ISTRI PENGGANTI CEO: Season 2

ISTRI PENGGANTI CEO: Season 2
S.3 Meregang Nyawa


"Kau siapa...? terdengar suara Anita dari dalam gudang.


"Aku Vano!" aku dan Om Frans datang untuk menyelamatkan kalian."


"Vano, anak tuan Reno?!"


"Kak Vano...!! Lista ingin pulang!" jerit anak itu.


"Ssstttttt..." kalian jangan berisik aku akan keluarkan kalian dari sini!"


"Apa yang sedang kau lakukan disini!! teriak seseorang dari belakang punggung Vano.


Vano memutar tubuhnya dan menatap pria bertubuh tinggi tegap didepannya. sorot matanya ingin membunuh. Vano menyeringai dan membalas tatapan mata tajam itu, tidak ada rasa takut atau gentar sedikitpun.


"Kau yang tadi meminta minum kan! untuk apa masuk kedalam sini, lancang sekali kau! Cepet pergi dari tempat ini! bentak pria itu, di iringi langkah yang semakin cepat menuju Vano berdiri.


Sudut bibir Vano melengkung dan tetap pada posisinya berdiri, tangan pria itu mengepal membuat sebuah tinju dan melayangkan ke wajah Vano, Namun sayang, sebelum tonjokan itu mendarat di wajah Vano, lebih dulu Vano menunduk, dan " BRUKK!


Aaahhkk! kepalan itu menonjok sebuah pintu kayu yang membuatnya terpekik.


Vano menghantam punggungnya dari belakang dengan ilmu karate yang ia miliki. "Krekk! ada sebagian tulang retak sebab Vono menggunakan tenaga dalam. Sebelum Pria itu berteriak histeris, Vano lebih dulu membekap mulutnya dan memukul tengkuknya agar ia pingsan.


"Untung saja aku cepat menghantamnya, bila tidak ia akan berteriak dan menimbulkan kegaduhan. Aku harus cari kunci gembok itu secepatnya sebelum kedatangan mereka."


Diluar, tepatnya dibelakang mobil. Frans sangat gelisah sebab sudah setengah jam Vano belum juga kembali dan memberikan informasi. Frans mulai menghubungi Vano, namun kontaknya tidak aktif.


"Aagrrh! kenapa ponselmu tidak aktif Van! buat khawatir saja!" decak Frans kesal. "lebih baik aku hubungi kak Reno, aku tidak ingin terjadi apa-apa dengan keponakanku." Tak ingin terjadi masalah dengan Vano, Frans menghubungi Reno.


"Hallo kak! panggilnya cepat setelah Reno menerima panggilan dari Frans.


"Bagaimana keadaan disana?


"Vano sudah masuk kedalam rumah target yang menurutnya itu adalah rumah si penculik. Sudah setengah jam berlalu, tapi ia tidak juga menampakkan batang hidungnya. Aku sangat khawatir dan takut terjadi apa-apa didalam sana."


"Kau bisa menghubunginya kan?"


"Ponsel Vano tidak aktif, itulah yang buatku khawatir. Aku tidak ingin anak dan keponakan ku terjadi apa-apa."


"Aku percaya pada Vano, dia pasti bisa menyelesaikannya dengan baik, kita tunggu saja sampai ia memberi kabar."


"Aku tidak akan bisa tenang kak!


"Jadi rencana mu apa..?"


"Aku akan tetap masuk kedalam rumah itu!"


"kalau kau begitu khawatir, lakukan menurut kata hatimu. Aku sudah melaporkan polisi setempat untuk datang ke lokasi."


"Baik kak!" aku tutup dulu telponnya."


"Kak Reno, aku akan menyusul Frans ketempat itu! ucap fanny lirih


"Huft!" Reno membuangnya nafas kasar "Kau tetap diam ditempat mu, Fan!"


"Tapi Kak!"


"kau jangan keras kepala, Fan! keadaan masih tidak baik disana, biarkan mereka bertindak dulu."


"Tapi kenapa kakak tidak membantu Vano dan Frans, kalau mereka juga butuh kakak!"


"CK. Reno berdecak kesal. "Kau selalu tidak sabaran dan keras kepala! kakak bukan tidak mau membantu, tapi kakak tidak ingin menggagalkan rencana Vano!"


