
Reno memutar tubuhnya dan menarik Delena dalam pelukannya "Kau adalah istriku terbaik di dunia ini, tidak ada satupun yang bisa menggantikan posisimu di hatiku yank." mencium bibir istrinya.
"Jadi Mas setuju untuk memulai permainan ini."
"Tentu saja aku mendukungmu, kau saja tidak takut dengan masalah ini, kenapa aku mesti mundur. Demi kebaikan kelurga dan perusahaan kita, kita bersama sama akan bongkar topeng Arneta."
Delena tersenyum bahagia.
"Sekarang waktunya aku memanjakan istri kesayangn ku."
"Mas tidak capek?
"Tentu saja tidak, mas sangat kuat bukan?'
Reno mngambil remote disamping nakas dan lampu berubah jadi remang.
Malam yang panjang bagi sepasang suami istri itu, setelah merenguh manisnya madu saat mencapai puncaknya, keduanya tertidur pulas dalam dekapan hangat.
"Ahhcc.. alangkah bahagianya mereka berdua, selalu bersama dalam keadaan apapun, saling mengisi dan melengkapi satu sama lainnya. Mereka bagai sepasang merpati yang tidak pernah ingkar janji, selalu bersama seiya dan sekata, bulan saja ikut tersenyum menyaksikan percintaan mereka yang begitu hangat, suara jangkrik ikut hanyut dalam kemesraan mereka berdua. Bahkan suara angin malam terdengr syahdu sambil memainkan dedaunannya yang rindang. Begitulah kiasan kata kata cinta yang puitis untuk sepasang kekasih yang saling jatuh cinta. Mereka berdua percaya akan ketulusan dan kekutan sebuah cinta. Tidak akan terpisahkan oleh jarak dan waktu, bahkan manusia pun tak sanggup melepaskan ikatan cinta mereka berdua, hanya sang takdir yang sanggup memisahkan hidup mereka.
"Sayang, aku sangat mencintaimu." cup, cup cup, cup... ucapnya dengan mata terpejam.
"Iya Mas aku sudah tahu, sudah ribuan kali aku mendengar ucapan mu itu." hehehehe... Delena terkekeh sambil mata terpejam.
Sebenarnya mereka sangat lelah, udah tiga kali merengkuh nikmatnya bercinta malam itu.
"Yank, apa masih mau lagi." ajak Reno mencium kening istrinya yang masih terpejam.
"Aku lelah mas, besok lagi ya Pliss..." ucap Delena manja, bibirnya menciumi dada bidang suaminya.
"Ya sudah, ayo tidur besok lagi kita lanjut." memeluk erat tubuh istrinya.
*****
Pagi itu di mansion semua pelayan sibuk membersihkan seluruh ruangan, beberapa pelayan ada yang sibuk masak didapur.
Pagi itu Andini sedang sibuk menata ruangan karena akan datang tamu dari jerman. hiasan bunga mawar ia susun rapi disetiap sudut ruangan, terlihat indah dan elegan.
"Pah jam berapa Justin bersama keluarganya datang kemari." kata Andini sambil menyusun bunga didepannya.
"Kalau kata Brian jam tujuh malam, mereka baru saja sampai, sekarang sudah berada di kediamannya Mah."
"Memangnya Brian punya rumah dijakarta?"
"Brian memiliki rumah di Kemang, selama ia dan keluarganya tinggal di Jerman, saudaranya yang mengurusinya."
"Kalau begitu kita sarapan dulu pah."
"Dimana Fanny?"
"Ada dikamar, biar Mama yang panggil."
"Mah, kapan Siska dan Tommy kembali dari Eropa."
"Sepertinya minggu depan pah!
"Semoga setelah pulang dari Eropa, Siska membawa kabar gembira ya mah."
Andini tersenyum "Papa sudah gak sabar ingin punya keponakan ya."
"Masalahnya umur Siska sudah tidak muda lagi mah, tiga puluh empat tahun riskan untuk melahirkan."
"Iya semoga saja ya pah!
Andini masuk kedalam kamar Fanny, ia melihat anaknya masih meringkuk diatas ranjang.
"Fan, ayo bangun, anak gadis gak boleh bangun siang." Andini menggoyang goyangkan tubuh anaknya.
"Aku semalam tidak bisa tidur mah! terdengar suara parau fanny dengan wajah tertutup selimut.
"Ayo bangun, terus mandi dan sarapan, nanti malam Justin akan datang bersama orangtuanya.
Mendengar suara isakan tangis Fanny didalam selimut, Andini menarik selimut itu.
"Fanny kau menangis?!
"Mah! fanny mencintai Frans, hiks, hiks..
