
Tangisan haru kebahagiaan kini kembali lagi di tengah keluarga Mahesa. Vano tersenyum sumringah melihat Keluarga Om dan Tante nya kembali berkumpul lagi. kini ia menyadari arti kehidupan, bahwasanya kehilangan orang yang kita cintai sangatlah berat dan menyedihkan. namun, Tuhan punya rencana lain dan masih memberikan kesempatan kedua untuk Tomy. Takdir hidup seseorang kita tidak akan pernah tahu, sebab hidup dan matinya seseorang hanya milik sang Khaliq.
Tiga hari kemudian, Vano dan Tomy sudah kembali pulang ke rumah masing-masing. kini kebahagiaan mereka lengkap sudah, tidak ada lagi air mata kesedihan, pelajaran hidup yang berharga sudah Vano dapatkan.
Esoknya Vano mendatangi kantor polisi bersama Reno. Bram sudah di ringkus kepolisian karena terbukti bersalah. Bram dan Jimy di pertemuan dengan Vano atas permintaan Reno. Mereka di hadapkan pada satu ruangan.
"Benar-benar aku tidak menyangka Ayah dan Anak sama saja! seru Reno, mengepalkan kedua tangannya.
"Sama-sama penjahat!! timpal Vano geram.
Jimmy dan Bram hanya menundukkan wajahnya dengan ekspresi malu.
"Taukah kau? perbuatan kalian berdua hampir saja menghilangkan nyawa Tommy dan Vano anak ku! mata Reno terus menusuk tajam kearah Bram dan Jimmy. Dengan kesal Reno mendekat dan menarik kerah baju Bram "Andai semua ini ada posisimu, dan anakmu yang mengalami semua kejadian ini, bagaimana perasaanmu sebagai seorang Ayah, hah!! tubuh Bram gemetaran, raut wajahnya sangat ketakutan, keringat dingin mengucur deras dari pori-pori kulitnya. Bram hanya terdiam tanpa berani menatapnya.
"Lihat aku! tantang Reno "Jangan cuma jadi laki-laki pecundang yang beraninya main belakang, Ayo lawan aku!!
BUG!
BUG!
BUG!
Amarah Reno sudah memuncak, ia menghajar Bram bertubi-tubi tanpa belas kasih. Tubuh besar itu tersungkur di lantai dengan penuh luka memar di seluruh wajahnya. Darah segar mengucur dari hidung dan bibinya, dua gigi depan Bram rontok bekas tonjolan Reno. Bram hanya meringis menahan sakit tanpa berani melawannya.
"Sudah cukup Tuan! jangan kau pukuli lagi Ayahku! ma'afkan kami berdua!" pinta Jimmy dengan tatapan memohon. Jimmy ikut duduk di lantai dan memeluk ayahnya.
"Itu belum seberapa dibandingkan perbuatan kalian yang hampir membunuh Om ku dan anakku! aku bisa saja menghabisi kalian berdua di penjara ini dengan membayar orang! namun, anakku Vano berhati malaikat, ia tidak ingin ayahnya menjadi seorang pembunuh dengan menghabisi nyawa kalian yang sama sekali tidak berguna!! bentak Reno dengan nafas turun-naik.
"Dad! tenang dulu, Daddy tidak perlu mengotori tangan Daddy dengan memukuli mereka, jerat hukuman 15 tahun penjara kurasa sudah cukup mewakili sakit hati Vano dan Om Tom!"
"kau benar Nak, Daddy bangga padamu, tidak seharusnya kita mengotori tangan kita dengan manusia macam mereka! nggak sia-sia Daddy mendidikmu jadi anak baik dan berakhlak mulia." imbuh Reno bangga seraya menepuk-nepuk pundak Vano. "Tapi kita harus memberikan pelajaran buat mereka sedikit, agar tidak bertindak sesuka hatinya!"
"Dan kau Jimmy! Vano menunjuk wajah Jimy. "Karena perbuatan keji mu, Bella mengalami trauma dan morfin yang kau masukan kedalam pembuluh darahnya mengakibatkan Bella mengalami sakit dan hampir sakau di sekujur tubuhnya, beruntung tim dokter mengobati dan memberikan terapi."
Jimmy hanya tertunduk malu tanpa bisa berbuat apa-apa lagi.
"Mereka berdua pasti akan mendapatkan karma dan balasan atas perbuatan mereka yang sudah menghancurkan masa depan anak gadis orang! Apa kau tidak malu atas perbuatan anak-anak mu Bram! kau pun memiliki anak perempuan, bukan?"
Bram menoleh sekilas pada Reno dan menundukkan wajahnya dalam, seakan sudah tidak punya muka di hadapan Reno.
"Ayo Dad! kita pulang!
Reno mengangguk "Ayo, ini untuk pertama dan terakhir kalinya kita bertemu dengan manusia macam mereka!!"
Saat Reno dan Vano melangkah pergi, Bram bersuara.
"Tolong sampaikan permohonan maaf says pada Bella, saya tidak bisa mendidik anak-anak saya jadi orang baik dan berhati mulia seperti anak tuan Reno! sekali lagi saya minta maaf atas kesalahan dan perbuatan yang sudah saya lakukan! Bram bersimpuh di depan Reno dan Vano dengan deraian airmata.
Reno dan Vano, tidak bicara sepatah katapun,ia melanjutkan langkahnya meninggalkan ruangan itu.
