ISTRI PENGGANTI CEO: Season 2

ISTRI PENGGANTI CEO: Season 2
S.3 Penyusup 2


"Siapa kalian! teriak Vano. Dua orang pria itu terkejut dan menerjang tubuh Vano.


Vano yang dalam kondisi tidak siap, ia tersungkur di lantai saat kedua pria itu berlari dan menerjang kearahnya. Satu dari mereka sempat Vano tendang tulang keringnya dan ia berhasil kabur.


"Brengsek! kalian penyusup...! teriak Vano, memecah keheningan malam. Kedua pria itu berhasil kabur, dengan cepat vano bangkit dan Ingin mengejar, namun ia melihat kondisi Davina yang masih tertutup bantal.


"Mami....!" pekik Vano menarik bantal dengan cepat, wajah Davina sudah pucat dan susah untuk bernafas.


"Vano apa yang terjadi, kenapa kau berteriak!" tanya Robert khawatir dan terkejut melihat kondisi istrinya


"Pih! tolong kau jaga mami dulu, tadi ada penyusup yang ingin membunuh mami!"


"Ap-apa?! Robert terkejut dengan mata membulat.


"Aku akan mengejarnya! cepat papi hubungin Dokter jaga untuk melihat kondisi mami!" ucapnya dengan tergesa-gesa. Tanpa menunggu jawaban dari Robert, Vano berlari keluar ruangan dan ternyata mereka sudah tidak ada.


"Aku harus dapatkan orang itu! Vano berjalan menyusuri lorong rumah sakit yang sepi, walau ia tidak mengenali wajahnya, namun ia masih ingat penampilan mereka.


"Sus! tunggu...!


Suster itu berhenti "Iya ada apa..?


"Apa kalian melihat dua orang pria memakai jas putih, wajah tertutup masker?


Dua Suster itu gelengkan kepala "Kami tidak melihat Dek!"


"Baiklah, terima kasih."


Vano tak menyerah ia terus menyusuri koridor dengan langkah cepat. Tiba di pertigaan lorong yang menghubungkan antara ruangan kesehatan, ruangan penyakit dalam dan pantry. Mengikuti kata hatinya, Vano berbelok kearah ruangan kesehatan. karena terburu-buru seraya menyoroti liar jalanan menunju ruangan kesehatan itu. Tak sengaja Vano bertabrakan dengan seseorang pria yang baru keluar dari salah saru pintu.


"Bug!"


"Maaf Mas! saya kurang hati-hati berjalan." ucap Vano merasa bersalah.


"Tidak apa-apa!" ucapnya gugup dan berjalan dengan terburu-buru.


Vano yang meneruskan langkahnya tiba-tiba berhenti "Pria itu sangat mencurigakan? atau jangan-jangan...? Vano memutar tubuhnya dan menatap jalan pria itu yang agak pincang. "Sepatu kets putih itu seperti penyusup yang masuk ke ruangan mami? dan jalannya agak tertatih. "Benar pria itu penyusup dia sudah ganti baju."


"Hey tunggu! teriak Vano sambil berlari mengejar Pria itu yang mulai ketakutan. Pria itu berlari walau kondisi kakinya terlihat sakit bekas tendangan Vano. Sayang. Saat Vano sudah hampir dekat, ia masuk kedalam sebuah lift yang berada di ujung koridor dan menutupnya dengan cepat.


"Silalan! ia naik kelantai atas.


Tak mau kehilangan jejak Vano berlari menaiki anak tangga yang berada disamping lift. Dengan nafas memburu vano tak mengenal lelah, ia terus mengejar ke keatas, tekadnya harus berhasil mendapatkan si penyusup itu yang menyamar sebagai Dokter.


"Kemana pria itu? Vano melihat angkat di samping lift. "Dia berhenti di angka delapan. Aku harus cepat sampai disana!"


Vano berlari kembali menuju anak tangga lantai atas. Untung saja fisiknya kuat, sebab Vano selalu rajin olahraga dan gym yang kerap ia lakukan setiap pagi. Mental yang kuat bisa membangun kepercayaan diri seseorang lebih terarah. Vano sudah berada di lantai delapan, ia bersembunyi di belakang dinding, menunggu pria itu keluar dari pintu lift.


Ting!"


Pintu lift terbuka, pria berpakaian kotak-kotak merah itu keluar seraya celingak-celinguk mencari sosok yang tadi mengejarnya. Di rasa aman ia keluar dengan perlahan dan berjalan dengan cepat. Tanpa pria itu sadari, dari arah belakang ada yang menarik kerah bajunya, ia memutar kebelakang dan sebuah hantaman mendarat di wajahnya.


"BUGK!


"BUGK!


Pukulan bertubi-tubi Vano layangkan tanpa ampun, wajahnya sudah babak belur dan mengeluarkan darah dari sudut bibirnya. Tubuhnya lambung saat vano meninju perutnya. Pria itu tersungkur di lantai dingin dengan suara kesakitan.


"Ampun....!! pekik pria berbaju kotak-kotak itu, bersama rintihan yang keluar dari bibirnya.


Vano menarik kembali kerah bajunya "Dimana teman mu satunya? siapa yang telah menyuruh kalian untuk membunuh mami ku!" bentak Vano dengan tatapan membunuh.


