
Serangan demi serangan Vano berikan, tangan dan otaknya terus bekerja dan terus mengirimi virus sampah.
"Mati kau! seru Vano. dan benar saja orang yang meretas perusahaan Reno berhenti tidak berani mengirimi virus lagi, mereka tidak bisa meretas dan menjebol pertahanan yang Vano buat.
Pagi hari seperti biasanya Vana dan Vano sudah berkumpul di meja makan. Delena selalu memberikan senyum khasnya bila makan bersama suami dan kedua anaknya. Saat mereka berdua duduk di meja makan. Sosok Ayah dan ibunya tidak ada di ruangan makan, ada Mba sari yang sibuk mengatur makanan di atas meja.
"Dimana Daddy dan Mommy? kenapa tidak terlihat pagi ini di meja makan? tanya Vana pada Mba sari, pelayan di mansion yang di tugaskan mengurus dapur.
"Nyonya sedang tidak enak badan, Non!"
"Apa Mommy sakit? tanya Vana sambil mengigit sandwich.
"Sepertinya iya, ini Mba mau antar susu dan bubur Ayam untuk Nyonya?
"Sejak kapan Mommy suka bubur Ayam?
"Tadi subuh nyonya telpon Mba, minta di buatkan bubur ayam."
"Ooo...., Daddy, kenapa belum turun ya?!
"Daddy pergi dari semalam." jawab Vano sambil meminum susu putih ditangannya.
"Memangnya Daddy pergi kemana? kenapa pergi malam-malam?
"Itu bukan urusanmu, ayo kita berangkat."
"Sebentar, aku mau nemuin Mommy dulu."
Vana berlari menaiki anak tangga dan membuka pintu.
"Mommy..?
Terlihat kamar Delena yang gelap, sepertinya lampu sudah di padamkan, Vana melihat Mommy nya masih tertidur dengan selimut di batas dada. Vana berjalan membuka jendela, Udara pagi sangat segar dan masuk kedalam kamar, sinar mentari berwarna keemasan, masuk menembus celah jendela.
"Siapa yang membuka jendela, tolong tutup."
"Mommy ini Vana yang membuka jendela."
"Tolong di tutup sayang, Mom pusing kena sinar matahari."
"Kok aneh, tidak biasanya Mommy seperti ini, padahal setiap hari pasti buka jendela." gumam Vana, menutup jendela kembali.
"Mom! Vana berjalan ke tepi ranjang "Apa Mommy sakit?
"Kepala Mom pusing sayang, perut juga mual. Maaf ya mommy nggak bisa sarapan bareng."
"Iya tidak apa-apa kok Mom. Ini tadi Mba sari buat bubur ayam, kok tumben Mom suka bubur?"
"Nggak tau sayang, tiba-tiba pengen bubur ayam."
"Oiya Daddy kemana? kata kak Vano semalam Daddy pergi."
"Iya Daddy ada urusan kantor.'
"Ya sudah, buburnya di makan Mom, nanti keburu dingin. Vani berangkat dulu ya.' meriah tangan Delena dan mencium punggung tangannya.
"Hati-hati di jalan sayang."
"Oke Mom! mencium kening Delena. dan meninggalkan ibunya yang masih berbaring lemas.
Mobil Zevano dan Zevana sudah pergi meninggalkan mansion.
Didalam mobil.
"Kak! sepertinya ada yang aneh dengan Mommy."
"Aneh bagaimna?!
"Mommy nggak mau kena matahari, terus terlihat lemas hanya tiduran di ranjang."
"Mungkin Mommy lelah, kita sudah besar jangan terus-terusan merepotkan Mommy."
Vana mengangguk.
"Kak, nanti tukeran duduk sama Dev ya, aku males duduk sendiri."
"Isabella kenapa tidak masuk sekolah?"
"Patah hati sama kakak!
"Hah! ko bisa? jangan nyalahin kakak, donk." menoleh pada kembarannya yang sedang melintir-lintir ujung rambutnya.
"Kakak tahu kan Isabella itu suka sama kakak, gadis cantik polindia itu selalu mencuri pandang ke kak Vano, tapi kakak malah mengacuhkan.
"Tidak ada kamus pacaran dalam hidup kakak, sebelum usia kakak matang."
"Ish! lebay amat sih kak, nama juga cinta monyet, sudah biasa itu!"
"Hey, apa itu pemikiran mu? mata Vano mendelik "Ingat, tidak boleh pacaran atau cinta monyet kata mu tadi, sekolah dulu yang bener. tanggung jawab kita besar untuk menjadi penerus Perusahaan Daddy! paham!"
Mendapat ceramah dari kakaknya vani hanya mendengus kesel. "Kalau begitu, Kenapa kakak terima coklat dari Jessica."
"Kakak sudah menolaknya, dia memberikan melalui Dev, yang makan juga Dev."
Vana hanya diam seraya mengerucutkan bibirnya. Setengah jam kemudian mobil berhenti di depan sekolah vaforit. Mereka berdua turun dari mobil dan masuk kedalam kelas, Seperti biasa gadis-gadis bersorak kegirangan dengan kedatangan Vano, sang idola pujaan mereka, tapi Vano hanya perlihatkan wajah dingin tanpa ekspresi.
"Dev! kau pindah di belakang ya, gantian aku yang duduk dengan kak Vano." imbuh Vana yang baru sampai kelas.
"Tidak usah! kau saja yang duduk dengan Dev, kakak di belakang."
"Apa...?! kakak! aku nggak mau! Vana hentakan kakinya kelantai.
"Ya sudah aku yang di belakang, kau dengan adik mu saja." Dev mengalah dan pindah ke belakang.
"Dasar manja! celetuk vano.