"Fanny sayang." mengelus lembut kepala anaknya "Mama minta maaf, bukan tidak ingin membantumu, tapi Mama juga tidak bisa menentang keputusan Papa dan kakek mu." ujar Andini prihatin.
"Apa salah Frans mah! apakah karena dia cacat tidak pantas untuk Fanny?"
"Bukan karena itu fan, semua itu dilakukan karena keputusanmu sendiri waktu papa bertanya padamu, dan demi harga diri Papa mu tidak mungkin membatalkan perjodohan itu."
Andini meneteskan airmata "Kalau kau ingin salahkan, salahkan saja Mama! mama memang tidak bisa jadi ibu yang terbaik, bahkan tidak bisa membelamu untuk membatalkan perjodohan ini! hiks...
Fanny terdiam menatap Andini yang menangis pilu, ia begitu iba melihat seorang ibu yang telah melahirkannya menangis. fanny mendekat dan memeluk Andini. "Maafkan fanny mah." hiks... "Baiklah, Fanny akan menuruti Mama dan Papa."
"Terima kasih Fanny, kau memang anak gadis mama yang terbaik." mencium kening fanny.
"Ya sudah aku mandi dulu ya mah."
"Mama sudah siapkan gaun untuk mu."
Malam sudah tiba, Andini dan Ramon sudah berada diruangan tamu, sambil menunggu kedatangan Justin dan keluarganya.
Terlihat sebuah mobil terparkir didepan mansion, dari dalam mobil keluar pria tampan memakai setelan jas hitam bermotif kotak-kotak. bersama Pria paruh baya dan wanita cantik seumuran Andini.
Mereka bertiga masuk kedalam ruangan setelah di sambut para pelayan.
"Selamat datang Brian, sahabat ku." sapa Ramon ramah, mereka saling berangkulan.
"Akhirnya aku sampai juga dirumah mu." hahahaha...
"Oiya Kenalkan ini istriku Anna."
Andini dan Anna cipika-cipiki.
"Dan ini anak semata wayang ku, Justin."
"Malam tante, Om.." sapa Justin sopan berjabat tangan Ramon dan Andini.
"Ayo silakan duduk."
Para pelayan datang membawa minuman dan cemilan, berbagai kue cake ada disana, pelayan menaruhnya diatas meja.
"Mana calonnya Justin." tanya Anna memulai pembicaraan.
"Masih ada didalam kamar, sebentar aku panggilkan."
Andini beranjak dari duduknya dan berjalan kearah kamar fanny.
"Sayang.. ayo kita keruangan, keluarga Justin sudah datang."
Fanny terlihat cantik dengan balutan dress panjang selutut berwarna navy dengan aksesoris bunga tulip di dada kirinya. mereka berdua berjalan keruangan tamu.
"Ini Fanny." Andini tersenyum sumringah saat sudah berada diruang tamu sambil memperkenalkan anak kesayangannya.
"Fanny cantik sekali." puji Anna beranjak dari duduknya.
"Terima kasih Tante." ucap Fanny sopan, mencium punggung tangan Anna.
Justin tercengang melihat kecantikan wanita didepannya, ia berdiri dan menghampiri ketiga wanita itu "Kenalkan aku Justin." Justin mengulurkan tangan pada fanny, dengan sedikit ragu Fanny menerima uluran tangan itu.
"Fanny ini Om Brian, sahabat Papa di Jerman."
Fanny berjalan mendekat dan mencium tangan Brian. mereka mulai beramah tamah dan bercerita mengenang masa lalu, sementara Fanny banyak diam terduduk malas di samping Andini, Justin tak hentinya memandang wajah cantik Fanny, ia begitu terpesona. Fanny yang sadar terus di pandangi membuang pandangan nya.
Mereka mulai menikmati makanan malam bersama, tak terasa jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam, Brian memutuskan untuk pulang.
Sebelum Justin menyusul kedua orang tuanya yang berada didepan mobil, mereka masih asyik ngobrol dengan Ramon dan Andini. Justin mulai beranikan diri berbicara pada fanny.
"Nona Fanny sangat cantik, aku sungguh terkesan dengan perkenalan kita malam ini, hmm... sepertinya aku menyukaimu." ucap Justin tersenyum lebar. "Semoga kita berjodoh!" tuturnya lagi tanpa basa-basi.
Fanny menoleh sekilas dan membuang jauh pandangannya dengan ekspresi kesal.
"Jangan senang dulu, kita lihat saja nanti kedepannya." ucap Fanny cetus, sambil melihat kedua tangannya.
"Justin! ayo cepat balik, masih ada waktu untuk menemui calon mu besok! seru Brian tergelak.
Setelah mereka masuk kedalam mobil, Justin dan kedua orangtuanya Pergi meningglkan Kediaman Ramon.
'
'
'
'
'
'
Bersambung....😍