
"Robert, aku berangkat dulu."
"Maaf aku tidak bisa ikut kalian sekarang, dua hari lagi kami akan menyusul."
"Tidak apa-apa, do'akan saja ibu dan Vano dalam keadaan baik." Reno dan Robert saling berangkulan.
Reno, Delena dan Vana masuk kedalam mobil, menuju bandara Gusti Ngurah Rai.
Mobil mereka sudah sampai Bandara. Kapal lepas landas menuju Jakarta.
*Hospital*
Tommy masih menunggu di depan ruangan operasi dengan harap cemas. Frans dan Fanny setengah berlari menghampiri Tomy.
"Bagaimana keadaan Vano, kak." tanya fanny khawatir.
"Masih berada di ruangan operasi."
"Bagaimana kejadiannya, kenapa Vano bisa terluka." tanya Frans penasaran.
"Mari kita duduk dulu."
"Apa kak Reno dan Kak Dena sudah tahu?!
"Sudah, sekarang dalam perjalanan ke mari."
"Aku sangat syok dan kaget, kau memberitahu Vano terkena bacok pikiran ku sudah kacau." Frans menghela nafas lega.
"Lalu siapa yang sudah merampok rumah bu Helena?
"Kita lihat rekaman cctv-nya, aku sudah mendapatkan kiriman dari satpam bu Helena, dan ini untuk bukti ke polisian."
Tommy mulai membuka rekaman di ponselnya. Mata mereka terbelalak sempurna, apa yang sudah keponakannya lakukan dengan penjahat itu, cctv-nya berada di ruangan tengah, kamar Oma dan kamar yang Vano tiduri. Mereka semua hampir tak percaya dan geleng-geleng kepala seraya menahan nafas.
"Bagaimana kalau Mas Reno dan kak Dena tahu? sudah pasti mereka terkejut.
"Di usia Vano 12 tahun, ia berani bertarung demi membela Oma nya." imbuh Tomy tak percaya.
"Oma Helena sangat dekat dengan Vano, sejak bayi Oma yang sudah merawat si kembar."
"Lalu dimana ibu Helena?! tanya fanny.
"Di ruangan perawatan. kau lihat Frans? leher ibu Helena tergores Cerurit dan Vano mampu membuat mereka melepas Cerurit itu."
"Vano anak yang cerdas dan jenius." ucap frans, ikut bangga dengan anak pertama Reno
"Dulu di usiaku 12 tahun, jangankan di suruh bertarung, membunuh kecoak saja takut. Apalagi di suruh menghadapi empat orang perampok, pasti nyawaku sudah tidak ada lagi." tukas Frans merasa tak ada apa-apanya di banding Reno.
"Sampai sekarang pun, kau takut kecoak kan Mas." Fanny menepuk tangan suaminya.
Frans tergelak dan merasa malu sendiri.
"Sebenarnya apa tujuan perampok itu datang kerumah ibu Helena?! Fany masih serius menonton cctv itu dan ikut bergidik saat vano membacok tangan perampok itu.
"Tadi perampok bernama Rocky menanyakan sebuah flashdisk? apa Vano telah mencuri flashdisk...?! Tommy mengeryitkan keningnya menjadi lipatan kecil.
"Sepertinya flashdisk itu sangat penting dan berharga, buktinya mereka sampai memburu Vano."
"Berarti Vano dalam bahaya?!
"Bisa jadi Tom! apa yang di pikirkan Tommy sama dengan pemikiran Frans.
Terdengar decitan pintu ruangan operasi terbuka lebar, seorang Dokter keluar dan berjalan kearah mereka bertiga."
"Dok, apa keponakan saya sudah selesai di operasi?!
"Sudah selesai. Untung Tuan muda segara di bawa, lukanya hampir mengenai urat syaraf di bagian belakang. Luka bacokan nya cukup parah dan dalam, tuan muda fisiknya sangat kuat." ujar Dokter Haris, seraya mengusap peluhnya dengan saputangan.
"Apa kami bisa menemuinya? tanya fanny terlihat gusar.
"Tuan muda belum sadarkan diri, suster akan membawa keruangan rawat inap.
"Malam Pak Dokter?!
"Malam pak!"
"Kami dari pihak kepolisian, di tugasnya untuk penyidikan perampokan di rumah ibu Helena, bisa izinkan kami menemui Vano?!
"Bisa pak pol, tapi tunggu Vano nya siuman dulu."
"Baik Dok, Terima kasih."
"Pak Tomy, kami sudah meminta keterangan dari ibu Helena, besok pagi akan kami lanjutkan penyidikan pada keponakan pak Tomy."
"Siap, Pak Pol."
"Kalau begitu kami permisi."
Vano sudah di pindahkan keruangan rawat inap kelas VIP, tentu saja kondisi Zevano sangat di perhatikan pihak rumah sakit, Karena Ramon sudah menyerahkan Rumah Sakit 'Pelita' pada cucunya Zevano sebelum ia pergi ke Jerman untuk mengurus perusahaan Mahesa, Ayahnya yang sudah meninggal sejak Vano berusia tujuh tahun.
Jam sudah menunjukkan pukul lima pagi. Derap langkah cepat terdengar lirih menuju ruangan rawat inap Zevano.
"Vano..."
Tiba-tiba suara tangisan Delena memecah suasana pagi itu. Tomy yang sedang berjaga terbagun.
Delena dan Reno berjalan mendekat di ikuti Vana yang masih terlihat lelah. Menatap nanar wajah anaknya yang tertidur pulas
"Reno.. Delena... kalian sudah sampai." Tomy sudah berdiri di belakang mereka.
