ISTRI PENGGANTI CEO: Season 2

ISTRI PENGGANTI CEO: Season 2
Curhatan


Pagi hari terlihat begitu cerah, sinar mentarinya menembus celah-celah jendela kamar, Delena terbangun dari tidurnya, menatap satu persatu Devano dan Denisa yang sedang tertidur pulas di sampingnya. Delena menoleh pada Reno yang tertidur di ujung ranjang, rasa lelah terlihat dari wajah suaminya yang pias, semalam Reno tidak bisa tidur nyenyak karena harus bergantian mengurus si kembar dengan Delena yang terbangun minta susu. Ya selama Delena koma, sejak bayi si kembar terbiasa meminum susu formula khusus balita, terkadang ia merasa bersalah dan bersedih mendapati kenyataan tidak bisa memberikan Asi pada kedua anak kembarnya.


Delena masuk kedalam kamar mandi untuk bersih bersih, 20 menit kemudian ia keluar setelah memakai pakaian. Delena berjalan mendekati suaminya, dengkuran halus terdengar ditelinga nya, dengan lembut penuh kehangatan Delena membangunkan Reno.


"Mas..." panggil Delena pelan mencium pipi Reno.


"Hmmm..."


"Mas masuk kerja apa tidak hari ini?"


"Masuk yank, kan ada pertemuan dengan investor dari Jepang." ucap Reno masih memejamkan matanya.


"Jam berapa Mas berangkat kerjanya."


"Pertemuan jam 10 yank, bangunkan Mas jam delapan yank." masih memejamkan mata.


Mata Delena tertuju pada jam di dinding. "Tapi ini sudah hampir jam delapan mas."


"Apa..? Reno terbelalak dan mendudukkan tubuhnya "Hooaaammmm.. aku masih ngantuk yank, jam empat subuh baru tidur"


"Iya Mas maaf ya, seharusnya itu tugasku mengurus si kembar" tutur Delena merasa bersalah.


"Tidak yank, kau tidak boleh ngomong begitu, mereka anak kandungku juga tidak mungkin aku membiarkan mu mengurus mereka sendiri, si kembar sangat aktif apalagi saat tidur, sepertinya kita harus ganti ranjang ini yang lebih besar yank" Reno terkekeh.


"Tidak perlu Mas, si kembar tidak harus tiap hari tidur bersama kita, mereka sudah memiliki kamar sendiri."


"Tapi mereka anak anak kita yang lucu dan menggemaskan, ternyata benar kata Mama menjadi seorang ibu itu berat, dulu saat aku masih bayi Papa ikut mengurus aku yang super aktif, kini kedua anak kembarku juga aktif aku senang mengurus mereka." mengelus lembut kepala Devano dan Denisa yang sedang tertidur pulas.


"Mas sekarang mandi dulu ya, sudah jam delapan lewat sepuluh menit"


"Iya sayang" mencium kening Delena.


"Sudah aku siapkan air hangatnya"


"Thanks my wife"


Reno beranjak dari duduknya dan berjalan kearah kamar mandi. Reno kluar dengan tubuh basah berbalut handuk dipinggang, pria tampan bertubuh atletis itu masih terlihat segar dan mempesona.


Seperti biasa Delena mengancingkan kemeja Reno satu persatu, dasi terakhir Delena sematkan di leher Reno. "Mas ingat ya pesan istrimu, bila di kantor atau bertemu dengan client wanita, matamu Jangan larak lirik itu sama saja kasih dia kesempatan."


"IYa Mama mentega."


"Loh ko Mama mentega?" ucap Delena protes, mengerutkan keningnya.


"Iya karena Mama mentega selalu membuatku meleleh setiap hari"


"Ish gombal" mencubit perut suaminya.


"Hahahaha... kau selalu membuatku bahagia setiap hari sayang." menarik kedua pipi Delena dan menciuminya bertubi-tubi.


"Sudah Mas geli" Delena tak tahan dengan ciuman Reno apalagi ada kumis tipis menghiasi atas bibir Reno.


Tiba-tiba terdengar tangisan si kembar, awalnya Denis yang menangis di ikuti suara Devano. "Mas mereka berdua sudah bangun."


"Ya sudah ayo kita turun."


"Ohh.. anak Daddy sudah bangun." mengangkat Devano.


"Si cantik Denis juga udah bangun, haus ya sayang mommy."


Delena dan Reno turun kebawah dengan membawa si kembar di gendongan masing masing.


"Haiii... cucu oma sudah bangun ya." Helena mengambil Denis dari gendongan Delena.


Mba tolong buatkan susu dan beri sarapan untuk si kembar," ucap Delena pada baby sister nya.


"Iya Nona"


Helena dan Reno memberikan si kembar pada baby sister.


"Delena, Reno ayo sarapan dulu, Ibu buat sop iga kesukaan Reno,"


"Makasih bu,"


Delena dan Reno menarik kursi makan dan duduk bersama. ia mengambil nasi dan sayur buatan Helena untuk suaminya.


"Reno, Dena, boleh ibu bicara?"


"Ibu mau tanya, rumah Papa mu diberikan pada Davina atau wanita itu?"


Delena dan Reno saling bersitatap. "Astaga aku lupa memberitahu ibu kalau rumah Papa Darwin sudah menjadi milik Delena."


