ISTRI PENGGANTI CEO: Season 2

ISTRI PENGGANTI CEO: Season 2
Hidup Adalah pilihan.


Kau tidak bisa lakukan ini padaku, fanny!


"Terserah padamu, aku mau perjodohan kita cukup sampai disini! ucapan Fanny bagaikan bom atom yang meledak dengan dahsyat, hati Justin begitu terluka dan sakit, dadanya bergemuruh, Fanny mengambil tas selempang yang berada diatas meja dan berjalan pergi meninggalkan Justin yang terpaku dalam diam.


"Sial! Justin mengepal kedua tangannya.


"Brakk! suara geprakan meja mengagetkan semua orang yang berada didalam cafe, semua mata menatap kearahnya.


"Siapa Pria itu! aku harus mencari tahu siapa pria yang fanny cintai! akan ku habisi dia! ucap Justin geram, ia berjalan pergi meninggalkan cafe dengan amarah yang mendalam.


Di parkiran Justin membuka kasar mobilnya.


"Bos! apa ada masalah?" Suara itu terdengar hambar ditelinga nya, Justin menatap sinis wanita yang sudah berdiri di sampingnya.


"Pergilah kau! hari ini aku tidak ingin di ganggu!


"Tapi bos bukankah malam ini akan ada acara di clubs?"


"Kau urus saja sendiri! aku tidak bisa datang kesana!


"Tapi bos ini sangat penting! dan ada yang ingin aku katakan padamu!"


"Jangan membuat ku kesal Shell! suara Justin meninggi dengan sorot mata tajam, ia masuk kedalam mobil dan membanting pintu itu keras.


Mobil berjalan meninggalkan cafe itu, Shella menatap kepergian Justin dengan ekspresi kesal.


"Justin taukah kau? apa yang akan aku katakan hari ini! Shella mengigit bibir bawahnya "Aku mengandung anak mu! ucapnya lirih.


"Aaaahhhkkk! Shella mengerang "Semua ini karena wanita itu! dia hadir dalam hidup ku dan Justin! akulah wanita satu satunya yang selalu menemani Justin! airmata Shella sudah menetes "Justin berubah kasar padaku! padahal akulah yang sudah menghasilkan banyak uang untuknya!"


"FANNY!!... kau hadir dalam kehidupan Justin, kau akan membayar semua ini! ancam Shella, mengepalkan tangannya "Aku tidak ingin anak ku lahir tanpa seorang Ayah!


Mobil Justin sudah sampai didepan gerbang. Dua orang penjaga membukakan pintu, setelah terparkir dengan sempurna ia membuka pintu mobil dan membanting nya kuat.


"Brakk!


"Erland kau sudah pulang? tanya Anna yang sedang menonton tv.


"Mah! dimana Ayah!


"Ada di ruangan kerjanya, ada apa? kau begitu tergesa-gesa."


Tanpa menjawab pertanyaan ibunya Justin berjalan keruangan kerja Ayahnya.


"Ceklek!


"Yah!


"Erland! ada apa Nak? Brian melipat surat kabar yang sedang ia baca, dan memberi ruang untuk anaknya duduk. "Sini Nak duduklah!


Justin berjalan mendekat dan duduk di samping Brian "Yah! baru tadi sore aku bertemu dengan fanny!


"Ya baguslah, kau harus sering bertemu dengan fanny agar tidak canggung dalam pernikahan nanti! tersenyum tipis.


"Justru fanny menemui ku untuk.." Justin menghentikan ucapannya, dan melihat kening ayahnya yang mengerut, ia menunggu terusan dari ucapannya.


"Untuk apa Nak?" Brian penasaran.


"Untuk memutuskan perjodohan ini!


"Apa..?! Brian berlonjak kaget "Ingin memutuskan perjodohan? tidak mungkin! kau pasti salah, karena perjodohan ini sudah diatur oleh kakek Mahesa sendiri!


"Ceklek!


Anna datang dengan membawa dua cangkir kopi ditangannya, lalu menaruh diatas meja.


"Siapa yang ingin memutuskan perjodohan Erland, Yah!


"FANNY! ucap keduanya berbarengan.


"Fanny ingin memutuskan perjodohan?! ada apa dengan fanny Yah! Anna pun terkejut. "Erland! mata Anna tertuju pada anaknya yang terlihat gelisah "Apa kau sudah membuat fanny marah? sampai dia ingin memutuskan sepihak pernikahan yang sebentar lagi akan Kalian laksanakan!


"Tidak Mah! aku tidak ada apa-apa dengan fanny! jawab Justin tidak merasa bersalah.


"Lebih baik ayah tanya pada Ramon, apa benar fanny ingin memutuskan perjodohan ini?!


"Tapi ini sudah malam Yah! apa tidak besok pagi saja bertanya nya?


"Ini baru jam sembilan malam, Mah! tidak ada salahnya aku bertanya sekarang, lebih cepat lebih baik bukan?"


"Ya sudah terserah ayah sajalah!" Anna hanya bisa pasrah.


Brian mengambil ponsel diatas meja kerjanya dan mulai menghubungi Ramon. pada panggilan ketiga telpon pun di angkat.


"Selamat malam Ramon, maaf mengganggu."


"Kebetulan aku belum tidur, ada berita apa?


"Begini! ini mengenai anak anak kita, baru saja anakku Justin pulang ke rumah, Iya tadi sore baru bertemu dengan Fanny di sebuah cafe, dan tiba-tiba fanny mengatakan ingin memutuskan perjodohan ini!


