
Malam ini di sebuah Hotel berbintang milik Ramon, Ayah dari Reno. Keluarga besar Mahesa sedang merayakan Kebahagiaan anak kembar dari Reno-Delena. yaitu ulangtahun Zevano dan Zevana. Sayang Vano tidak bisa ikut merayakan bersama di Jakarta, Namun Vano melakukan streaming dari Jerman bersama Devan, Remon dan Andini.
Sementara seorang gadis cantik yang sudah beranjak remaja, berbalut dress panjang berwarna pink, sedang kegelisahan menanti seseorang.
"Kenapa sudah jam setengah sembilan Nathan belum juga menampakkan batang hidungnya? bahkan ponselnya sejak tadi pagi tidak aktif." gumamnya lirih.
"Vana! panggil Luna "Kenapa disini? Daddy dan Mommy mencari-cari mu, acara akan segera dimulai."
Vana terdiam masih memandangi ponselnya.
"Hey! kenapa kau bersedih? ini hari ulangtahun mu Van." Luna melihat wajah kesedihan dari sahabatnya.
"Entahlah aku Sepertinya tidak bersemangat."
"Apa karena Nathan belum datang? sudah di hubungi?"
"Sudah puluhan kali aku telpon, sejak pagi hingga hari ini ponselnya tidak aktif. Padahal kemarin sore aku masih telponan."
"Mungkin ia sedang sibuk, positif thinking ajah."
"Aku hanya takut Nathan kenapa-napa. Belum pernah dia seperti ini, ponselnya jarang Off."
"Kakak di panggil Om dan Tante." panggil Savira, tiba-tiba sudah didepan Vana.
"Iya Dek, ayo kita kesana." Vana mengandeng Savira dan Luna ke tempat acara.
Acarapun di mulai, Vana meniup lilin dan memotong kue pertama untuk Mommy dan Daddy nya, di layar monitor Vano pun meniup lilin dan memberikan potongan kue nya pada Oma dan Opa nya. Kebahagiaan terus membanjiri Vano dan Vana mendapat ucapan dari orang-orang tersayang.
Mata Vana terus kesana-kemari mencari sosok yang ia rindukan. Hingga di akhir acara sosok Nathan tidak juga hadir. Vana menangis pilu, airmata tak kuasa ia bendung. Pria yang ia tunggu kehadirannya, pria yang berjanji akan datang ke acara party nya, pria yang selalu membuatnya nyaman, dan pria itu selalu buat Vana tertawa dan bahagia. Tapi kenyataannya... Untuk sekedar memberikan ucapan saja tidak ada. Vana terlihat frustasi, ia hampir saja menghancurkan ponselnya.
"Sayang, Kenapa menangis? tanya Delena saat melihat anaknya menyendiri disudut ruangan.
"Mommy?" Vana tersentak kaget, ia mengusap airmatanya.
"Kenapa sayang? apa yang membuat mu bersedih." Delena merangkul pundak anaknya.
"Vana menangis bahagia Mom, akhirnya Vana bisa melewati sampai di usia ini. Terima kasih Mommy dan Daddy sudah mencurahkan cinta dan Kasih sayangnya buat Vana."
Delena ikut terharu, ia menarik Vana kedalam pelukannya "Sama-sama sayang, Mommy dan Daddy sangat bangga memiliki anak cantik dan sebaik dirimu."
***
Didalam kamar Vana merebahkan tubuhnya, hari ini ia sangat lelah, bukan hanya lelah fisiknya tapi juga hati dan batinnya. Pikirannya terus berputar pada satu nama, yaitu Nathan!
"Kak! kau berada dimana sekarang? kenapa kau tidak menghubungi aku, dan tidak membalas pesan ku? aku sangat merindukanmu." hiks...
"TING!
Sebuah notifikasi masuk. Vana membuka aplikasi warna hijau. ia terkejut melihat sebuah pesan masuk dari pria yang ia rindukan.
["Happy birthday dear, may happiness always be with you. (Selamat ulang tahun sayang, semoga kebahagiaan selalu bersama mu."]
"Kak Nathan, kakak kemana saja, sejak pagi tidak ada kabar."
["Ma'afkan aku sayang, ada pekerjaan mendadak."]