"Benarkah? jadi bukan atas nama wanita itu atau Davina?"


"Sebelum Papa hembuskan nafas terakhir, ternyata Papa sudah memindahkan nama aku atas hak Masion itu, bahkan perusahaan Papa sudah dialihkan atas nama ku juga bu."


"Ahh.. syukurlah," Helena bernafas lega "Lalu bagaimna dengan Sonya istri papamu."


"Wanita ular itu! Delena begitu geram mendengar namanya "Dia ketahuan selingkuh dengan brondong di depanku bu, bahkan pintu kamarnya aku dobrak dengan Kampak."


"Apa?! Helena terpekik dengan kedua mata membulat. "Kau seberani itu nak?"


"Iya ibu, padahal aku sedang hamil si kembar, bahkan aku hampir menamparnya kalau bukan karena Sonya orangtua."


"Sejahat jahatnya Sonya, kau tidak boleh sampai menamparnya nak."


"Bagaimana aku tidak emosi bu, dia membawa brondong itu kedalam kamar, sementara Papa sedang tak berdaya di rumah sakit melawan maut, bahkan Sonya mengurus suaminya saja nggak!"


"Sayang, turunkan emosi mu." Reno menasehati.


"Sonya memang keterlaluan! Helena menghentikan makannya. "Dari awal menikahi Papamu, wanita itu memang mengincar hartanya saja dengan berpura-pura baik pada keluarga kita, ia sering main ke mansion bersama Handoko anaknya, bahkan dia sering menolong dan membantu pekerjaan ibu, Sonya mau mengurus Delena dan Davina saat kalian masih kecil, ibu kasihan pada mereka berdua dan akhirnya memberikan tempat tinggal di mansion, tanpa ibu sadari di belakang ibu Sonya sering merayu Papamu dan terjadilah hubungan terlarang itu." Karena tekanan yang begitu dalam, Helena meneteskan airmata. Delena yang melihat ibunya menagis beranjak dari duduknya "Ibu.. apakah cerita ibu benar? kenapa ibu baru menceritakan semuanya sekarang? dulu ibu menutupi kebusukan Sonya, hanya mengatakan sonya merebut papa dari ibu, tanpa menceritakan kebenarannya."


"Karena ibu tidak ingin kau membenci Papamu Dena?"


Delena mengusap lembut airmata Helena "Ibu adalah wanita terhebat dan terbaik sedunia, bahkan papa sudah menyakiti ibu begitu dalam tapi masih tidak ingin aku membencinya." Delena memeluk Helena, Reno sudah berdiri dibelakang mereka berdua sambil mengelus lembut punggung istri dan ibu mertuanya.


"Ibu jangan bersedih lagi, sekarang ibu bisa memiliki mansion itu sepenuhnya." kata Reno meyakinkan kan.


"Hiks.. hiks.. jadi selama ini ibu telah telah piara ular di rumah ibu sendiri?! Delena menangis terisak, ia menahan rasa sakit yang dirasakan ibunya selama bertahun tahun. "Aku janji bu, akan balaskan sakit hati ibu selama bertahun tahun pada Sonya."


"Jangan Dena, dendam tidak akan pernah selesaikan masalah, ibu tidak ingin kau lakukan kejahatan seperti yang kaka mu lakukan, cukup satu anak yang gagal, ibu tidak ingin kau mengikuti jejak kaka mu nak." tutur Helena tertunduk sedih.


"Itu karena kak Davin di asuh oleh wanita ular itu bu, dulu kak Davin tidak seperti itu bukan?"


"Ibu yang salah Dena, karena telah meninggalkan kaka mu Davina bersama Sonya dan Darwin, bahkan sampai sekarang Davina membenci ibu karena telah meninggalkannya"


"Ibu jangan merasa bersalah seperti itu, itu karena Papa sangat memanjakan kak Davin dengan segala kemewahannya, padahal yang kak Davin butuhkan bukan hanya itu, tapi Kasih sayang kedua orang tuanya."


"Ibu telah gagal jadi seorang ibu.. hik.. hik.."


"Ibu tidak perlu bersedih lagi, ibu tidak pernah gagal menjadi seorang ibu, buktinya Delena bisa menjadi seorang istri Solehah karena didikan ibu bukan?" Reno duduk di samping Helena dan meraih tangannya "Ada aku di belakang ibu yang siap melakukan apapun demi kebahagiaan ibu dan Delena."


"Terima kasih Reno, kau memang anak yang baik" mengelus lembut pipi Reno. "Ibu bangga padamu, ibu sangat menyayangi kalian berdua.' sebuah pelukan hangat dari Delena dan Reno.


"Sayang sudah waktunya berangkat ke kantor"


"Astaga, aku melupakan janjiku pada Client." Reno menoleh pada arlojinya "Aku berangkat dulu bu" mencium punggung tangan Helena.


"Hati hati dijalan Reno"


"Iya bu"


"Sayang, aku berangkat ya" mencium kening dan bibir istrinya.


"Iya Mas, hati hati dijalan ya."


Reno melangkah pergi meninggalkan ruangan makan menuju parkiran.


'


'


'


'


'


'


@BERSAMBUNG🄰