ISTRI PENGGANTI CEO: Season 2

ISTRI PENGGANTI CEO: Season 2
Meminta Pertolongan


Setelah mendapat informasi keberadaan dua sahabatnya Delena dan Reno mendatangi rumah sakit.


Dengan tubuh gemetar Delena keluar dari dalam mobil, sejak tadi tangisannya terdengar pilu. Gerak langkah kaki panjang Delena dan Reno melewati lorong-lorong rumah sakit menuju ruangan Robby dan Alisya di tempatkan. Namun Delena dan Reno tidak menemukan ruangan keberadaan Robby dan Alisya.


"Maaf suster tadi saya mendapat telpon dari pihak rumah sakit, ada kecelakaan di jalan Senopati jam dua dinihari."


"Sebentar saya cek dulu." ucap suster yang berjaga sambil mengecek melalui sambungan telepon.


"Iya Bu, ada kecelakaan sepasang suami-istri dan satu anak gadis."


"Iya benar dimana mereka? aku kerabatnya." Delena sudah tak sabar.


"Mari Bu, Pak, silakan ikut saya."


Reno dan Delena mengikuti langkah suster jaga itu menuju sebuah ruangan. Ada beberapa kepolisian yang berdiri dan berjaga di depan pintu.


"Ma'af saudara siapa? tanya salah seorang polisi.


"Saya masih Keluarga Korban. Bisa kami masuk untuk melihat kondisinya." ucap Reno.


"Apa Bapak dan ibu sudah tahu kondisi kerabatnya?


"Tadi pihak rumah sakit mengabari, kalau korbannya sudah tak bisa ditolong."


"Kalau begitu silakan masuk!


Delena dan Reno masuk kedalam ruangan, Dokter forensik dan beberapa suster masih berada di dalam ruangan. Sepasang suami-istri berada diatas bangkar, Delena berjalan semakin mendekat dan melihat langsung tubuh kaku tak bernyawa itu.


"Maaf apa anda Keluarga Korban?" tanya seorang Dokter.


"Iya, kami kelurga korban." ucap Reno datar.


Delena mengamati wajah dua sahabatnya, banyak luka gores dan ceceran darah di tubuh dan wajahnya. Wajah Robby separuhnya hancur dan wajah Alisya banyak dipenuhi luka. Jantung Delena berdetak hebat, darahnya berdesir dan dadanya terasa sesak.


"Alisya!!!


"Robby!!!


Delena menangis histeris. Reno menenangkan istrinya seraya memeluk tubuh Delena yang sudah melemas. "Sabar sayang..."


"Ya Allah... kenapa nasib Robby dan Alisya Jadi seperti ini? aku nggak sanggup melihatnya Mas." hiks.. hiks..


"Bagaimana kronologi nya Pak? tanya Reno pada petugas kepolisian "Sebelumnya mereka dari rumah kami untuk silahturahmi. sekitar jam 10 malam, mereka pulang ke hotel. Katanya subuh harus pulang ke Surabaya."


"Pihak kepolisian sudah menginvestigasi kejadian kecelakaan di jalan Senopati pada jam dua dinihari. Mobil Korban bertabrakan dengan sebuah truk. Supir truk di perkirakan sedang mengantuk dan terjadilah tabrakan maut itu. Mobil terguling dan terseret, Korban laki-laki terpental dan keluar dari dalam mobil. Wajahnya rusak terseret aspal 30 meter."


Delena membekap mulutnya dan terus terisak. seakan tak sanggup mendengar cerita polisi.


"Sementara istrinya yang masih berada dalam mobil, tubuhnya terjepit dan wajahnya penuh luka karena hantaman dan benturan mobil yang terguling. kami menemukan sudah tidak bernyawa."


"Lalu dimana Shafira? anak mereka?" tanya Delena lemah.


"Alhamdulillah, anaknya yang duduk di jok belakang selamat, Namun tangannya ada yang patah karena terjepit jok mobil."


"Dimana keponakan saya, Pak?!"


"Ada di ruangan rawat inap khusus anak, Namun masih belum sadarkan diri."


"Ayo Mas kita temui Shafira. Sepertinya kita harus mengurus Shafira, seperti permintaan Alisya sebelum meninggal."


"Iya sayang, kita yang akan mengurus Shafira."


"Pak! tolong segera di urus jenazah kerabat kami, dan secepatnya di makamkan. Untuk biaya kami yang akan tanggung semua.' imbuh Reno.


Setelah Reno menandatangani surat-surat. Perawat membawa jenazah Robby dan Alisya ke pemandian jenazah dan setelah di sholat kan baru jenazah akan langsung di kuburkan.


Delena dan Reno melangkahkan kakinya menuju ruangan rawat inap Shafira. Sampai di ruangan itu, Delena menatap iba seorang gadis yang tertidur diatas ranjang pasien. Airmata tak hentinya menetes


"Shafira..." Delena menyentuh lembut tangan gadis cantik itu. "Kini kau tidak akan sendri lagi, ada Mommy dan Daddy yang akan menggantikan kedua orang tuamu." tangisan Delena semakin pecah dan pilu.


"Sayang,, sabar ya, do'akan yang terbaik untuk Shafira..." Reno menarik istrinya kedalam pelukan.


"Mas... Shafira akan tinggal bersama kita, kan?"


"Iya sayang... Shafira akan menjadi anak kita."


"Terima kasih Mas.." hiks...


Esoknya Jenazah dibawa ke pemakaman tempat istirahat terakhir. Mobil Reno dan Delena mengikuti mobil ambulance.