"Aku kangen kak...😭
["Sabar ya sayang... besok sore bisa kau temui aku di sebuah cafe, ada suprise untuk mu."]
"Benar kah Kak? Cafe mana?"
["Berdandan lah yang cantik, besok aku akan kirim gaun untuk mu. Dan temui aku di 'Cafe Cinta' akan aku share alamatnya."]
"Baik kak! aku pasti datang."
["Sampai jumpa besok sewtty."]
Vana tersenyum bahagia, wajahnya kembali bersinar cerah, dan hatinya menghangat. "Aku percaya kakak tidak akan pernah meninggalkan aku." Vana memeluk gawainya dalam pelukan dan tertidur pulas.
Pagi itu Vana masih tertidur nyenyak. Suara Savira yang berisik membangun kan tidurnya.
"Kak ayo bangun, katanya mau ikut jalan-jalan ke danau, Om sama Tante sudah menunggu."
"Kakak nggak ikut, bilang Mommy dan Daddy, kakak masih ngantuk."
"Hmm.. ya udah deh!"
Siang nya...
Sebuah paket datang ke mansion atas nama Zevana. senyum mengembang dari bibir Vana saat membuka sebuah paket, sebuah gaun cantik berwarna pink pemberian Nathan. Ia mulai berhias diri setelah mandi, sebab jam empat sore Nathan menunggu di Cafe Cinta.
Setelah berpamitan pada Delena, Pak Yanto kemudikan sedan membawa Vana kesebuah Cafe. Satu jam kemudian Vana sudah berhenti di depan Cafe. Mata Vana mencari sosok Nathan, Namun tidak ada. Tiba-tiba sebuah ponsel berdering, Vana mengambil ponsel dari tasnya, dan tertera nama sang kekasih.
"Kak!
"Masuk lah sayang..."
"Tapi Cafe itu sepi nggak ada pengunjung."
"Masuk lah! ini acara khusus untuk kita berdua."
Telepon terputus, Vana melangkah masuk kedalam Cafe, gelap tidak ada cahaya sama sekali.
"Kak! panggil Vana.
Hening......
"Kakak!!!
BLUS!!
Tiba-tiba lampu menyala terang benderang. Vana begitu takjub melihat bunga dan balon-balon berbentuk love betebaran di ruangan. Lalu berdiri sosok pria tampan didepannya, pria yang sudah mencuri hatinya beberapa bulan ini. Nathan mengulurkan tangannya dan di sambut sebuah pelukan dari kekasihnya.
"Kak, aku sangat merindukan mu."
"Aku juga sayang. Ayo kita duduk di sana."
Nathan dan Vana berjalan kesebuah meja yang sudah tersedia kue black forest yang diatasnya ada lilin angka 17 tahun.
"Aku ingin merayakan hanya untuk kita berdua." imbuhnya seraya menarik satu kursi untuk sang kekasih.
"Kenapa hanya kita berdua kak?
"Aku suka suasana romantis, aku hanya ingin membahagiakan mu malam ini." Nathan tersenyum misterius.
"Ini hadiah dariku." Nathan memberikan kotak bludru biru.
"Apa ini kak!
"Buka lah!
Vana membuka kotak bludru, berwarna biru dongker. Seketika matany membulat. ia melihat satu set perhiasan batu Rubby. "Kak, ini untuk siapa?"
Tentu saja untuk mu sayang..? Seperangkat perhiasan itu sudah menjadi milik mu, sini aku pakaikan." Nathan beranjak dari duduknya dan mengalungkan Emas putih dengan liontin batu Rubby ke leher jenjangnya. Tak lupa anting dan cincin sudah tersemat semua.
"Cantik sekali." puji Nathan, mencium pipi kekasihnya.
"Terima kasih, sayang.."
"Thanks honey." mencium kening Vana lembut.
Nathan menuangkan wine kedalam gelas tinggi, dan memberikan satunya untuk Vana.
"Aku tidak pernah minum yang mengandung alkohol, kau tahu itu kak!
Nathan tersenyum "itu bukan untuk mu sayang?"
"Hah?! Vana mengeryitkan alisnya "Maksud kakak?"
"Masuklah Sayang...."
Tak, tok, tak, tok..