"Anda salah orang! saya bukan orang yang anda cari, saya hanya pengunjung yang ingin menengok teman saya masuk rumah sakit." ucap pria itu di sela rintihannya


"Masih juga berdalih, Kau pikir aku bodoh! aku melihat sepatu kets yang kau kenakan dan juga kakimu yang berjalan pincang bekas aku tendang tadi."


Seketika wajah pria itu pias dan merah, terlihat ketakutan dan gemetar.


"Ayo ikut aku! menarik kerah baju Pria itu kasar.


"Saya tidak bersalah! kau salah menangkap orang! Pria ibu berontak dan ingin melepaskan diri dari Vano.


"Kau harus pertanggung jawabkan perbuatan mu, yang ingin membunuh keluarga ku! dimana temanmu?!


Vano menekan tombol lift. Setelah pintu lift terbuka, mereka masuk ke dalam kotak berukuran 2x2 meter itu.


"Aku akan masukan kau kedalam penjara, bila kau tidak mau jujur! katakan siapa yang sudah menyuruhmu, bila kau jujur aku akan pertimbangkan untuk melepaskan mu!


"Kau itu hanya anak kemaren sore, yang sok tahu ingin ikut campur urusan orang! aku akan melaporkan mu, karena sudah memukuli ku!"


Ting!"


Pintu lift terbuka lebar, Vano menarik kasar pria itu keluar dan membawanya ke ruangan rawat inap Davina. Didalam ruangan sudah ada tiga suster dan Dokter Agung.


"Dialah pelakunya! pekik Vano mendorong pria itu hingga tersungkur ke lantai.


Mereka semua menatap kearah Pria itu yang meringis kesakitan.


"Pak Toto! seru tiga suster itu.


"Mereka menjalankan aksinya berdua. Satu temannya lagi belum aku temuin keberadaan nya."


"Siapa dia! tanya Vano


"Pak Toto satpam rumah sakit." ucap salah seorang suster.


"Dimana satu temanmu lagi, Hah!" menjambak rambut pria itu. "Kau jangan main-main, mudah bagiku menjebloskan mu seumur hidup di penjara!"


"Kau tidak bisa asal tuduh!" teriak pria itu.


"Kau lupa? rumah sakit ini memiliki cctv! dan aku tidak salah dalam memburu seseorang!"


"Vano! kita serahkan saja dia pada polisi. Papi sudah menelpon polisi, mereka sedang menuju ke mari."


Datang empat orang satpam dan masuk kedalam ruangan, atas perintah Dokter Agung.


"Itu teman kalian? tanya Dokter Agung.


Empat orang satpam itu kaget dan menatap tak percaya. "Kenapa Toto ada di sini? wajahnya kenapa pada babak belur? tanya salah seorang satpam.


"Dia bersama temannya ingin membunuh mamiku yang sedang tak berdaya! kemana saja kalian, Hah! apa saja kerja kalian! bentak Vano geram. Mereka hanya menundukkan kepalanya.


"Kalian semua aku pecat!"


"Ja-ngan Tuan muda. Maafkan kami, selama kami berjaga tidak melihat apa-apa di layar monitor. Sebagian ada yang bergilir untuk bertugas melihat keadaan di dalam, Namun tidak ada yang mencurigakan"


"Itu karena kalian lalai menjalankan tugas!"


"Borgol dia! dan bawa ke kantor satpam, tunggu sampai polisi datang dan mengintrogasi." perintah Dokter Agung.


"Perketat penjagaan, masih ada satu orang lagi yang berkeliaran!" seru Vano "Kalian kejar pria itu dan terus cari penyusup! aku yakin mereka masih teman kalian sendiri! bila kalian bisa menemukannya aku tidak akan memecat kalian!"


"Baik Tuan muda! kami akan menghubungi satpam lainnya untuk mencari satunya dan perketat pengamanan." empat orang satpam itu memborgol tangan pria yang bernama Toto dan membawanya pergi.


Aaggrrh! bodohnya Aku kecolongan di rumah sakit ku sendiri! ucap Vano menyalahkan diri sendiri.


"Tuan Vano, bersabar lah! Tuan sudah melakukan yang terbaik." Dr Agung menepuk pundak vano.


"Bagaimana keadaan mami? tanya Vano, menahan kekesalan dari nafasnya yang tersengal.


"Alhamdulillah Nyonya Davin baik-baik saja, untung cepat tertolong, tadi sempat tersadar dan memanggil nama tuan Vano."


"Vano, Terima kasih kau sudah menolong nyawa istriku." Robert berkata dengan suara tercekat dan mata berembun.


"Itu sudah kewajiban Vano, untuk menolong mami Davin. Papi tidak usah bersedih lagi, Vano pastikan penyuap itu akan masuk bui!


"Ceklek!


Masuk tiga orang polisi kedalam ruangan Davina. "Selamat malam Tuan?"


"Pak polisi sudah datang syukurlah." Dokter Agung menyambut petugas kepolisian itu. Vano mulai menceritakan kronologi nya.


"Sekarang dimana penyusup itu?" tanya polisi itu sambil mencatat tulisan diatas buku kecil.


"Ada pak! di kantor pos satpam. Mari saya antar ke sana." ujar dokter Agung menawarkan diri.


"Baik kami akan selidiki kasus ini, dan melihat monitor CCTV! kami permisi."


"Terima kasih pak!" Robert mengangguk.


"Vano..." terdengar suara Davin memanggil dengan lemah.


"Mami.." Vano menghampiri Davina di Ikuti Robert.


💜💜💜


@Bersambung.......