
"Ketemu! teriak Vana seraya menunjukkan benda kecil itu pada Vano.
"Benar ini yang kita cari, Dek!"
"Cepat kak, kita lihat isinya?
"Vana, kunci dulu pintunya, jangan sampai Mommy dan Daddy masuk tiba-tiba."
"Oke, Kak!
Setelah pintu terkunci, Vano mengeluarkan laptopnya dan menyalakan. Mereka berdua sedang duduk di atas ranjang seraya menatap lekat laptop di depannya.
"Gimana kak!
"Sebentar, masih loading."
Berapa detik kemudian, Di dalam layar terlihat sebuah gambar, Sekelompok orang laki-laki sedang di jemur di sebuah tanah lapang bertelanjang dada, dan adegan selanjutnya dari mereka di cambuk oleh orang-orang bertopeng, darah mengucur dari punggung mereka, suara jeritan mereka membuat Vana bergidik ngeri.
"Kenapa mereka jahat sekali sih, kak!"
"Ssstttt... kau diam dulu, kita saksikan sampai habis, Sepertinya mereka sengaja menghukum orang-orang itu."
Ada sekelompok orang-orang membawa sebuah kotak, setelah di hitung ada 5 kotak peti berukuran sedang. Seorang Pria bertubuh tinggi besar berjalan mendekat, wajahnya tidak tertutup topeng. Vano tidak bisa melihat jelas wajah pria itu, hanya punggung lebarnya yang terlihat di dalam layar.
"Siapa laki-laki itu? gumam Vano pelan.
"Kenapa wajahnya tidak terlihat ya kak! sepertinya itu Bos nya, lihat ada yang memayungi tubuhnya agar tidak kepanasan."
"Kau benar, Dek. kita harus tahu apa tujuan mereka menghukum orang-orang itu."
Vano dan Vana masih terus mengamati isi flashdisk itu, ketegangan menyelimuti mereka berdua. rasa penasarannya membuat mereka tak ingin terlewatkan begitu saja setiap adegannya.
Pria itu dipayungi oleh asistennya, karena terik matahari yang menyengat. Dia ternyata ketua dari kelompok Pria bertopeng. Pria yang belum jelas terlihat wajahnya, menyuruh anak buahnya untuk membuka kotak-kotak itu. Tangan mereka mulai membuka kotak itu, dan..
Tok, tok, tok....
Vana... kenapa pintunya di kunci, sedang apa kalian di dalam?! terdengar suara Delena yang memanggil anak-anaknya.
Suara Delena mengagetkan mereka berdua "Kak bagaimana ini? mommy selalu saja mengganggu kita."
"Sebentar aku jeda dulu, baru nanti kita lanjutkan lagi. lebih baik kita keluar agar mommy tidak curiga, kalau sampai flashdisk ini di ambil Daddy, kita tidak bisa tau apa motif dari semua ini, hingga Nyawa kakak dan Oma terancam." imbuh Vano bicara pelan pada adiknya.
"Kenapa kakak tidak ingin memberitahu Daddy, pasti Daddy bisa membantu kan, kak!
"Jangan, kita jangan libatkan Daddy. Kasihan mommy yang selalu sedih bila Daddy ada masalah, biar kakak cari solusinya."
Tok, tok, tok...
"Vana, Vano... ayo buka pintunya! seru Reno di depan pintu.
"Itu suara Daddy! cepat kak, sembunyikan laptop nya di lemari ku."
"Iya! ingat Dek, apapun yang terjadi kita tidak boleh mengaku, bila Daddy dan Mommy bertanya."
"Baik kak!
Vano menaruh laptopnya di bawah tumpukan baju Vana.
"Sudah di simpan yang benar, kak ?!
"Sudah! cepat buka pintunya."
JEGLEK
Haiii... Dad! haii..Mom...
Sapa mereka berdua kompak, seraya menampilkan senyum sumringah, seakan ingin menjelaskan kalau kami baik-baik saja.
"Apa yang sedang kalian lakukan di dalam kamar? tanya Delena curiga.
"Tidak ada apa-apa kok, Mom!
"Kenapa kalian harus mengunci pintu kamar, tidak pernah seperti ini kan? imbuh Reno, seraya menatap bergantian kedua anaknya.
Delena yang sejak tadi dibuat penasaran dengan kedua anaknya, nerobos masuk kedalam kamar.
"Bukan begitu Dad," Vana berjalan mendekati Reno dan memeluk pinggangnya, seakan memintanya untuk tidak curiga. "Tadi itu kak Vano lagi curhat, katanya dia lagi suka dengan Seseorang."
"What! Reno mengeryitkan alisnya.
Vano terlihat kaget dengan pernyataan adiknya, ia melototi Vana, saat Vana menoleh padanya. Vana malah tersenyum lebar.
"Vana cuma bercanda, Dad!" sambar Vano, dengan bibir mengerucut.
"Lain kali jangan kunci pintu lagi." Delena memberi peringatan pada kedua anaknya, setelah keluar dari kamar.
"Oke, Mom!
"Sekarang kalian mandi, sudah sore. Nanti malam kita Diner diluar."
Vano dan Vana saling bersitatap, Vano mengangguk pelan. Mereka berdua masuk kedalam kamar masing-masing.
"Mas, aku buatkan kopi dulu."
Setelah Reno dan Delena pergi, Vano berlari ke kamar adiknya.
"Vana..."
"Kak! apa rencana kakak selanjutnya?