*****
Sebulan telah berlalu, Reno mulai posesif pada strinya semenjak kehamilan anak ketiga, Reno semakin menyayangi dan memanjakan Delena. Selama menjaga Delena di rumah sakit, Reno berobat pada Spkiater yang ia datangkan langsung dari Amerika. Dalam waktu cepat traumatis dalam dirinya, yang tidak ingin memiliki anak kembali berangsur pulih, Reno yang takut Delena akan koma lagi saat hamil si kembar, sudah sembuh total selama dua minggu menjalani trapi. Kini Reno sangat menjaga kandungan istrinya. Bahkan Reno mendatangkan dokter ahli gizi untuk asupan istri dan anak dalam kandungan.
Hari-hari Reno di penuhi kebahagiaan bersama istri dan kedua anak kembarnya. Mereka kerap kali menghabiskan waktu bersama dan bercengkrama dirumah. Reno seakan ingin menebus kesalahannya kemarin, sebab kebodohan dan keegoisannya sendiri pernah pergi dari rumah. keluarganya hampir saja berantakan karena ulahnya. kini Reno berjanji di depan istri dan kedua anaknya tidak akan mengulangi kesalahan yang sama.
Kini kehamilan Delena menginjak usia empat bulan. Hari ini Reno dan Delena sedang berbagi kebahagiaan dengan mengadakan acara syukuran di yayasan "Yatim Piatu dan Peduli Anak" yang telah Delena bangun sepuluh tahun lalu. Pagi itu acara di yayasan milik Reno dan Delena berjalan lancar dan sangat meriah. Ribuan anak yatim-piatu, kaum dhuafa, Fuqoro, dan anak-anak jalanan yang diberikan pakaian layak untuk menghadiri acara syukuran anak Reno dan Delena. Tidak lupa Penceramah kondang pun mereka datangkan untuk meriahkan acara syukuran empat bulanan kandungan Delena.
Acara puncaknya menggelar pengajian dan doa bersama dan dilanjutkan ceramah ustad Dudul Somad. Berbagai prosesi acara pun sudah diselenggarakan, kini mereka makan bersama dengan para tamu undangan.
Usai menggelar acara syukuran bersama, mereka semua pulang ke mansion pada siang hari. Delena yang sangat lelah pamitan pada Vano dan Vana untuk beristirahat.
Jam sudah menunjukkan pukul tiga sore, Reno berbaring di samping istrinya yang tertidur menyamping, mengusap lembut perut Delena penuh cinta.
Delena menggeliat dan terkejut merasakan geli di area perutnya. "Mas! jangan jahil, tangannya sudah bergilya kemana-mana."
Reno tidak mengindahkan peringatan istrinya, tangannya terus gentayangan kemana-mana, seraya menciumi tengkuk Delena.
"Mas, sudah ahh geli, aku baru terlelap sebentar kamu malah ganggu."
"Sayang, bolehkah Mas nengok dedek bayi, udah empat bulan Mas nggak nengokin."
"Jangan sekarang Mas, aku lelah."
"Kau diam saja, biar Mas yang bekerja. Dokter Agung sudah membolehkan, kandungan mu sudah kuat yank." bibir Reno terus beegilya dan menggigit kecil ujung daun telinga, membuat Delena merasakan sensasi yang berbeda, libido nya langsung naik karena ulah suaminya yang tak mau berhenti. Reno membalikkan tubuh istrinya, Posisi Reno sudah diatas Delena.
"Mas!
"Pelan-pelan, sayang." bisik Reno lembut
Kini keduanya sudah polos tanpa busana, Reno selalu bisa membuat istrinya terpuaskan dan melayang ke angkasa, pemanasan yang menggairahkan membuat Delena tak berhenti mendes*h dan mengerang, hingga terciptalah permainan panas yang menggairahkan. Terdengar suara lenguhan panjang dari bibir keduanya setelah mendapat pelepasan. Selesai menunaikan hajatnya Reno jatuh kesamping istrinya dengan nafas tersengal.
"Thanks my wife." mengecup lembut kening Delena.
Setengah jam kemudian "Yank, Mas mandiin ya, udah kangen mandi bareng."
"Tapi hanya mandi ya Mas, aku masih lelah selesai acara tadi."
"Iya sayang..." Reno mengangkat tubuh istrinya yang mulai berisi menuju kamar mandi.
***
Seperti biasa Vano dan Vana mulai melanjutkan aktivitasnya, ia berangkat sekolah bersama. Sementara Bella masih dalam pemulihan. Enam minggu sudah Bella berada di rumah Sakit, seminggu dua kali Vano dan Vana pasti akan mengunjungi Bella di rumah sakit untuk membantu memulihkan kondisinya dan merasa tidak kehilangan semangat hidupnya.
"Kak! hari ini aku nggak bisa ikut jenguk Bella ya, soalnya mau beli kado untuk Calista yang akan berulang tahun besok."
"Ya sudah nggak apa-apa Dek, kakak sama Dev yang jenguk, kamu pulang sama pak Yanto."
"Oke kak! salam saja buat Bella ya."
Usai pulang sekolah Vano dan Dev pergi ke rumah sakit memakai motor Dev. Vana pulang bersama Pak Yanto pergi ke swalayan untuk membelikan kado.
πππ
@Maaf telat Up, Bunda sedang tidak fit beberapa hari ini, jadi tolong di maklumi π
@yuk terus dukung bunda dengan cara...
πlike
πvote
πgift
πkomen
@bersambung......πππ