ISTRI PENGGANTI CEO: Season 2

ISTRI PENGGANTI CEO: Season 2
S.3 Wanita Masa Lalu


"Kalau Mama kesepian bisa ajak kak Sarah untuk menemani Mama. Aku berangkat dulu Mah!" Robert berjalan cepat meninggalkan Mama nya yang terlihat kesal.


"Robert! kau antarkan saja Mama kerumah Sarah!" teriaknya dari depan teras.


Robert tak hiraukan panggilan Mamanya, dengan cepat ia melajukan mobil menuju rumah seorang wanita.


Mobil berjalan dengan cepat membelah jalanan kute Bali, untung jalanan raya tidak semacet di Jakarta. Setengah jam kemudian mobil berhenti disebuah rumah bangunan megah dengan pepohonan rindang didepannya.


Setelah mobil terparkir sempurna, Robert keluar dan masuk kedalam gerbang. Seorang pelayan membukakan pintu untuk Robert.


"Robert! aku harap kau memenuhi janjimu, sudah dua hari kau tidak mengunjungi Sabrina."


"Aku sibuk mengurus seminar, seharusnya kau paham, kau selalu tidak sabaran dan menelpon aku terus. istriku jadi curiga! belum saat ia tahu, aku tidak ingin mentalnya terganggu."


"Ini semua juga karena istrimu kan?! kalau saja Davina tidak menabrak Sabrina, tidak mungkin anakku lumpuh!"


"Istriku tidak sengaja! dia juga mengalami cidera, aku mohon mengertilah Kinan!"


"Andai saja kau bukan masa laluku dan kita tidak pernah saling kenal! sudah aku tuntun istrimu. Seharusnya Davina sudah berada di dalam penjara!" teriak Kinan


Robert mendesah kasar "Aku harus apalagi? aku sudah berjanji akan mengobati Sabrina sampai kembal pulih."


"Begitu kuatnya kau melindungi wanita jal*ng Itu!


"Cukup Kinan! jangan pernah kau menghina istriku!" bentak Robert dengan sorot mata tajam. "Sekali lagi kau menyebut istriku jal*ng! aku tidak akan menginjakkan kakiku kerumah ini lagi!"


Kinan melipat kedua tangan didada "Apa kau begitu mencintai Davin?" padahal kau tahu sendiri, masa lalu Davina seperti apa? wanita murahan yang selalu menemani bos-bos kaya demi uang!


"Diam!!" bentak Robert


"Bahkan kau lebih memilih dia daripada Aku!!" teriak Kinanti dengan emosi meletup-letup.


"Sudah cukup! Sabrina pasti akan mendengar teriakan mu!"


"Biar saja Sabrina tahu siapa Ayah kandungnya! dia selalu bertanya dimana keberadaan Ayahnya, dulu aku selalu menutupinya, tapi sekarang tidak!"


Robert mengusap kasar wajahnya berkali-kali. "Ya Tuhan, kenapa ini harus terjadi?" sesalnya.


"Hiks... Kinanti meneteskan airmata "Padahal Sabrina adalah anak kandungmu juga! anakku bagian dari masa lalu kita! kau malah menikah dengan wanita gila itu daripada aku yang sudah tiga tahun menemanimu!"


"PLAKK!


Tamparan keras mendarat di pipi Kinanti.


"Jaga bicaramu Kinan! Jangan pernah mengatakan kalau istriku gila! aku juga pendosa, apa salahnya aku menikahi Davina! kau sendiri yang memilih pergi dari hidupku! bukan aku...!!" nafas Robert turun-naik karena amarah yang meluap-luap.