Terdengar suara sepatu heels berjalan mendekat, seorang wanita cantik berbodi seksi memakai Hotpants dan crop top dada rendah.
"Hey baby..." sapa wanita itu, berjalan kearah Nathan dan mencium pipinya.
"Hey! siapa kau? berani sekali cium-cium kekasihku! bentak Vana.
"Siapa gadis ini sayang.." wanita itu terkekeh lalu duduk di pangkuan Nathan.
Jelas saja Vana terkejut "Kak! apa-apaan ini? siapa wanita ini! teriak Vana menatap tak percaya, ia beranjak dari duduknya.
"Ma'afkan aku sayang, wanita ini adalah kekasih ku!" mencium lembut pipi wanita seksi itu di depan Vana.
"DEG!
Darah Vana berdesir, jantungnya berdebar tak karuan, hatinya begitu sakit bagai anak panah menghunus jantungnya.
"Ap-apa...?! apa kata mu? Vana berusaha menahan airmatanya agar tidak jauh. Namun, melihat pria yang sangat ia cintai mencium wanita lain, harinya begitu hancur. Butiran bening lolos begitu saja dari bola matanya.
"KAU JAHAT KAK! SAMA JAHATNYA DENGAN REYHAN!! KENAPA KAK??? KENAPA KAU LAKUKAN INI PADAKU!! teriak Vana merasakan sesak di dada.
"Sudah lah Zevana Alea! tidak perlu berteriak, Arumi adalah kekasih ku! sekarang terserah padamu mau kau teruskan hubungan kita atau tidak!
Vana gelengkan kepala tak percaya, apalagi mendengar pengakuan pria yang sudah membuatnya jatuh cinta.
"AKU MENYESAL MENJADIKAN MU SEORANG BODYGUARD! BAHKAN JATUH CINTA PADAMU ADALAH SEBUAH KESALAHAN!! SEMUA YANG KAU BERIKAN ADALAH KEPALSUAN!! Vana menarik kalung Rubby, anting-anting dan cincin pemberian Nathan, lalu ia lemparkan ke lantai.
"JANGAN PERNAH TAMPAK KAN LAGI WAJAHMU DI DEPANKU! MULAI HARI INI KITA TIDAK ADA HUBUNGAN APAPUN!!!
Vana berlari meninggalkan Cafe di sela isak tangisnya yang semakin dalam. Perasaannya hancur berkeping-keping. Ia masuk kedalam mobil dan meminta pak Yanto untuk secepatnya pergi.
"Minggir kau! mendorong tubuh wanita itu. Nathan mengeluarkan amplop dari balik jas nya. "Ini bayaran mu, cepat pergi dari sini! bentak Nathan pada wanita bayaran.
"Terima kasih tuan, senang bekerja sama denganmu, kalau butuh lagi calling me." wanita itu mencium amplop pemberian Nathan, dan pergi meninggalkan Nathan dengan perasaan kacau.
"Huh! BRENGSEK!! menendang kursi di depannya.
Ma'afkan aku Alea, aku tidak bisa menepati janji ku padamu, hubungan kita terlalu rumit. Andai saja bukan ibumu yang membunuh Ayahku, aku yakin hubungan kita akan baik-baik saja hingga ke pelaminan."
"Aarrgghhh!!! Nathan mengerang frustasi. ia membalikkan meja makan. Butiran bening berjatuhan dari sudut matanya. Ia merasakan sakit yang teramat dalam, wanita yang sudah ia perjuangkan dari kecil harus ia akhiri.
"YA TUHAN KENAPA INI HARUS TERJADI PADAKU! tubuh Nathan merosot dilantai "Aku berhasil telah membuatmu membenci ku! ma'afkan Aku, sungguh aku sangat mencintaimu Alea."
***
Jam sudah menunjukkan pukul dua dinihari, Vana masih merenung di dalam kamar, jendela sengaja tidak ia tutup.
"Kak! kenapa kau lakukan ini padaku! ucapnya lirih, masih tergugu dalam lamunan.
Tiba-tiba sebuah bayangan hitam berkelebat naik keatas balkon. Vana terkejut, ia menutup jendela kamar dan berlari ke lantai dua. lampu lantai dua tampak remang. Vana mengendap dan melihat bayangan itu mendekat kamar kedua orang tuanya.
