
"Wah, kakak sangat Junius, aku tidak berfikir kesana!
"Jangan pernah memberikan peluang pada si pengemis yang tidak mau bekerja keras, benalu seperti mereka memang pantas dimutasi atau dibuang kelaut! ucap Reno geram.
"Ayo kita berangkat!
"Ayo kak! Frans membawa koper itu dan berjalan meninggalkan ruangan.
Mobil meninggalkan perkantoran menuju lokasi yang sudah di sepakati. Frans merasa terlindungi dengan adanya Reno, ia bukan saja seorang kakak ipar yang baik, Namun, sosok CEO cerdas, memiliki wawasan yang luas dan pemikiran logis dan positif. Frans sendiri selalu bisa menempatkan posisinya, dimana saat di kantor ia berperan sebagai asisten yang bekerja untuk Reno, namun, diluar jam kerja Reno adalah kakak iparnya.
Berkali-kali Reno meminta Frans untuk mundur jadi asistennya, dan membantu fanny untuk mengurus perusahaan kuliner dan Hotelnya. Fanny memilliki empat hotel berbintang yang tersebar di Jakarta, Surabaya, Bandung dan Semarang. Dan beberapa resort yang berada diluar kota. Semua aset itu pemberian Ayahnya Ramon, yang sekarang sudah dikelola fanny. Fanny sendiri tidak sulit untuk mengurus semua hotel, kuliner dan resort nya, karena ia hanya meneruskan dan sudah ditangani oleh pekerja yang handal, ahli dan jujur, mereka bekerja sudah sangat lama ada yang sampai puluhan tahun.
Frans sudah berjanji pada Reno akan pensiun dari perusahaan kakak iparnya itu bila perusahaan perkapalan dan elektronik sudah di serahkan pada Vano untuk menggantikan generasi penerus kelurga Mahesa. Dan baru ia akan beralih membantu di perusahaan istrinya.
Reno sangat terharu dengan permintaan Frans. Frans sangat bertanggung jawab dan setia dengan pekerjaan dan perusahaannya. Reno tak pernah menyesal memilih Frans menjadi adik iparnya, ia sangat beruntung adik kesayangannya Fanny yang keras kepala bisa memiliki seorang suami sebaik Frans yang bisa mendidik dan membimbingnya.
Disaat Reno sulit Frans selalu berada disisinya dan tidak pernah meninggalkan, begitupun sebaliknya disaat Frans ada masalah apalagi menyangkut keluarganya, Reno selalu pasang badan untuk keluarga nya. Tidak ingin kelurga adiknya mendapat fitnah keji dengan skandal perselingkuhan, membuat Reno meradang dan kesal. Pria tampan berkharisma itu selalu menganggap keluarga adalah nomor satu dan segalanya. Sebab kehormatan dan harga diri kelurganya berada ditangannya. Keluarga besar Mahesa terkenal dengan keharmonisan dan kehangatan nya. Itu sebabnya Reno akan pasang badan untuk harga diri dan kehormatan Frans.
Mobil sudah berhenti didepan pabrik gula, Frans menepikan di pinggir jalan yang beraspal. Sebelum memasuki area pabrik gula, Frans dan Reno sudah melihat beberapa polisi yang menyamar jadi orang biasa dengan pakaian sederhana kaos dan jeans tanpa memakai seragam polisi. Mereka adalah Intel yang di tugaskan untuk menangkap Pria yang memeras Frans.
"Kau sudah mendapatkan info dimana dia menunggu." ujar Reno.
"Sepertinya belum! biar aku hubungi."
Saat Frans Ingin menelpon, ponsel nya berdering.
"Hallo!
"Kau sudah berada di pabrik?
"Sudah! kau pasti sudah lihat mobil hitam yang menepi!
"Cepat temuin aku di dalam. kau naiklah kelantai dua. Nanti ada sebuah drum kau masukan uang itu kedalam!"
"Hey! kau kira aku bodoh! aku ingin langsung bertemu dengan mu dan melihat ponselmu kalau foto-foto itu sudah tidak ada!"
