ISTRI PENGGANTI CEO: Season 2

ISTRI PENGGANTI CEO: Season 2
S.3 Kebersamaan Kelurga.


"Iya Kak, aku mau jadi adik kak Vano." Ferdy tersenyum di sela Isak tangisnya.


"Really..? Vano memeluk Ferdy dan tersenyum sumringah, ia merasakan lega setelah Ferdy menerimanya jadi saudara. vano merasakan bebannya sudah berkurang. Reno dan Frans mengusap kepala mereka berdua.


Orang-orang sudah pergi meninggalkan pemakaman dengan perasaan damai. Sekelumit do'a dari mereka yang mencintai Anita. Sejatinya orang mati itu tetap hidup di hati mereka dan menjadikan kenangan


Mobil sudah meninggalkan tanah pekuburan, begitu juga para karyawan yang datang nyelawat sudah pergi menjauh untuk kembali ke kantor.


Didalam mobil Vano membuka suara. Vano yang duduk berdampingan dengan Reno menoleh pada Reno dan bertanya.


"Dad!


"Hemm.." Reno menoleh sekilas, lalu kembali menatap ponselnya.


"Bagaimana nasib Ferdy selanjutnya. Apa Daddy punya rencana untuk menyekolahkan sampai perguruan tinggi."


"Tentu saja, tanpa kau pintapun Daddy sudah pasti membiayainya sampai lulus, anggap saja kita sudah mewujudkan impian Anita ibunya, yang sudah mengabdi di perusahaan kita."


"Hahh..." Vano bernafas lega "Syukurlah Dad! Vano juga sudah berjanji pada Almarhum Tante Anita, ia meminta Vano menjaga Ferdy dan mewujudkan impiannya menjadi seorang pilot."


Reno menoleh kearah Vano, dengan menautkan kedua alisnya "Kapan ia bicara padamu?"


"Ck!" Dalam mimpi Dad! jawab Vano cepat. kalau ia jelaskan ke Daday nya tentang pertemuan malam itu dengan Anita, sudah pasti Daddy nya tidak akan percaya dan malah menganggap anaknya halusinasi. karena Vano tahu sifat Daddynya, salah satu orang yang tidak percaya dengan hal ghoib atau dukun dan sejenisnya.


"Ya..ya.. mimpi kadang suatu petunjuk atau mungkin Anita meminta kau melanjutkan tugasnya yang tertunda di dunia."


"Benar Dad! salah satunya menyekolahkan Ferdy dan mewujudkan impiannya."


Reno mengangguk-anggukkan kepala, dengan tatapan masih fokus ke layar ponsel.


"Apa sebaiknya kita rawat Ferdy untuk tinggal bersama kita." Fanny ikut bersuara, yang sejak tadi diam dan fokus duduk di samping suaminya.


"Ferdy masih memiliki kelurga, Ma! masih ada ibu dan Ayah nya dari pihak Anita." Frans ikut menimpali.


"Iya sebaiknya kita rembukan dulu pada keluarganya, terutama pada kedua orang tua Anita yang masih ada. Mereka lebih berhak mengurus Ferdy. untuk biaya kebutuhan sekolah dan sehari-harinya kita yang akan biayai semua, karena itu sudah tanggung jawab kita." Reno bicara bijak dengan sudut pandang berbeda, agar tidak timbul mudharat dan membuat salah satu pihak merasa dirugikan.


"Aku setuju dan sependapat dengan Kakak, kita tanya pada Kedua orang tua dan saudara-saudara Anita, bagaimana baiknya." ujar Frans seraya fokus menyetir membelah jalanan raya ibu kota yang tidak terlalu merayap dan terjebak macet.


Satu jam perjalanan mobil sampai di depan gerbang mansion. Satpam membuka pintu gerbang. Mobil terparkir sempurna tepat di depan teras.


Mereka berempat turun dari mobil. Didepan teras Calista menyembul dan berlari menghampiri Fany dan Frans.


"Mama... Papa....!! teriak Calista dan memeluk keduanya. "Mama sama Papa kemana ajah ko lama?'


Frans menarik hidung mancung Calista karena gemes "Heum.. tadi papa dan Mama nyelawat orang meninggal."


"Mas, bicaranya nanti saja, aku sangat lelah kita masuk dulu."


"Oke sayang." Frans merangkul pundak istri dan anaknya untuk masuk kedalam mansion.


"Vano!"


"Mommy...!


"Vano tunggu! seru fanny saat melihat Vano ingin memeluk ibunya.


"Kenapa Tante! Vano menoleh kebelakang.


"Mommy sedang hamil, kau baru saja menunggui Anita semalaman, lalu ke kuburan. Mandi dulu kalau ingin dekat orang hamil. Nanti takut sawan." ujar Fanny memperingati.


Vano mengerti dan ia menjauh. "Oke Mom, Vano mandi dulu kalau begitu." ucapnya kemudian dan melangkah masuk kedalam kamar.


"Kakak juga jangan mendekat! omel fanny pada Reno.


"Apa kau masih percaya hal takhayul begitu?" alis Reno bertautan.


"Kakak ini ngeyel banget sih kalau di bilangan!" gerutu fanny dengan bibir mengerucut. Frans yang baru kali ini melihat istrinya marah dengan kakaknya hanya menahan tawa.


"Sudah Mas mandi dulu sana, apa yang dikatakan fanny ada benarnya. ibu juga pernah bilang begitu. kalau dari mengantar orang meninggal sampai pekuburan, jangan dekati anak bayi dan ibu hamil."


"Ya..ya.. kalian memang para wanita ingin merasa benar sendiri, cuma aku nggak setuju hal seperti ini dijadikan kepercayaan. Semua itu hanyalah mitos. ingat itu! ucapnya kesal. Reno mencabik dan melangkah pergi meninggalkan mereka menaiki anak tangga.


