
Perusahaan apa itu kak?
"Perindustrian, dari PT Qinara Pratama dan pemiliknya Nona Qinara sendri."
"Kenapa kaka memilih aku sebagai perwakilannya."
"Karena kau juga seorang pembisnis, kau harus bisa menjalani perusahaan ini."
"Apa kaka masih percaya padaku? padahal aku sudah menghilangkan perhotelan di Bali, sampai saat ini aset ku belum bisa kembali karena di kuasai Mr Black sialan itu!"
"Kaka ingin kau belajar dari sebuah kesalahan, kaka yakin kali ini kau tidak akan salah lagi."
Wajah Siska berbinar cerah, ia sungguh tak percaya kakanya masih mempercayai dirinya untuk memegang perusahaan. "Benarkah kak? Ramon mengangguk kuat, sebuah pelukan Siksa berikan untuk kakanya.
"Terima kasih kak."
Pagi itu Siska sudah cantik dengan polesan diwajahnya. Setelan jas dan rok span hitam, di padu dengan kemeja putih, sangat elegan menambah pesona seorang Fransisca Mahesa. Wanita ini selain cantik ia juga cerdas, Siska lulusan sekolah Universitas di Oxford, Inggris.
Ramon, Andini dan Siska sudah berada di ruangan meja makan, sarapan pagi itu selalu istimewa dengan berbagai hidangan diatas meja.
Siska mengambil satu lembar roti gandum dan mengolesi dengan selai kacang diatasnya.
"Siska kenapa kau hanya makan roti saja, ini ada spaghetti, ayam panggang dan sop iga." Andini menawarkan.
"Tidak kak, aku harus bertemu client, tidak ingin makan yang berat. Kalau kekenyangan aku mudah ngantuk."
"Siska, kau sudah pelajari berkas yang kaka kasih?"
"Sudah semuanya kak." Siska tersenyum sambil menggigit roti yang ia pegang.
"Kaka harap kau berhasil meyakinkan Nona Qinara dengan presentasi mu."
"Semoga saja Kak."
****
Mobil sport Siska melaju dengan kecepatan sedang meninggalkan mansion.
Satu jam lewat 20 menit mobil Siska sudah sampai di gedung perkantoran milik 'Qinara Pratama' setelah memarkirkan mobilnya ia berjalan masuk kedalam gedung berlantai 15. Langkah kaki jenjang Siska mulai memasuki ruangan meeting yang dipandu oleh sekertaris Qinara. Pintu ruangan dibuka sekertaris itu, dan mempersilakan Siska untuk masuk. Meja persegi panjang hanya terisi beberapa orang yang hadir, Siska duduk di kursi yang sudah dipersiapkan.
Selang 20 menit Direktur utama datang masuk keruangan meeting dan duduk di tengah, Setelah semua Clien menyapa dan memberi hormat.
"Apa semua sudah hadir?" Qinara bertanya pada sekertaris yang berdiri disampingnya.
Sekertaris Dina melihat daftar Client yang sudah hadir, ia mulai mengabsen nya."
"PT Danar Utama, PT Global, PT Mahesa Group', PT Jaya Abadi. Yang belum hadir hanya PT Angkasa Raya."
Qinara mendesah pelan "Baik kita tunggu beberapa menit lagi."
***
Tommy mendengus kesel karena ia sudah telat untuk datang ke kantor Qinara Pratama, berkali kali ia mengutuk jalanan yang macet.
"Semoga tidak terlambat." Tommy menoleh pada arloji ditangannya. "Sudah jam sepuluh lewat sepuluh menit, aku terlambat." gumamnya kesal. "Qinara Pratama, gedungnya sudah terlihat dari sini, sebentar lagi sampai."
"Qinara? kenapa nama itu sama dengannya? ahh.. pasti hanya kebetulan, di dunia ini begitu banyak nama Qinara." tersenyum tipis.
Mobil Tommy sudah terparkir didepan gedung perkantoran milik Qinara. Langkah kaki Tommy berjalan cepat dengan membawa berkas dan buku agenda untuk presentasi. "Kalau bukan karena Gilang yang memaksa, aku tidak akan mau bantu dia presentasi." gumamnya sambil terus melangkah.
Tommy sudah masuk kedalam lift menuju lantai 15. Ia menoleh pada arlojinya kembali. "Sial udah telat 20 menit, semoga saja Direkrut nya berbaik hati mau menungguku."
"Ting!
Tommy melangkah meninggalkan lift dan bertanya pada seorang sekertaris yang duduk di mejanya.
"Maaf Nona dimana ruangan meeting ibu Qinara?
"Anda dari PT Angkasa raya?"
"Iya bener, saya perwakilan dari PT Angkasa Raya." Tommy mengusap keringat di dahinya karena keringat terus mengucur.
"Mari Tuan silakan, kami sedang menunggu Anda." sekertaris Dina jalan memimpin di ikuti Tommy dibelakangnya."
Di dalam ruangan semua menunggu dengan cemas karena harus menunggu satu orang perwakilan dari sebuah perusahaan.
"Hufft lama sekali, hanya karena menunggu satu orang saja." gerutu Siska dalam hati.
Qinara menoleh pada Siska yang terlihat kesal. Ia duduk posisi di sebelah kanan "Nona Siska? suara lembut Qinara membuyarkan lamunannya.
"Nona Siska, apa Nona adik dari Tuan Ramon?"
"Benar sekali Nona, aku adik dari Tuan Ramon."
"Berarti Tante dari Tuan Reno Mahesa ya?."
"Iya, Reno keponakan ku." kembali tersenyum.
Suara pintu terbuka. Sekertaris Dina masuk dan berdiri didepan Qinara "Ibu Direktur, perwakilan dari PT Angkasa raya sudah datang."
