ISTRI PENGGANTI CEO: Season 2

ISTRI PENGGANTI CEO: Season 2
Curhatan Dua orang wanita (seoson 3)


Frans tertegelak, mengangkat tubuh anak gadisnya, seraya memangku dikedua pahanya. "Maafin Ayah ya, tadi Ayah lagi ngobrol sama Bunda, nanti Ayah bantuin mewarnai" menciumi pipinya Karena gemes.


Calista mengelap bekas ciuman Ayahnya, menggunakan tangan kecilnya.


"Kenapa di lap? proses Frans.


"Abis kumis Ayah bikin gatel." ucapnya tanpa basa-basi, dengan mimik muka menggemaskan, Fanny dan Frans terkekeh geli.


Seorang pelayan mengetuk pintu kamar yang sudah terbuka.


"Maaf Nyonya, makan malam sudah selesai di hidangkan."


"Baik Mba, nanti kita ke ruangan makan."


Calista sama Mbak dulu ya ditemenin menggambarnya." imbuh fanny pada anak gadisnya


"Oke bunda..." Calista berlari kecil keluar kamar Fanny dan Frans, di ikuti pelayan yang bekerja dirumahnya.


"Anak gadisku sangat menggemaskan." tersungging senyuman di bibir Frans.


"Mas, mandi dulu ya." perintah fanny, seraya membuka kancing bajunya satu persatu. tangan frans menarik pinggang istrinya, menciumnya tanpa jeda. "Mas, sudah cukup. Nanti bagaimana kalau Calista masuk dengan tiba-tiba lagi?


"Apa kau mau mandikan Mas, sayang...? godanya, tiba tiba frans mengangkat tubuh fanny untuk masuk kedalam kamar mandi.


JEDAR......


"Bundaaaaaa......." lagi-lagi suara Calista membuat mereka terkejut.


"Ayah! kenapa gendong bunda? kan bunda sudah besar bukan anak bayi." protes Calista seraya mendelikan matanya.


Mata mereka saling bersitatap karena terkejut. "Ya Tuhan anak ini, selalu saja.." gumam Frans pelan.


"Mas, turunkan! perintah fanny seraya melotot. Dengan cepat ia menurunkan istrinya.


"Ada apa sayang?! kan tadi Ayah sudah bilang. kalau mau masuk kamar ketuk pintu dulu.'


"Lupa Ayah... hehehehe..." Gadis polos itu malah terkekeh.


"Kenapa Lista teriak nama Bunda?


"Itu ada kak Vano dan kak Vana datang."


"Ohya...? keponakan ku sudah pulang dari Turki." Fanny berbinar cerah.


"Ayo Ayah, Bunda..kita keluar."


"Iya sayang."


"Mas, cepatlah mandi. Aku temui mereka dulu.'


Frans mengangguk dan masuk kedalam kamar mandi.


Di ruangan tamu fanny tersenyum sumringah melihat kedua keponakan datang. Vano dan Vana menghampiri dan mencium punggung tangan Fanny. Sementara Calista memeluk erat kedua sepupu kembarnya. Vano yang penyayang mengangkat tubuh Calista ke belakang punggung nya. Mereka berdua bercanda berlarian kesana-kemari. Suara kikikan menggema di dalam ruangan.


"Kakak, Kapan pulang dari Turki." Fanny berjalan mendekati Delena, mereka saling cipika-cipiki.


"Kemaren sore, ini anak-anak kangen sama Calista katanya."


"Mas Reno tidak ikut?!


"Biasa, selepas pulang liburan mengurus pekerjaannya yang sudah menumpuk."


"Ayo kita keruangan kelurga kak."


"Frans mana? Delena mengedarkan pandangan setelah duduk di ruangan kelurga. Tv menyala sejak tadi, pantulan suaranya terdengar nyaring. Fanny mengambil remote mengecilkan volume suaranya.


"Kemana Calista, Vano dan Vana?! Delena memutar matanya, karena suara anak-anak langsung menghilang.


"Pasti dikamarnya bersama kedua kakaknya."


"Oiya kak, aku mau curhat."


"Curhat apa fan? tanya Delena seraya mendudukkan tubuhnya di sofa mencari posisi nyaman.


"Aku sudah berusaha sebisa mungkin, ingin memiliki adik untuk Calista, tapi nihil kak! aku sedikit prustasi. Empat tahun sudah aku lepas KB tapi sampai sekarang belum membuahkan hasil."


"Sabar fanny. semua juga butuh proses ada yang cepat dan ada juga yang lama, bersyukurlah kita masih dikasih keturunan."


"Aku iri sama Tante Siska, sudah memiliki tiga anak yang cantik dan tampan. kakak juga sudah memiliki sepasang anak kembar yang baik, tampan dan cantik juga."


"Calista juga cantik, sangat imut dan menggemaskan." imbuh Delena balik memuji.


"Kak! kak Dena kan masih muda dan cantik. Apa kakak tidak ingin memiliki adik buat si kembar?


"Ada keinginan memiliki anak lagi, tapi Mas Reno menolaknya. Alasannya takut Kaka koma dan tidak mau kehilangan kaka. Mas Reno begitu trauma."


