
"Vana, Vano. Ayo makan yang bener jangan ngobrol saja, selesaikan makan dulu baru bercerita." Delena memperingati kedua anak kembarnya, yang sejak tadi ngobrol.
"Iya Mom! ucap keduanya berbarengan.
Kini mereka semua menikmati hidangan bersama penuh kehangatan, yang tercipta di keluarga Reno.
Selesai makan di sore itu. Fanny dan frans berpamitan untuk pulang. Mereka berempat mengantarkan sampai depan teras. vano dan Vana melambaikan tangan pada Calista saat Frans membunyikan klakson tanda berpamitan.
Mereka semua masuk kedalam mansion. Reno dan Delena duduk di ruang tamu bersama Vano. Sementara Vana pamit masuk kedalam kamar untuk mengerjakan tugas sekolah. Vano ikut duduk bersama Daddy dan Mommy nya. Mereka mengobrol masa depan Ferdy dan juga keputusan Vano ingin tinggal di Jerman bersama Grandma dan Grandpa nya.
"Jadi keputusanmu sudah bulat ingin sekolah dan tinggal di Jerman?" tanya Reno tegas.
"Iya Dad! tahun ini aku lulus kelas tiga. SMA aku di Jerman, tinggal bersama Grandma dan grandpa. Untuk kuliah aku ingin di Inggris sampai mengejar S.2."
Helaan nafas dalam keluar dari bibir Reno "Bagaimana Mom?" Reno menoleh pada sang istri yang sejak tadi menyimak obrolan anak dan Ayah itu. "Apa kau setuju anak bujang kita tinggalkan Jakarta dan menetap di Jerman."
Tatapan Delena pindah pada anaknya "Vano.. apa kau sudah yakin dan siap untuk tinggal disana jauh dari kami?" Delena bertanya kembali untuk meyakinkan anaknya yang sudah beranjak remaja.
"Iya Mom! Vano sudah menentukan pilihan ini, Grandma dan Grandpa sangat setuju dengan keputusan Vano dan menginginkan Vano tinggal bersama mereka, bukankah Daddy dulu tinggal di Jerman bersama uyut Mahesa sejak kecil malah." ucapnya seraya melirik Daddy nya untuk minta dukungan. "Bukannya Vano ingin meninggalkan Mommy dan Daddy. Vano pergi demi untuk memajukan perusahaan keluarga Mahesa, Vano harus bertanggung jawab sebagai generasi penerus ke-empat."
"Ya sudah Mas! kalau keputusan anak kita sudah seperti itu, mau gimana lagi?" Delena terlihat pasrah dan tidak bisa melarang keinginan dan cita-cita anaknya.
"Baiklah, Mommy dan Daddy setuju untuk kamu sekolah di Jerman dan menjaga kedua kakek dan nenek mu disana selama tiga tahun. Sebab kau memutuskan tinggal di Inggris selama enam tahun sampai lulus S1 dan S2, bukan begitu?"
"Betul Dad! wajah Vano bersinar cerah dan tersenyum sumringah.
"Tapi ingat pesan Daddy dan Mommy, kau harus belajar sungguh-sungguh dan jaga dirimu disana, jangan bikin ulah atau permalukan keluarga Mahesa. Di Jerman dan Inggris banyak relasi dan kerjasama Daddy dengan perusahaan disana. satu lagi!" Vano menatap lembut ayahnya yang sudah banyak berkorban untuk dirinya "Jangan pergunakan ilmu bela dirimu untuk menyakiti orang apalagi untuk kesombongan diri, kau gunakan itu bila keadaan terdesak! kau paham Nak!"
"Tentu Dad! sangat paham dan tidak akan Vano gunakan untuk kejahatan. Vano berjanji!"
Delena dan Reno bernafas lega dan tersenyum bahagia. "Kau memang kebanggaan Daddy dan Mommy." menepuk pundak anaknya.
"Dad!"
"Heum..."
