
"Iya fanny, aku dan Riska pernah menjalin satu hubungan"
Hancur sudah hati fanny, ia membekap mulutnya tak percaya, air matanya mengalir bebas begitu saja "Ternyata benar kau menjalin hubungan dengan Riska, kau jahat frans!
"PLAKK!
Sebuah tamparan keras mendarat dipipi frans, ku harap ini yang terakhir kalinya aku melihat wajahmu Frans! fanny membuka pintu apartemen dan berlari meninggalkan Apartemen.
"Fanny! Frans mengejar fanny tapi ia sudah masuk kedalam lift.
"Fanny maafkan aku, aku sangat mencintai mu, tapi aku tidak ingin menyakiti keluarga mu kalau kau sampai menentang mereka untuk hidup bersama ku, aku berhutang jasa pada kelurga mu" airmata Frans terus menetes, sebuah tangan menyentuh pundaknya "Frans masuk lah tidak enak dilihat tetangga"
Frans memutar tubuhnya dan berjalan masuk kedalam, ia mendudukkan kasar tubuhnya membekap kedua wajahnya.
"Frans.. lebih baik kau makan dulu ya" ucap Riska mengelus lembut punggung frans.
Frans menarik nafas dalam dan dihembus kannya kasar "Riska tolong kau tinggalkan aku sendiri, aku sedang tidak ingin diganggu"
"Apa kau yakin kalau aku tinggalkan?"
"Tidak apa-apa"
"Baiklah Frans, kalau ada apa-apa hubungi saja aku, dan jangan lupa masakanku dimakan"
"Iya Ris,, terima kasih" ucap Frans datar tanpa menoleh sedikitpun.
Riska mengambil tas dan map diatas meja dan lngsung beranjak dari duduknya "Frans maafkan aku tentang ucapan ku tadi didepan fanny, ku pikir kau dan fanny bukan sepasang kekasih"
"Seharusnya kau tadi tidak menambah masalah dengan mengatakan hubungan kita yang sudah lama berlalu!"
"Tapi kita belum pernah mengatakan putus frans"
"Kau yang pergi meninggalkan aku Ris? kau yang pergi begitu saja tanpa ada kejelasan, tidak mungkin aku menunggu tanpa ada kepastian"
"Tapi frans,,,?!
"Tinggalkan aku sendiri Ris!"
"Baiklah aku akan pergi, tapi jawab pertanyaan ku, apakah kau mencintai Fanny?!
Frans menoleh pada Riska dan tersenyum hambar " Tentu saja aku sangat mencintai fanny, dia wanita yang paling aku cintai, tapi semua jadi berantakan setelah aku mengalami kecelakaan, aku merasa malu untuk kembali pada Fanny karena kondisiku yang cacat, tapi cinta fanny padaku tak berubah, akupun sangat mencintainya, tapi yang membuat aku kecewa ternyata fanny sudah dijodohkan oleh Om Ramon, mana mungkin aku merebutnya, apalah aku ini bila dibandingkan calon fanny yang bernama Justin"
"Justin?" sepertinya aku familiar dengan nama itu, tapi aku lupa"
"Kau sudah mendengar sendiri bukan? kalau aku sangat mencintai fanny"
"Baiklah Frans, aku harap kau tetap mau menjadi teman baikku walau kau sudah tidak ada perasaan padaku lagi" Riska mengusap air matanya "Kalau begitu aku permisi" Riska berjalan kearah pintu, sebelum pergi ia menoleh kebelakang menatap frans yang masih duduk dengan pandangan mata kosong, ia menarik handle pintu dan melangkah keluar Apartemen.
Setelah kepergian Riska Frans terus merenung, tiba tiba ia melihat fanny berdiri didepan sambil memegang sebuah pisau ditangannya.
"Frans! lebih baik aku mati daripada harus menahan sakit, kau sudah menghancurkan perasaan ku, bahkan kau tega kembali lagi pada kekasih mu!" hik, hik, hik,
"Fanny kau kembali?! Frans bangun dari duduknya dan memeluk tubuh fanny.
"Pergi kau! fanny mendorong tubuh frans "Aku sudah tidak sudi lagi dekat dekat dengan mu, kau pendusta!"
"Fanny dengarkan aku dulu! kau salah paham padaku, aku tidak pernah mencintai Riska?!"
"Mundur frans" fanny menaruh pisau itu dilehernya, aku sudah tidak ingin hidup lagi, percuma aku pertahankan semuanya tapi kau tidak pernah mau peduli!"
"Fanny jangan nekad, tolong lepaskan pisau itu! Frans memajukan langkahnya perlahan "Aku sangat mencintai mu Fanny, ku mohon lepaskan pisau itu" frans begitu takut fanny berbuat nekad.
"Tidak Frans, kau baru puas kalau melihatku mati terkapar di depanmu!
"Fanny ku mohon? kau jangan lakukan itu! maafkan aku fan?!
