ISTRI PENGGANTI CEO: Season 2

ISTRI PENGGANTI CEO: Season 2
S.3 Peristirahatan Terakhir


Frans melihat keponakannya begitu syok dan sedih. Ia merangkul pundaknya "Sabar Vano, mungkin ini sudah takdir hidup Anita, kita tidak tahu kapan ajal itu akan datang."


"Pantas aku di datangi Tante Anita, dan ia menitipkan anaknya padaku." ucap Vano dengan suara bergetar dan tercekat. Vano terkejut dan baru menyadari, sosok wanita yang menemuinya tadi adalah arwah Anita untuk berpamitan padanya. Tangisan Vano semakin dalam kala ranjang sorong itu keluar dari ruangan operasi, tubuh tak bernyawa itu sudah berbalut penutup kain putih.


"Tunggu!!


Vano berteriak dan menghentikan langkah perawat yang sedang membawa tubuh Anita ke tempat pemandian jenazah.


Vano berjalan dan mendekat "Biarkan aku melihatnya untuk terakhir kalinya." pintanya pada perawat. Salah satu dari mereka mengangguk "Cepatlah kami akan mandikan jenazah ini."


Dengan tangan bergetar Vano membuka penutup kain wajahnya. Senyum tipis menghias di bibir Anita. Sepertinya ia sudah ikhlas untuk pergi selamanya. Tidak ada beban di raut wajah pucat pasi itu. tetesan airmata Vano kembali jatuh. "Tante aku berjanji akan menganggap Ferdy sebagai adikku dan menyekolahkannya hingga di perguruan tinggi, seperti cita-citanya menjadi seorang pilot."


Frans merangkul pundak keponakannya. Ia juga terharu dengan meninggalnya Anita, sekertaris Reno yang bekerja sudah hampir lima belas tahun. Dulu Frans dan Anita sama-sama masih belum menikah saat bekerja dikantor Reno. Frans mengingat bayangan masa lalu saat satu kantor dengan Anita. Sebenarnya Frans tahu Anita pernah menaruh hati padanya. Setelah tahu ia memilih fanny. sepertinya Anita mundur dan menikah dengan seorang pria yang bernama Raksa, di usia kandungan tujuh bulan ia resign. Dulu posisinya digantikan Anjali. Tiga tahun kemudian Anita kembali menjadi sekertaris Reno lagi, hingga kejadian yang merengut nyawanya sekarang, karena keegoisan dan keserakahan mantan suaminya.


Frans mengusap airmata yang tertinggal di pipinya. "Selamat jalan Anita semoga kau tenang disisi-Nya"


"Selamat jalan Tante, Vano tidak akan ingkar janji, terima kasih sudah berkorban nyawa untuk Vano. Semoga Tante bahagia di Alam keabadian." ucapnya lirih, tubuh Vano masih terguncang karena tangisan.


Perawat melanjutkan langkahnya mendorong jenazah Anita untuk membawa ke tempat pemandian.


Frans memberikan Vano air putih, agar ia bisa tenang. Setelah Vano tenang. Frans mulai menghubungi Reno.


"Hallo Kak! panggil Reno setelan telepon sudah terhubung.


"Bagaimana kondisi Anita."


"Anita....." ucapan Frans menggantung, rasanya ia tak sanggup untuk berterus terang pada Reno, walau bagaimanapun juga Anita sudah berkorban demi Vano dan anaknya Calista.


"Ada apa dengan Anita Frans?!" tanyanya penuh penekanan.


"Anita, ia sudah tidak bisa tertolong lagi."


"Apa maksud mu, Frans!" Reno masih belum yakin dengan apa yang ia dengar dari mulut Frans. Ia bertanya lagi untuk memastikan kebenaran tentang Anita.


"Anita sudah meninggal kak!"


"Ap-apa?!" Anita meninggal? terdengar suara terkejut Reno di ujung telepon.


"Innalilahi wa Inna ilaihi Raji'un" ucap Reno lirih. ia tak menyangka Anita pergi secepat itu.