"Bila Vano kuliah di Inggris, tolong tutupi identitas Vano, kalau Vano Keluarga dari Mahesa. Maaf Vano tidak ingin banyak orang tahu siapa Vano, hanya ingin belajar mandiri di negara orang."
"Padahal Daddy sudah siapkan bodyguard khusus untuk menjagamu disana."
"Jangan Dad! Vano tidak mau pengawalan, Vano bisa jaga diri sendiri."
"Oke baiklah, Nak!
Vano menyoroti perut Delena yang membuncit "Mom berapa bulan lagi adik Vano lahir?"
"Dua bulan lagi sayang. kenapa? Vano udah nggak sabar ya ingin gendong?" goda Delena
"Iya Mom! hehehehe... "Tapi nanti Vano tidak bisa lihat dede tumbuh besar donk! ucapnya kecewa dengan raut wajah sedih.
"Kan Vano bisa pulang Kalau liburan."
Vano mengusap perut ibunya lembut, yang duduk di samping Delena."Dede nya laki atau perempuan Mom."
"Laki ataupun perempuan sama saja sayang. Yang terpenting sehat."
"Kenapa tidak di USG, Vano penasaran."
"Mommy tidak mau di USG, trauma Nak. Dulu lagi hamil Vano dan Vana, Dokter bilangnya anak perempuan. Ternyata pas lahir kembar laki dan perempuan. berarti prediksi Dokter tidak selamanya benar kan?"
"Iya, ya Mom!"
"Ya sudah Vano istirahat lah, sudah waktunya tidur." Reno peringati anaknya.
"Oke Dad! Vano kekamar dulu." vano mencium pipi Daddy dan Mommy nya.
"Van! untuk urusan Ferdy biar Om Frans yang urus, kau harus sekolah jangan sampai ketinggalan pelajaran."
"Tapi bolehkah Vano ikut bersama Om Frans untuk bertemu Ferdy, bagaimanapun juga Ferdy sudah Vano anggap adik angkat, Dad!"
"Heum... Ya sudah, kalau kau ingin kesana, atur waktu saja besok."
"Terimakasih Dad! Vano melangkahkan kakinya menuju kamar.
"Ck. Vano keras kepalanya sama seperti mu, Mas!" Delena berdecak.
"Hmm, kau paling bisa membicarakan anakmu di belakang. Vano itu, cerdas dan tampan seperti Daddynya, sayang." puji Reno bangga.
"Ish! kau selalu banggain diri sendiri." Delena mencabik.
"Cup, cup, cup.." Reno menciumi perut istrinya berkali-kali.
"Ish, geli Mas! Delena menjauhkan kepala suaminya dari perut buncitnya "Aku tidak membicarakan tentang anak-anak ku di belakang mereka, aku hanya curhat padamu Mas! tolong di ralat itu!" kesal Delena dan beranjak dari duduknya menuju dapur.
Delena tak menghiraukan pertanyaan suaminya. Didalam dapur pelayan sudah selesai dengan aktivitasnya membersihkan piring-piring kotor bekas makan tadi.
"Ada yang bisa saya bantu, Nyah!" Mba sari menawarkan diri.
"Tidak ada Mba! aku hanya ingin buat susu."
"Ya sudah kalau begitu saya permisi dulu, Nyah."
Delena mengangguk, mengambil gelas besar didalam rak dan menuangkan susu hamil kedalam gelas.
Sebuah tangan kekar memeluknya dari belakang "Sayang, jangan ngambek donk, Mas kan cuma asal bicara." mencium punggung Delena.
"Awas mas, aku mau nuang air panas."
"Biar Mas saja. ini pekerjaan Mas setiap hari, membuat susu untuk istri kesayangan." goda Reno, melepas pelukannya dan mengambil gelas yang sudah berisi susu.
Selesai menuangkan air panas lalu diaduknya. "Ayo kita ke kamar, sudah waktunya istirahat." mereka berdua masuk kedalam lift menuju kamar.