Vano dan Vana duduk satu bangku "Ingat jangan terlalu benci sama Dev, nanti jatuh cinta beneran, loh!" sindirnya ketus.
"Kakak hanya menasehati saja, bukan nyuruh kamu pacaran."
Bel berbunyi, tanda di mulainya pelajaran.
💜💜
Di Mansion, mobil Reno sudah terparkir di depan halaman yang luas. Rasa lelah terpancar dari raut wajahnya yang dingin. Semalam Reno tidak tidur, Ia baru kembali dari luar kota mengurus gudang yang terbakar. Didepan pintu ia tidak melihat wajah cantik istrinya yang selalu tersenyum di saat ia pulang. Reno melangkah masuk kedalam dan duduk di Sofa. Mengedarkan pandangannya.
"Siang Tuan, apa Ingin saya buatkan kopi?! tanya Mba dari sopan.
"Dimana istriku?! bukan menjawab pertanyaan Mba sari, ia hanya menanyakan keberadaan istrinya lebih dulu.
"Nyonya masih di dalam kamar tuan, sejak dari pagi nggak keluar kamar."
Reno mengeryitkan alisnya "Nggak keluar kamar? apa Delena sakit?! gumamnya.
"Apa istriku sudah makan siang?!
"Saya sudah membujuknya Nyonya untuk makan, tapi katanya masih kenyang."
"Apa yang istriku makan? kenapa bisa kenyang?" tanya Reno penuh selidik.
"Tadi subuh-subuh minta buatkan bubur Ayam, tapi baru makan dua sendok, Nyonya muntah-muntah." terangnya, membuat Reno khawatir.
Setelah melepas sepatunya. Reno beranjak dari sofa dan menaiki lift. Membuka pintu dan masuk kedalam kamar.
JGLEK!
Saat Reno masuk, ia melihat pemandangan yang tak biasa, jendela masih tertutup rapat dan gorden kamar tidak di buka. Reno berjalan kearah jendela, membuka gorden dan jendela. Udara masuk menerobos kedalam kamar. Ac ia matikan dan berjalan mendekati ranjang. Reno menatap istrinya masih tertidur, mengusap puncak kepala dan mencium keningnya. Delena menggeliat, mengerjab-ngerjabkan mata yang terlihat sayu.
"Mas, sudah pulang? Delena mengangkat wajahnya.
Reno mendudukkan tubuhnya di tepi ranjang "Kau sakit? aku panggil Dokter Agung untuk periksa keadaan mu ya."
"Nggak usah Mas, aku Nggak apa-apa kok."
"Nggak apa-apa bagaimana?! lihat kau begitu lemas, kata Mba sari kau belum makan siang kan? Ayo kita makan bareng."
"Mas saja yang makan, aku lagi tidak ingin makan." Delena meringis menahan mual di perutnya.
Reno melepas kemeja dan jeans. Tersisa boxser yang melekat ditubuhnya. ia naik keatas ranjang dan memeluk tubuh istrinya dari belakang.
"Huek... Mas, bau keringat mu aku nggak kuat, cepatlah mandi, bersihkan tubuh mu dulu." Delena berontak dari pelukan suaminya.
"Ada apa dengan mu yank? biasanya kalau Mas buka baju kau selalu mengendus tubuh Mas, katanya wangi aroma maskulin."
"Iya itu dulu, Sekarang aku nggak bisa mencium aroma tubuh mu.'
"Huek.. huek...huek..." Delena berjalan menuju kamar mandi dengan wajah pias. Ia memuntahkan kembali cairan bening. Reno sudah berada di belakang istrinya dan memijit lembut tengkuk nya.
Di malam-malam berikutnya, sikap Delena semakin berubah, ia tidak ingin tidur di peluk Reno, bahkan seringkali Reno mengalah dan tidur di sofa. Seperti biasa malam ini Reno tidur di sofa, Delena terbangun dan memanggilnya.
"Mas! Mas Reno...
Reno terbagun dan berjalan keranjang.
"Ada apa Yank?
"Mas tolong belikan aku telur burung, tapi yang sudah di tusak jadi sate."
"Hah?! ini sudah jam berapa yank? Reno menoleh pada jam yang menggantung. "Lihat, sudah jam satu."
"Aku nggak mau tau, Mas harus belikan, aku belum makan loh Mas."
Reno mendesah pelan "Ya sudah Mas akan Carikan. Tapi harus dimakan ya."
"Iya Mas, sama serabi kuah santan ya, Mas?
"Sudah hanya itu saja."
"Iya Mas." Delena mencium pipi Reno, setelah keinginan nya di penuhi.
Reno turun kelantai dasar sambil terus berfikir "Nggak biasanya Delena minta belikan sesuatu malam-malam, dan sudah dua hari aku tidur di Sofa, Delena nggak suka bau tubuh ku, aneh! gumamnya pada diri sendiri.
"Ded!
Reno menoleh kesamping.
"Vano? kau belum tidur?
"Vano habis dari dapur, ambil minum."
"Daddy mau kemana lagi, malam-malam pergi?
"Mommy minta balikan serabi dan telur burung, Daddy harus mencarinya."
"Boleh Vano temani Daddy?! mata Vano mengisyaratkan permohonan, ia jarang sekali ngobrol dengan Daddynya yang super sibuk.
"Oke! came on son!
Vano tersenyum "Oke Dad!
Mereka berdua berjalan ke teras, masuk kedalam mobil sport yang terparkir di halaman. Mobil berjalan meninggalkan mansion.
💜
💜
💜
@Bersambung....
Ayo terus dukung karya Bunda dengan cara LIKE, VOTE/GIFT, RATE BINTANG 5, DAN KOMENTAR POSITIF.
CEKIDOT 💃💃💃💃