
"Dena! Zevana adalah anakmu, kenapa akhir-akhir ini kau sering mengabaikan anak mu sendiri!"
"Buat apa Bu, aku membayar baby sister untuk tidak mengurus si kembar!
"Delena! kau tak pantas bicara seperti itu pada ibumu! kaupun tak becus menjadi seorang ibu untuk Zevana dan Zevano, sejak kapan kau tidak menyayangi anakmu lagi! teriak Reno yang sudah berdiri diatas tangga.
"Mas Reno? Davina terkejut.
"Sial ternyata sudah ada Reno di sini!
"Sayang... maafkan aku, maksudku bukan begitu?"
"Kenapa aku seperti melihat Davina bukan di Delena! karakter ini milik Davina!" Helena membatin "Apakah dia Davin.....
"Sayang... kau kemana saja? aku mencari mu kemana-mana."
"Biar Zevana aku yang gendong Bu!" kata Reno yang sudah berada di depan Helena.
"Tidak usah, biar sama Mba nya ajah, kau lebih baik makan siang dulu ini sudah jam setengah dua."
"Tidak apa-apa bu, aku sangat kangen sama anak anakku."
"Baiklah!"
"Mas apa kau tidak datang ke kantor? kalau begitu aku saja ke kantor."
"Gawat kalau Davina sampai datang ke kantor, Tommy sedang mencari info disana aku harus mencegahnya!" batin Reno
"Tidak usah Dena, kita di rumah saja, aku baru pulang subuh tadi kita istirahat saja."
"Tidak bisa Mas! ada meeting hari ini!"
"Kenapa kau sekarang jadi keras kepala Dena! selama ini kau tidak pernah membantah suamimu, ada apa dengan dirimu?
Davina terdiam, ia sedang menyamar jadi Delena, sebisa mungkin ia tidak boleh membantah kemauan Reno.
Davina mendekat dan memeluk pinggang Reno "Oke, aku akan di rumah bersama mu, kita habiskan waktu di kamar, bukankah kau baru saja pulang, aku ingin memanjakan suamiku." tersenyum sumringah.
Reno menelan saliva nya " Ciih! dasar wanita ular, berani kau meyentuh tubuhku! makinya dalam hati.
Mereka berdua makan siang bersama, tapi Reno terlihat tidak berselera untuk makan, pikirannya terus pada istrinya yang entah berada dimana.
"Mas Kenapa kau tidak makan? tanya Davina yang sejak tadi melihat keanehan pada Reno.
"Tidak apa-apa, aku sedang tidak enak badan!
"Drett, drett, drett,
Terdengar getaran ponsel dari hp Davina. Davin yang sedang makan menghentikan makannya saat melihat panggilan masuk dari anak buahnya.
"Sial! ada apalagi mereka telpon aku!"
"Maaf aku terima telepon dulu." Davina langsung beranjak dari meja makan dan berjalan menjauh.
"Jangan-jangan dia mendapat info tentang istriku, aku harus secepatnya naik keatas dan mendengarkan pembicaraan Davina dengan anak buahnya." buru-buru Reno beranjak dari duduknya dan menuju lift, dengan cepat ia masuk kedalam ruangan kerjanya dan mengambil ponsel, Reno sudah menyadap ponsel Davina saat ia tertidur.
"Ada berita apa lagi!
"Nona, wanita kembaran Nona sudah kabur dari semalam!"
"Apa?! kabur?!
"Dasar brengsek kalian! masa menjaga satu wanita saja tidak becus!"
"Wanita itu menghabisi dua orang anak buahku sebelum kabur!
"Memang kalian semua bodoh! percuma aku bayar kalian mahal! masa menjaga Delena yang bertubuh kurus saja kalah dengan kalian yang bertubuh babon!
"Wanita itu kabur bersama Anjali, tapi Anjali tertangkap terkena tembakan kami, sedangkan kembaran Nona langsung kabur, kami sudah berusaha mengejarnya bahkan menembakan mereka berdua, tapi sayang hanya Nona Anjali yang terkena tembakan di kakinya!
"Sekarang dimana Anjali!
"Dia sudah sekarat Nona, apa kita habisi saja wanita itu!
"Tunggu dulu! aku masih membutuhkan wanita itu!
"Kalian kejar wanita itu Sekarang! jangan sampai Delena datang kembali ke mansion, dan merusak rencana ku, aku ingin secepatnya Delena pergi ke Amerika menggantikan posisiku! cepat kalian kejar sebelum Delena pergi menjauh! teriak Davina dari ujung telpon.
"Baik Nona, tapi kirimkan kami uang! kami juga butuh untuk biaya hidup kami di sini!"
"Pikiran kalian cuma uang! uang! tapi kerja nggak becus! aku transfer sekarang tapi cepat kerjakan tugasmu bersama anak buah mu!
"Beres Nona!"
Telpon pun terputus.
"Brakk! Reno menonjok meja didepannya dengan amarah yang menggebu-gebu.
"Brengsek kau Davina! kau iblis!! teganya kau pada istriku, Delena adik kandungmu sendiri! bahkan kau ingin membunuhnya dan memisahkan aku dari istriku! tidak akan aku biarkan itu terjadi. Matilah kau Davina! Reno mengeluarkan pistol dari laci mejanya, memasukkan peluru kedalam pistol dengan tubuh gemetar dan keringat jagung keluar dari pori-pori kulitnya.