Fanny mencabik, matanya menatap layar ponsel. terlihat wajah Calista yang sedang tersenyum. Hatinya begitu sakit mendapati kenyataan kalau Calista sedang tidak ada disisinya. Airmatanya meluncur bebas begitu saja. "Calista, Mama rindu Nak, cepat kembali."


Reno merasa iba melihat tangisan Adiknya. iapun merasakan kesedihan yang fanny rasakan. kehilangan anak kandung satu-satunya membuat seorang ibu terluka dan menderita. Reno pun pernah merasakan ada diposisi fanny. Saat Vano dilempar Davina ke kolam renang dan hampir kehilangan nyawa. karena merasa bersalah dan tidak ingin adiknya semakin bersedih, Reno membuka pintu mobil depan dan pindah duduk ke jok belakang.


"Ma'afkan atas sikap kakak tadi." Reno merangkul pundak adiknya, tangisan Fanny semakin dalam. Ia bersandar didada kakaknya. "Kakak menyayangi Calista seperti anak kakak sendiri." Reno menghela nafas dalam "Anak kakak bukan tiga tapi empat. kau adikku satu-satunya, Papa dan Mama sudah amanahkan Kak Reno untuk melindungi dan menjagamu." mengusap lembut pucuk kepala adiknya penuh kasih sayang. "Menangis lah, bila semua itu bisa membuatmu lega."


"Aku sedang memikirkan Calista yang belum makan sejak tadi siang. Hiks.. bagaimana keadaannya? ibu mana yang tidak sedih dan sakit hati anak kandungnya hilang." Hiks... tangisan fanny semakin dalam.


"Huft! Reno membuang nafas kasar, ia tidak ingin terlihat lemah didepan adiknya. "Berdoalah, dengan doa seorang ibu, Calista pasti kembali."


Fanny mengangguk pelan sambil sesenggukan.


"DOR! DOR! DOR!!


"Hey! jangan pacaran didalam mobil keluar! teriak seseorang dari luar mobil.


"Cepat keluar! atau kami bakar mobil ini! kalian berbuat mesum di kampung kami!" salah seorang berteriak, yang sudah di kerumuni di samping kiri dan kanan mobil Reno.


"Kak! kenapa mereka menuduh kita? padahal kita hanya numpang parkir!" Fanny terkejut dengan bola mata membulat.


"Kau tenang saja didalam, biar kakak yang hadapi orang-orang kampung itu!"


"Kak berhati-hatilah, mereka banyak kakak sendiri." ucap fanny khawatir, ia tidak ingin kakaknya mendapat masalah disaat seperti ini.


"Ingat fan! apapun yang terjadi, jangan pernah keluar dari mobil ini!"


Reno membuka handle pintu dan keluar. ia berdiri tegap didepan orang-orang itu.


"Selamat malam, kenapa bapak-bapak datang marah-marah dan gedor pintu mobil orang! tanya Reno tegas, dengan sorot mata tajam. Sebenarnya Reno malas meladeni mereka, karena mereka bukanlah lawannya, Namun cara mereka kasar dan tidak sopan. Reno ingin beri pelajaran.


"Kami sedang mengadakan ronda di kampung kami, karena banyaknya perselingkuhan dan orang-orang berbuat mesum disini!"


"Kalian salah menuduh orang, wanita yang di dalam mobil adik saya. saya kemari karena ada orang yang sudah menculik keponakan di daerah ini!"


"Alah nggak usah banyak alasan! kau itu orang berkelas, kalau mau berbuat mesum sana di hotel saja!"


Mendengar ocehan pria itu, membuat Reno naik pitam, ia menarik kerah baju pria itu. "Kau lihat pakaian ku masih utuh! mata Reno memerah melototi wajah pria itu yang ketakutan "Dalam sekejap aku bisa menghancurkan mu! kini mata Reno menoleh pada orang-orang yang sedang berdiri menatap padanya "Juga kalian semua, tidak akan aku biarkan tenang!"


"BRUKK!


Reno melempar pria itu didepan orang-orang yang masih berdiri mematung. pria itu terpelanting ke aspal. Salah satu dari mereka mendekat dan Ingin memukul Reno, secepat kilat Reno menendang perutnya dan berakhir di aspal juga. Perkelahian tak dapat di hindari, dalam sekejap delapan orang pria yang sedang ronda tersungkur di aspal dengan suara kesakitan.


Tiba-tiba datang dua orang Pria bertubuh tegap dan membungkuk didepan Reno. "Maaf Tuan, kami datang terlambat!"