"Kau tidak percaya dengan ku!
"Tentu saja tidak! bila kau tidak ingin bertemu dengan ku, aku batalkan saja dan bawa kembali uang ini!
"Kau ingin main-main dengan ku, Ahh! pria di ujung telpon terdengar marah. Sekali klik aku bisa sebarkan foto-foto mesra mu dengan sekertaris itu di dunia maya. Dan bersiaplah menanggung malu, keluarga besar Mahesa akan tercoreng nama baiknya oleh skandal adik iparnya!
Reno yang mendengar percakapan mereka berdua terlihat geram dengan tangan mengepal dan rahang mengeras.
"Silakan saja kau lakukan! Aku tidak takut sekarang, yang rugi kau tidak mendapatkan uang dua milyar! ujar Frans santai
"Baiklah! aku akan bertemu langsung dengan mu! tapi kau hanya sendri, tidak ada orang lain yang bersama mu!
Frans menatap kearah Reno, meminta pendapat. Reno hanya mengangguk tanda setuju.
"Oke! aku sendiri yang menemui mu! saat Frans Ingin mematikan ponsel, suara di ujung telpon berteriak.
"Tunggu!
"Apa lagi!!
"Kau tidak menjebak ku dengan mengadukan pada polisi, bukan?
"Tentu saja tidak! kau lihat saja sendiri aku tidak membawa siapa-siapa. Hanya mobil ku sendiri yang menepi!
"Baiklah! sekarang kita bertemu!"
Frans mematikan ponselnya.
"Ayo kita turun, tujuan kita kemari untuk memberikan efek jera pada mereka yang sudah berani memeras kelurga kita."
"Kak! biar aku sendiri yang menemuinya. kita sudah sepakat tidak membawa siapapun."
"Tidak frans! aku harus pastikan siapa orang itu. Aku tidak bisa berdiam diri!
"Kalau begitu Kakak jangan sampai terlihat oleh mereka, kita tidak tahu ada berapa orang si pemerasan itu!"
"Oke! aku akan melihat dari jarak agak jauh dan mengendap. Polisi sudah ada yang di dalam untuk memantau dan mereka berpencar."
"Ya sudah, aku keluar duluan."
Setelah mendapat anggukan dari Reno, Frans keluar dari mobil dengan membawa koper di tangannya. Ia terus masuk kedalam pabrik tua yang sudah tak terpakai, tampak sepi tidak ada satupun orang kecuali Intel yang sudah berada di beberapa titik yang tak terlihat. Frans terus berjalan menaiki anak tangga satu persatu, Suara sepatu pantofel menimbulkan suara nyaring saat menginjak tangga besi. kini Frans sudah berada dilantai dua dan berdiri di sebuah drum besar.
"Aku sudah datang! tunjukkan wajahmu! Frans berteriak menimbulkan suara menggema.
Keluar sosok pria memakai topi dengan wajah tutup masker. Ia berjalan mendekat dan berdiri di depan frans menyisakan jarak tiga meter yang terhalang drum.
"Letakkan koper itu disana! perintahnya
"Mana bukti foto-foto itu! kau bisa saja setelah menerima uang ini, besok-besok kau akan mengancam ku lagi, mudah bagi mu untuk mencetak ulang dan menyebarkan foto-foto itu. puluhan bahkan ratusan! tidak ada jaminan bukan?
Frans menyungging senyum licik. Matanya melihat dari jarak lima atau enam meter beberapa Intel sedang bersiap-siap untuk menjalankan aksinya. Setelah mendapat anggukan dari seseorang di balik tembok, Frans mulai menjalankan aksinya.
"Baiklah! aku menaruh uang itu disini dan kau berikan ponsel itu!
Pria itu mengangguk dan berjalan mendekat, setelah jarak satu meter ia menaruh ponsel itu diatas drum dan Frans juga menaruh kopernya.
"Siapa yang berada di belakang mu! tanya frans.
"Itu bukan urusan anda tuan! ucapnya seraya mengambil koper dari atas drum. Dengan cepat pria itu melesat dan berlari, lalu terdengar suara tembakan.
