
Sepertinya kita tepi kan mobil disisi jalan, jangan sampai terlihat mereka.
"Dad! Vano akan turun untuk memastikan tempat itu, lokasi itu sudah semakin dekat."
"Baiklah Nak, berhati-hati lah!
"Om, ikut van! ayo kita berdua turun. Kakak dan Fany tunggu di mobil saja."
Setelah menepikan mobil. Frans dan Vano berjalan kearah lokasi. Saat sudah mendekati belokan sebelah kiri, terlihat kali kecil.
"Ssstttttt, Vano..!
"Iya Om."
"Kita jangan jalan bersaman, nanti ada yang curiga. Om jalan duluan nanti jarak 20 meter kau baru menyusul."
"Oke Om!"
Frans terus berjalan menyusuri kali, setelah jalan dua ratus meter ada beberapa rumah yang tampak lengang. Ia mulai membaca situasi. akhirnya memutuskan menunggu Vano mendekat.
"Van nomor rumah pria itu berapa? sepertinya nomor disini ngacak, aku lihat rumah-rumah disini berjauhan."
Vano membuka ponsel. "Nomor 113!"
"Sepertinya diujung sana ada sebuah rumah. Ayo kita kesana. kau tetap jaga jarak dari Om."
"Oke, Om! Vano tetap mengikuti saran Frans.
Langkah kaki Frans bergerak cepat, agar sampai tujuan. Saat sudah berada diujung jalan, hanya ada rumah tua yang sudah tak berpenghuni. "Agrrh! sial rumah tak kosong! decak Frans terlihat frustasi.
"Bagaimana Om? tanya Vano saat sudah mendekat.
"Kau lihat sendiri! rumah tak berpenghuni." terlihat wajah lelah Frans dan rasa khawatir akan anak semata wayangnya.
"Apa kau tidak salah mencari jejak mereka? tanya Frans tampak ragu dengan pencarian Vano.
Vano berpikir sejenak, mata liarnya terus menyoroti tempat itu "Sepertinya ada jalan setapak yang menembus jalanan raya. ia berjalan kesamping rumah tua yang berdekatan dengan kali. Tidak ada penerangan lampu sama sekali. untuk memastikan filling nya Vano menyoroti jalan setapak dengan lampu senter ponsel. "Om! benar disini ada jalan setapak! seru Vano.
"Van! jangan nekat, kita cari jalan lain saja. Tempat ini sangat gelap dan sepi!
"Percaya sama aku Om! Vano terus meyakinkan Frans yang terlihat frustasi. "Ini menembus jalan Raya, tidak ada cara lain lagi selain melewati jalan setapak ini! Tidak ada salahnya kita coba, bukan?"
"Ck. Frans berdecak, akhirnya Frans mengikuti langkah keponakannya yang pemberani dan tidak mengenal takut. Vano sudah berjalan mendahuluinya.
Frans menggeleng kuat, Namun, ia mengikuti langkah Vano dan memercayainya. Frans tiba-tiba dikejutkan dengan kemunculan Vano yang berlari kearahnya, dan tabrakan tak dapat dihindari lagi karena gelap.
"Brukk!
"Aaggrr!
"Ssstttttt..." pelan kan suara Om, jangan berteriak bisa menimbulkan kecurigaan.
"Ck! kau ini bikin kaget saja!
"Dengar Om! benar dugaan ku, setapak ini tembus ke jalan raya. Saat aku keluar melihat sebuah sedan merah di sebrang sebuah rumah luas tapi tak terurus, sepertinya ada kegiatan didalam sana!
Mata Frans melebar "Lalu Kenapa kau berlari? seperti dikejar hantu!" cetusnya kesal.
"Awas Om darah tinggi naik! Vano terkekeh, melihat Pria itu tegang dan stres semenjak kehilangan anaknya.
"Ck. Disaat seperti ini masih bisa becanda!
"Tadi saat aku ingin mendekat, dari arah mobil ada yang berjaga. Ia menoleh kearah jalan setapak. Beruntung gelap dan aku menunduk. Saat ia lengah aku masuk ke jalan ini lagi, takut tiba-tiba Om keluar dan mereka tahu, bisa gagal rencana kita!" terka Vano.
"Apa kau yakin, kalau mereka ada hubungannya dengan penculik anakku?"
"Aku melihat dari mobilnya, persis saat ia datang ke sekolah Calista."
