
Vano tertunduk, saat mendengar cerita Tommy, ia merasa bersalah karena ulahnya lah yang sudah membuat saham Bram anjlok. Reno mulai menyelidiki tingkah anaknya yang duduk dengan gelisah.
"Apa jangan-jangan, ini perbuatan anakku? menghancurkan perusahaan Bram dari dalam? apakah Vano sejenius itu? gumam Reno dalam hati "Aku harus mencaritahu."
"Vano!
"Ya Dad!
"Apa yang sudah kau pikirkan? Kenapa kau tidak banyak bicara seperti biasanya."
"Apalagi yang harus aku bicarakan Dad! semuanya sudah selesai bukan? Vano sudah menjelaskannya pada Daddy dan juga Om Tommy. Sekarang setelah Daddy mau diapakan perusahaan Tuan Bram yang sudah aku dibeli itu."
"Kau saja yang mengurus perusahaan itu, kau sendiri yang sudah membelinya, sekarang perusahaan itu sudah menjadi milikmu, kau harus bertanggung jawab."
"What, Dad!" tapi usiaku baru 14 tahun? Bagaimana mungkin aku harus mengurus perusahaan itu sendiri, Sementara aku belum memiliki KTP."
Reno terbahak dan menatap wajah tampan anaknya, memang ketampanannya 11.12 bila disandingkan antara Daddy dan anak itu. "Daddy yakin Kau pasti bisa menjalankan perusahaan itu dengan baik, apapun yang kau mau, kau bisa melakukannya walau tanpa persetujuan Daddy." sindir Reno tersenyum puas, seraya mengalihkan pandangan, Vano hanya tertunduk tanpa berani menatap wajah Daddynya, walau Reno terlihat santai.
"Tapi, Dad...!
"Kenapa hanya untuk mengurus perusahaan saja kau menolak, kau sendiri yang membelinya bukan? umur tidak jadi halangan, ada Om tommy yang membantu menjalankannya. bukan begitu Tommy? kini pandangannya mengarah pada Tommy.
"Kalau aku terserah Vano saja, bila Vano tak keberatan Om akan membantu. tetap Vano presiden direkturnya, sewaktu-waktu kau harus hadir di rapat penting sebagai petinggi perusahaan dan pemilik sah perusahaan Real estate dan departemen store."
"Benar apa yang dikatakan Om Tommy?
"No Dad! bukankah Perusahaan milik Bram, sekarang berada di bawah perusahaan Daddy, biar Mahesa Group saja yang kelolanya."
"No! Perusahaan itu milik mu, kau yang membelinya seharga 4 Triliun."
"Dad, is it true what you say(ayah apa benar yang kau katakan?)
"Buat apa Daddy bohong?!
"Bukankah Om Tommy membelinya dari uang Daddy? perusahaan itu sudah seharusnya milik Daddy."
"Bukan uang dari perusahaan Daddy, tapi uang milikmu sendri? timpal Tommy lagi, membuat Vano bingung.
Vano terkekeh mendengar pernyataan Tommy. "Om jangan becanda, Vano memiliki uang triliunan dari mana, jajan sekolah saja masih dikasih Mommy."
"Om tidak pernah becanda, memang semua Aset perusahaan Mahesa Group, Om yang pegang dan catat semuanya, sekarang ada di notaris. Coba pak Ibrahim bisa tunjukkan kepada Vano hak dan warisan dari keluarga Mahesa untuk Zevano." pinta Tommy pada pengacara yang duduk disampingnya.
Pak Ibrahim mulai menjelaskan secara mendetail, "Apa yang dikatakan tuan Tommy benar. Perusahaan atas nama Pak Bram Stoker pembelian dana sebesar 4 triliun, uang dari milik Tuan muda Zevano Hendra Mahesa."
Vano terbelalak "Tapi uang darimana sebanyak itu? pasti itu milik Daddy bukan? melirik pada Reno yang sedang mengetik di atas ponsel.