"Sepertinya kak Reno salah bila bicara begitu. Aku punya solusinya kak!"


"Apa itu fan?! Delena mengeryit


"Sepertinya sangat sulit, Authornya sependapat dengan Mas Reno." 😄


"Ya sudah kak kita terima nasib saja kalau begitu." Fanny pasrah.


Tak lama frans datang dan menyalami Delena. "Kemana Mas Reno? tanya frans seraya duduk di samping fanny.


"Biasalah, Mas Reno seorang pekerja keras, selalu sibuk kerja selesai liburan."


"Seperti itulah kak Reno, aku sangat tau sifatnya. Bahkan mendidik Vano sangat keras demi kebaikannya kelak bila dewasa, Karena Vano adalah pewaris terbesar kelurga Mahesa." tutur frans bangga.


"Bundaaaaaaa.....


"Ayaaaaahhhh.......


Terdengar suara Calista berteriak, saat keluar dari kamar dan berlari kearah Ayah dan Bundanya, di ikuti Vano dan Vana.


"Lihat kak vano buatkan Lista gambar harimau. Bagus kan? memperlihatkan gambar itu pada mereka bertiga.


"Calista sayang, sini cium Tante dulu." Delena merentangkan kedua tangannya, Calista berjalan kearah Delena dan mereka berpelukan. "Keponakan Tante cantik sekali." menciumi Calista.


"Ayo kak kita makan dulu, Vano dan Vana ayo makan sebelum pulang." titah fanny seraya berjalan ke ruangan meja makan. Selesai makan malam bersama, Delena dan si kembar pamit untuk pulang.


Dua hari kemudian, seperti janji Delena pada Davina kakaknya. Reno, Delena dan Vana terbang ke Bali. Sementara Vano menginap di rumah Oma nya.


"Vano, ayo makan dulu, dari semalam Oma perhatikan selalu main game terus."


"Iya sedikit lagi Oma, lagi tanggung ini." sambar Vano yang sedang asyik main game sambil tiduran tengkurap diatas karpet.


Helda hanya menggeleng melihat cucunya itu.


"Bu.. maaf, semua bumbu sudah habis. Sudah dua hari si Mbak yuni nggak belanja, juga bahan makanan kaleng sudah tidak ada."


"Kenapa tidak bilang, tau gitu dari tadi belanja."


'Iya Bu, maaf."


"Belanja di supermarket saja, di depan komplek. Nggak usah ke Mall."


"Iya Bu..."


"Oma, Vano mau ikut ke swalayan juga, ada yang mau di beli."


"Ya sudah ikut bersama bude Ana ya."


"Biar Vano yang bawa motor nya bude."


"Vano ingat jangan ngebut, ingat pesan Daddy dan Mommy."


"Oke Oma..."


Bude Ana sudah duduk diatas jok motor, Vano mulai menjalankan motornya menuju swalayan. Tadi sebelum keluar dari rumah besar Omanya Vano melihat dua orang pria mencurigakan, sedang berdiri sambil pura-pura ngobrol sama temannya.


Motor terparkir di depan swalayan. ia bersama bude Ana Asisten rumah tangga yang sudah lima tahun bekerja di rumah Helda. Setelah si kembar berusia tujuh tahun, Helena pulang ke rumahnya sendiri, dengan alasan rumah besar itu kosong tidak ada yang mengurus. Rumah besar itu miliknya saat melahirkan Delena dan Davina dalam ikatan pernikahan dengan suaminya Darwin Sanjaya, sebelum di rebut Sonya wanita Pelakor yang tak lain sahabatnya sendiri.


Bude Ana mencari bahan makanan dan bumbu yang di perlukan. Vano mencari sesuatu yang ingin ia beli. Tapi terlintas dalam pikirannya bila ada yang mencurigakan. Ia mengambil dua buah pisau lipat yang tersedia di rak. Saat ia berjalan ke lorong mainan, Vano mengambil mainan pistol-pistolan satu paket peluru bundar dari plastik. Setelah mengambil dan menaruhnya di depan kasir bersama cemilan yang lain.


"Mas Vano seperti anak kecil main pistol pistolan." canda bude Ana.


"Mainan pistolan sama dua pisau lipat, dan makanannya ya Dek." ujar Mba kasir.


"Iya Mbak."


"Mas Vano, untuk apa beli pisau lipat?


"Buat matiin cicak, bude." ucapnya asal


"walaah.. ada-ada saja anak jaman sekarang."


"Berapa Mbak?! tanya Vano pada Mbak kasir.


"Seratus tujuh puluh lima ribu."


"Sudah Mas, biar bude saja sekalian bayar belanjaannya."


"Uang Vano banyak bude, udah biar Vano bayar sendiri ajah.


Selesai membayar semua belanjaan, Vano dan bude Ana keluar dari swalayan. Saat ingin menjalankan motornya, Vano melihat dua orang mencurigakan sedang mengamatinya. Terpancar seringai licik di wajah dinginnya.


"Apa yang akan terjadi.....?


🌺


🌺


🌺


BERSAMBUNG........