"Baiklah kalau begitu kita kesana! saat beberapa langkah berjalan. Ponsel Frans berdering.
"Siapa?" Vano menoleh kearah Frans
"Daddy mu!"
"Oya angkat saja, sepertinya Daddy khawatir."
"Hemm..."
Frans menggeser tombol hijau
"Hallo kak!
"Kalian berada dimana?"
"Kami masih mencari alamat orang tersebut. Tapi sepertinya sudah ada titik terang."
"Ya sudah, semoga berhasil. Aku hanya memastikan saja. kabari aku secepatnya kalau ada apa-apa."
"Baik kak! frans mengakhiri panggilan.
"'Ayo Van, jalan!
***
"Aku harus secepatnya keluar dari tempat ini. Sebelum Raksa berbuat nekad."
"Arrggh!" Anita mendengus kesel "Sial, jendela ini di teralis semua, bagaimana bila kabur?" Anita memijit keningnya sambil berfikir.
"Mama... Papa...!! Calista terus mengeluarkan isakan kecil.
"Sayang, sabar ya. Kita pasti akan keluar dari tempat ini." mengusap lembut kepala anak itu.
"Tante, Lista haus..."
Anita mencari sekeliling ruangan teko air, namun tidak menemukan. Hanya ada bangku kayu usang dan meja kotak, selebihnya barang-barang tak terpakai.
"Sial banget, mereka menyekap kami tapi tidak memberikan minum dan makanan. kalau aku saja masih bisa tahan, bagaimana dengan gadis seumur Calista?" Raksa benar-benar keterlaluan!" gumamnya kesal
"Sabar ya, Tante akan minta pada mereka."
Anita berjalan kearah pintu.
"DOR! DOR! DOR...!
"Hey! buka pintunya! kami butuh minum..!
Didalam ruangan Raksa dan anak buahnya menyusun rencana.
"Kita naikan tebusannya 5 Milyar!
"Lima Milyar Bos? tanya dua pria itu terkejut.
Alis Raksa mengkerut "Kenapa?" dia itu anak sultan, kekayaan nya berlimpah. Bagi mereka lima Milyar tidak ada seujung kukunya."
"Bila ini berhasil, berapa jumlah yang akan aku dan anak buahku dapatkan!"
"Kurasa satu milyar cukup untuk kalian!"
"Itu tidak adil Bos! kedua pria itu protes.
Raksa melotot. "Kau tinggal ikuti rencana ku saja dan otak ini aku yang mikir!"
"Jangan enak sendiri, Bos! pria itu menaikan suaranya.
"Sudah tidak usah berdebat! kita jalani dulu rencana ini, jangan sampai gagal." usul Ratna kekasih Raksa.
"Ck. ini tidak adil! dengus pria itu kesal.
"Baiklah satu setengah milyar aku berikan untuk kalian. Tapi ingat, jangan sampai gagal rencana ini!
Kedua pria itu saling bersitatap dan mengangguk setuju. "kapan kita meminta tebusan untuk anak itu!"
"Wanita itu selalu berontak, mau kita apakan dia!"
"Anita mantan istriku, lepaskan kalau kita sudah mendapatkan uangnya. wanita itu sudah tidak bisa diandalkan!"
"Ahh!" dia pasti akan lapor polisi?"
"Tidak akan berani, selama anaknya aku sandra!"
"Ferdy anakmu juga sayang."
"Aku akan memberikan Fredy pada Anita, setelah kita dapatkan uang itu." Raksa tersenyum masam.
"Bos! wanita itu teriak-teriak dibelakang gudang minta air minum." anak buah Raksa berdiri di ambang pintu.
"Berikan saja, agar mereka tidak mati kehausan!"
"Baik Bos!"
****
"Om lihat disana ada tiga orang sedang berkumpul."
"Apa pasti itu alamat yang kita cari? tulisan nomornya sudah burem."
"Ck. Om ini masih saja ragu. Lihat mobil sedan itu sama persis dengan gambar di cctv ini! Vano menyodorkan ponselnya yang sudah ia rekam.
"Benar mobil itu mirip? ya sudah apa rencana kita untuk masuk kedalam rumah itu?"
"Mereka sudah hapal wajah Om. Lebih baik aku saja yang kesana." Vano mulai menyusun rencana.
"Apa kau yakin?" menatap wajah Vano tak percaya.
"Ck. Masih juga meremehkan ku! ucap vano sombong.
