
"Baik Bu, aku akan mencari Davin, walau aku tidak tahu keberadaannya sekarang."
"Aku akan ikut mencari bersama mu bro! Reno menepuk pundak Robert.
Helena memijit keningnya yang terasa pusing, dari kedua anak kembarnya, hanya Davin yang selalu dirundung masalah "Apakah semua ini karma dimasa lalunya?" batinnya sedih.
"Sebentar aku izin istriku dulu." Reno masuk kedalam dan mencari keberadaan istrinya di kamar utama di lantai dasar.
"Ceklek!
"Sayang..." Reno tersenyum terbit saat melihat Delena sedang menyusui bayi mungilnya dalam gendongan.
"Apa Mas...?
"Ada Robert." ucapnya seraya duduk di samping istrinya.
"Sebentar ya Mas, aku masih menyusui Zidan dulu."
"Anak Daddy pinter ya nyusu nya, Daddy kalah banyak donk." ujarnya seraya mengelus lembut kepala bayi mungil itu.
"Hussszzz, masa sama anak nggak mau ngalah." sindir Delena dan suara kekehan Reno mengagetkan anak bayinya dan melepas punt*ng susu ibunya.
Oaakk.. oaakk.. oaakk...
"Ehh, anak Daddy ngambek ya." mencium lembut keningnya.
"Zidan kaget Mas." Delena menidurkan Zidane keatas ranjang dan mulai menyusuinya lagi. Kini bayi mungil itu tidak menangis lagi.
"Yank, aku mau antar Robert mencari keberadaan Davin."
"Kak Davin? ada apa dengan dia?' alis Delena mengeryit.
"Davina pergi. Sepertinya mereka sedang ada masalah di rumah tangganya."
"Masalah apa Mas? kok kak Davin tidak pernah cerita padaku, kalau sedang ada masalah."
"kau tanya saja sama Ibu ya? kalau Mas yang cerita tidak enak, takut dibilang ikut campur urusan orang. Mas harap kau tidak usah terlalu ikut campur dengan rumah tangga Davin dan Robert, cukup kita menasehati bila mereka minta pendapat. Kau tahu sendri bukan? suamiku ini tidak pernah mau pusing dengan kehidupan orang lain, kecuali Keluarga sendiri yang minta tolong."
"Iya Mas, tapi nggak mungkin kak Davin pergi kalau masalahnya tidak berat, selama Ini ku pikir rumah tangga kak Davin dan kak Robert harmonis dan bahagia, tidak ada masalah besar."
"Karena kita tidak tahu kehidupan mereka di Bali, dan sebisa mungkin mereka menutupi dari ibu dan kita di Jakarta. kita doakan saja semoga ada jalan keluarnya."
"Iya Mas, Semoga rumah tangga mereka baik-baik saja."
"Ya sudah Mas pergi dulu, Robert sudah menunggu terlalu lama."
"Iya Mas, kabari kami di rumah kalau sudah bertemu kak Davin."
Reno mengangguk dan mencium bayi mungilnya yang sudah tertidur pulas, tak lupa mencium kening dan bibir istrinya.
"Dimana Chika Bu..."
"Sedang berenang dengan Vana, ya sudah kau tidak usah temui dulu, takut Chika bertanya Mami nya, sementara kau tidak bersamanya."
"Iya Bu..."
"Ayo Bert kita berangkat." ajak Reno yang sudah rapi dengan kemeja pendek garis-garis di padu celana jeans, terlihat santai tapi tetep saja kharismanya tidak memudar
"Aku belum melihat bayi mu."
"Nanti saja, ia baru tidur."
Robert dan Reno berpamitan seraya mencium punggung tangan Helena.
Mobil pergi meninggalkan mansion. Reno mengontak teman-teman yang dulu masih mengenal Davina, namun nihil, tidak ada yang tahu keberadaannya. Sementara Robert terus menghubungi nomor istrinya.
"Aargh!! ponselnya masih tidak aktif, bagaimna bisa melacak keberadaan nya." keluh Robert frustasi.
"Apa ini kebiasaan istrimu, bila marah akan seperti ini, kabur dari rumah?"
"Tidak pernah, Davin itu telah berubah jadi wanita baik dan Soleh, sayang dan perhatian padaku dan Chika. Tapi... kedatangan ibuku sedikit merubah sikap hangatnya padaku, mereka tidak bisa akur. Jujur saja, ibu dan kakak ku tidak tulus menyukai istriku sejak aku menikahi Davin, mereka selalu menganggap Davin tidak layak untukku karena masa lalunya yang suram."
"Apa bedanya dengan kau? memiliki anak di luar nikah! menoleh kearah Robert yang sedang menyetir dan tersenyum kecut. "Seharusnya kakak dan ibumu tidak berhak memandang rendah istrimu, apalagi kalian sudah mendapatkan keturunan. Ku lihat Davin sudah berubah total, meninggalkan masa lalunya setelah menikah denganmu.Tidak ada manusia yang tidak punya dosa!"
"Huft!" aku sungguh stres menghadapi keluarga ku, ditambah masalah Kinan dan Sabrina, Sekarang Davina pergi sebelum mendapatkan penjelasan dariku."
"Sabar bro! pasti nanti akan ada jalan keluarnya."
"Ini sudah jam lima, kita muter-muter dan datangi kerumah temannya tetap mereka tidak tahu kebersamaan istriku."
"Lebih baik kita cari restoran dulu, perut minta di isi." usul Reno, Pria tampan berwajah tegas itu.