"Bagaimana keadaan Vano, Kak?!
"Vano sudah melewati krisis, obat biusnya masih bekerja, jam setengah tiga mulai di operasi, setengah empat sudah selesai. Dokter bekerja dengan baik." imbuh Tomy.
Delena duduk di tepi ranjang. Mencium keningnya seraya mengusap lembut kepala anaknya. Vano tertidur menyamping mengindari iuka operasi di punggungnya. Tetesan air mata Delena terus berjatuhan.
"Mommy..., sudah jangan menangis lagi, kak Vano sudah tidak apa-apa bukan? mengusap lembut airmata ibunya.
"Vana, kenapa hidung mu keluar darah?! Delena terkejut melihat cairan merah keluar dari hidungnya."
"Vana, kenapa bisa begini? tanya Reno tak kalah terkejutnya, ia mengambil tissue dan mengusap di hidungnya.
"Vana sudah tidak apa-apa Dad!
"Apa ini sakit, sayang?
Vana menggeleng "Tubuh Vana sakit semua saat tadi malam, punggung Vana seakan teriris pisau tajam."
Reno menarik Vana dalam pelukannya "Daddy lupa, kalian adalah saudara kembar. Apa yang kakak mu rasanya, kau pun akan merasakan hal yang sama." mengusap lembut punggung anak gadisnya.
"Ren, lebih baik Vana juga di periksa. Agar hidungnya tidak mengeluarkan darah lagi." Tomy memberi saran.
"Baiklah, aku akan menemui Dokter Rizal, khusus penyakit dalam."
"Vana, kenapa kau tidak bilang, kalau kamu merasakan sakit juga tadi." Delena merasa bersalah, menciumi Vana "Ma'afkan Mommy ya sayang, kurang peka terhadap mu."
"Mommy jangan bersedih lagi ya, Vana dan Kak Vano tidak apa-apa."
"Iya sayang, Mommy sudah kuat, tidak akan menangis lagi."
"Aku antar Vana dulu, jaga Vano."
"Iya Mas."
Reno menggendong anak kesayangannya menuju ruangan Dokter Rizal.
"Kak, dimana ibu?!
"Ibu Helena berada di ruangan sebelah, sengaja kami minta Dokter dekat dengan Vano."
"Kak, aku titip Vano sebentar."
Delena masuk kedalam ruangan ibu, disana sudah menunggu fanny dan Frans.
"Kak Dena."
"Fanny..."
Mereka saling berpelukan. "Terima kasih sudah menjaga ibuku."
"Tidak apa-apa Kak, ibu Helena ibu ku juga.'
"Dena...."
"Ibu...?!
Delena memeluk ibunya, Airmata kembali menetes. "Ma'afkan Dena bu, meninggalkan ibu dan Vano."
"Sudah jangan bersedih, semua ini sudah terjadi Nak, yang terpenting kami semua selamat."
Siangnya Vano sudah siuman. Dengan penuh kasih sayang Delena menyuapin anaknya.
"Sudah Mom, Vano sudah kenyang."
Selesai memberikan makan Vano, Delena ke ruangan ibunya. Reno menemani Vano dan berbincang dengan anaknya.
"Hey my son, how are you? (Hey anak ku, bagaimana keadaan mu?)
"I am fine!" ( Aku baik)
"Good, Dad hope you are well." (bagus, Daddy harap kau dalam keadaan baik."
"Pasti Dad!"
"Jagoan Daddy harus kuat! mengacak rambut anaknya.
"Daddy tidak marah?"
"You want Daddy to be angry?!" (kau ingin ayah marah?) Reno menautkan kedua alisnya.
"Of course not ( tentu saja tidak!) Vano terkekeh.
"Daddy akan marah, kalau Vano kalah melawan mereka. Tidak ada kamus kalah dalam hidup Daddy melawan musuh. Selama kita berada di pihak yang benar."
"Thanks Dad! Daddy adalah guruku yang terbaik. Selalu mengajariku hal kebaikan, pengorbanan, kasih sayang dan harga diri."
"Tentu saja, kau anak Daddy, penerus kelurga besar Mahesa, tanggung jawab mu sangat besar pada Adik-adik mu, Vana, Calista, dan ketiga anak Om Tomy. Usia kami semakin bertambah dan tak muda lagi, akan tergeser dengan kalian yang tumbuh dewasa, jangan ada perpecahan di keluarga kita. Daddy menaruh harapan besar padamu Vano. Camkan itu Nak!
"Baik Dad! jawab Vano tegas.
Reno bukan saja sosok Ayah yang baik bagi anak-anak nya, tapi juga guru dan sahabat bagi Vano. Zevano selalu bangga dengan Ayahnya, sebagai Pria sejati, setia dan penyayang kelurga. Zevano selalu mencontoh sifat tegas dan dingin ayahnya, tapi lembut hatinya.
Usai berbincang dengan Vano, Reno mendekati Tomy, dan Tomy menunjukkan sebuah cctv.
Vana yang sedang duduk di sofa seraya main game, di panggil Vano."
"Vana..., sini cepat!"
Vana berjalan mendekat "Ada apa Kak?!
"Kau masih ingat flashdisk yang kau temui di depan gerbang rumah Oma?!
Vana sedang mengingat...
🌺
🌺
🌺
BERSAMBUNG.......
Jangan lupa ikuti kisah Novel "TUAN JENDERAL CINTAI AKU." nggak kalah seru dan bikin baperrrrr😍😘