"Yank, susunya masih panas, mas suapin pakai sendok ya."
"Nanti saja tunggu hangat! ucapnya dingin.
Reno yang tahu istrinya masih kesal, menggendongnya tiba-tiba dan membaringkan diatas ranjang.
"Mau apa sih Mas!"
"Perkosa kamu! ucapnya enteng "kalau masih ngambek Mas buat kamu berkeringat."
Mata Delena melebar "Ish! aku nggak mau, sudah hamil besar masih di suruh gituan."
"Beneran nggak mau yank? tangan Reno sudah traveling kemana-mana, membuat Delena merinding saat bibir Reno menyentuh ceruk lehernya. Melawan pun percuma, ia hanya bisa pasrah dan menghela nafas panjang. Delena tak akan tega membuat suaminya memendam hasratnya sendiri, ia tidak ingin seperti cerita teman-teman arisan sosialita nya. Suaminya main gila dengan pembantu atau baby sitter, hanya karena kurang kepuasan dari sang istri, atau Istrinya sibuk diluar bekerja hingga meninggalkan kewajibannya, yang pada akhirnya suaminya mencari kepuasan pada pembantu dan bahkan sampai menikahinya. Miris memang, demi sebuah kehidupan mewah, mereka berani menjual diri pada Tuannya dan menjadi perusak rumah tangga majikanya sendiri. (Nauzubillah)
Selesai memanjakan istrinya dengan aktivitas yang hampir setiap hari mereka lakukan, Reno merasa puas bisa membahagiakan istrinya lahir batin, ia tidak ingin membuat ratunya kecewa. Reno suami pengertian, ia selalu memberikan kepuasan pada sang istri, apalagi dalam kondisi hamil ia akan melakukannya dengan pelan dan hati-hati.
"Thanks my wife." ucapnya di sela nafasnya yang tersengal. Reno menjatuhkan ciuman di kening isterinya. "Kau masih lelah sayang? kau harus minum susu dulu sebelum tidur."
"Aku gampang cape dan lelah Mas! apalagi bila habis berhubungan." keluh Delena seraya menghembuskan nafas lega.
"Sabar honey, tunggu sampai dua bulan lagi. Beban mu akan ringan, bukankah memiliki anak keinginanmu?"
Delena menatap tajam wajah suaminya "Jadi Mas tidak menginginkan anak ini?!"
"Pletak! Reno meyentil dahi Delena.
"Auw!" sakit Mas! spontan memukul tangan jahil suaminya.
"Hati-hati Kalau bicara. Jangan pernah berkata begitu lagi! memangnya perutmu membuncit bukan Mas yang buat? menciumi perut istrinya bertubi-tubi.
"Mas geli." Delena terkekeh
"Janji nggak bilang gitu lagi?"
"Iya! iya.. janji Mas!"
Reno tersenyum puas dan menatap lekat wajah cantik istrinya yang polos tanpa sehelai benang pun "Aku sangat mencintaimu honey, aku tidak akan bisa hidup tanpamu." mencium lembut kening istrinya.
Delena tersenyum "Terimakasih Mas, sudah memberikan aku banyak Cinta dan kasih sayang, aku berjanji tidak akan pernah meninggalkanmu, kecuali maut yang memisahkan."
"Sekarang minum susu dulu, terus kita bersih-bersih dan tidur." Reno membantu istrinya duduk dan memberikan gelas berisi susu yang ia buat tadi.
Selesai menghabisi susu hamil, Reno membawa istrinya kedalam kamar mandi untuk membersihkan diri dengan air hangat, dan menggosok gigi sebelum tidur. Delena tertidur pulas dalam pelukan hangat suaminya.
(Sweet banget ya π)
πππ
@Yuk kirim Bunda Hadiah, bab nya lebih panjang, biar bunda semngat πͺ nulisπ
@yuk terus dukung bunda dengan cara...
πlike
πvote
πgift
πkomen
@bersambung......πππ