ISTRI PENGGANTI CEO: Season 2

ISTRI PENGGANTI CEO: Season 2
Amarah Presdir


Vano dan Vana yang baru tahu masa lalu Mommy nya, seorang ibu yang telah banyak berkorban demi melahirkan mereka berdua. Vano mendekati Delena dan memeluknya erat sambil terisak, begitu pula dengan Vana ikut menangis di pelukan Mommy nya.


"Sudah, kalian jangan menangis seperti ini. Mommy pasti akan ikut bersedih, Maafkan Mommy tidak pernah menceritakan semua ini pada kalian. Sebab tidak ingin melihat kalian bersedih dengan masa lalu Mommy." Delena mengusap punggung kedua anaknya. Vano dan Vana melepas pelukannya, mata mereka sembab dengan airmata.


"Saya juga sudah mendapat cerita dari Ayah, tentang kelurga Tuan Reno dan Nyonya yang sempat mengalami koma saat kecelakaan itu, dan Saya akan berusaha membantu menghilangkan trauma tuan Reno."


"Terima kasih Dok, kau akan sangat membantu bila Mas Reno tidak trauma lagi, Sebenarnya ketakutan Mas Reno beralasan, setelah aku bangun dari koma, aku amnesia. Mungkin benturan jatuh dari tangga yang mengakibatkan aku lupa segalanya."


"Mom! Vana nggak kuat dengar cerita Mommy, apakah Mommy begitu menderita saat melahirkan kami berdua, dan Daddy tidak bisa menghilangkan traumanya?!


Vano hanya terdiam tanpa bisa berkata lagi, hanya terdengar nafas dalam dan isakan kecil.


"Tidak Vana sayang, itu adalah takdir yang sudah digariskan Tuhan untuk Mommy, kita manusia hanya bisa menerima takdir itu selagi kita sanggup. Dan Mommy sangat bahagia bisa melahirkan Vano dan Vana, kalian anugrah terindah yang Tuhan berikan, termasuk janin dalam kandungan Mommy sekarang.'


"Apa Daddy akan menerima nya, Mom?


"Harus bisa menerima, karena ini darah daging Daddy."


"Nyonya ini resep obat yang harus di minum, saya tidak membawa persediaan obat untuk ibu hamil, Nanti akan saya suruh perawat rumah sakit antarkan obat, untuk penguat janin, mengurangi mual dan vitamin.


"Tapi Dok, kenapa dulu saat saya hamil Vano dan Vana, tidak mengalami ngidam dan merasakan mual, tahu-tahu sudah hamil tiga bulan. Yang sekarang pun sedang hamil tapi aku tidak tahu. Semalam Mas Reno dan vano mencari surabi dan telur burung, karena aku pingin makan itu, bahkan aku tidak suka bau badan dan parfum Mas Reno. Aku merasa ada yang aneh pada diri sendiri tapi nggak sadar kalau yang aku alami adalah ngidam."


"Memang pembawaan orang hamil beda-beda, hamil pertama, kedua, ketiga dan seterusnya pasti beda dan faktor genetik juga mendukung.


Genetika adalah cabang biologi yang berhubungan dengan pewarisan sifat dan ekspresi sifat-sifat menurun."


"Terima kasih Dokter, semoga Mas Reno bisa mengerti dan menghilangkan traumanya."


"Baik, kalau begitu saya permisi, Nyonya? Dr Agung beranjak dari duduknya dan membungkuk, lalu berjalan keluar bersama Vano untuk mengantarkan sampai teras.


๐Ÿƒ Mahesa Group ๐Ÿƒ


Sementara didalam ruangan, Reno terus uring-uringan semua staf kena damprat karena di anggap tidak becus bekerja.


"Kalian sudah berapa lama bekerja dengan ku? Hah!" melempar lembaran file di depan empat orang yang berdiri di depannya.


"Kenapa kalian tidak berani jawab! bentak Reno.


"Saya dari devisi pemasaran sudah empat belas tahun bekerja, Tuan."


"Saya dari devisi ketenaga kerjaan, sudah dua belas tahun bekerja, Tuan.'


"Saya dari devisi pengecekan bahan baku, sudah hampir lima belas tahun."


"Saya dari devisi pengembangan produksi, sudah bekerja selama lima belas tahun."


"Berarti kalian bekerja sudah lebih dari sepuluh tahun. Dan perusahaan sudah memberikan loyalitas pada kalian. fasilitas yang lengkap dan memadai sudah Kalian dapatkan dari perusahaan! bentak Reno dengan raut wajah emosi "Sekarang mana tanggung jawab dan dedikasi kalian, Hah!


Reno mendudukkan kasar bokongnya di kursi presdir, kedua kakinya ia selonjorkan di atas meja kerja. "kalian adalah kepala devisi yang terhormat, dengan kedudukan kalian di perusahaan 'Mahesa group' bisa menunjang hidup kalian jadi makmur hingga anak cucu keturunan kalian!


Empat orang kepala Devisi hanya diam mematung, dengan wajah tertunduk lesu. Mereka sudah paham, bila Presdir Reno bersikap arogan, sudah pasti mereka akan mendapatkan masalah dari karir mereka. Selama ini Reno jarang marah dan memaki, ada masalah apapun pasti bisa di selesaikan dengan baik tanpa harus meledak-ledak. Tapi hari ini sifat lembut Reno berubah 180 derajat, sisi arogan nya mulai terbentuk lagi.


"Sial! seperti tidak tenang, Reno beranjak lagi dari duduknya dan mundar-mandir di depan empat kepala devisi itu dengan kedua tangan di lipat. Sementara Frans belum berani berbicara, ia tahu persis sifat kakak iparnya bila sedang marah, tidak akan bisa di bantah.