Untuk menjaga diri Vana mengambil sebuah pedang yang di pajang di dinding. ia melesat melalui kamar sebelah, dan keluar ke balkon.
"Siapa kau! reflek Vana mengayunkan pedangnya.
"Trang, Trang, Trang, Trang...
Perkelahian tak dapat dihindari lagi. Dua pedang saling beradu, Pria berpakaian serba hitam dengan penutup wajah layaknya seperti Ninja terus menyerang. Vana sudah menguasai ilmu bela diri dan terbiasa bertarung dengan pedang saat latihan dengan Ninja bayangan.
"Trang! Trang! Trang!
Saling menghindar dan saling menyerang. Hingga pria itu terpojok, Vana mengarahkan pedang ke jantungnya "Apa tujuanmu ingin masuk kamar orangtua ku! HAH!!!
"Trang! Pria itu berhasil menyerang balik, untung pedang Vana tidak terlempar. Dengan membabi buta pria itu ingin menghunuskan ketubuh Vana, secepat kilat tubuh Vana memutar dan...
"SRETT!!!
Vana berhasil menggores pangkal lengan pria berbaju serba hitam itu. Darah mengucur dan berjatuhan ke lantai. Melihat Vana lengah, Pria itu menyerang kembali dan.. pedang Pria itu sudah berada di leher Vana, sekali tebas akan putus. Vana terdiam sehingga mata keduanya saling bersitatap. Melihat mata biru Itu Vana terkejut. Menyadari lawannya curiga, pria itu menurunkan pedangnya. Pada saat pria itu ingin kabur, Vana berteriak.
"NATHAN!!
Pria itu terdiam, detik kemudian ia memutar tubuhnya dan menatap Vana yang sulit diartikan.
"JADI KAU INGIN MEMBUNUH ORANG TUA KU!! APA SALAH MEREKA PADAMU!"
"MAAF KAN AKU VANA! ORANG TUAMU TELAH PEMBUNUH AYAHKU!!!
"AP--APA..?!! Vana membekap mulutnya "Jadi ini kah jawaban dari semuanya, kau masuk kedalam kelurgaku dan mendekatiku, lalu menjadikan aku pion untuk balaskan dendam pada keluarga ku!"
"KENAPA KAU TAK BUNUH SAJA AKU! AGAR KAU PUAS!! teriak Vana.
"URUSAN KITA BELUM SELESAI! SELAMAT TINGGAL!!
Pria itu ternyata Nathan, ia meloncat dari atas balkon dan berlari dengan secepat kilat.
"Hiks.. hiks.. hiks... tubuh Vana lemas dan terduduk di lantai.
"Vana!! teriak Delena yang melihat anaknya berada di balkon.
"Zee..." Reno memeluk tubuh anaknya yang lemas. Seketika bahu Vana terguncang hebat. ia menangis histeris dalam dekapan hangat Daddynya.
"Siapa yang melakukan ini semua Mas?.dan penjaga tidak ada satupun yang tahu, penyusup masuk."
"Sepertinya penyusup ini sudah tahu detil keadaan mansion kita. Para Bodyguard juga sudah di taklukkan semua."
"Van! Vana..." Mas Vana pingsan.
Reno mengangkat tubuh anaknya kedalam.
Setahun telah berlalu, Natha tidak pernah menampakkan diri lagi. Reno dan anak buahnya sudah mencari keberadaan Nathan di London maupun di berbagai Negara yang pernah ia singgahi, Namun tetap tidak ada. Nathan menghilang bagai di telan bumi.
~ TAMAT~
@Ayo Lanjut ke kisah "KEMBALI NYA SANG MACAN ASIA" lebih seru dan menantang.
@Banyak sebagian yang lupa atau tidak baca di part terbunuhnya Thomas/ Mr Black. Yang menembak Thomas adalah DELENA untuk menyelamatkan Reno suaminya.
@Part terakhir lebih panjang ya All..
@Terima kasih banyak pada semua pembaca karya Bunda 🙏 Semoga novel ini menjadi hiburan dan kita di pertemuankan dalam karya dan kisah yang berbeda.😍
YUK KITA LANJUT KE NOVEL