
Tiga tahun menjalani kehidupan bersama istri dan kedua anaknya, Alan begitu bahagia, hiru pikuk rumah tangga yang di lakoninya tak sekedar memberi pelajaran hidup, namun juga memberikan sebuah arti ikatan pernikahan yang harus saling mengisi di saat hati kosong, dan saling berbagi di saat membutuhkan, terkadanag titik kejenuhan pun di rasakan, apa lagi setelah melahirkan Dinda memilih untuk menjadi wanita karir yang pastinya mengutamakan pelanggan dari berbagai kalangan dan me nomer duakan dirinya, Meski begitu Alan tak perduli dengan itu semua dan tetap percaya pada istri tercinta yang tidak akan menghianatinya.
''Dulu sih lugu sekali, tapi sekarang semenjak menjadi wanita karir yang banyak uang dan terkenal, dia lebih akrab dengan pria lain saat di luar.'' Ucap salah satu pelanggan restoran tempat Alan meeting.
Deg, jantung Alan langsung berpacu saat mendengar kata itu, meski bukan istrinya yang di tuju, namun Alan merasa gusar.
Kini hatinya tak begitu fokus dengan pembahasan kerjaan, entah kenapa akhir akhir ini Alan sering diliputi rasa takut akan istrinya saat di luaran sana.
''Bagaimana pak Alan?'' tanya sekali lagi kliennya.
Faisal mencubit lengan bos sekaligus adik iparnya tersebut hingga gelagapaan.
''Baik, Saya setuju, semoga kerja sama kita ini berjalan dengan baik.'' Setelah keduanya bersalaman Alan kembali duduk, Sedangkan kliennya itu langsung pergi.
''Kamu kenapa sih, aku lihat dari tadi nggak fokus, apa ada sesuatu yang kamu pikirkan?'' tanya Faisal saat membereskan dokumennya.
Alan menggeleng, tak mungkin menceritakan kegundahannya pada abang iparnya.
''Bang, apa Mbak Amel juga sering pulang sore sekarang?'' tanya Alan, karena itulah yang terjadi pada istrinya semenjak satu tahun terakhir.
Faisal mengangguk tanpa suara. Bagaimana Alan bertanya seperti itu, padahal ia tau kalau Amel dan Dinda adalah partner kerja, dan mereka selalu sama sama ke manapun.
''Abang nggak takut kalau Mbak Amel ada apa apa di luar sana?''
Faisal tak menjawab malah tertawa keras, setelah puas dengan tawanya, Faisal meneguk jus yang masih setengah hingga kandas.
''Kamu mencurigai Dinda?'' celetuknya tanpa basa basi, karena Faisal tau apa yang di maksud Alan.
Tak menjawab pria itu menghela nafas panjang.
''Dinda nggak akan berbuat macam macam, jangan khawatir, lagi pula dapat dari mana kamu pikiran seperti itu, kalau Dinda sampai tau kamu mencurigainya, aku yakin nanti malam kamu bakalan tidur di luar. Aku berani tanggung jawab atas kesetiaan adikku. Dan setiap hubungan itu harus di landasi dengan saling percaya.'' Ucap Faisal meyakinkan.
Aku tau, tapi aku nggak yakin dengan pria di luaran sana yang pastinya akan terpesona dengan wajahnya yang cantik, apa lagi Dinda juga masih sangat muda, wajar jika rasa itu ada.
''Nggak curiga bang, cuma takut saja kalau dia itu tertarik dengan laki laki di luar.''
''Itu namanya curiga, bukan takut, udah ah, ngapain juga di bahas, lebay.''
Faisal meninggalkan Alan yang masih bergelut dengan otaknya.
Oke, sekarang aku nggak boleh seperti ini lagi, Dinda milikku dan selamanya akan begitu.
Baru saja keduanya di mobil, ponsel Faisal berdering, nama Sang istri berkelip di layar.
''Halo, Ada apa sayang, ini aku baru aja selesai meeting sama Alan.'' sapa Faisal dengan lembut.
Ini lo mas, Elfas mau ke rumah adiknya katanya kangen, ucap Amel dari seberang sana.
''Ya kamu ajak saja, paling mereka juga di rumah bersama omanya,'' jawab Faisal dengan santai.
Masalahnya aku sudah telat nih, Dinda juga sudah berangkat, takutnya klien aku lama nunggunya.''
Faisal diam menatap Alan yang duduk di sampingnya.
''Ya sudah tunggu bentar aku jemput Elfas.'' Pintanya.
Tak perlu bertele tele Faisal langsung melajukan mobilnya menuju rumah untuk menjemput putranya.