Reno menyinggung senyum masam "Urus mereka semua dan antarkan pada keluarga masing-masing. Berikan uang pengobatan untuk mereka!" ucap Reno seraya mengibas-ngibaskan jas yang melekat di tubuh kekarnya.


****


"Sial! aku tidak menemukan kunci ditubuh pria ini! aku harus mencari cara lain."


Di sudut ruangan Vano menemukan sebuah gergaji. "Semoga ini bisa untuk melepaskan gemboy itu." Vano mulai gergaji gembok besar itu, namun tidak terlepas. "Huft!" ia meniup kasar "Tidak bisa juga." lalu ia berfikir sejenak.


"Kak Vano! Lista mau pulang, huhuhu..."


"Sabar ya Dek, kakak masih berusaha untuk bisa buka gembok ini."


"Jalan satu-satunya dengan ilmu tenaga dalam yang sudah aku pelajari untuk melepaskan gembok ini." Vano mulai menutup mata dan memusatkan satu pikiran untuk membuka gembok yang sudah ia pegang. Ia menarik nafas dalam-dalam dan menahannya, dalam satu tarikan nafas. Satu tangannya menghantam lingkaran gembok, dan kunci patah jadi dua. "Berhasil!" pekiknya lega.


"KREKKK!


"kak Vano! Calista berlari menubruk vano.


"Syukurlah kau tidak apa-apa, Ayo kita cepat pergi dari sini!"


"Tuan Vano, ma'afkan saya." wajah Anita tertunduk sedih.


"Sudah ayo, secepatnya kita tinggalkan tempat ini!" Vano berjalan mendahului sambil menuntun tangan Calista.


Saat berada di depan pintu Vano membuka sedikit pintu dan mengeluarkan kepalanya, ia melihat situasi diluar sana. Setelah aman, membawa Calista dan Anita keluar dengan berjalan mengendap-endap.


"Kalian mau kemana! teriak seseorang dari belakang mereka "Berhenti! atau timah panas ini akan menembus kepala kalian!"


Mereka memutar tubuh dan melihat sosok Pria menodongkan pistolnya kearah mereka bertiga. Vano menarik tangan Calista untuk bersembunyi dibelakang punggungnya.


"Raksa! kau sudah gila!! lepaskan mereka berdua, ketamakkan sudah membutakan matamu!" Anita berteriak lantang meluapkan segala kekesalannya.


"Apa hak mu melarang aku! kau bukan siapa-siapa ku, lagi! salahmu sendiri kenapa minta berpisah dariku. kau yang sudah buat aku seperti ini, Anita!"


"Cih! Anita membuang ludah. "Tak sudi aku bertahan hidup denganmu! kau pengangguran, bahkan berselingkuh dibelakangku dengan wanita Pelakor itu! sekarang biarkan kami pergi! dan bertobatlah sebelum kau menyesal!"


"Hahahaha...! Aku tak sebodoh itu Anita, mau melepaskan berlian yang berada didepanku! lebih baik menyerahlah. dan kau anak muda." menatap kearah Vano. "Cepat kau menyingkir dan pergi dari sini! berikan anak itu padaku!


Vano menyeringai "Dasar pengecut! berani mengancam dengan senjata. Ayo lawan aku! satu lawan satu tanpa senjata! kita buktikan siapa yang menang! Kalau aku kalah kau boleh minta tebusan pada keluarganya. tapi, kalau aku menang bebaskan kami semua!"


"Hahahaha... kau berani menantangku! bagaimana kalau aku tetap pakai senjata. Aku tidak ingin melepaskan Berlian itu! kau ingin menggagalkan rencana ku, bukan? Lebih baik kau mati saja!!" teriak Raksa dengan nafas memburu. Pistol itu Raksa arahkan kedepan tubuh Vano.


"Vano awas ...!! seru Anita merentangkan kedua tangannya didepan Vano sebagai pelindung. Namun sayang, timah panas itu salah sasaran. Dan.....


"DORRRR.....


Aaaaakkkkhhhh!


💜💜💜💜


@Menegangkan bukan? BUNDA lagi bawa kalian naik Rollercoaster🤣🤣🤣


@Yuk kirim Bunda Hadiah, bab nya lebih panjang, biar bunda semngat 💪 nulis😘


@yuk terus dukung bunda dengan cara...


💜like


💜vote


💜gift


💜komen


@bersambung......💃💃💃


'