"Berhenti! teriak seorang Intel seraya membidikkan pistolnya kearah Pria itu. "Kami sudah berikan peringatan untuk anda menyerah! bila tidak timah panas ini akan akan menembus kulit mu!
Pria itu masih terdiam dan memunggungi Intel itu tanpa berbalik.
"Cepet angkat tangan mu! pria itu masih diam dan bergeming.
Tiba-tiba mata Frans melihat sosok pria dari sudut tembok mengarahkan pistolnya ke Intel itu, Pria itu adalah salah satu teman pemeras. Sebelum ia menembak Seorang Intel, dengan cepat Frans menembak lebih dulu.
"DORR!
"Aaahhhhkkk!
Satu tembakan tepat mengenai sasaran. Pria itu roboh dengan paha bersimbah darah. Di saat keadaan lengah dan semua fokus pada pria yang Frans tembak. Pria yang membawa koper itu kabur. Tepat di depan pria itu, datang Intel lain dan mulai membidikkan pistol. Namun, sebelum Intel itu menembaknya. Seseorang telah lebih dulu menembak pangkal lengan Intel itu.
""DORR!!
Pria yang membawa koper itu terus berlari. Aksi kejar mengejar dan suara tembakan tak dapat di hindari lagi. Bukan masalah uang yang Pria itu bawa, karena itu hanyalah uang palsu. Namun, yang ingin Reno dan pihak kepolisian tahu, siapa komplotan yang sudah memeras Frans dengan mengedit Foto-foto mesra Frans dengan Anita.
Pria yang membawa koper itu terus berlari menuruni anak tangga dengan cepat. ia melewati pintu belakang yang menembus sebuah perkebunan tebu. Saat ia hampir keluar dari pabrik. Reno yang berjaga di bawah sudah antisipasi, tidak sia-sia kan kesempatan itu, ia mendidik dari jarak 15 meter dan
"DORR!!!
Pria itu jatuh terkapar setelah mendapat tembakan tepat di punggungnya.
"Aaaaaaaaakkkk!
Teriakan suara Pria itu menggema di dalam pabrik gula yang sudah lama di tinggalkan pemiliknya. hanya tertinggal mesin-mesin tua yang sudah tidak terpakai.
Beberapa Intel yang menyebar datang berhambur dan membekuk pria tak berdaya itu.
"Terima kasih Tuan Reno. Anda sudah membantu polisi." ucap seorang komandan polisi yang sudah berdiri di depan Reno.
"Sama-sama Pak! Dan tolong intrograsi mereka semua. Siapa orang-orang yang telah berani memeras keluarga kami!'
"Baik Tuan Reno! mereka akan kami bawa ke rumah sakit untuk mengobati lukanya. Setelah itu kami akan panggil Tuan Rino dan Tuan Frans untuk mengetahui identitas mereka."
"Ada berapa orang mereka semua, Pak!
"Yang baru terlibat dan berada di lokasi ini ada empat orang. Setelah itu pasti akan kami kembangkan, terus memburu dan mencari info siapa dalang pemerasan kelurga Mahesa."
"Baik Pak Komandan, kalau begitu kami pamit dulu."
"Silakan tuan Reno, tuan frans." Setelah mereka berdua berjabat tangan dengan komandan polisi. Frans dan Reno masuk kedalam mobil.
"Semoga semua terungkap siapa dalang pemerasan ini! Reno bernafas lega. "Ayo Frans kita kembali ke kantor!"
"Siap kak!
Saat ingin melajukan mobil, ponsel Frans berdering. ia merogoh ponsel di dalam saku celana, tertera nama fanny.
"Hallo, sayang....!!
"Mas! Callista tidak ada di sekolahnya! seru fanny.
"Apa....?? Frans terkejut dan menjatuhkan ponselnya.
πππ
@Yuk kirim Bunda Hadiah, bab nya lebih panjang, biar bunda semngat πͺ nulisπ
@yuk terus dukung bunda dengan cara...
πlike
πvote
πgift
πkomen
@bersambung......πππ
'