"Biar Daddy dan Mommy tidak curiga, kita ikuti saja untuk pergi Diner, setelah pulang dari sana kita lanjutkan lagi nontonnya, aku sangat penasaran apa isi kotak itu."
"Sama aku juga kak!
"Ya sudah cepat kau mandi, kakak juga mau mandi."
Saat Vano sudah didepan pintu, ia hentikan langkahnya. "Vana, kenapa kau mengatakan sama Daddy. kalau aku curhat, suka sama seseorang."
"Muehehehe... supaya Daddy tidak curiga kak! Vana terkekeh memperlihatkan gigi kelincinya.
Vano hanya gelengkan kepala seraya menutup pintu.
Jam sudah menunjukkan pukul tujuh, mereka sudah masuk kedalam mobil, Reno sengaja mengemudikan sendiri mobilnya, karena ia ingin keluarganya selalu harmonis. Satu jam kemudian mobil sudah berhenti di perantara Hotel 'Horizon.' Mereka berempat masuk kedalam hotel, menuju ruangan yang sudah di sediakan. Ada sebuah meja bundar dengan depalan kursi, mereka semua di persilahkan untuk duduk oleh seorang Pria berjas hitam.
"Kak, Daddy sama mommy membawa kita makan malam, tapi sepertinya mengundang orang lain."
"Kita lihat saja, siapa yang Daddy undang."
Tak berapa lama, datang sepasang suami istri bersama satu anak gadisnya.
"Hallo Tuan Reno."
"Selamat datang, Tuan Daniel."
Mereka berdua saling berjabat tangan.
"Kenalkan ini istri dan anak saya."
"Rosita.." ucap wanita itu ikut mengalami Reno, dan cipika-cipiki dengan Delena.
"Ini Serly berusia 10 tahun, anak kedua kami. Jessica kakak nya tidak mau ikut."
"Ini Istri cantik saya Delena, dan kedua anak kembar kami Zevano dan Zevana."
"Hallo Zevano, sangat tampan seperti Daddynya," puji Daniel.
"Haiii, Cantik! sangat cantik seperti Mommy nya." puji Daniel kembali, tersenyum lebar.
Terima kasih atas pujian, Tuan." imbuh Vano, mencium punggung tangan Daniel, di ikuti Vana. Ada yang menarik dalam mata liar vano, ia melihat tato kecil berbentuk kalajengking di punggung tangan Daniel, pria blasteran indo Jerman itu tersenyum pada Vana dan Vano.
"Ini anak Om. panggil saja Om, jangan tuan. Oke...? Sayang kenalkan anak teman Papah." pinta Daniel pada anak gadisnya.
Mereka bertiga saling berjabat tangan dan duduk manis di kursi masing-masing.
Reno memperkenalkan Daniel pada istrinya, ia adalah teman sekolahnya waktu sama-sama duduk di bangku SMA di Jerman. Dengan kedatangan Daniel dan menetap di Indonesia untuk menjalin kerjasama. Kebetulan Daniel masih memiliki keturunan Ibunya orang asli Indonesia. pernah bercerai dari istri pertamanya orang Jerman, dan memiliki satu putri. Lalu menikah lagi dengan Rosita asli orang pribumi.
Delena, Rosita, Daniel dan Reno, membahas masalah bisnis seraya bersendau gurau, Reno dan Daniel menceritakan masa remajanya saat di sekolah dulu, sambut gelak dan tawa mereka berempat. Dari cerita Daniel, Delena baru tau kalau Reno Pria dingin yang angkuh, ternyata ia juga pria play boy yang banyak di kelilingi gadis-gadis cantik di sekolahnya, Selain tampan dan cerdas, Kakek nya Mahesa sangat terkenal sebagai pembisnis terkaya di Asia.
Delena yang kesal dan gemes terus mencubit lengan Reno, saat Daniel menceritakan masa lalu dan wanita-wanita Reno.
"Cukup lah Daniel, bisa-bisa aku jadi perkedel di rumah." sindir Reno melirik istrinya yang sudah menekuk wajahnya.
Mendengar ratapan Reno, Daniel malah terbahak. "Sudah Pah, jangan bercanda terus." imbuh Rosita memperingati.
Vano dan Vana dan Sherly hanya jadi pendengar orang-orang dewasa bicara.
"Seharusnya, tadi kita tidak usah ikut Daddy dan Mommy." gerutu Vano, berbisik di telinga Vana.
"Kata kakak, kalau kita tidak ikut dinner, nanti mommy dan Daddy curiga."
"Haii, Son ada apa dengan wajah mu? kenapa di tekuk seperti itu? canda Daniel terkekeh.
"Tidak ada apa-apa, Om."
"Vano sama persis dengan Daddy nya, ia dingin dan tidak banyak bicara." timpal Delena.
"Untuk mempererat hubungan kita, bagaimana kalau Vano aku angkat jadi mantu." ucap Daniel, bicara serius.
Vano yang mendengar tawaran Daniel, mendengus kesel, ia paling tidak suka dengan namanya perjodohan. Apalagi ada unsur bisnis di dalamnya.
"Masalah jodoh, aku serahkan pada Vano. Lagipula ia masih kanak-kanak. belum saatnya membicarakan tentang pernikahan." ucap Reno tegas, seraya meyerumput kopi di tangannya.
"Oke, kita lihat saja nanti!
Dua kelurag itu mengakhiri obrolannya dengan menikmati hidangan di atas meja.
❣️
❣️
❣️
BERSAMBUNG.....💃💃💃💃