Mobil masuk kedalam restoran dan terparkir di halaman luas. Reno dan Robert mulai menikmati hidangan diatas meja, walau Robert terlihat tidak semngat untuk makan sore itu.
Selesai makan mereka memulai pencarian kembali. Robert tampak stres dan frustasi. Melihat sahabatnya kesal dan frustasi, Reno mulai menghubungi orang-orangnya untuk mencari Davina.
"Kita cari kemana lagi Ren? sudah jam delapan malam, apa yang sedang istriku lakukkan diluar sana, sampai tidak ingat pulang!" Aarggh! Robert memukul setir karena kesal tidak ada jejak istrinya.
"Aku tahu tempat yang biasa Davin datangi dulu." tiba-tiba Reno membuyarkan pikiran kalut Robert.
"Dimana? tanya Robert tak sabar.
"Di Bar!"
"What! apa kau yakin?" membulatkan mata cokelatnya.
"Itu hanya dugaan ku saja, orang kalau sedang kesal dan frustasi pasti akan nekad datang kesana."
"Baiklah, tidak ada salahnya kita cari kesana."
Mobil yang menepi kini jalan kembali menuju Bar yang berada di bilangan kota metropolitan.
"Bang, tuangkan satu gelas lagi!" perintah seorang wanita cantik pada seorang bartender, seraya menghisap kuat rokok di sela-sela jarinya.
"Tak! menaruh gelas berisi wine
"Ini yang terakhir Nona, jangan mabok disini! tagihannya sudah banyak! apa kau bisa membayarnya? bila tidak kau harus melayani tamu untuk melunasi tagihan minuman mu!" terdengar suara bartender itu mulai mengoceh dan ngomel-ngomel.
"Berapa semua tagihannya, biar aku yang bayarkan semua!" suara seseorang mengagetkan bartender, dan ia melihat wajah si pemilik suara itu. Bartender terkejut dan membungkuk hormat.
"Berapa tagihan nya!!" teriak pria berpenampilan maskulin dan tuxedo melekat di tubuh kekarnya.
"Sebelas juta lima ratus ribu, Tuan!"
Pria perawakan tinggi tegap itu melempar kartu black di depannya hingga jatuh ke lantai. Saat bartender membungkuk mengambil kartu itu, sepatu kulit mahal Pria itu menginjak tangan bartender hingga terdengar jeritan kesakitan.
"Aakkhhh....! ampun Tuan!"
"Sekali lagi kau marah-marah pada wanita ku, jangan harap kau bisa selamat dari tempat ini!" ancamannya seraya menginjak lebih kasar bagai menginjak kesetan. Jeritan pria itu semakin keras. Puas melukai tangan bartender, Pria berperawakan tinggi besar itu mengibas tangannya di udara pada anak buahnya yang berjaga di belakangnya, agar membawa bartender itu pergi dari hadapannya.
Pria itu sepertinya bukanlah orang sembarangan. Ia berjalan mendekat dan duduk di bangku kosong, samping seorang wanita yang sedang frustasi.
"Davin! kau kemana saja? Tiga belas tahun kita berpisah, akhirnya aku menemukan mu disini. Ayo kita pergi dari sini!" menarik tangan Davin.
Davina menepisnya dan menatap lekat wajah pria di depannya, walau dalam keadaan setengah sadar, ia dapat mengenali sosok pria tampan itu.
"Kau...?! pekik Davin membulatkan matanya.
"Kau masih ingat aku bukan? pria itu merangkul pundak Davin "Aku sangat merindukan dirimu Davin, bertahun-tahun aku mencarimu, aku masih sangat mencintaimu, kembalilah padaku seperti dulu!"
Dengan susah Davin mendorong Pria itu dan beranjak dari duduknya.
"Kau mau kemana Davin! menarik tangan Davin kembali dan terduduk di sampingnya. "Jangan pernah pergi lagi dariku."
"Lepaskan! kau adalah masa lalu ku, jangan pernah ganggu aku lagi, kita sudah tidak ada hubungan apapun!
Davina berdiri dan berusaha menjauhi pria tampan berkharisma itu, walau usianya tidak lagi muda, Namun, tubuhnya terlihat atletis.
"Davin! seru Pria itu berdiri di belakangnya.
Davina menghentikan langkahnya yang berjalan gontai karena sudah di pengaruhi alkohol.
"Aku akan membawa mu keliling dunia, seperti yang pernah kita lakukan dulu! kau yang mengajak ku kabur di hari pernikahan mu dengan Reno!"
Davina menoleh dan menggeleng kuat "Itu dulu, sekarang tidak lagi, aku tidak akan membuat kesalahan yang sama. Terjatuh untuk kedua kalinya, dan meninggalkan orang-orang yang aku cintai."
Davin kembali berjalan dengan memegang meja agar tak terjatuh. Malam itu Bar tidak seramai biasanya, Namun, tetap saja perdebatan mereka berdua mengundang para tamu yang sedang berkunjung.
"Tidak akan aku biarkan kau lepas lagi dari ku Davin!" ucapnya lirih, mengepalkan kedua tangannya dan berjalan mendekat.
\*
\*
\*
@Apakah kalian tahu siapa Pria masa lalu Davina? Masih episode cerita rumah tangga Davin dan Robert, Agar tidak penasaran dengan kisah Davina dan Masa lalu nya yang belum terekspos.
@yuk terus dukung bunda dengan cara...
💜like
💜vote
💜gift
💜komen
@bersambung.....