"Ya sudah Om tunggu di belakang mobil itu, kalau ada apa-apa teriak saja. Om akan masuk."
"Om bawa senjata?"
"Aaggrrhh! disaat genting begini pistolku ada di dashboard! kesalnya.
"Ya sudah, apa saja buat senjata. Aku kesana dulu! ucapnya disela langkahnya.
"Vono!
"Ya!" menoleh Frans.
"Hati-hati, cepatlah kembali!"
Vano mengangguk dan berjalan kearah rumah bercat hijau itu. "Tidak diragukan lagi, pengganti Anak macam Asia sudah beraksi." gumam Frans bangga.
"PLETAK! Vano melempar sebuah batu.
"Hey! siapa itu! teriak seorang penjaga di depan teras.
"Maaf Om, Mas, ehh.. Pak! teriak Vano dari pagar teras.
Pria itu mendekat untuk memastikan "Ada perlu apa datang kemari?
"Saya ini musafir pak, mau kerumah saudara saya tapi kesasar. Boleh saya minta minum? saya kehausan, cari warung tidak ada malah kejebak disini." dustanya dengan mimik muka lelah.
"Siapa Boy?
"Ini ada anak yang minta minum katanya kesasar."
Pria itu memicing dan perhatikan raut wajah Vano yang terlihat ragu.
"Ya udah kasih ajah, kasihan cuma minum doank!
"Oke tunggu disini, saya ambilkan!"
Vano mengangkat sudut bibirnya, ia sedang berpikir bagaimana bisa masuk kedalam rumah itu. Tak lama pria itu keluar membawa segelas air putih ditangannya.
"Punya hati juga mereka untuk mengasihi orang!" pikirnya dan menerima gelas itu, kebetulan Vano memang sedang haus dan diteguknya hingga habis.
"Sudah sana pergi! usir pria itu usai mengambil gelas dari tangan vano.
"Aduh!" Vano meringis.
"Ada apa lagi!"
"Saya mules Pak! bisa numpang ke toilet."
"Huft!" Pria itu meniup kasar. "Nyusahin saja, sudah sana masuk, di sebelah sana ada kamar mandi. Pria itu menunjuk sebuah toilet samping tumpukan barang.
"Terima kasih, Pak!
Vano segera masuk dan berjalan kearah toliet berjarak 100 meter. "Tempat ini sangat kumuh,. banyak ditumbuhi ilalang. Sepertinya ini benar alamat yang sudah aku lacak. Aku harus berhati-hati."
"Astaga! kamar mandi ini sangat bau!" Vano menutup hidungnya "Untung aku sedang tidak mules. Aku harus cari jalan agar bisa masuk kedalam." Vano terus meraba-raba tempat itu.
"Ada pintu papan, apa ini jalan kedalam?"
KREKK!
Tempat apa ini? benar ini pintu arah kedalam, ada lorong sangat gelap, aku coba kesana."
Vano terus berjalan dengan menyenter arah lorong itu, kakinya berhenti disebuah gudang. "Tempat apa ini, kenapa di gembok? disini sepi dan tak berpenghuni, lebih baik aku cari jalan masuk kedalam."
"Huhuhuhu... Mama! papa!"
"Jangan nangis lagi ya? kita pasti akan keluar dari sini!
"Aku takut Tante, aku mau pulang."
"Deg! jantung Vano berdebar "Suara itu, seperti Calista? Vano yang sudah berjalan menjauh, mendekat kembali. Menaruh daun telinganya di pintu untuk memastikan suara itu.
"Huwaaaaa.... Mama!"
"Calista! apakah kau didalam?" tanya Vano, memastikan.
"Kau siapa...? terdengar suara Anita dari dalam gudang.
"Aku Vano!" aku dan Om Frans datang untuk menyelamatkan kalian."
"Vano, anak tuan Reno?!"
"Kak Vano...!! Lista ingin pulang!" jerit anak itu.
"Ssstttttt..." kalian jangan berisik aku akan keluarkan kalian dari sini!"
"Apa yang sedang kau lakukan disini!! teriak seseorang dari belakang punggung Vano.
ππππ
@Yuk kirim Bunda Hadiah, bab nya lebih panjang, biar bunda semngat πͺ nulisπ
@yuk terus dukung bunda dengan cara...
πlike
πvote
πgift
πkomen
@bersambung......πππ
'