"Bagaimana cara kerja kalian untuk memajukan perusahaan Mahesa, Hah! Nol besar!!! tangan Reno melempar kembali lembaran kertas keatas yang ia ambil diatas meja. kertas-kertas itu bertebaran dan jatuh ke lantai.


"Lihat, apa saja kerja kalian selama ini?! masih terus mengomel dengan dada bergemuruh, Reno duduk di tepi meja masih dengan tangan di lipat. "Apa kebodohan dan kebobrokan kalian bisa saya pertahankan!


Seketika ke empat orang itu terlihat ketakutan, wajah pias dan pucat pasi terlihat jelas dari raut wajah mereka.


"Gudang produksi pembuatan kapal terbakar, tapi kalian tidak tahu! bodoh! perusahaan merugi 700 Milyar. Dimana orang-orang bawahan kalian saat gudang terbakar! lihat saja, akan aku cari sampai ke akarnya! bila ada di antara kalian yang berkhianat pada perusahaan, bukan hanya kalian yang aku penjarakan seumur hidup. Tapi kelurga kalian pun akan aku seret! seru Reno geram, kini kedua tangannya mengepal.


"kita lihat saja nanti! aku akan selidiki semuanya, pejabat petinggi sekalipun akan tetap kami selidiki tanpa kecuali!" ujar Reno dengan sorot mata tajam.


"Sekarang, kalian pergilah!"


Mereka berempat berpamitan. Memberi salam seraya membungkuk hormat, sebelum pergi memunguti lembaran kertas dilantai.


Reno mendudukkan tubuhnya kasar di sofa. Frans berjalan mendekat dan memberikan gelas berisi air putih hangat. "Minumlah kak!


Reno menerima gelas pemberian Frans, kebetulan tenggorokannya sangat kering setelah memaki kepala divisi. Reno meminum habis air putih itu.


Frans duduk di sebelah Reno, Ia melihat ada yang tidak beres dengan suasana hatinya.


'Kak! Sebenarnya ada apa? aku lihat sejak tadi pagi raut wajah Kakak seperti banyak masalah. Seandainya kakak ingin berbagi cerita, katakan padaku. Agar beban kakak bisa berkurang." ucap Frans bijak.


Reno menghela nafas dalam dan dihempaskan kasar. "Aku sedang ada masalah dengan istriku?!


"Ada apa dengan kak Dena? kulihat kakak dan kak Dena, baik-baik saja bukan?"


Reno mengusap wajahnya berkali-kali dan menahan getir di hati. "Akhir-akhir ini sifat Delena berubah, ia tidak ingin disentuh oleh ku, dan selalu punya alasan untuk menjauh dariku. Sudah berapa hari ini kami tidur terpisah, aku tidur di sofa. Delena meminta sesuatu tidak pada waktunya, semalam aku dan Vano pergi mencari makanan yang ia inginkan. Demi istriku apapun aku lakukan, tapi tadi pagi, aku sudah tidak bisa menahan emosi lagi."


Frans mengeryitkan dahinya "Apa kakak ribut dengan kak Dena?!


Reno mengangguk, ekspresi wajahnya sangat tidak tenang dan perasaan gusar bercampur aduk jadi satu "Parahnya, keributan kami di dengar oleh Vano dan Vana. Aku telah gagal menjadi Daddy yang baik."


"Kak! aku dan Fany selalu menganggap Kakak sebagai panutan dan patut kami contoh. karena ketulusan cinta dan kasih sayang Kak Reno dan Kak Dena bisa menyatukan keluarga yang harmonis. justru Kami belajar dari Kakak. Tidak ada salahnya kakak bicara baik-baik dengan Kak Dena, dan tanya apa keinginannya? apakah ada masalah dalam diri kak Dena?!


"Bila Delena berada di dekatku dan mencium bau tubuhku, Ia selalu muntah-muntah. keinginannya aneh-aneh, sudah sering aku menyuruh ke Dokter tapi ia bilang tidak apa-apa. Tadi malam Vano berpendapat agar Dokter Agung datang ke mansion untuk periksa keadaan Mommy nya."


"Lalu apa kata Dokter agung?


"Saat dokter Agung datang, untuk periksa Delena, aku langsung pergi ke kantor. Rasa kesal pada istriku terus membayangi."


"Kak! apa kak Dena, mengalami gejala aneh? tidak mau makan, bila di dekat kakak mual dan muntah, emosinya sering tidak terkontrol? gejala seperti ini pernah dialami fanny saat hamil Calista."


"Apa...? Reno terperanjat kaget, seakan tak percaya mendengar penuturan Frans. "Tidak! ini tidak mungkin! Delena tidak mungkin hamil!" Reno beranjak dari duduknya dan berjalan kearah jendela, menatap gedung perkantoran di depannya dengan perasaan kacau, kedua tangannya ia masukan kedalam saku.


"Kak! seandainya kak Dena hamil, apa yang akan kakak lakukan?!


"Tidak Frans! pergilah dan tinggalkan aku sendiri! seru Reno kesal.


Frans tidak mengucapkan sepatah kata lagi, ia pergi meninggalkan Reno yang masih berdiri mematung.


"Tidak Dena! kau tidak boleh hamil! aku tidak ingin kehilanganmu! gumamnya lirih.



๐Ÿ’œ๐Ÿ’œ๐Ÿ’œ


@Bersambung๐Ÿ’ƒ๐Ÿ’ƒ๐Ÿ’ƒ


Dukung Author dengan cara


๐Ÿ’œLike


๐Ÿ’œVote


๐Ÿ’œGift


๐Ÿ’œkomen