
"Hahahaha..... kau pikir aku mau di bodohi dengan anak ingusan seperti kau!
"Hey nenek tua! apa perlu kau mampus duluan baru ia akan memberikan data itu, karena flashdisk itu milik Bos besar kami dan sangat berpengaruh dengan perusahaan nya."
"Jadi itu yang kalian cari! tiba-tiba Vano bertanya dan ia sudah mengingat flashdisk itu.
"Cepat berikan!....
"Baiklah, tapi lepaskan dulu Oma ku!"
"Dasar bocah tengik! berani sekali kau merintah aku! gertak nya dengan suara lantang.
"Bukankah flashdisk itu sangat berharga bagi kalian, sama halnya dengan ku. Oma ku sangat berharga! bila kalian tidak adil aku akan bungkam!"
"Sialan! dia bicara soal keadilan!"
"Sudah Bos, ikuti saja maunya dulu, biar kita dapatkan flashdisk itu, kita bisa secepatnya keluar dari tempat ini!"
"Baiklah! tapi ingat, bila kau berbohong aku akan habisi nyawa kalian semua!" bentak pria itu lagi, Ia menarik Cerurit dari leher Helena. wanita senja itu sedikit bernafas lega seraya menyentuh lehernya yang tergores benda tajam.
"Sekarang, dimana kau taruh flashdisk itu?!
"Ada di dalam kamar!"
"Cepat masuk ke kamar, aku akan mengikuti mu!
"Bagaimana aku akan mengambil flashdisk itu, kalau tanganku terikat begini!"
"Jangan banyak alasan, cepat kamar yang mana! kau yang kasih petunjuk, aku yang mencarinya! ujar penjahat itu, firasat Vano akan mngelabuinya.
Saat ingin berjalan kearah kamarnya, Vano menghentikan langkahnya "Tunggu! bila aku masuk kamar itu, pasti mereka tahu kalau aku sudah melukai temannya." batin Vano, mulai berfikir.
"Cepat katakan!" kami tidak ada waktu lagi!!! teriak pria satunya.
"Baik! flashdisk nya ada di kamar Oma!
"Apa...?! Helena terkejut, meoleh pada cucunya dengan tatapan bingung. "Kau menaruh apa di kamar Oma?!
"Ma'afkan Vano Oma, sudah buat Oma khawatir."
"Ayo cepat masuk! mendorong kasar tubuh Vano.
Vano mulai berjalan masuk kedalam kamar Helena di ikuti Pria itu. Pria satunya masih menyandra Helena dengan Cerurit di todong kan ke perutnya.
Vano berdiri di depan meja rias dan mulai mencari akal. Sebenarnya Flashdisk itu tidak ada di rumah Omanya. Ia masih berusaha mencari alasan dan mengulur waktu, berharap Bude Ana, Mba Yuni, pak Maman tukang kebun, pak Andi supir pribadi Oma, dan dua orang satpam yang bertugas berjaga di depan gerbang memberitahu Om nya Tommy dan Frans.
"PLAKK!
Sebuah pukulan keras, mendarat ke kewajah Vano "Cepat katakan dimana!" bentaknya lagi.
"Jangan-jangan flashdisk yang mereka cari, yang Vana temui di depan gerbang rumah Oma. Saat itu aku dan Vana kerumah Oma diantara Pak Yanto supir pribadi ku, dua minggu yang lalu, sebelum berangkat ke Turki? batinnya.
"Bagaimana aku bisa mengambilnya, bila tangan ku terikat!
"Kau yang beritahu, aku yang mencarinya, bodoh!
"flashdisk itu kn berukuran kecil, aku akan mencarinya sendiri. karena di dalam sana banyak barang-barang kecil, biar aku mencarinya sendiri, kau pikir aku akan kabur? Oma ku saja kalian sandra."
Akhirnya Pria itu percaya dan mulai melepas ikatan tangan Vano. Sebuah golok masih berada di tangan pria bernama Ricky. Vano berjongkok dan membuka laci meja rias Omanya. Mengobrak-abrik isi dalam laci itu. ia menoleh pada Pria yang masih berdiri.
"Cepat! sudah tidak ada waktu lagi! bentaknya lagi tak sabar.
Dengan cepat Vano merogoh kantong celana depan, dan mengambil pistol mainan yang sudah sejak tadi berada di kantongnya. Vano langsung berdiri dan menodongkan ke keningnya.
"Jangan bergerak! atau otak kepala mu akan keluar! seru Vano "Lempar kan golok mu!"
Pria itu melotot dan terkejut, ia langsung melempar golok tajam itu ke lantai.
"Dasar bodoh! batin Vano dengan ujung bibir terangkat. Ternyata Vano lebih licik dari penjahat itu.
Terlihat Pria tubuh besar itu ciut juga, saat pistol itu pindah ke belakang batok kepalanya.
"Ayo jalan!
Mereka berdua keluar dari kamar Oma dengan kedua tangan terangkat.
"Bos! panggil Pria itu dengan suara bergetar.
"Lepaskan Oma ku! atau sekali 'DOR' kepala anak buah mu ini langsung berantakan kelantai."
