
Andini masih mematung, Siska berjalan mendekat, mengelus punggung Andini "Kak yang sabar ya, nanti aku akan bicara baik baik dengan Fanny."
Praankk! melempar gelas didepannya "Kau urus saja anak mu itu! jangan membuat ku tambah sakit kepala!" hunus Ramon, berjalan pergi meninggalkan Andini yang menangis.
"Kak!
Andini lngsung memeluk Siska, dadanya begitu sesak, tangisannya semakin dalam. Disinilah peran Andini sebagai seorang ibu harus bisa memberi pengertian pada anaknya. Disisi lain ia harus berperan sebagai seorang istri yang baik dan patuh pada perintah suaminya.
Andini berjalan kekamar fanny dan mendapati fanny sedang mengnangis diatas ranjang.
"Fanny." mengelus rambutnya "Maafkan sikap Papa mu tadi ya, Mama hanya ingin melihat kau bahagia dengan pilihan Papa dan kakek mu."
"Bagaimana rasanya Mah menikah dengan orang yang tidak kita cintai?!"
Menghela nafas dalam "Apa kau pikir Mama dulu mencintai Papa mu? kami pun menikah karena perjodohan Papa Mahesa. Lambat laun Mama mulai mencintai Papa mu, kau pasti bisa seperti kami."
Fanny bangun dan terduduk "Ini bukan jaman 'Siti Nurbaya' Mah, tidak semua Pernikahan karena perjodohan bisa berakhir bahagia."
"Lihat kaka mu Reno fan? bagaimana dulu ia menentang keputusan kakek mu? menikah tanpa cinta sama sekali, dan sekarang berakhir bahagia."
"Sekarang Mama bicara begitu, bukan kah dulu Mama sangat membenci kak Dena?!"
"Dulu karena sebuah kesalahpahaman, tapi setelah tau itu bukan Davina, Mama sangat menyayangi Delena sampai sekarang."
Fanny hanya terdiam, percuma ia membela diripun gak ada guna dengan pemikiran kedua orang tuanya yang kolot.
****
Di mansion Delena sudah selesai dengan aktifitasnya. Melayani suami bucinnya semalaman yang tidak kenal lelah, beruntung Delena memiliki fisik yang kuat. Setiap hari fitnes dan berenang adalah rutinitasnya.
Bangun lebih awal membutuhkan tenaga yang ekstra setelah bertempur. Delena masuk kedalam kamar mandi untuk bersih bersih.
Selesai mandi masih memakai jubah handuk, dan rambut basah berbalut handuk. ia membuka jendela, udara pagi masuk kedalam kamar, sangat sejuk. Delena berjalan ke balkon dan menghirup udara pagi. kini pikirannya sedang mengingat sebuah foto yang terselip disebuah majalah, ada seseorang yang sengaja menaruhnya disana, tapi siapa..?
"Sayang." sebuah pelukan hangat dari belakang, mencium lembut pundaknya. Membuat Delena bergidik karena geli.
"Mas sudah bangun?" masih posisi kedepan.
"Kau sudah mandi, tumben mandi gak ajak Mas." masih mode menciumi pundak istrinya.
"Tadi gak tega mau bangunkan Mas." mata Delena mulai berembun saat mengingat foto suaminya sangat mesra dengan Anjali, hatinya begitu terluka. Seseorang telah berhasil membuat hati Delena sakit, tapi ia bisa menutupi rasa sakitnya di depan Reno, ia tidak ingin terlihat lemah dan cemburu buta.
"Sayang Kenapa kau diam? membalikkan tubuh istrinya, menatap lembut wajah Delena.
Delena tersenyum hangat "Tidak apa apa Mas, sudah sekarang mas mandi ajah dulu."
"Kau mau mandikan Mas, sayang?" tersenyum menggoda.
"Aku sudah mandi Mas, jangan seperti anak kecil, aku mau urus si kembar."
"Cup! mencium bibir Delena "Baiklah sayang."
Sebelum Reno pergi Delena menghentikan langkahnya "Mas, bolehkah aku bertanya?
"Tanya apa? sedikit mengeryit.
"Apakah Anjali masih koma? apa dia masih berada di Bali?"
Reno menarik pinggng Delena "Kenapa kau bertanya tentang Anjali? Reno sedikit kesal.
"Ya tiba tiba saja aku teringat padanya?"
"Jangan pernah menyebut nama itu lagi?! mata Reno menatap tajam seakan ada amarah yang terpendam.
"Tidak, maksud ku bukan begitu, aku___
Reno langsung membungkam bibir Delena dengan ciuman, ia tidak ingin istrinya menyebut nama mantan masa lalunya. Tidak ada jedah untuk berhenti, Reno terus me*um*t bibirnya hingga Delena kewalahan. Delena terus mendorong tubuh kekar suaminya.
"Mas!" nafas Delena tersengal sengal.
"Sekali lagi kau menyebut namanya, aku akan lebih dari ini melakukannya." ancam Reno, tersenyum puas dan lngsung pergi meninggal Delena.
Delena mengelus dadanya yang berdebar kencang sambil menatap kepergian Reno.