"Tunggu dulu Reno, kau mau kemana!
"Menghabisi wanita ular itu! Aku sudah mendengar semua percakapannya dari ponsel yang aku sadap!
"Reno jangan gegabah, tenangkan dulu hati dan pikiranmu, ayo kita bicara didalam." Tommy sudah menenangkan Reno, dan membawanya masuk kedalam ruangan kerja.
"Reno, sabar dulu hilangkan amarah mu!
"Siapa yang gak marah mendengar perbuatan wanita gila itu!"
"Pikirkan Reno! bila kau membunuh Davina di mansion, lihatlah ada ibunya pasti dia sakit hati dan terluka, biar bagaimanapun juga Davina adalah anak kandungnya, lihat juga Zevana dan Zevano anak-anakmu pasti kaget mendengar suara tembakan, bagaimana bila ia melihat kau membunuh Davina yang mereka pikir itu adalah ibunya. jadi berpikirlah sebelum ingin membunuh Davina! anak anakmu belum mengerti kalau Davin telah menyamar jadi Delena ibunya.
Reno membekap wajahnya dengan kedua tangan. ia sudah tidak kuat menahan tangisannya, ia jatuh terduduk di lantai dengan tangisan semakin dalam.
"Delena kau dimana?! hiks...
Tommy mendekat dan merangkul pundaknya "Sabar Reno, Dena pasti akan kembali yakinlah, ia pasti merindukan mu, kedua anaknya dan juga ibunya, kekuatan cinta sejati pasti akan membuat Dena kuat."
"Aku sudah mengerahkan seluruh anak buahku sejak aku pulang dari Bali, tapi sampai sekarang belum ada info." ucapan Reno terdengar frustasi.
"Kau istirahat dulu, biar pikiran mu tenang." Tommy mengambil pistol dari tangan Reno.
"jauhkan wanita ular itu dari diriku Tom, aku tidak ingin melihat wajahnya!
"Baiklah aku akan mengaturnya, bila kau tidak ingin bertemu dengannya kau tidurlah di kamar yang lain."
"Tidak, aku akan tidur di ruangan kerjaku saja sambil menunggu info dari anak buahku!"
"Apa yang sudah kau temukan di kantorku!
"Banyak kejanggalan di dalam kantormu sepertinya CCTV itu tidak bergerak sama sekali, setelah aku meminta pada teknisi untuk mengeceknya baru CCTV itu normal kembali.
"Brengsek! jadi benar dia sudah menguasai kantorku!
"Dan satu lagi yang aku temukan di dalam kantormu, aku menemukan surat kuasa ini!" menyerahkan file itu ketangan Reno dan ia membuka berkas itu, lalu membacanya, Reno mengerutkan keningnya terlihat kekesalan pads ekspresi wajahnya.
"Apa?! istriku telah memberikan perusahaan miliknya kepada Davina! ini tidak mungkin, tidak masuk akal, istriku tidak sebodoh itu memberikan perusahaannya kepada Davina!
"Tapi tanda tangan itu asli milik Delena."
"Pasti ini ada yang tidak beres! ternyata wanita itu sudah melampaui batasannya!
"Aku harus selidiki semua ini secepatnya sebelum terlambat! aku tidak bisa berdiam diri di sini!'
"Tidak Reno, kau harus tetap berada disini, jaga ibu mertuamu dan anak-anakmu, aku takut Davina akan berbuat nekad dan menyandra keluargamu, bila dia sudah terdesak."
"Baiklah kalau begitu, aku tetap akan berada di mansion!
"Oke kalau gitu aku pulang dulu, akan aku kabarin selanjutnya bila ada info, besok aku akan kembali lagi."
"Terima kasih Tom!
*******
Jam empat subuh Delena sudah bersiap untuk berangkat ke Jakarta diantar Abah kosim.
"Neng Dena berhati hati dijalan, jangan banyak bicara pada orang yang tidak kau kenal" pesan ibu inah wanita paruh baya itu.
"Iya bu?! dan bapak tidak perlu antar sampai Jakarta, cukup sampai terminal saja, kasihan ibu sendiri, bila semuanya sudah beres, aku akan jemput ibu dan bapak untuk kerumah ku."
"Ya sudah kalau begitu bapak antar sampai terminal saja, dan ini uang buat naik bis, ambillah."
Delena terdiam, matanya berkaca-kaca baru kali ini ia mendapat uang dari orang yang sudah menolongnya, padahal selama ini dialah yang sudah banyak memberikan santunan kepada anak yatim dan kaum dhuafa.
Delena memeluk bu inah dan meneteskan airmata. "Terima kasih bu atas semua kebaikan ibu dan bapak, aku berjanji akan membalas kebaikan kalian berdua."
"Ayo Neng, cepat kita berangkat sekarang, biar cepat sampai terminal." Pak kosim memperingati.
Delena memakai masker dan topi agar tidak terlihat penyamarannya, dan ia pergi bersama pak Kosim.
Dalam hati Delena bergumam "Aku kembali Davina! tunggu kepulangan ku!
'
'
'
'
'
'
'
@Bersambung.....💃💃💃