"Apa! Fanny ingin membatalkan perjodohan itu! suara Ramon sedikit kaget dan tertekan "Tidak! tidak mungkin, pasti ini ada kesalahpahaman dari anak anak kita!


"Aku pun sama kagetnya dengan kau Rey, saat mendengarnya dan tak percaya, makanya aku menelepon kau, agar kau bertanya pada Fanny. Apa ada kesalahan dari anakku Justin hingga Ia memutuskan untuk membatalkan perjodohannya."


'Baiklah Brian, kalau Fanny pulang akan aku tanya? sejak dari pagi ia kuliah, biasanya sudah pulang jam segini!


"Oke, terima kasih banyak Ray, maaf kalau aku mengganggu."


"Tidak apa-apa, kabarin aku kalau ada masalah dengan anak anak kita."


"Baiklah, selamat malam!"


Mobil Fanny sudah melewati pintu gerbang, ia memarkirnya didepan teras. Fanny membuka pintu mobil dan berjalan keluar. Saat di depan pintu masuk Ramon sudah berdiri didepannya.


"Papah! seru fanny terperanjat kaget saat melihat wajah Ramon yang terlihat suram.


"Fanny! Papah ingin bicara! ucapnya dingin dan berjalan kearah sofa, fanny mengikuti langkah Ramon dan duduk di sofa.


"Jangan-jangan papah Ingin membicarakan masalah aku dengan Justin? apa Justin sudah membicarakan semuanya pada papah! Fanny terlihat gugup dan tegang, ia seharusnya sudah tahu semua ini akan terjadi, resiko yang ia ambil terlalu berani, karena sudah pasti akan mendapatkan penolakan keras dari kedua orangtuanya, tapi apa daya cinta telah membuat fanny nekat.


"Apa yang sudah kau bicarakan pada Justin!


Fanny menelan salivanya, ia tak sanggup menatap mata Ramon yang menatapnya penuh intimidasi "Aku...." ucapan fanny terputus.


"Apa kau ingin memutuskan perjodohan yang sudah setengah jalan? suara tinggi Ramon telah membangunkan Andini.


"Apa apa lagi ini pah! tanya Andini yang sudah berada di ruangan tamu dan duduk di samping Ramon.


"Anakmu ini mah sudah keterlaluan! tadi Bryan menelponku kalau Fani bertemu dengan Justin di kafe. fanny memutuskan perjodohannya dengan Justin!"


"Fanny! Andini menatap anaknya yang terlihat murung "Apa maksud semua ini Fan!


"Mah! pah! maafkan fanny? Aku tidak bisa meneruskan perjodohan ini, karena fanny tidak pernah mencintai Justin!


"Sudah berapa kali kau mengatakan itu Fanny! Papa sudah bosan mendengarnya, bisa tidak! sekali saja kamu hargai orang tuamu! sekali saja kau turuti keinginan papah dan kakek mu!"


"Papah tidak akan pernah mengerti perasaan fanny! Fanny tidak bisa Pah! hiks....


"Fanny kau adalah anak kesayangan Mama dan Papah, kami melakukan ini semua demi kebaikan dan kebahagiaan mu Nak!


"Harus berapa kali aku mengatakan semuanya pada Mama dan Papa! Aku mohon pah! Fanny mengatupkan kedua tangannya "Mengertilah! kalau kalian sayang padaku lepaskan aku dengan jerat pernikahan ini! suara Fanny bergetar, ucapannya terdengar tertekan.


Ramon beranjak dari duduknya "Baiklah kalau itu keinginan mu! Fanny mengangkat wajahnya, menatap Ramon yang sudah berdiri dengan kedua tangan kebelakang.


"Papah akan memutuskan perjodohan ini, tapi dengan syarat! terdiam beberapa detik "Kau harus pergi dari mansion ini dan jangan pernah memakai nama keluarga besar Mahesa lagi!


"Apa?? Fanny tercengang dengan perkataan Ramon.


"Papah! kenapa bicara begitu pada fanny! Andini pun terkejut dengan perkataan suaminya yang tiba-tiba "Kenapa Papah malah mengusir fanny!


"Dia pantas mendapatkan itu mah! bila tidak ingin diatur lagi, biar dia pergi dari mansion ini! dan perlu kau ingat! menunjuk wajah fanny "Jangan pernah minta tolong pada kakakmu atau Tante mu Siska, hiduplah sendiri tanpa identitas dari keluarga Mahesa! Ramon sangat murka dan berjalan pergi meninggalkan fanny dan Andini.


"Papah! Fanny jatuh di karpet merah itu, airmata sudah jatuh berderai. "Kenapa Papah jahat pada fanny! hiks... hiks...


"Kenapa kau selalu membuat masalah Fanny? Apa kau tidak kasihan pada keluarga ini? lihatlah kakekmu Mahesa sedang sakit di London. Apa kau tidak bisa berbakti sekali saja! Sekarang terserah padamu, semua keputusan ada di tanganmu! Mama sudah tidak bisa membantumu lagi, ini adalah keputusan final Papamu!"


Setelah berbicara, Andini pergi dari ruangan itu dan meninggalkan fanny sendiri.


"Mamah! hiks.. hiks.. "Kenapa tidak ada satupun yang mau mengerti diriku? aku harus bagaimana? hiks...


'


'


'


'


'


'


@Bersambung......


@Bagi yang terus menanyakan Frans, tolong bersabar ya, kalau sudah waktunya pasti akan keluar perannya. akhir bulan akan tamat ko! author kasih bocoran duluan biar kalian gak bilng berbelit-belit lagi!