"Selamat tinggal frans!"
Fanny sudah nekad dan ia sudah tidak peduli, ia menggoreskan pisau itu keleher nya, darah segar mengucur deras dan ia jatuh kelantai.
"Fanny apa yang sudah kau lakukan!
Frans menjatuhkan tubuhnya kelantai, ia mengangkat tubuh fanny yang sudah bersimbah darah, Frans menjerit histeris.
"Fanny.. hiks.. hiks.. hiks.." kenapa kau lakukan ini padaku, maafkan aku fanny, jangan tinggalkan aku fanniiiiiii....."
"Fanny tidaaaaaakkkkk.....
"Uhuk,, uhuk,, uhuk,,
Frans lngsung terbatuk dan terbangun dari tidurnya, ia mengusap wajahnya berkali-kali "Ya Tuhan untung hanya mimpi, ada apa dengan Fanny, apa maksud dari semua mimpi itu?!
Hari sudah menjelang malam, frans masih berada di ruangan tamu setelah ia tertidur pulas, "Apa ada yang salah pada diriku, karena telah mengecewakan Fanny?!"
"Ya Tuhan apa yang harus aku lakukan?! Frans mengacak ngacak rambutnya "Kenapa hari ini gerah sekali, aku mau mandi untuk menghilangkan bebanku"
"Tidak! aku harus menemui fanny sekarang, aku tidak ingin fanny berbuat nekad, aku tidak ingin kehilngan orang yang sudah memperjuangkan ku?"
Frans keluar dari Bathtub dan membersihkan dengan shower, ia melilitkan handuk dipinggang nya, berjalan keluar kamar mandi mengambil pakaian.
****
Frans sudah memanggil taxi di depan apartemen, mobil berjalan menuju Mansion, satu jam setengah perjalanan mobil sampai di depan Mansion milik keluarga Ramon, Frans turun setelah membayar taxi.
"Fanny? aku harap kau tidak apa-apa, apa lebih baik aku telpon dulu" Frans mengambil ponsel dari saku celananya dan mulai menghubungi fanny.
"Kenapa ponselnya tidak aktif juga, pesan kupun belum masuk"
"Tuan Frans?! panggil seorang satpam yang mengenal sosok Frans "Apa tuan ingin bertemu Tuan Ramon?! tanya nya sambil berdiri di depan gerbang.
"Hmmm,, tidak pak, apa Nona fanny ada di dalam?!"
"Sepertinya ada, ku lihat mobil Nona masih terparkir di garasi"
"Begini, aku ingin bertemu Nona Fanny, tanpa setau Nyonya dan Tuan Ramon"
"Lebih baik tuan masuk saja kedalam, nanti minta si mba yang sampaikan pada Nona fanny, jarak dari pintu gerbang ke dalam Mansion kan lumayan jauh"
"Baiklah" frans masuk kedalam gerbang dan berjalan kearah mansion, sampai didepan teras ia menekan tombol dan seorang pelayan keluar.
"Selamat Malam Tuan, ingin bertemu dengan siapa?
"Non Fanny?!"
"Ada, tapi Sepertinya sudah tidur tuan"
"Tolong mba, bangunkan sebentar aku ingin bicara dengannya"
"Tapi ini sudah jam sepuluh malam, Non Fanny tidak suka di bangunkan"
"kalau begitu aku yang akan naik dan membangunkan Non fanny"
"Jangan tuan, nanti tuan besar sama Nyonya curiga, baiklah aku coba bangunkan Non fanny"
Frans menunggu di teras, pelayan itu berjalan kelantai dua dan mengetuk pintu kamar fanny.
"Non,, tok, tok, tok, "
"Non Fanny, ada Tuan Frans datang mencari"
Didalam kamar fanny yang sedang merenung lngsung kaget mendengar suara pelayan yang mengatakan ada Frans datang.
"Tidak! aku sudah tidak ingin menemuinya lagi, kau sudah begitu dalam menyakiti ku Frans"
"Bilang padanya mba!! aku tidak ingin bertemu dengannya lagi!
"Tapi Nona Tuan tetap ingin ketemu?"
"Usir dia mba! aku tidak sudi melihatnya lagi!
"Baik Nona"
Tring,, tring,,, tring,,,
"Siapa yang menelpon ku? kenapa tidak ada namanya" fanny menerima panggilan itu.
"Hallo,,,"
"Fan, ini aku frans, tolong jangan kau matikan teleponnya?!
"Untuk apa kau telpon aku frans! aku sudah bilang padamu tadi, kalau aku sudah tidak ingin melihat mu!"
Tut!
'
'
'
'
'
'
@BERSAMBUNG
@Dari awalkan sudah Author bilang di season Dua "Istri Pengganti Ceo" akan ada kisah Frans dan fanny, Siska dan Tomy, sebagai pelengkap, biar ceritanya lebih lebih menarik dan tidak membosankan, jadi tolong jangan di komplen lagi, makasih😊