"Tentu saja bukan. Dengarkan penjelasan saya dulu Tuan muda, Anda sekarang ini memiliki aset terbesar nomor dua setelah Ayah anda sendiri tuan Reno Prayoga Mahesa, anda adalah crazy rich terkaya nomor dua dengan aset dalam dan luar negeri dengan nilai jumlah pantastik bernilai ratusan triliun."
"What! Vano begitu syok, ia menelan salivanya "Darimana jumlah aset sebanyak itu? Dad! pliss..." Vano menatap bingung wajah Daddynya yang terlihat santai.
"Kau dengarkan dulu Vano penjelasan pak Ibrahim." Reno memperingati.
"Oke Dad!
"Saya lanjutkan kembali. jadi semua aset atas nama Zevano Hendra Mahesa itu berasal dari aset milik tuan besar Ramon Mahesa berupa, Uang yang berada di bank Swiss, perusahaan luar dan dalam Negeri, serta Emas murni logam mulia yang disimpan di Bank luar Negri."
"Sebanyak itukah aset grandpa? kenapa ia berikan pada ku semua? bukankah masih ada Tante fanny yang memiliki anak Calista, juga Tante Siska memilki tiga anak dari Om Tommy?
"Tentu saja Nona fanny dan Nona Siska sudah dapat bagian masing-masing. Seandainya dari aset tuan muda Vano, ingin memberikan pada anak dari Nona Siska dan Nona Fanny bisa di berikan pada usia anak-anak nya 20 tahun. Bila tuan muda sudah mengerti silahkan tandatangani berkas-berkas diatas matrei ini."
"Dad! apa yang harus aku lakukan, apakah aku sanggup memikul semua ini? tanya Vano ragu.
"Vano! kau adalah anak laki-laki keturunan dari keluarga Mahesa. Jangan pernah merasa tidak mampu sebelum kau melakukannya. sekarang terima semua aset itu, karena grandpa's sudah memberikan semua aset atas namamu.
"Silakan Tuan muda, tandatangani disini?
Vano menarik nafas dalam-dalam dan di hembuskannya perlahan. Vano mengambil berkas surat warisan itu dan membacanya.
"Semua warisan ini masih di kelola oleh tuan besar, semuanya akan jatuh ke tangan tuan muda di usia 20 tahun, dan Tuan besar Ramon akan istirahat total dimasa tua nya." ucap Pak Ibrahim lagi.
"Berarti 6 tahun lagi aku baru bisa memimpin perusahaan grandpa, baiklah aku akan menandatangani semua ini. Tapi dengan syarat, tolong rahasiakan kalau aku pemilik perusahaan crazy rich nomor dua di kota Ini."
"Tentu saja, kami akan merahasiakan semua itu dari masyarakat luas demi keselamatan tuan Zevano." terang Pak Ibrahim tersenyum ramah.
Dengan cekatan Vano menandatangani surat warisan pemberian kakeknya Ramon Mahesa.
"Daddy sangat bangga padamu, nak! Reno berdiri menghampiri Vano mereka saling berangkulan.
"Terima kasih Dad! mohon bimbingannya."
"Iya sayang, itu pasti. ku rasa kau lebih cerdik dari Daddy." Reno mengedipkan matanya.
"Selamat, keponakan om memang the best." Tommy ikut memeluk Vano.
"Oke semua urusan sudah selesai, kalau begitu saya permisi untuk pulang kerumah, karena hari sudah malam." ucap Pak Ibrahim.
"Tentu, silakan Pak. terima kasih banyak." Reno, Vano dan Tommy berjabat tangan pada Ibrahim.
"Kalau begitu, aku juga harus pulang, kasihan Siska selalu saja komplin." ujar Tommy tergeletak.
"Pulanglah, maaf selalu merepotkan mu, kau selalu ada setiap aku dan Vano butuhkan." Reno merangkul tommy.
"Jangan sungkan kita ini saudara. keluarga besar Mahesa sudah seharusnya saling membantu, apalagi demi untuk keturunan anak cucu kita."
