
Dev membukakan pintu mobil, Vano lebih dulu menaruh Tina kedalam mobil, lalu dirinya masuk. Dev duduk di samping pak Danang.
"Ayo cepat pak, kita pergi dari sini!
"Van! kenapa kau senekad ini? bagaimana kalau kita di cari polisi, di rumah tadi ada kamera cctv." ucap Dev yang ketakutan.
"kau tenang saja, masalah urusan polisi aku bisa minta tolong Om Tommy, semua akan beres, apalagi kita tidak salah. tujuan kita mencari keberadaan Vana dan Bella, yang sudah pasti ada hubungannya dengan Jimmy!
Mobil berjalan meninggalkan kediaman Tina, saat di depan pos satpam, mobil Vano harus berhenti karena portal belum dibuka.
"Wah van, bagaimana ini. satpam berhentikan mobil kita, kalau mereka melihat gadis ini kita pasti ketahuan."
"Dasar Nobita, jadi orang penakut banget sih! ucap Vano santai "Sudah kau diam saja, aku yang akan urus sendiri."
"Mas Vano, bicaralah dengan baik, agar dua satpam itu tidak curiga pada kita semua, karena telah membawa gadis ini"
Vano mengangguk dan membuka kaca mobil.
"Siang pak, bisa minta tolong bukakan portalnya, kami ingin pulang." ucap Vano santai.
"Maaf, tadi adek bilang, mau kerumah bernama Jimmy? kedua orang tuanya sedang keluar kota, mas Jimmy nya sedang sekolah."
"Iya Pak, saya sudah tahu."
"Loh kenapa Dek Tina ada di bersama kalian? tanya satpam sedikit curiga.
"Kami masih kerabatnya, dan Tina tadi mengeluh sakit, aku akan mengantarnya kerumah sakit. Dan ini ada uang buat beli rokok! Vano mengeluarkan uang merah dua lembar dari dompetnya dan memberikannya pada satpam.
"Wah terima kasih banyak Dek, jadi merepotkan." ucap kedua satpam itu terkekeh.
"Kalau begitu, saya ingin melanjutkan perjalanan."
"Silakan..." satpam itu membuka portalnya dan membiarkan mobil Vano pergi.
"Demi uang semuanya akan beres." celetuk Dev.
"Sekarang kita akan menuju kemana lagi?
"Pak! bisa menepi sebentar, aku ingin melacak keberadaan Jimmy dengan ponsel adiknya."
"Wah, kau benar Van. kita bisa mencaritahu keberadaan Bella dan Vana melalui ponsel adiknya, ide mu sangat cemerlang. Good job!"
"Aku sudah mengambil ponsel dari tas gadis ini, tapi aku tidak bisa membuka polanya, Dev. kau bisa bantu aku untuk membuka kata sandi di ponsel ini, setahuku kau sangat jago mengutak-atik ponsel."
"Tenang Van, selama aku ada disini kau bisa perintahkan aku apa saja, termasuk membuka kunci ponsel ini, aku akan caritahu kata sandinya dulu, berikan ponsel itu padaku."
Vano menyerahkan ponsel itu ketangan Dev. Dengan cepat Dev mulai mengutak-atik kata sandi yang terkunci, dalam waktu sepuluh menit akhirnya kunci berhasil di buka, sebenarnya Vano bisa membuka kata sandi, namun, ia sengaja untuk menghargai peran sahabatnya yang selalu ada untuknya.
"Wah, untung ada kau bro, good job! puji Vano mengambil ponsel dari tangan Dev. Vano mulai mencari nomor Jimmy dari kontak adiknya.
"Sudah ketemu..? tanya Dev.
"Sudah! tapi aku ragu.."
"Ragu kenapa? tanya Dev lagi.
"Aku takut, supir sama wanita tadi menghubungi Jimmy dan memberitahu kalau adiknya kita bawa, dan mereka sedang menunggu kita telpon, tapi itu hanya dugaan ku saja."
"Coba saja kau tes dulu, apa balasan bila kau kirim pesan atas nama adiknya.
"Benar mas Vano, Nggak ada salahnya di coba." kata pak Danang mulai memberi saran.
Vano mengangguk dan mulai mengetik pesan atas nama adiknya.
["Kak Jimi lagi dimana?]
send......
["Kak! aku ingin kakak secepatnya pulng."]
send....