"Kalau begitu kita mulai meeting nya."
Tommy masuk kedalam ruangan meeting dengan langkah pasti, sekertaris Dina mempersilakan Tommy untuk duduk di posisi sebelah kiri. Tommy tak sadar dua pasang mata sedang menatap wajahnya. Mata itu membulat dengan kening mengerut, jantungnya berdebar cepat. Di seberang Tommy duduk wanita cantik yang sudah mengenalnya, ia juga menatap dengan ekspresi kaget.
"Tommy ada disini juga?" gumam Siska pelan.
"Selamat pagi, maaf terlambat." membungkuk memberi hormat. Tommy tersenyum. Saat ia mengangkat wajahnya, seketika senyum Tommy memudar. Ia menatap wajah wanita yang 10 tahun lalu sudah ia kecewakan.
"Qinara?! gumamnya pelan.
Siska merasa aneh melihat Tommy terkejut saat menatap Direktur utama Qinara. Perasaannya tiba tiba tak enak, pikirannya tak karuan, Ac diruangan itu seakan terasa panas.
"Ehemm!" Qinara berdehem untuk menetralisir kan keadaan, ******* nafas kasar keluar begitu saja. Saat Tommy duduk, tepat didepannya ia tak sengaja bersitatap dengan Siska.
"Ya Tuhan, ada apa dengan ku hari ini? kenapa aku dipertemukan dengan dua wanita yang hadir dalam kehidupan ku? Siska? ternyata ia bekerjasama juga dengan PT Qinara Pratama?" batin Tommy.
Qinara seorang profesional, meeting pun di mulai, untuk melanjutkan kerjasama dengan para Client ia meminta perwakilan dari salah satu Perusahaan untuk memulai presentasi. Satu-persatu perwakilan berbicara sambil mengungguli produk yang akan dipasarkan.
Tommy mengambil gelas berisi airputih di depannya, dan meminumnya setengah, keringat dingin mulai terasa, ia melirik pada Qinara dan terus bertanya dalam hatinya, kini mantan kekasihnya sudah menjadi seorang Direktur utama. Disisi lain ia menatap wajah Siska yang sedang berdiri sambil presentasi, rasa kagum terlihat dari wajah Tommy yang selalu tersenyum tipis.
"Silahkan perwakilan dari Angkasa Raya." suara sekertaris Dina membuyarkan lamunan Tommy. ia berdiri dengan gagah dan mulai presentasi untuk mengenalkan produk milik Gilang. Terkadang rasa gugup menyergap dirinya saat mata Qinara terus memperhatikan nya.
Tiga jam sudah berlalu. Meeting telah selesai, mereka semua tinggal menunggu keputusan dari Direktur Qinara untuk mendapatkan kerjasama. Tommy masih terduduk di kursinya membereskan berkas berkas diatas meja, ia melihat Siska menuju toilet, berkas dan tas Siska masih berada diatas meja, Tommy berencana akan mengajak Siska pergi makan diluar siang ini, untuk membicarakan tentang hubungannya, ia sudah berjanji pada dirinya untuk menyatakan perasaannya.
"Dina tolong kau keruangan ku, dan bawa berkas berkas ini."
Tommy sudah paham maksud Qinara, menyuruh asistennya pergi. Kini tinggal mereka berdua di ruangan itu. Tommy berusaha menyapa walau sebenarnya ia tampak ragu.
"Apa kabar Qinara?"
Qinara yang sedang mengetik diatas ponsel menoleh pada Tommy, ia tersenyum tipis "Kabarku sangat baik, seperti yang kau lihat sekarang?"
"Syukurlah." tersenyum canggung.
"Aku baru tau kalau kau bekerja pada Gilang." Qinara meneruskan kata-katanya.
"Tidak, aku hanya membantunya presentasi, karena ia tidak bisa datang."
"Kau masih bekerja dengan Tuan Darwin?"
"Iya, tapi Tuan Darwin sudah meninggal, sekarang anaknya yang meneruskan."
Qinara mendesah panjang "Sampai kapan kau mengabdikan hidupmu pada Keluarga Darwin, kini dengan anaknya." ucapnya lugas.
"Balas budi!" Tommy memberi penekanan.
"Sepuluh tahun yang lalu kau bicara begitu, sekarangpun kau masih bicara dengan kalimat yang sama." Qinara mengdengus tak percaya.
Tommy melipat kedua tangannya "Kau seharusnya bersyukur, dulu kau saat bersama ku hanya seorang sekertaris, tapi setelah pergi dariku, kedudukan mu sudah berubah menjadi seorang Direktur, bukankah itu suatu kebanggaan?!
Kinara beranjak dari duduknya, berjalan kearah Tommy duduk. Menyandarkan tubuhnya ke meja panjang didepan Tommy, "Aku mengganti kan posisi suamiku yang sudah meninggal." Qinara mulai bercerita, Tommy sebagai pendengar yang baik. "Baru dua tahun lalu ia meninggal karena sebuah kecelakaan." wajah Qinara memerah menahan tangisnya.
Tommy melihat kesedihan dimata Qinara. Ia bangun dari duduknya dan berkata "Aku ikut prihatin dengan apa yang sudah terjadi pada mu, semoga kedepannya kau bisa menjalani perusahaan ini dengan baik."
Tiba-tiba Qinara memeluk tubuh Tommy dan terisak di bahunya. Tommy terperanjat kaget, ia tidak menyangka Qinara akan memeluknya. "Terima kasih Tommy.
Suara langkah kaki menuju ruangan Meeting, saat pintu terbuka, Siska melihat pemandangan yang menyakitkan didepannya.
'
'
'
'
Bersambung......