Tiga puluh menit Faisal sudah tiba di depan rumahnya, di lihatnya Amel yang sudah mondar mandir di depan pintu, sedangkan Elfas terlihat cemberut dengan menyangga kedua rahangnya.
''Sayang, papa datang.'' Teriak Faisal merentangkan kedua tangannya. Dengan segera makhluk kecil itu berlari menghampiri Faisal yang masih mematung di samping mobil.
Amel ikut mendekat untuk berpamitan.
Alan hanya diam, persis seperti dirinya, itulah Faisal saat ini, hanya mendapat ciuman pipi dari sang istri sebelum pergi, itu saja kalau nggak buru buru, kalau mereka udah bilang nanti telat, tidur pun tak di bangunin.
''Om, kok nggak gendong aku sih?'' meranggeh tangan Alan.
''Iya, sini om gendong,'' mengambil alih Elfas dari tangan abang iparnya.
Setelah mobil Amel menghilang, Alan dan Faisal segera pergi ke rumahnya.
Dalam perjalanan, Elfas terlihat begitu akrab dengan pria yang di panggilnya om, tak tanggung tanggung bocah kecil itu bergelayut manja saat di pangkuannya, sedangkan Faisal sibuk dengan setirnya.
''Om, boleh nggak nanti malam aku tidur di rumah om dengan dedek Tama dan Fana?'' tanya Elfas dengan lucunya.
Seketika Faisal menjentikkan jarinya dan tersenyum. ''Boleh banget sayang, pasti dede Tama dan Fana juga senang kamu di sana.''
Alan menoleh manatap sinis ke arah abang iparnya.
Ini abang pasti sengaja, biar aku di repotkan anak anak, sedangkan dia enak enakan berduaan.
''Elfas, memangnya Elfas nggak suka tidur sama mama dan papa?'' tanya Alan mencoba merayu bocah itu.
Elfas menggeleng, ''Kata papa aku harus tidur sendirian kalau ingin punya adik,'' cetusnya lagi tanpa rasa takut.
Faisal terbelalak, maksud hati tidak ingin terganggu malah putranya itu membongkar rahasianya.
Alan hanya bisa menahan tawa dan terus memancing bocah yang masih polos tersebut.
''Jadi setiap malam Elfas tidur sama Mbak?'' tanya Alan menyelidik.
Bocah itu mengangguk. Ternyata di balik sifat pendiam dan cuwek Faisal sama juga seperti dirinya saat di rumah, yang ingin selalu berdua dengan sang istri, terkadang Alan sengaja mengungsikan putra putrinya ke rumah Bu Yanti.
''Elfas, mendingan tidur, jangan dengarkan Om Alan, nanti kuping kamu jadi rusuh.'' jelas Faisal.
Idih, kalau udah ketahuan saja baru ngomong kayak gitu. batin Alan geli.
Tak terasa, kini mobil Faisal sudah tiba di depan rumah adiknya.
Ternyata kedua bocah cilik itu sedang bermain dengan baby sister serta Bu Yanti di taman samping.
''Adek....'' teriak Elfas yang baru saja turun dari mobil.
Tama dan Fana menoleh ke arah sumber suara.
''Abang...'' keduanya berlari menghampiri saudaranya, seringnya bertemu membuat anak anak itu terlihat sangat akrab.
''Abang lihat kan, kasihan juga Elfas nggak punya saudara,'' bisik Alan.
Faisal diam seribu bahasa, tak mau membuat aturan sendiri karena Amel memang belum ingin memiliki anak lagi sebelum putranya itu berumur lima tahun.
''Daka saja sudah mau dua, masa iya abang kalah cepat sama dia,'' masih saja Alan mengompori abang iparnya, karena saat ini Salma sudah hamil lagi, sedangkan anak pertama mereka berumur dua tahun.
''Tapi Amel itu minum pil KB, jadi aku nggak bisa melarang dia.'' jelas Faisal dengan serius.
Alan mematung di depan Faisal menghentikan langkahnya.
''Aku kasih saran, Saat abang mau tidur sama dia, abang cari saja alasan alasan yang membuatnya lupa untuk minum pilnya, Dan itu terus abang lakukan, abang nggak kasihan lihat Elfas terus kesepian.''
''Tapi Amel itu pintar, dia berpengalaman, tidak seperti Dinda Dan Salma yang nurut sama suaminya.''
Alan berpikir sejenak, ''Tapi abang laki laki, jangan mau kalah sama perempuan, taklukan dia, dan buat dia bunting lagi.'' Alan tak mau kalah untuk terus memprovokasi Faisal.
Benar juga apa kata Alan, mungkin aku harus coba ide darinya, meskipun dia sendiri bodoh, setidaknya terkadang cerdas juga.