ISTRI PENGGANTI CEO: Season 2

ISTRI PENGGANTI CEO: Season 2
Tersulut Emosi


"Hahahaha... Frans, Frans, kau dari dulu terlihat polos dan gak berubah, padahal kau tampan dan banyak idolanya di sekolah, sebelas dua belas sama gue."


"Jaman kita sudah lewat Land."


"Oke bro nanti gue kabarin lagi, akan gue kenalin sama calon istri gue, kebetulan gue juga kangen sama sahabat gue, gimna tampang kau sekarng."


Keduanya tergelak bersama, mereka mengakhiri obrolannya.


"Erland, dari dulu sifatnya tak berubah, begitu banyak wanita di sekitarmu, cowok playboy yang akhirnya mencari istri orang lokal, bagus lah semoga kau tulus mencintainya." gumam frans sambil menghabiskan kopi yang mulai dingin. Ia beranjak dari duduknya berjalan menaiki anak tangga menuju kamar.


****


Pagi itu cahaya mulai menyinari seluruh penduduk dimuka bumi, Frans terbangun saat sinar cahaya masuk melalui celah jendela.


Ia masuk kedalam kamar mandi setelah membuka pakaian. Dua puluh menit kemudian ia sudah keluar, mngambil setelan jas hitamnya. waktu tinggal empat hari lagi untuk ia meninggalkan Jakarta, persiapan hotel dan rumah sakit berkelas sudah dibayar Reno. berkali kali Frans menghubungi fanny melalui nomor lain tapi tidak pernah diangkat, hatinya begitu sedih, pada akhirnya ia harus pasrah bila takdir menjauhkan dirinya dari fanny, ia sudah berjuang dan berusaha untuk tetep sabar dalam doa, karena Frans tau semua takdir hidupnya ditangan Author 😄


Setelah sarapan dua potong roti dan satu gelas kopi ia meninggalkan apartemen menuju kantornya. mobil sudah berhenti didepan gedung perkantoran, ia masuk kedalam menuju lift, banyak karyawan yang membicarakannya di belakang tentang hubungannya dengan fanny, tapi frans tidak pernah ambil peduli, tapi bila bertemu frans mereka tetap menyapa dan memberi hormat.


Ting!


Ia keluar pintu lift menuju ruangannya yang tentu saja melewati ruangan Reno.


"Pagi asisten Frans." sapa Arneta


"Pagi sekertaris Arneta." ujar Frans tanpa menoleh pada Arneta.


"Tuan Frans, Anda hanya seorang Asisten. kurasa nggak usah sok seperti seorang bos yang angkuh, kau bukan pemilik perusahaan ini." sindir Arneta.


Frans menghentikan langkahnya dan memutar tubuhnya, menatap sinis pada Arneta. "kau selalu saja berfikiran negatif pada orang lain, disini tempat untuk bekerja bukan bergosip atau mencari keburukan orang lain."


"Apa anda menuduh aku? aku bergosip tentang apa? kan anda sendiri yang dipermalukan oleh Tuan Ramon karena cintanya ditolak oleh keluarga besar Mahesa, cukup donk ngaca diri siapa anda?" cibir Arneta tergelak.


Frans mengepalkan kedua tangannya, emosinya sudah tersulut "Cukup! kalau saja kau bukan seorang wanita sudah ku hajar kau! jangan pernah melewati batasanmu sebagai seorang sekretaris yang tidak memiliki kehormatan dan etika dalam berbicara.


"Kehormatan katamu? kau sendri dimana harga diri dan kehormatan mu? semua orang juga tahu kalau kau tidak memiliki harga diri lagi! bersimpuh demi seorang wanita!"


"Cukup,! Jangan pernah membangunkan singa yang sedang lapar! kalau aku mau, hari inipun aku bisa menendang mu dari Perusahaan ini!"


"Cih! baru asisten saja sudah sombong!


"Aku tidak ada urusan apapun denganmu selain pekerjaan, kalau kau ingin bedebat, aku bukan orang yang tepat! seru frans, ia berbalik dan berjalan melangkah kerungannya.


"Frans! aku tidak takut dengan mu, kau pikir kau siapa? aku akan menghancurkan mu sampai kedasarnya." gumam Arneta mengepalkan tangannya.


Didalam ruangan frans duduk dikursi kerjanya. "Arneta, tunggu waktu yang tepat untuk membuka kedok mu, kau adalah orang yang pernah dekat dengan Tuan Reno, aku sudah tau siapa kau dan identitasmu masih aku rahasiakan.


Dret, dret, dret...


Suara ponsel bergetar, frans mengambil dari saku celananya.


"Hallo..."


"Haii bro bisa nanti malam kita ketemuan, aku sudah mengatur jadwal untuk bisa membawa calon istriku keluar diner."


"Dimana kita ketemuannya"


"Restoran seafood di daerah kemang."


"Oke pulang kantor aku kesana, jam tujuhan insyaallah aku sudah tiba, kirim Sherlocknya."


"Oke Bro sampai ketemu nanti malam."


Tak lama Reno datang.


"Pagi Tuan Presdir." sapa Arneta sopan.


"Hemmm..." Reno terus berjalan tanpa menoleh pada Arneta.


