
"Sudah lah Delena, aku capek, aku lelah! Kenapa kau tidak bisa mengerti diriku?!"
"Mas yang tidak bisa mengerti diriku? Aku hanya ingin memberi penjelasan padamu mas, dengan sikapku akhir-akhir ini yang sudah berubah, dan itu bukan kemauan ku, Mas!
"Ahh! Reno menghela nafas kasar "Sudahlah aku tidak ingin berdebat denganmu, lebih baik aku pergi! Reno melangkah kan kakinya berjalan kearah pintu.
"Bila kau pergi! aku yang akan angkat kaki dari mansion ini bersama anak-anak! teriak Delena.
Seketika langkah Reno terhenti.
"Kau mengancam ku Delena? menatap lekat wajah istrinya dengan ekspresi dingin.
"Apa yang bisa aku perbuat lagi? kalau kau saja sudah tidak bisa diajak bicara!
"Kau yang memulainya Dena!"
"Aku melakukan bukan tanpa sebab, Mas! lebih dari Lima belas tahun aku hidup bersamamu, adakah kesalahan ku yang fatal menurut, mu?! aku mengabdikan seluruh hidupku hanya untuk suami ku, tapi hari ini kau telah membuat ku terluka!"
"Kau menyesal hidup dengan ku?! tanyanya, tanpa merasa bersalah.
Kata-kata Reno bagai sebuah petir yang menyambar dan menghantam ke jantungnya. Delena mengelus dadanya menahan sakit atas perkataan suaminya.
"Kenapa kau baru mengatakan sekarang padaku, Mas..? ucap Delena dengan suara tercekat menahan tangis.
"Sudahlah untuk sementara aku tinggal di apartemen, aku tidak ingin kita ribut terus dan anak-anak merasa kecewa dengan sikap kita berdua, aku tidak ingin mereka tertekan dengan perselisihan kita."
Delena menarik nafas dalam-dalam dan di hembuskan perlahan "Bukan aku Mas, tapi kau yang memulainya." ucap Delena gerir.
Reno sudah tidak mau mendengar keluhan istrinya, Ia melangkahkan kakinya keluar kamar. Meninggalkan Delena yang terpaku dalam diam. Delena menatap kepergian suaminya sampai hilang di balik pintu. Airmata yang ia pertahankan untuk tidak jatuh, akhirnya tumpah juga. Delena menjatuhkan tubuhnya ke lantai dengan tangisan pilu seraya memegangi perutnya yang masih datar.
"Apa salah mu Nak, hingga Daddy membenci Mommy? saat kau berada dalam kandunganku, justru Daddy mu pergi dan menjauhi Mommy. kesalahan pahaman diantara Mommy dan Daddy terus terjadi." ucap Delena sambil terisak.
Delena mengusap airmatanya "Aku tidak akan mengatakan pada Mas Reno tentang kehamilan ku, biarlah dia tahu sendiri. Mau sampai kapan ia bersikap arogan seperti itu."
Delena menguatkan dirinya sendiri, ia harus berjuang demi anak yang di kandungnya, tidak peduli berapa lama Reno akan menjauh dari tinggal di apartemen sendri. Yang terpenting baginya adalah fokus dan membesarkan anak-anaknya. Mulai sekarang Delena harus kuat dan tegar, ia bukan tidak perduli lagi pada suaminya. Namun, sikap Reno lah yang telah berubah. Ia yakin Reno pasti akan menyadarinya setelah merasa lelah tanpa ada sosok istri anak-anaknya di sampingnya.
Delena bangkit dari lantai, ia berjalan kearah jendela. Terdengar suara deru mobil meninggalkan mansion. Delena hanya bisa menerima keputusan yang Reno buat.
Setelah membasuh wajahnya, Delena naik keatas ranjang dan tertidur lelap. Pagi itu Delena menjalankan rutinitasnya seperti biasa, rasa mulanya tidak seintens dulu, memasuki usia kandungan dua bulan ia sudah lumayan bisa turun dari ranjang walau masih kurang naf*u makan, dan berat badan Delena yang ideal sedikit berkurang. Hampir tiga minggu Delena tidak bisa apa-apa, hanya terkulai lemas di atas kasur, bahkan tidak ingin di peluk dan di dekati suaminya, parfum yang melekat di tubuh suaminya bagaikan virus yang harus di hindari, hingga membuat Reno salah paham dan emosi, menganggap dirinya telah berubah dan menyukai pria lain.
Nasi sudah menjadi bubur, Delena hanya bisa sabar menghadapi situasi ini. Jalan terbaik baginya adalah membiarkan Reno untuk melakukan apa yang menurutnya benar, ia tidak ingin menambah beban dengan pikiran yang membuat kandungannya bermasalah.
"Mommy..? wah cantik sekali pagi ini." puji Vana yang sudah berada di meja makan. Delena tersenyum sumringah, tidak ada kesedihan di matanya yang ada kebahagiaan yang ia pancarkan di depan anak-anaknya.
"Bella, Ayo makan tidak usah sungkan." tawar Delena ramah.