"Jenazah Anita sedang di mandikan. Aku mau menyuruh orang untuk menjemput anak Anita di kantor polisi. Semalam pak polisi sudah membawa anak Ferdy dari tempat persembunyian Raksa."


"Baiklah aku akan segera kesana."


"Oke kak! aku akan memberi kabar berita duka ini pada seluruh karyawan. Bagaimanapun juga mereka harus tahu, karena Anita sudah lama bekerja di perusahaan Mahesa Group, mereka banyak mengenal sosok Anita."


"Baik, kabari seluruh karyawan, bila mereka ingin datang pemakaman silakan saja, khusus hari ini bebas jam kerja."


"Oke Kak! terimakasih."


Reno memutuskan teleponnya.


"Ada apa Mas? siapa yang meninggal?" tanya Delena, sebab ia tidak terlalu jelas mendengar percakapan suaminya. kedua keningnya mengerut, menatap suaminya yang terlihat tegang dan gusar.


"Reno menarik nafas dalam di hembuskannya perlahan. "Anita meninggal."


Mata Delena terbelalak "Anita meninggal?"


"Innalilahi wa Inna ilaihi Raji'un. Semoga amal baiknya diterima dan ditempatkan di Jannah-Nya. Seketika Delena meneteskan airmata, ia sangat terharu. Mengenal sosok Anita sudah sangat lama, selain pekerja keras ia juga supel dan rajin. Reno menarik Delena dalam pelukannya.


"Gak nyangka Anita harus pergi secepat ini, bagaimana dengan nasib anaknya kelak."


"Kita yang akan membiayai hidup dan masa depan anaknya." mencium kening Delena "Mas harus segera kerumah sakit untuk mengantarkan jenazahnya ke pemakaman.'


"Apa aku perlu ikut Mas? bagaimanapun juga Anita sudah berkorban untuk Vano dan Calista."


"Sayang, kau sedang hamil besar. Mas tidak ingin kau Kenapa-napa juga bayi kita. Ada Mas, Vano dan Frans yang mewakili." ucap Reno lembut. Ia selalu memberikan pengertian pada istrinya. Delena Istri penurut dan tidak pernah membantah keputusan suaminya. Itulah yang membuat Reno jatuh cinta setiap hari pada istri kesayangannya. Bahkan dengan kehamilan anak ketiga, sifat dan sikap Reno semakin posesif dan bucin akut.


"Kak Reno! Fanny berjalan mendekat saat Reno dan Delena sudah berada di ruangan tamu. "Kak! Anita meninggal." ucapnya lirih, mata fanny sudah sembab bekas airmata.


"Frans baru saja menghubungi Kaka, sekarang Kaka harus kerumah sakit untuk mengantarkan ke pemakaman."


"Aku ikut kak! aku juga mau minta maaf, walau tidak secara langsung, namun Anita pasti mendengarnya permohonan maaf dari hatiku."


"Calista tidak usah dibawa fan. biar sama Kaka, ada Vana yang menemaninya."


"Iya Kak, titip Calista, tadi sudah aku kasih makan, tapi belum minum susu."


"Ya sudah, nanti kakak buatkan susu untuk Calista."


"Terima kasih kak, aku berangkat dulu."


Fanny mengejar Reno yang sudah lebih dulu masuk kedalam mobil. Reno membunyikan klakson pada Delena, tanda ia berpamitan untuk pergi.


****


Jenazah sudah siap untuk di berangkatkan ke pemakaman. Sebagian karyawan dari perusahaan Mahesa Group sudah datang ke rumah sakit untuk ikut mengantarkan jenazah Anita Wulandari ke peristirahatan terakhir.


Jenazah sudah masuk kedalam mobil ambulans. Iring-iringan mobil Vano dan Frans, beserta para karyawan dan kerabat mengikuti dari belakang ambulans. Penjagaan polisi sangat ketat untuk mengiringi sampai tanah pekuburan.