Kinanti berjalan mendekat dan menarik kerah baju Robert "Aku pergi bukan keinginan ku! tapi aku harus meneruskan S2 di Australia karena keringanan Papa ku! Aku bisa apa?!" Aku juga tidak pernah tahu kalau sedang mengandung anakmu dua bulan! aku selalu menghubungimu tapi ponselmu tidak pernah aktif! aku melahirkan sendiri tanpa seorang suami! Saat aku kembali dari Australia, ternyata kau sudah menikah!" hiks.. hiks.."kau jahat Bert! cengkraman baju itu semakin melemah, Kinan jatuh di bawah kaki Robert dengan tangisan semakin dalam dan pilu.


"Sekarang ini aku bisa apa? disaat aku sudah menjauh darimu, dan menata hidup baru berdua dengan anakku. Davina menabrak anakku malam itu saat ia baru keluar dari toko Roti." hiks... Kinan mengusap airmatanya kasar.


Robert merasa bersalah ia turun kebawah, kedua tangannya memegang pundak Kinan "Ma'afkan istriku, dia tidak sengaja. Rem mobilnya blong, dan ia menghantam batu karang karena untuk menghindari tabrakan itu. istriku sempat koma tiga hari dan menjalani operasi di keningnya karena bocor, apa itu kau anggap sengaja?"


Menepis tangan Robert "Kau terus membela dan melindungi istrimu! andai yang kecelakaan anakmu Chika apa kau akan diam saja!" Aku sudah mencari pengacara untuk menjebloskan istrimu ke penjara karena kelalaiannya membawa mobil, tapi kau selalu menghalangi dan melarang aku membawa ke ranah hukum! padahal yang istrimu tabrak adalah anakmu!"


"Sabrina adalah anakmu ingat itu!" Kinanti terus berteriak histeris.


"Jadi kau mau apa dariku! Robert terlihat frustasi


Kinanti menatap netra Robert dalam "Apa kau mencintai Davina!"


"Iya, aku sangat mencintai istriku dan juga anakku!"


"Lalu Sabrina kau anggap apa?!"


"Aku harus buktikan dulu melalui tes DNA, apa benar Sabrina anakku atau bukan!"


"Jadi kau tidak percaya?" Kinan membulatkan matanya dengan alis terangkat "Baiklah, kita lakukan tes DNA besok!


Kinanti berdiri dan melipat tangannya di dada. "Bagaimana bila Sabrina adalah anak kandungmu, gadis dua belas tahun itu juga butuh seorang Ayah."


Wajah Robert terlihat gusar dan tegang. Ia tidak ingin rumah tangganya hancur dan berantakan dengan kehadiran Sabrina anak hubungan gelapnya dengan Kinanti, kekasih masa lalunya.


"Kenapa kau diam?" apa kau takut pada istrimu."


"Aku hanya tidak ingin rumah tanggaku hancur!"


"Lalu siapa yang sudah menghancurkan hidup anakku?!" Davina Veronica yang sudah hancurkan masa depan dan hidup anakku!"


"Baiklah kalau kau tidak mau mengakui Sabrina anakmu! besok aku akan kekantor polisi untuk memberikan bukti kecelakaan itu!"


"Jangan kau lakukan itu Kinan! kita lihat dulu hasil tes DNA nya, kenapa kau tidak sabaran dan selalu emosi! Robert mendengus kesel "kalau hasil DNA nya Sabrina adalah anakku!. aku akan tetap mengakuinya, membicarakan baik-baik pada Davina tentang Sabrina.


"Lalu bagaimana bila Davin tidak mau mengakuinya dan memilih mundur dari hidupmu?"


"Kau jangan berbicara kemungkinan yang belum pasti! aku percaya Davin akan menerimanya. kita lihat saja besok! Robert berjalan kearah kamar dan membukanya.


Krekk!


Ia berjalan mendekati ranjang. Gadis cantik berusia 12 tahun berbaring lemah tak berdaya. kedua tangannya menutupi wajahnya. Terdengar suara isakan tangis dari gadis malang itu. Robert duduk di tepi ranjang dan menatap gadis itu, dengan tubuh terguncang karena tangisannya.