"kau benar Tom! Reno tersenyum bahagia
"Dad! Aku ikut Om Tommy pulang! Aku sangat lelah, ingin istirahat di rumah. Vana masih tidur pulas tidak usah dibangunkan, biar saja menemani Mommy disini. kasihan Vana sangat merindukanmu mommy."
"Baiklah hati-hati dijalan, jaga Vano walau Ia bisa menjaga dirinya sendiri, namun, sifatnya masih labil."
"Tentu saja, Vano anakku juga, kita saling mendukungnya."
"Dad! salamkan pada Mommy, besok aku akan kembali, setelah dari sekolahan memberikan laporan pada guru-guru sekolah tentang Vana dan Bella."
"Oke, kalau begitu kau tidak usah kemari, jam delapan pagi Mommy sudah boleh pulang ke rumah."
"Baiklah Dad!
Setelah Vano mencium tangan Reno, mereka berdua meninggalkan ruangan delina menuju parkiran.
Mobil meninggalkan rumah sakit dan melaju dengan kecepatan sedang membelah jalanan ibukota.
"Jam berapa sekarang Van? tanya Tommy, seraya menyetir.
"Sudah jam sepuluh malam Om!
"Om harus antarkan vano ke mansion dulu, tapi bila Vano tidak keberatan, lebih baik menginap di rumah Om dan tante Sisca. Apalagi di mansion sangat sepi, Mommy, Daddy, dan Vana berada di rumah sakit. Apa kau tidak kesepian?
Vano terdiam sambil menimang-nimang ajakan Tommy "Oke om, aku akan menginap di rumah om, Karena Om sudah banyak membantuku!
Tommy tersenyum "Ohya, apa kau lapar ? kalau lapar kita mampir ke restoran dulu, kebutuhan Om juga belum makan."
Vano mengangguk "Aku ikut Om saja."
Tommy memarkirkan mobilnya di sebuah restoran, setelah memesan beberapa menu makanan, mereka berdua menikmati makanan di restoran malam itu. Selesai makan, mereka melanjutkan perjalanan kearah pulang.
"Ahh sial! jalanan ditutup padahal sudah dekat lagi ke rumah Om."
Sepertinya ada yang hajatan di depan sana Om, itu panggung orkes nya ada di sisi jalan, masih ramai yang menonton."
"Berarti kita harus mencari jalan kampung, lumayan jauh untuk memutar, tapi tidak ada jalan lain, daripada menunggu selesai orkes itu."
"Ya sudah Om kita memutar saja! saran Vano.
Akhirnya Tommy mengalah dan memutar mobilnya untuk mencari jalan yang bebas hambatan. Mobil berjalan dengan pelan dan mulai memasuki area perkampungan dengan jalanan yang rusak.
"Apa masih lama Om menuju rumah bila lewat sini, sangat gelap tidak ada lampu penerangan di pinggir jalan." ujar Vano gusar
"Tmpat ini jarang dilewati orang bila malam hari, tapi kalau siang masih ada yang berani lewat."
BRAKK!
BRAKK!
Vano dan Tomy terkejut, Saat sedannya di hantam dari belakang dengan mobil SUV bertubi-tubi.
"Astaga siapa yang berani menabrakkan mobil kita?! ucap Tommy panik.
Dari kejauhan terdengar suara bising motor balap yang saling bersahutan, suaranya sangat memekik telinga.
"Om hati-hati dari arah depan ada gerombolan motor! seru Vano memperingati. "Lebih baik berhenti saja, kalau tidak mereka akan menabrakkan kearah mobil kita!
Ciiiiiiiitttttttt! Bruk...!!
"Siapa mereka!!! seru Tommy, menghentikan mobilnya secara mendadak.
❣️❣️❣️
@ kirim Bunda Hadiah, bab nya lebih panjang, biar bunda semngat 💪 nulis😘
@yuk terus dukung bunda dengan cara...
💜like
💜vote
💜gift
💜komen
@bersambung......💃💃💃