"Iya Tante, terima kasih."
"Dimana Vano?
"Masih di kamar, Mom." imbuh Vana seraya mengigit roti tawar yang sudah ia olesi staubery.
Tak berapa lama Vano sudah rapih dengan seragam sekolah dan duduk di samping Vana.
"Good morning Mom." sapa vano sambil memperhatikan wajah Mommy nya yang terlihat bahagia, padahal Vano tahu ibunya sedang menutupi kesedihannya.
"Morning, Vano sayang.." tersenyum Pepsodent.
"Mom! walau kau menutupi semua kesedihan dan duka mu. Dengan senyuman yang menghias di bibir, agar kami tidak merasa sedih, aku sangat tahu kalau sebenarnya Mommy sangat terluka." batin Vano lirih.
"Mom, dimana Daddy? apa ia sudah pergi lagi?! tanya Vana kecewa, tanpa ia tahu pertengkaran ibu dan Ayahnya telah membuatnya pergi dari mansion.
"Kenapa Daddy tidak pamitan pada kita dulu sih! akhir-akhir ini Daddy jarang menemui aku dan kak Vano!" protes vana seraya meminum susu putih di tangannya.
"karena Daddy tidak ingin mengganggu kalian yang sudah tertidur pulas. cuma pamit sama Mommy untuk menjaga kalian. Daddy sangat sibuk dan mengurusi pekerjaannya. Nanti kalau sudah selesai urusannya, ia pasti akan makan bareng dengan kita," ucap Delena tersenyum lebar memperlihatkan giginya yang putih dan rapi.
Selesai sarapan mereka bertiga berpamitan untuk pergi ke sekolah. Kesibukan Delena mula latihan senam yoga untuk menguatkan kandungannya. Delena sudah meminta pada Frans dan Dokter Agung untuk tidak memberitahu pada Reno, kalau ia sedang mengandung anaknya. Rasa kecewanya pada sosok suami yang ia cintai telah membuatnya kuat menjalani aktivitasnya sendiri. Awalnya Frans dan Dr Agung tidak mau berbohong dan menyuruh Delena untuk berkata juju, sebab ia kasihan pada dirinya, Namun, setelah mendengar penjelasan Delena agar suaminya berfikir dan menurunkan egonya, mereka berdua setuju dan mendukung keputusan Delena. Pasti dengan sendirinya Reno akan tahu kalau Ia sedang mengandung anaknya. setelah itu Delena akan tahu reaksi Reno.
Dua Minggu telah berlalu, usia kandungan Delena sudah memasuki dua bulan setengah. Reno pernah datang dua kali ke mansion selama dua minggu ini, ia datang hanya untuk mengambil dokumen penting di ruangan kerjanya dan pakaian yang berada di kamarnya. Delena membiarkan tanpa melarang keinginannya. Reno masuk kedalam kamar Vano dan Vana ia memberikan pengertian pada kedua anaknya kalau dirinya sedang sibuk membereskan perusahaannya.
Mba sari datang membuyarkan lamunan Delena saat duduk di teras, ia memberikan susu khusus ibu hamil pada Delena dan menaruhnya diatas meja.
"Mba Sar, masih berapa kotak susu hamil."
"Dua dus lagi, Nyah..."
"Sudah mau habis ya, kalau begitu aku mau ke supermarket dulu sekalian belanja sayuran.
"Nyonya tidak apa-apa berangkat sendiri?
"Tidak apa-apa kok Mbak, lagian pak Yanto nanti jemput anak-anak pulang sekolah, biar saya berangkat sendiri."
Setelah mengganti pakaian, Delena berjalan keteras dan masuk kedalam mobil yang terparkir. Mobil pergi meninggalkan mansion.
Dua jam kemudian. Disebuah perkantoran, seseorang mengetuk pintu ruangan Presdir.
Setelah di perintahkan masuk. Dua Pria berjas hitam, dengan fostur tubuh tinggi besar masuk kedalam ruangan.
"Siang Tuan." sapa dua pria itu seraya membungkuk memberi hormat.
Reno yang berdiri menatap gedung-gedung di depannya. memutar tubuhnya dengan kedua tangan masuk kedalam sakunya.
"Bagaimana penyidikan kalian."
"Kedua anak kembar Tuan, seperti biasa masuk sekolah dengan rajin. Sabtu-minggu guru bela diri dan latihan menembak tetap datang ke mansion. Nyonya Delena siang ini sedang berada di supermarket, Sepertinya ia sedang berbelanja."
"Dengan siapa istriku pergi."
"Sendiri, tuan."
"Tetap kalian pantau dan jaga anak, istriku. Pastikan mereka baik-baik saja dan terus ikuti kemana mereka pergi."
"Siap, Tuan! kalau begitu kami pergi."
Reno mengangguk. Mereka membungkuk dan melangkah pergi meninggalkan ruangan Reno.
ππ
Jangan lupa terus dukung Author dengan cara:
πLike
πVote
πGift
πKomen
@Bersambung.... πππ