"Bos! selamatan aku! pintanya dengan tubuh gemetar dan sorot mata memohon.
"Kau itu goblok! urus anak ingusan saja nggak becus! badan gede, tampang sangkar! umpatnya emosi
"Aku hitung sampai lima. bila kalian tidak lepaskan Oma ku, angan menyesal, bukan saja anak buah mu akan tamat. Tapi Polisi akan datang kemari." gertak Vano, berdusta.
"Bos tolong! saya masih ingin hidup. Bagaimana nasib anak dan istri saya, bila saya mati!
"Dasar pengecut! malas punya anak buah goblok! mending kau tembak mati saja dia! orang seperti dia sudah tidak ada gunanya..!!
"Wah gawat, kalau gertakan ku tidak membuat mereka ciut." pikir Vano, mulai buat strategi.
"Dua...
"Bos......!!
"Rupanya kau punya bos yang hanya mementingkan dirinya sendiri! bahkan aku di suruh menembak Kapala mu!
Nafas Pria itu tersengal-sengal dengan sorot mata tajam menatap Bos nya.
"Cepat kau serang Bos mu, dia Ingin membunuh mu Melalui aku! Aku janji tidak akan menembak mu, asal kau hajar pria yang sudah ingin membunuh mu itu! dan balaskan sakit hatimu! bisik Vano membuat Pria itu panas dan emosi.
Pria itu menoleh pada Vano, "Kau benar, Bos ku hanya menginginkan nyawa ku saja, padahal aku sudah bekerja keras untuknya!"
"Cepat lakukan! bisik Vano lagi.
Tanpa banya tanya, Pria bernama Rocky langsung menyerang bos nya dengan membabi-buta. pertengkaran tidak dapat terelakkan lagi.
"Hey bodoh! berani kau menyerang ku! aku ini Bos mu! kau sudah di perdaya oleh anak ingusan itu!
"Dasar penghianat! kau yang menginginkan aku mati!
Vano tak buang kesempatan itu, ia menarik Oma nya dan berlari masuk kedalam kamar. Mengunci pintu dari dalam kamar.
"Vano! Oma memeluk cucunya dengan tubuh gemetar dan nafas tak beraturan. keringat jagung keluar dari pori-pori kulitnya yang mulai keriput.
"Oma, ma'afkan aku sudah membuat Oma terluka." mengurai pelukannya "Oma jangan menangis." mengusap lembut airmata Helena yang sudah banjir.
"Oma tenang ya..biar ini menjadi urusan Vano."
Helena duduk di pinggir ranjang. Vano mengambil kapas dan obat luka untuk Omanya.
"Vano cepat kau hubungi Tommy." perintah Helena, gusar.
Terdengar suara teriakan dan hantaman di luar kamar, saling hujat dan memaki. Vano mengambil ponsel Helena dan mencari nama Tommy di daftar kontak. Ia mulai menelpon.
"Ya Tuhan, kenapa tidak diangkat!
Karena Tommy belum juga mengangkat, Vano berinisiatif menelpon Mommy nya, tapi sayang telponnya tidak aktif. ingin menghubungi Daddy nya, Vano justru takut, karena ia tahu Reno sangat tegas dan ia merasa segan padanya. ingin menghubungi Frans, ia tidak tau nomornya, sedang ponselnya berada di kamar. Tak lama ponsel Helena berdering, ia melihat Tommy menelpon balik.
"BUG!.. BUG!.. BUG...
Terdengar suara pintu di bacok dari luar kamar. Helena meloncat dan ketakutan.
"Hallo! Om tommy...." teriak Vano
"Vano ada apa...? terdengar suara Tommy yang gusar.
"Cepat Om datang ke rumah Oma! dan laporkan polisi, di rumah Oma ada perampok!"
"BUG!
"BUG!
"Apa perampok?!
"Iya Om!
"Tunggu! suara apa itu?!
"Aku dan Oma berada di dalam kamar, penjahat itu ingin mendobrak dan membunuh kami!'
"Apa? Ya Tuhan! Kau tunggu di kamar bersama Oma. dan jangan kemana-mana. Om tommy akan segera kesana dan menelpon polisi!
Setelah telpon terputus, Vano memeluk Omanya lagi, ia begitu menyayangi Oma nya yang sudah mengasuhnya sejak bayi. Dan keselamatan Helena adalah segalanya.
"Oma! keadaan sedang darurat, sekarang Oma bersembunyi di dalam kamar mandi dan kunci pintunya. Tunggu Vano yang panggil baru keluar.
"Vano, kau harus berhati-hati, Nak! Oma takut terjadi apa-apa dengan mu."
"Oma tidak usah khawatir, Vano bisa menjaga diri sendiri dan juga Oma, Ayo cepat masuk ke kamar mandi."
Helda masuk kedalam mandi dan mengunci pintu dari dalam. Vano mengambil golok penjahat yang berada di bawah lantai. Dengan tubuh tegap Vano berdiri di depan pintu kamar, Ia bagaikan seekor singa yang tak takut mati, dan siap mencabik-cabik lawannya. Aura membunuh mulai terasa.
🌺
🌺
🌺
@BERSAMBUNG........💃💃💃