***
Mobil Siska sudah terparkir sempurna di sebuah Mall Metropolitan. Langkah kakinya berjalan menuju lantai 2 dengan elegan. Siang itu Siska sudah lebih dulu berada dibutik Andini. Seorang pelayan membukakan pintu untuk Siska dan membungkuk.
"Siang Nona Siska." sapa seorang pelayan ramah.
Sebuah senyuman tersungging di bibir Siska, lalu duduk disebuah sofa.
"Dimana Desainernya."
"Ada didalam, sebentar saya panggilkan."
"Siang Nona Siska." membungkuk.
"Siang Nona Rara, mana konsep Desain untuk acara akad nikah dan pestanya."
Rara memberikan sebuah katalog pada Andini dan mulai menerangkan satu persatu gaun yang Siska tunjuk."
Siska melirik pada Arlojinya, jam sudah menunjukkan pukul 2.15 menit. "Kenapa Mas Tommy tidak menghubungi ku, bukankah ia janji akan ke butik?
Tiba tiba terdengar suara dering telpon dari tas Siska, ia mngambil ponsel dalam tasnya.
"Hallo Mas..."
"My honey, maaf aku agak terlambat datang ke butik, meeting ku belum selesai, pasti selesai meeting aku langsung kesana."
"Iya Mas nggak apa-apa, aku akan menunggu." tutur Siska penuh pengertian.
"Ya sudah Mas lanjut meeting dulu ya."
"Iya Mas."
"Muuaaacchh......
Siska tersenyum sumringah mendapat ciuman jarak jauh dari Tommy.
"Nona Rara calon suamiku masih meeting, sore baru tiba ke butik, biar nanti saja aku bersama Mas Tommy yang memilih model desainnya, kalau begitu aku Ingin makan siang dulu, nanti kembali lagi."
"Baiklah Nona Siska."
Siska masuk kedalam lift menuju lantai 12. Di sana adalah Apartemen yang menyatu dengan Mall, ada restoran siap saji dilantai 12. Tersaji makanan khusus Eropa yang menunya banyak disukai kalangan menengah keatas.
Siska duduk disebuah kursi yang berada di luar balkon. Anginnya yang kencang menerbangkan sebagian rambut panjang Siska. Seorang pelayan datang dan menaruh hidangan mewah didepan Siska.
"Silahkan di nikmati Nona."
"Terima kasih." tersenyum ramah.
Tangan Siska mengaduk gelas lemon tea didepannya, sambil melihat ponsel mencari browsing tentang Desain gaun pengantin.
"Hallo sayang.. apa kabar."
"Mas Tom__
Siska mengangkat wajahnya dan suaranya terhenti saat melihat pria yang duduk didepannya, dengan mata membulat.
"Kau? untuk apa menemui ku lagi jhon?!
"Kau tambah cantik dan terlihat segar Siska."
"Pergi dari sini! umpat Siska emosi.
"Sabar sayang, kenapa kau menyuruh ku pergi, jauh jauh aku terbang dari Amerika hanya untuk menemui mu."
"Untuk apa mencariku lagi, kita sudah tidak ada hubungan apapun, sekarang pergilah jangan membuat n*fsu makan ku hilang."
"Dengar Siska aku masih mencintaimu dan akan melamar mu."
"Bullshit! kalau kau mau, seharusnya sudah dari dulu kau lakukan! tapi apa? kau selalu berkhianat dibelakang ku, membayar wanita malam dan memakai uang perusahaan! menatap tajam wajah pria itu "Sekarang tiba tiba kau datang ingin melamar ku?! Siska tergelak.
"Siska aku sudah memiliki perusahaan, walau tidak besar, tapi aku sudah berusaha semampu yang aku bisa, beri aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya." meraih tangan Siska, tapi ditepis kasar oleh Siska.
"Kalau kau tidak mau pergi, biar aku yang pergi dari sini!
Siska bangun dari duduknya dan akan pergi meninggalkan Jhon yang membuatnya muak.
"Sialan rayuan ku gak mempan, aku harus bisa kembali lagi pada wanita tua ini, karena aku membutuhkan uangnya." gumam Jhon dalam hati.
"Siska tunggu! menarik tangan Siska "Aku masih mencintai mu Sis, aku mohon beri aku kesempatan sekali lagi."
"Lepaskan tanganku jhon! seru Siska
Bukk!
Tiba-tiba sebuah bogem menghantam wajah Jhon, hingga ia kaget.
"Lepaskan tangan calon istriku! menarik tangan Siska dari genggaman tangan Jhon.
"Mas Tommy."
Tommy menarik Siska dalam pelukannya.
"Berani kau menyentuhnya lagi, ku habisi kau! ancam Tommy.
"Siapa kau berani mengancam ku! bentak jhon sambil memegangi bibirnya yang berdarah.
"Apa kau tidak dengar tadi, siapa aku? menatap lembut wajah Siska dan mencium keningnya "Aku adalah calon suami Siska." tersenyum puas.
"What?! mata Jhon terbelalak.
"Ayo sayang kita cari tempat makan lain."
Siska mengangguk, Mereka berdua berjalan meninggalkan Jhon yang masih berdiri terpaku.
'
'
'
'
'
Bersambung.....