["kak! atau aku saja yang menemui kakak."]
send...
Sudah hampir setengah jam tidak ada jawaban, sudah ceklis dua, tapi masih belum di bacanya.
"Sekarang kita harus gimana?! tanya Dev pasrah. "Atau kau telpon Jimmy dan pancing supaya ia membacanya pesan itu, saat dia sudah membalas pesannya, kau langsung pinta alamatnya.
"Tidak semudah itu Dev, Jimmy tidak sendri. aku rasa ia sudah tahu adiknya kita culik, tapi kenapa ia santai dan tak pedulikan adiknya." begitu banyak pertanyaan dalam benak vano dan terus berfikir keras.
Devan menghela nafas kasar "Apa kita harus menunggu tanpa kepastian."
"Kita tunggu gadis ini bangun, sudah satu jam lebih ia belum siuman."
"Kau apakan dia sampai pingsan terlalu lama." dengus Devan.
"Kau pikir aku apakan? hanya membuatnya pingsan sebentar."
"Hey Nona bangun! Vano menggoyangkan pundak Tina yang bersandar pada jok mobil."
"Kau cipratkan saja pakai air." ide Dev, yang di anggukan oleh Vano.
"Tidak ada air minum, kau turunlah di depan itu, beli air dulu."
"Ini ada botol mineral punya bapak, gpp pakai saja."
Vano mengambil botol berisi air mineral dari tangan pak Danang dan menciptakan ke wajah Tina, hanya dengan dua kali cipratan air, Tina mendelikan matanya seraya menatap garang pada Vano.
"Sialan, wajahnya tampan banget sih, bikin jantungku berdebar-debar, alis tebalnya, mata tajamnya terlihat teduh, dagunya berbelah, bibir tipisnya merah delima ingin rasanya ku gigit, bikin gemes tau nggak, sih! gerutunya dalam hati dengan menggigit bibirnya sendiri.
"Dimana kakak mu, bersembunyi! suara Vano menyadarkan lamunannya.
"Aku tidak tahu! lagian ngapain kalian culik aku segala sih! tau ajah kalau aku ini cantik! omelnya seraya membanggakan diri sendiri.
"Cih! sok kecantikan! buat apa wajah cantik kalau akhlaknya burik! sindir Devan kesal.
"Kau! menunjuk Devan "Jaga ya mulut mu!"
"Sudah jangan berdebat! sekarang kau tunjukkan dimana kakakmu berada!"
"Aku tidak tahu, ya tidak tahu...."
"Pak, kita jalan saja, sepertinya gadis ini perlu kita beri pertunjukan!"
"Kemana? tanya pak Danang.
"Baiklah.." Mobil melaju dengan kecepatan sedang membelah jalanan raya, setengah jam kemudian mobil sampai di tujuan.
"Ayo turun! menarik kasar tangan Tina.
"Hey! kau mau bawa aku kemana? teriak Tina, saat Vano berjalan masuk kedalam sirkuit balap mobil yang di ikuti Devan dan Pak Danang.
"Pak! mau apa Vano bawa gadis itu ke tempat balap mobil."
"Entahlah aku juga tidak tahu, kita lihat saja. Apa yang akan dilakukan Mas Vano."
Seorang pria remaja berjalan menghampiri Vano.
"Hey, Van! wah tumben kau datang kemari."
"Bisa aku pinjam mobilmu, aku hanya ingin main-main sebentar."
"Ohh, tentu saja silakan! Pria itu menyerahkan kunci mobil pada Vano.
"Thanks, bro!
"Vano berjalan kearah mobil balap yang terparkir di lapangan besar, sebenarnya Tina sangat senang dan bangga Vano menarik tangannya, debaran nya semakin kuat.
"Ayo masuk perintah Vano!
Dengan santai dan percaya diri, Tina masuk kedalam mobil sedan kecil itu, Vano duduk di depan kemudi. "Cepat pakai seat belt mu! atau kau mau terpental dari dalam mobil."
"Sebenarnya apa tujuanmu, ngajak aku kemari." tersenyum nakal.
"Terserah kalau nggak mau!
Vano langsung melajukan mobil balapnya dengan sedang, tiba-tiba kecepatannya di tambah lagi seraya meter-muter di area sirkuit, membuat Tina ketakutan dan berteriak histeris.