Reno dan Fanny sudah datang ke pemakaman tepat waktu sesuai arahan Frans. Prosesinya berjalan lancar dan doa penutup dari seorang ustadz. Vano dan Frans memberikan taburan bunga di atas tanah merah itu. Teman-teman Anita dan kerabatnya ikut menaburkan bunga di atas pusara.


Reno melepas kacamata hitamnya, dan menundukkan kepala, berdoa dalam hati di ikuti fanny.


"Terima kasih telah banyak berkorban untuk perusahaan dan keluarga kami, Aku tidak akan pernah melupakan jasa baikmu Anita, dan berjanji akan memberikan masa depan yang baik untuk anakmu Ferdy. Semoga kau tenang di sisi-Nya. Aamiin.


"Anita, ma'afkan aku, beberapa hari ini telah salah paham padamu. Mungkin kita tidak pernah akrab selama kau bekerja di perusahaan kak Reno. Namun aku yakin kau seorang wanita yang baik dan pekerja keras, aku berjanji akan menganggap anakmu adalah anakku juga. Semoga kau tenang disana." Aamiin... fanny mengusap sisa airmatanya.


Untuk penghormatan terakhir Reno, Fany, Vano dan Frans. Menaburkan bunga di atas pusara Anita. Mereka berempat mendengar tangisan seorang anak berusia 12 tahun. Tangisannya sangat memilukan.


"Ibu jangan pergi! hu..hu..hu.. kenapa ibu tinggalkan Ferdy!" anak itu menangis terisak di barengi guncangan tubuhnya. memeluk tanah merah didepan pusara ibunya. "Fredy sudah tak punya Ibu agi! hiks.. hiks.. Ayah jahat kan Bu? Kenapa ibu pergi!" beberapa orang kerabatnya ikut menenangkan Ferdy.


Fany berjalan mendekat, ikut duduk di samping Ferdy yang terus meraung. Fanny mengusap kepalanya dan memeluk tubuh kurus itu. "Masih ada Tante, Om, Kak Vano yang akan menjagamu, Ferdy tidak usah takut sendiri." menatap haru bocah itu.


Vano mendengar sendiri ungkapan perasaan Ferdy. Ia menangis kembali. Vano merasa paling bersalah, karena dirinyalah ibunya meninggal. Anita rela berkorban nyawa untuk Vano dan Calista. Seketika tubuh Vano lemas tak bertulang. ia jatuh di tanah pekuburan.


"Vano! Reno menarik tubuhnya dan memeluk anaknya. Hari itu Vano tak setegar biasanya. Rasa bersalah yang membuatnya lelah. Setelah Frans memberikan Vano minum. keadaan Vano semakin membaik. Sebelum meninggalkan pemakaman, Vano menemui Ferdy dan berbicara dari hati ke hati.


"Ferdy jangan sedih lagi, Ibu sudah menitipkan Ferdy pada kakak. Sekarang kita saudara, Ferdy adalah adik kak Vano. Mau ya jadi adik kak Vano?"


Ferdy terdiam, menatap dalam wajah Vano yang sembab dengan airmata. ia menoleh pada keluarga ibunya. Sebuah anggukan kepala dan senyuman dari keluarganya.


"Iya Kak, aku mau jadi adik kak Vano." Ferdy tersenyum di sela Isak tangisnya.


"Really..? Vano memeluk Ferdy dan tersenyum sumringah, ia merasakan lega setelah Ferdy menerimanya jadi saudara. vano merasakan bebannya sudah berkurang. Reno dan Frans mengusap kepala mereka berdua.


Orang-orang sudah pergi meninggalkan pemakaman dengan perasaan damai. Sekelumit do'a dari mereka yang mencintai Anita. Sejatinya orang mati itu tetap hidup di hati mereka dan menjadikan kenangan🤗


@Yuk kirim Bunda Hadiah, bab nya lebih panjang, biar bunda semngat 💪 nulis😘


@yuk terus dukung bunda dengan cara...


💜like


💜vote


💜gift


💜komen


@bersambung......💃💃💃