"Huft!" Delena mendesah kasar "Fany ajak Frans ke kamar tamu, kalian pasti lelah. Beristirahat lah aku akan siapkan makan."


"Kak! Mas Reno kaya nya ngambek deh! heran dia dari dulu mana percaya sama yang berbau mistis. padahalkan ini kata orang tua kita dan nenek kita jaman moyang dulu. kalau nggak di ikuti kualat kan?" ucap fanny dan masih menjaga jarak dengan Delena karena ia tahu tidak ingin mendekat.


Delena tersenyum "Mana berani mas Reno marah lama dengan kakak. sudah kamu mandi dulu sanah!' usir Delena, supaya obrolan mereka terhenti.


Delena berjalan kearah lift. Tepat didepan pintu kamar, ia membuka pintu perlahan dan masuk kedalam. Suara gemericik air didalam kamar mandi terdengar saat Delena mendekatkan telinganya di depan pintu.


Tak lama suara langkah kaki keluar dari kamar mandi. Delena tersenyum seraya memberikan celana pendek levis dan kaos berkerah pada suaminya. Reno menerimanya tanpa berbicara dan berdiri didepan cermin


"Sayang..., masih ngambek ya? nanti cepet tua loh! ledek Delena.


"Ck." kau ingin suamimu muda terus?" itu namanya melawan kodrat!" Reno geleng-geleng kepala seraya menyugar rambut basahnya. Reno masih terlihat tampan, gagah dan keren, meskipun sudah berusia kepala empat, tidak terlihat tua dari umur sebenarnya.


Mata Delena membulat, agak bingung dengan ucapan suaminya "Maksud Mas? melawan kodrat yang bagaimana?!"


"Huft! Reno meniup kuat "Kau tidak ingin suamimu cepat tua bukan?"


"Iya! semua juga ingin awet muda, walau harus dengan perawatan dan jaga kesehatan."


Reno memutar tubuhnya dan berhadapan dengan Istrinya "Kalau kau ingin suamimu awet muda terus, itu artinya Mas harus operasi plastik agar tidak tua-tua. Begitu kan maksud mu?"


Delena tergelak sambil mengusap perutnya yang membuncit "Mas, wajah muda walau usia tua itu, nggak mesti harus di operasi juga. Sekarangkan banyak obat vitamin yang menunda ketuaan dengan meminum kolagen, bisa membantu penuan dini dan keriputan, banyak kok manfaatnya, di barengi olah raga teratur dan banyak minum air putih."


'Wah istriku sudah jadi ahli gizi." mencium kening istrinya "Kan Mas hampir setiap malam olahraga." Reno tersenyum simpul


"Cih! Delena berdecih. "Itu kan olahraga ranjang Mas!"


"Sama ajah sayang. Judulnya kan olahraga." mencubit pipi Delena yang merona.


"CK." Masih juga nggak mau kalah." Delena gelengkan kepala. "Ya sudah kita turun dan makan dulu, kasihan pasti mereka menunggu."


"Ini sudah jam empat yank, apa makannya nanti malam saja." ucapnya malas.


"Mas, jangan menunda makan, nanti kalau sakit maag gimana?" Delena mengerucutkan bibirnya karena suaminya yang keras kepala dan kadang mau menang sendiri. Melihat bibir istrinya manyun, Reno meraup bibir istrinya cepat dan melum*tnya. Mendapat serangan mendadak, mata Delena membulat.


Nafas Delena terengah-engah setelah ciuman itu terlepas "Mas! hampir nafasku habis!" gerutu Delena sambil mengatur nafasnya perlahan.


"Makanya jangan mengerucutkan bibir didepan Mas, nggak tahan dengan godaan bibirmu." goda Reno terkekeh.


"Ish! dasar otak mesum!" Delena mencabik.


"Itu tadi vitamin buatmu sayang, biar Istri Mas tambah semangat lagi, Ok!" Reno menoel dagu Delena dan tersenyum puas.


"Vitamin apaan! ucap Delena memutar matanya malas.


"Oke, oke, ayo kita turun kebawah." merangkul pinggang Delena menuju lift.


Di ruangan keluarga semua sudah berkumpul, mereka menunggu Reno dan Delena turun.


"Wah sudah kumpul semua nih! ayok kita makan dulu."


Delena menuju ruangan makan. Diatas meja sudah tersusun berbagai macam hidangan. Mereka menyusul dan duduk di kursi masing-masing. Delena menaruh nasi dan lauk keatas piring, untuk suaminya. Fanny pun melayani Frans dengan menaruh nasi dan lauk diatas piring.


"Callista mau makan apa, sayang?" tanya fanny pada anak semata wayangnya.


"Sop iga sama perkedel, Mah! Fanny menuruti permintaan Calista "Ini makan yang banyak ya, biar cepat besar." menaruh piring didepannya.


"Vana, Vano. Ayo makan yang bener jangan ngobrol saja, selesaikan makan dulu baru bercerita." Delena memperingati kedua anak kembarnya, yang sejak tadi ngobrol.


"Iya Mom! ucap keduanya berbarengan.


Kini mereka semua menikmati hidangan bersama penuh kehangatan, yang tercipta di keluarga Reno.


😍😍😍


@Yuk kirim Bunda Hadiah, bab nya lebih panjang, biar bunda semngat πŸ’ͺ nulis😘


@yuk terus dukung bunda dengan cara...


πŸ’œlike


πŸ’œvote


πŸ’œgift


πŸ’œkomen


@bersambung......πŸ’ƒπŸ’ƒπŸ’ƒ