Delena menaburkan bunga diatas pemakaman Ailsya dan Robby, setelah jenazah nya tertutup tanah merah. Dua orang sahabat dimasa kuliahnya dulu dan meninggalkan satu anak semata wayangnya.


"Alis... Aku nggak menyangka kau datang ke rumah ku untuk menitipkan Shafira. Kedatangan mu dan Robby semalam adalah pertemuan kita yang terakhir." hiks...


"Aku berjanji akan menjaga Shafira seperti anak ku sendiri, semoga anak-anak kita berjodoh seperti keinginan kita dulu." hiks..


"Sayang ayo kita pulang..." Reno menepuk pundak istrinya.


Delena menaruh bunga tulip diatas pusaran kedua sahabatnya, sebagai penghormatan terakhir.


"Semoga kalian berdua tenang di alam sana dan Allah mengampuni dosa-dosa kalian."


*


Tiga hari kemudian Shafira dibawa pulang ke mansion Reno. Delena merawat Shafira dengan penuh kasih sayang. Dokter Agung akan datang setiap hari untuk menangani kondisi Shafira. Sampai satu minggu Shafira belum di beritahu keberadaan orang tuanya.


"Safira sayang.. makan dulu ya." Delena masuk kedalam kamar dengan membawa sarapan pagi dan susu untuk Safira.


"Tante, bolehkah Fira bertanya?"


"Iya tanya apa sayang..."


"Mama sama Papa kok belum jemput Fira, Fira kangen Mama day papa, Tante."


Delena terdiam, bola matanya memanas. Ia tak sanggup untuk menceritakan semuanya.


"Tante kok diem?" Fira menatap nanar dan melihat Delena mengusap airmatanya yang terlanjur jatuh di pipi.


"Tante kenapa nangis?"


"Tidak apa-apa sayang, mata Tante kelilipan."


"Mama sama Papa Fira masih banyak urusan, nanti akan kemari kok. Fira disini saja temenin Kak Vana." imbuh Delena memberi pengertian.


"Kenapa Mama dan Papa nggak pernah telpon Fira, Tante tolong telponin Mama sama Papa."


"Iya sayang, nanti Tante telponin Mama ya. Sekarang Fira makan dulu biar sehat."


"Vana.. kau harus sering menghibur Fira, jangan sampai ia bersedih." bisiknya pelan


"Iya Mom! Fira sudah seperti adik Vana sendiri, Vana akan terus menghiburnya."


"Bantu Fira makan ya, Mommy nggak sanggup melihat Fira sedih, apalagi Mommy terus berbohong."


"Ya sudah Mommy istirahat saja, biar Vana yang suapin Fira."


Delena meninggalkan Fira dan Vana.


Malam semakin larut, Vana masih berkutat dengan pelajarannya, tiga hari lagi akan ada ujian kenaikan kelas tiga. Vana selalu fokus dalam belajar karena ia tidak ingin kecewakan kedua orang tuanya.


Suara ponsel berdering nyaring. Vana yang sedang belajar konsentrasinya buyar. ia melihat nama Luna dilayar ponsel, tangan Vana menggeser tombol hijau.


"Hallo...."


"VANA TOLONG AKU!!! pekik suara di ujung telepon.


"Luna kau kenapa?!"


"Vana, tolong kau temui aku sekarang, aku takut.." suara ketakutan Luna di ujung telpon.


"Luna kau dimana?" tanya Vana khawatir


"Ceritanya panjang, hanya kau yang bisa menolong ku! cepat Vana...."


"Kirimkan Sherlock nya, aku akan menjemputmu."


"Baik, aku akan kirimkan."


"JANGAN!!!! AKU MOHON JANGAN!!!


Suara jeritan dan ketakutan Luna terdengar keras, disela isak tangisannya.


"Luna! hallo Luna... kau kenapa berteriak! tanya Vana panik, tidak ada suara lagi dari ujung telepon. "Ya Tuhan ada apa dengan Luna?"


Vana melihat Sharelock yang sudah di kirim Luna ke wasshpp. "Aku harus ke sana, aku tidak ingin terjadi apa-apa dengan Luna."


"Tapi bagaimana kalau Mommy tanya, alasan apa yang harus aku buat? Ahh..! Vana mendesah kasar "Mommy tidak akan pernah izinin aku keluar, apalagi malam begini, tapi Luna butuh pertolongan."


Vana masih terus berpikir "Pasti ada yang tidak beres dengan Luna, aku akan coba minta bantuan Reyhan, siapa tahu dia mau membantu Luna."


Vana mencari kontak Reyhan dan mulai menghubunginya. Namun sayang, ponselnya sedang tidak aktif. "Ponsel Reyhan malah tidak bisa di hubungi." Vana mundar-mandir didepan pintu kamar "Aku harus pergi, ini demi nyawa sahabat ku, dia dalam kesulitan aku harus menolongnya."


Mata bulat berbulu mata lentik itu menatap jam di dinding. Jam sudah menunjukkan pukul 10.15 menit. Dengan cepat Vana mengganti pakaian casual, celana jeans dan kaos hitam, tak lupa jaket Levis membalut tubuhnya. sepatu kets dan tas selempang ia sematkan di bahunya.


Vana keluar kamar dengan mengendap-endap. "Semoga Mommy tidak ada dibawah." ia terus berjalan kearah ruangan tamu dan memegang handel pintu, saat ingin membukanya tiba-tiba ada yang menepuk pundaknya dari belakang.


"DEG! Mata Vana membulat.


💜


💜


💜


@Visual Vano, Vana dan Bella sudah dewasa sudah Bunda share di IG ya..


follow IG @bunda.eny_76


@Bersambung....