"Sialan, padahal aku sudah membuka dua kancing kemejaku, kenapa Reno tidak mau menoleh padaku!"


"Aku harus bisa menakluk kannya tak peduli Delena harus menjadi saingan ku."


Empat jam sudah berlalu, Waktunya jam makan siang seluruh karyawan, Arneta tau persis jam berapa Delena akan datang, dengan tersenyum licik ia mulai memainkan aksinya.


Arneta sengaja menarik jahitan rok sepannya di bagian sampingnya, mengambil file diatas mejanya lalu berjalan kearah ruangan Reno.


Tok, tok, tok,..


"Masuk!


Arneta berjalan elegan penuh percaya diri masuk kedalam ruangan Reno.


"Siang Tuan, aku ingin memberikan surat kontrak kerjasama dengan PT Global milik Tuan Alvaro, aku sudah menyusun dan menaruh rangkapan nya kedalam flash disk, dan ini salinan aslinya." menyodorkan kemeja Reno dengan sedikit membungkuk, terlihat buah dadanya yang menyembul. Reno mengambil berkas diatas meja tanpa menoleh sedikitpun pada Arneta.


"Mundur! ucapnya dingin.


Arneta mundur satu langkah.


"Kurang jauh, mundur lagi!


Reno menandatangani berkas yang diberikan Arneta setelah ia membacanya dan menaruhnya kesamping agar Arneta mengambilnya Sendri, kesempatn itu tidak di sia siakan Arneta, ia maju kembali dan mngambil file berkas itu. Saat akan berjalan pergi ia pura pura kepentuk meja dan terjatuh di samping meja Reno.


"Aauuuwww.. kakiku!


Arneta terpekik, saat ia terjatuh androk sepannya sudah robek dan terlihat paha mulus yang menggoda. Reno tersentak kaget dan beranjak dari duduknya.


"Ada apa? mengerutkan keningnya


"Kaki ku sakit Tuan, kepentok kaki meja." Arneta meringis dengan manja.


Reno dibuat bingung dan salah tingkah.


"Tuan tolong aku Tuan, apa kau tega melihat seorang wanita kesakitan?"


Demi kemanusiaan Reno ingin membangunkan Arneta dengan menarik tangannya, tapi sayang Arrneta malah merangkul pundak Reno dan memeluk.


"Apa apaan kau Arneta, lepaskan!


Ceklek!


Disaat bersamaan Delena masuk kedalam ruangan Reno dan melihat adegan itu yang membuat hatinya panas!


"Arneta! lepaskan suamiku! jangan mengambil kesempatan dibelakang ku! seru Delena emosi.


Reno terperanjat kaget melihat Delena yang tiba-tiba sudah berdiri diambang pintu.


"Sayang aku..." Reno menarik kasar tangan Arneta dari rangkulannya.


Delena berjalan kearah Reno dan Arneta, yang berada disamping meja. ia berjongkok menatap tajam wajah Arneta yang terlihat polos.


"PLAKK!


Sebuah tamparan keras mendarat dipipi Arneta. Arneta terkejut, ia memegangi pipinya yang terasa panas.


"Aku sudah peringati berulang kali, jangan melewati batasan mu! kau ingin merayu dan menjebak suamiku, Hah!


"Bangun! kau bisa berjalan sendiri! bentak Delena.


"Tapi kakiku sakit Nyonya."


"Baiklah kalau kau tidak mau bangun dan pergi dari ruangan suamiku, aku akan panggil bagian kebersihan untuk mngangkat tubuhmu!


Reno membiarkan isterinya melakukan kemauannya, ia hanya berdiri menatap keluar jendela kaca sambil memijit keningnya.


"Tuts!


"Cepat keruangan Tuan Reno, aku butuh dua orang kesini, ada seorang wanita yang membutuhkan tenaga kalian!"


Mendengar Delena menyuruh bagian kebersihan, Arneta merasa jijik. "Tidak usah! aku bisa jalan sendiri." ujarnya sambil bangun pelan pelan memegang meja disampingnya. Ia berjalan perlahan berpura pura kesakitan.


"Muai besok aku sarankan, jangan pernah memakai Rok ketat itu lagi! lihatlah pahamu kemana mana, klau saja tadi kau tak menolaknya bagian kebersihan itu yang akan menyentuhnya! cibir Delena menahan tawa.


Dengan berwajah masam Arneta berjalan keluar ruangan Reno.


"Jangan lupa kau tutup pintu!"


Hah! Delena bernafas lega, setelah Arneta keluar ruangan.


Reno berjalan mendekat dan memeluk tubuh istrinya "Terima kasih sayang, kau datang tepat pada waktunya."


"Kau percaya bukan, aku tidak melakukan apa-apa?


"Aku sudah tau kebusukan Arneta untuk menjebak mu Mas."


"Syukurlah kalau kau percaya pada suamimu." mencium kening Delena.


"Secepatnya wanita itu keluar dari kantor ku.'


"Sabar Mas, kita masih harus tau siapa orang dibelakang Arneta, selama aku masih percaya pada suamiku, kau tidak perlu cemas Mas."


"Terima kasih sayang, kau sangat berarti dalam hidupku." mencium bibir istrinya penuh kehangatan.


'


'


'


'


'


'


'


Bersambung 😍