"Berhenti! aku takut.... berhenti! dasar gila... kepala ku pusing dan mau muntah! teriak Tina seraya memegangi apa saja karena ketakutan.
Vano tak peduli, ia terus melajukan mobil balap itu dengan kecepatan tinggi. Tiba-tiba mobil melayang dan menukik tajam.
BRUAKK!
"Aaaaaaaaaaa......" Tina terpekik dengan mata melotot. jantungnya hampir terlempar keluar, tubuhnya gemetar dan lemas, lonjakan keras membuat tubuhnya sakit dan terguncang.
Sementara Devan dan Pak Danang tercengang dengan mulut menganga. Mereka berdua gelengkan kepala menatap tak percya pada pria yang beranjak remaja itu, di usianya masih sangat muda, 14 tahun.
"Cepat katakan dimana kakak mu membawa adik ku dan Bella! kalau kau masih tidak mau katakan baiklah, aku bisa lakukan lebih dari ini!
"Kau ingin membunuh ku!
"Sangat mudah bagiku untuk membunuh mu! aku terbangkan mobil ini ke dalam jurang, lalu aku bisa meloncat keluar dan kau bersama mobil ini akan meledak! DUAR....
"Tidak! aku tidak mau mati sia-sia.." teriaknya lagi dengan suara terisak.
"Cepat katakan! sebelum mobil ini aku masukkan ke dalam jurang, yang berada di luar pembatas sirkuit!! ancam Vano lagi.
Dengan nafas tersengal-sengal Tina mengatur nafasnya perlahan "Baiklah, tapi setelah ini kau berjanji, tidak akan pernah menyakiti kakak ku!"
"Kita lihat saja nanti! ucap Vano, menatap tajam bagai mata elang yang siap mencabik-cabik lawannya.
"Kalau begitu, aku tidak jadi memberitahukan dimana kakak ku!
"Kau mengancam, ku?! baiklah, kita lanjutkan lagi balapnya.
"Jangan! plis...!! aku mohon sudah cukup! baiklah aku menyerah."
Vano menyeringai dan menaikan sudut bibirnya.
"Kakak ku berada di markasnya bersama teman-temannya."
"Dimana? cepat katakan, waktuku tak banyak!
"Ia berada di daerah kemang, tempat perkumpulan teman satu genk nya."
"Perkumpulan apa? kenapa Jimmy menculik Adikku dan Bella?"
"Sebenarnya, targetnya adalah Bella!
"Apa yang membuat kau benci pada Bella! dia begitu menderita selama ini, karena kalian berdua telah menyiksanya."
"Jadi Bella menceritakan keluhannya pada kau!kami berdua benci pada Bella dan Ibunya yang sudah memisahkan aku dengan mamahku!
"Kalau kau benci ibunya, kenapa Bella yang harus jadi sasaran! Bahkan Bella berniat bunuh diri di rumah ku! karena perbuatan kalian! omel Vano.
Kenapa tidak mati aja sekalian! sinis Tina dengan melipat tangan didada.
"Kau memang manusia tidak punya hati! cepat katakan di mana Jimmy berada? jangan pernah kau berbohong padaku! Aku tidak ingin berdebat dengan mu! bentak Vano yang mulai tersulut emosi.
"Aku tidak yakin kalau Bella dan adikmu, masih bisa jadi wanita normal."
Apa maksud mu? Vano mengeryitkan keningnya.
"kakakku seorang pemakai, kak Jimmy berencana akan menyuntikkan kedua wanita itu morfin dengan dosis tinggi!
"Apa..!! Vano terpekik, hampir saja jantungnya melompat dari tempatnya.
"Cepat bawa aku pada kakakmu! teriak vano dengan tatapan membunuh dan rahang yang mengeras, kedua tangannya sudah mengepal, urat-urat di keningnya sudah keluar. kalau sudah begitu sifat jahat Vano akan keluar dari sarangnya.
PRANKKK!
Vano menghancurkan kaca mobil dengan tangan yang mengepal karena amarah, ia tidak ingin saudara kembarnya hancur di usianya yang masih belia, mendengarnya saja Vano sudah sakit hati, bagaimana kalau sampai terjadi?!
πππ
@Ayo kirim Bunda Hadiah, babnya lebih panjang, biar bunda semngat πͺ nulisπ
@yuk terus dukung bunda dengan cara...
πlike
πvote
πgift
πkomen
@bersambung......πππ