena Alan sudah kehabisan cara untuk meluluhkan gadis itu.


Bu Tatik tercengang atas pernyataan menantunya, meski belum tau sepenuhnya, Perasaan seorang Ibu yang peka itu langsung tertuju ke sidang perceraian.


Bu Tatik hanya mengangguk tanpa suara.


"Pak, maafkan aku kalau selama ini nggak pernah menjadi menantu yang baik." memeluk tubuh tua itu.


"Aku sudah menyakiti anak bapak, hukumlah aku." ucapnya dalam pelukan.


Pak Yanto tersenyum, "Hanya Tuhan yang bisa menghukum hamba-Nya, kami juga manusia yang penuh dosa, jadi bapak tidak bisa mengadili kamu begitu saja, kami hanya bisa berdoa yang terbaik untuk kalian.


Alan mencium kedua punggung tangan Pak Yanto.


"Bang." Kini Alan beralih mendekati Faisal yang masih ada di samping mobil.


"Kantor terbuka untuk kamu, kapanpun kamu mau kerja, datanglah, ruangan itu akan menjadi milik kamu selamanya."


Faisal menepuk pundak Alan. "Terima kasih atas bantuan kamu selama ini, kita sahabat sudah bertahun tahun, aku tidak akan melupakan kebaikan kamu, jadilah Alan yang seperti dulu, ramah dan baik pada setiap orang, lupakan Dinda, dan cepat urus suratnya!" ucapan Faisal menekankan kalau Alan tidak boleh mengulur waktu lagi, mereka harus segera bercerai.


Setelah melontarkan ucapannya, Faisal melangkahkan kakinya meninggalkan Alan.


Nyatanya aku malah tersiksa jika berusaha melupakannya bang, untuk surat perceraian, maaf, aku belum bisa untuk menanda tanganinya.


Setelah keluarga Dinda masuk ke dalam apartemen, Alan pun masuk ke dalam mobilnya.


''Aku harus bagaimana lagi, pasti mama marah kalau tau tentang semua ini, tapi aku bisa apa, di paksa pun percuma.'' Setelah puas memukul setir Alan melajukan mobilnya.


Kali ini Alan tak punya tujuan untuk berlabuh, di rumah, pria itu malas, masih teringat malam tadi saat ia terus terbayang wajah polos Dinda saat di kamarnya, di rumah mamanya pun Alan belum siap, pasti banyak rentetan pertanyaan yang akan di ajukan wanita itu. Sedangkan Alan belum punya jawaban yang pas tentang hubungannya dengan Dinda.


''Ibu tau kalau kamu dan suami kamu ada masalah, tapi apa nggak sebaiknya di selesaikan dengan kepala dingin, apa nggak sebaiknya kalian bersatu lagi?'' ucap Bu Tatik persis seperti permintaan Alan. Bu Tatik mengelus rambut Dinda dengan lembut mencoba mengambil hatinya.


Seketika wanita itu menoleh menatap keluarganya bergantian, lalu berhenti di depan ibunya.


''Bu, aku sudah sangat bersabar menghadapi kak Alan, sepuluh bulan lebih kami menikah, tapi sedikitpun dia tidak pernah menganggapku sebagai istrinya, jangan kan kasih sayang, untuk menatapku saja dia tidak mau, apakah aku harus bertahan dengan situasi ini.'' ungkapnya.


''Tapi Ibu lihat tadi sepertinya dia sudah menyesali perbuatannya.'' timpal Bu Tatik, masih mencoba membujuk Dinda.


Dinda kembali menangis di pelukan ibunya dan menjelaskan apa saja yang terjadi di masa pernikahannya itu secara gamblang kepada orang tua dan abangnya, Dan kali ini Dinda tak sedikit pun meninggalkaakn momen yang menyakitkan yang di alaminya selama itu.


''Baiklah, jika ini memang pilihan kamu, ibu akan mendukung, dan semoga kalian di beri jalan yang terbaik.''


Faisal yang tak sanggup mendengarkan cerita adiknya itu memilih untuk pergi. Rasa bersalah itu kembali menyelimuti diri Faisal.


''Aku berjanji akan membawa kamu pergi, dan Alan akan membayar penderitaan kamu selama ini.'' gumamnya kecil.


Setelah puas bermonolog, Faisal melangkahkan kakinya menuju lemarinya.


Di ambilnya sertifikat apartemen miliknya.


''Aku akan jual apartemen ini, Aku akan membantu Dinda untuk bangkit dan meraih cita citanya.'' gumamnya lagi.


Meskipun apartemen itu adalah harta berharganya, hasil dari keringatnya bertahun tahun, Faisal tak peduli, baginya adiknya adalah harta yang paling berharga di dunia.


''Bu, pak, Aku keluar dulu, aku juga sudah pesan makan untuk kalian, sebentar lagi datang.'' ucapnya.


Namun pandangan sang ibu tidak pada wajah anaknya, melainkan sesuatu yang di bawanya.


''Sal.'' menarik lengan Faisal.


''Bu, aku akan ikut kalian pulang kampung, kita akan hidup sama sama lagi seperti dulu, maafkan aku yang tidak bisa menjaga Dinda, tidak bisa membahagiakan dia, tapi aku janji, setelah ini Dinda akan bahagia.''


Faisal langsung meninggalkan keluarganya dan berharap semua berjalan sesuai rencana.


Entah perasaan apa yang di rasakan Bu Tatik, di satu sisi wanita tua itu bahagia akan berkumpul kembali dengan putra putrinya, namun di sisi lain ada kesedihan yang mendalam saat mengetahui nasib anaknya yang menurutnya kurang beruntung.


Entah, itu sebuah ujian atau anugerah, yang pastinya Bu Tatik tetap menengadahkan tangannya untuk menerima apapun yang menimpanya.


''Terus anak kamu bagaimana?'' tanya Bu Tatik lagi.


''Aku akan menyerahkan anakku untuk kak Alan Bu, Aku kan masih bisa punya anak, sedangkan Mbak Syntia, dia mandul, kasihan mama dan papa juga.''


''Apa Bu Yanti dan Pak Heru juga sudah tau masalah ini?'' kali ini Pak Yanto ikut buka suara.


Dinda menggeleng, ''Biar Kak Alan yang cerita ke mereka.''