"Sabrina.." Apa yang kau rasakan adalah kesalahan kami di masa lalu. Ma'afkan aku sudah menggoreskan luka di hatimu. Aku tidak pernah tahu kalau Ibumu sedang mengandung dirimu, ia pergi setelah kami bertengkar." ucapan Robert adalah sebuah penyesalan masa lalu, yang telah menghadirkan seorang gadis lumpuh karena sebuah kecelakaan yang disebabkan oleh istrinya Davina. Robert merahasiakan dari Davin karena ia belum berani mengungkapkan kalau gadis yang ia tabrak adalah anak dari wanita masa lalunya.


"Aku sudah tahu semuanya Om, kalau Om adalah Papa ku, tapi kenapa Om masih tidak percaya dengan Mama!" Hiks.. hiks..


"Om harus tahu kebenarannya, apapun yang akan terjadi kau tetap akan menjadi anak Om, Om berjanji akan menyembuhkan mu dan akan mendatangkan Dokter terbaik dari luar negeri."


Robert mengusap lembut kepala Sabrina "Apapun yang kau inginkan akan Om lakukan demi kesembuhan mu, Ma'afkan Istri Om, dia juga akan merasa bersedih bila tahu kau lumpuh."


"Kenapa Om tidak bicara jujur pada Tante, kalau semua ini disebabkan oleh istri Om."


"Om...!"


"Hmmm....."


"Bolehkah Sabrin minta sesuatu?


"Apa itu?" menatap teduh netra gadis itu.


"Bolehkah Sabrin memanggil Om, Papa? sejak kecil Sabrin tidak punya Papa, teman-teman di sekolah selalu mengejek dan mengatakan aku anak haram!"


Mata Robert berembun, ada rasa sakit dihatinya mendengar cerita gadis cantik itu.


"Tentu saja boleh." Robert mengusap air matanya yang terlanjur jatuh.


"Ya sudah Om pergi dulu ya, besok Om kemari lagi." Robert beranjak dari ranjang.


"Papah! panggilnya ketika Robert membuka pintu kamar.


"Iya sayang, jaga dirimu baik-baik."


Sabrina mengangguk pelan.


Robert menutup pintu kamar.


"Besok akan tes DNA, aku sudah mengambil simpel darah Sabrina."


"Aku akan datang kerumah sakit, aku tidak ingin kau membohongiku, dan berasalan Sabrina bukan anakmu."


"Kau selalu saja menguji kesabaran ku! ucap Robert kesal dan melangkah pergi meninggalkan Kinanti.




Esoknya Robert sudah mengirimkan sampel darah miliknya dan darah Sabrina di bagian laboratorium.



Kinanti datang dan menunggu hasilnya bersama Robert di ruangannya. Mereka hanya diam dengan pikiran mereka masing-masing.



Tiga jam menunggu, seseorang masuk kedalam ruangan Robert setelah mengetuk pintu.



"Bagaimana hasilnya! Robert berdiri dari duduknya.



"Ini hasilnya Tuan! pria itu memberikan amplop berisi lembaran kertas pada Robert.



"Terimakasih kasih!



Pria itu keluar dari ruangan Robert. Dengan hati berdebar Robert menyobek amplop itu dan mengeluarkan lembaran kertas.



๐Ÿ’œ๐Ÿ’œ๐Ÿ’œ



@Hari ini sudah dua bab, ayo kasih Bunda bunga setaman dan kopi untuk gadang ๐Ÿฅด๐Ÿคฃ



@Yuk kirim Bunda Hadiah, bab nya lebih panjang, biar bunda semngat ๐Ÿ’ช nulis๐Ÿ˜˜



@yuk terus dukung bunda dengan cara...



๐Ÿ’œlike



๐Ÿ’œvote



๐Ÿ’œgift



๐Ÿ’œkomen



@bersambung......๐Ÿ’ƒ๐Ÿ’ƒ