
"VANO! tolongin aku...! aku tidak ingin mati!
"Kau tenang saja dulu ya, aku akan mencari tambang agar bisa menarik mu."
Keringat jagung sudah menetes dari pori-pori tubuh Bella, ia sangat ketakutan setengah mati.
"Vano...aku sudah tidak kuat, tangan ku sakit!
"VANO......."
Setelah mengambil tambang dari gudang, Vano berlari naik lift, dan berlari menuju balkon dimana Bella masih berteriak ketakutan.
"Bell....!! jangan lihat kebawah nanti kau pusing dan tidak bisa konsentrasi..!! teriak Vano memberikan ketenangan.
"Vano...!! hiks.. "Tolong aku? aku takut." suara Isabella bergetar.
Sementara satpam, tukang kebun dan pekerja lainnya menyaksikan dari bawah dengan rasa terkejut dan panik, mereka semua sudah berkumpul di bawah balkon lantai satu yang posisinya berada di taman.
Tiga orang penjaga mansion berlari ke lantai Lima, mereka melihat tuan mudanya sedang berusaha menolong Isabella.
"Tuan, berhati-hatilah." ujar seorang penjaga, melihat Vano melilitkan tambang ke pinggangnya.
"Biar saya saja yang turun dan menarik gadis itu." pinta seorang penjaga satunya.
"Tidak usah, aku bertanggung jawab pada nasib Bella. aku yang akan turun, kalian yang pegang tambang ini dari atas dan terik kami berdua."
"Baik tuan muda." ujar mereka bertiga.
Reno mengeratkan tambang di pinggangnya dengan kuat. Tiga orang penjaga itu memegang erat tambang dari atas balkon.
"Tuan Vano berhati-hati lah! kami akan tarik setelah ada aba-aba."
Vano mengangguk, dengan hati-hati vano mulai turun dari balkon. Tiga penjaga itu menurunkan tambang dengan perlahan. Saat sudah sejajar dengan Isabel, Vano semakin mendekat ke tubuh Isabel.
"Vano... hiks.." Wajah Isabel sudah sembab dengan airmata.
"Jangan banyak bergerak, kedua tanganmu lingkarkan keleher ku, oke..."
"Tapi aku takut, tangan ku sudah keram."
Vano tidak ingin banyak waktu lagi, tubuhnya ia tempelkan ke tubuh Isabella dari belakang. "Berbalik lah, dan berpegangan di leherku."
"Kalau melepas pegangannya, aku takut jatuh!
"Kau tenang saja, aku akan memegang pinggang mu, agar saat kau berbalik tidak akan terjatuh. Cepat berbaliklah, kasihan yang diatas memegang beban berat kita."
Vano memegang pinggang Isabel, Dan lsabel melepas pegangannya lalu berbalik. Kedua tangannya Ia kalungkan keleher Vano. Kini keduanya saling berhadapan. Netra mereka saling bertemu "Pegangan yang kuat! ucap Vano lembut. Anggukan kepala Isabella seraya berpegang kuat di ceruk Vano, Isabella membenamkan wajahnya ke dada Vano yang mulai berisi, walau belum terlihat kekar seperti Daddynya. Namun, tubuh Vano yang keras dan berisi sangat terlihat, sebab Ia tidak pernah absen latihan ilmu bela diri yang terus ia pelajari sampai sekarang.
"Tarik! teriak Vano dari bawah, ketiga penjaga itu menarik kuat tubuh Vano dan Isabella. Tubuh Isabella bergetar hebat saat tubuh mereka berdua menempel erat, Isabella mengeratkan pelukannya yang sangat ketakutan. Vano memegang pinggang Isabella kuat agar tidak terjatuh.
"Van, aku takut!
"Kau sudah aman sekarang, sebentar lagi kita sampai atas."
Saat sudah sampai diatas, Ketiga penjaga itu menarik Vano dan Isabella bersamaan.
Isabella yang masih nyaman di pelukan Vano, tidak melepas pelukannya, kedua tangannya masih erat di leher vano.
"Bell...! kita sudah berada di atas, lepaskan tanganmu, nggak enak sama penjaga mansion lihatin kita terus." Vano berbisik pelan ditelinga Isabel.
"Aku masih takut, hiks...
"Ehem... " Vano berdehem karena tak enak hati pada satpam penjaga yang terus menatapnya.
"Bellaaaa.......!!
Vana berlari seraya berteriak melihat sahabatnya sudah selamat. Bella mengangkat wajahnya dan melepaskan kedua tangannya dari leher Vano. Ia melihat Vana berlari ke arahnya. Mereka berdua pun saling berpelukan.
"Vana ma'afkan aku, sudah menyusahkan kelurga mu." hiks...
"Ya sudah, ayo kita ke bawah, tubuhmu gemetaran begini."
"Aku masih takut, Van! andai saja tidak ada Vano mungkin aku sudah tidak akan bertemu lagi denganmu."
"Tuhan masih sayang padamu Bell, ayo kita kebawah. Kak, bantu memapah Bella ya, kasihan tubuhnya masih gemetaran.
Vano menuruti ucapan kembarannya, Mereka bertiga turun kebawah menggunakan lift. sampai di bawah Vana membawa Isabella masuk kedalam kamar.
"Bell.. kau istirahat saja dulu." ujar Vana mengusap punggung Isabella.
"Bell, kenapa kau sampai melakukan ini semua? ada apa dengan mu, ayo cerikan padaku?!
Isabella menundukkan wajahnya, butiran bening sudah jatuh berderai.
JGLEK
"Non! ini Mba bawakan minum air putih hangat, buat Non Bella."
"IYa Bii... berikan pada Bella."
Mba Sarii memberikan gelas berisi air putih itu pada Bella. Setelah meneguk habis air putih itu, Bella izin untuk ke dalam kamar mandi. Dua puluh menit kemudian Isabella sudah selesai mandi.
"Bell, apa sebaiknya kau tidak usah masuk sekolah dulu. Sepertinya kau masih syok, Lebih baik beristirahat dirumah saja."
"Aku sudah tidak apa-apa, Van! aku harus ke sekolah, hari ini ada pelajaran Pak Imron, biasanya suka ulangan dadakan."
"Baiklah kalau kau sudah tidak apa-apa."
Selesai memakai seragam, mereka berdua menuju meja makan dan sarapan berdua."
"Dimana kak Vano, Mbak."
"Entah, Mbak nggak liat Non, sebentar Mbak ke kamarnya."
"Dek! sepertinya kakak tidak bisa kesekolah hari ini." tiba-tiba Vano sudah berada di ruangan makan.
"Loh memangnya kenapa Kak?!
"Semalam Daddy menyuruh kakak membawakan pakaian buat salinan Daddy dan Mommy di rumah sakit, ternyata Pak Yanto tidak bisa antar karena sakit."
"Aku diantar siapa kak?!
"Ada Pak Danang, supir yang biasa mengantar bibi belanja di supermarket."
"Terus kakak sama siapa?!
"Sebenarnya kakak bisa ajah bawa mobil sendiri, tapi takut ada polisi kalau pagi begini."
"Ya sudah bareng sama aku dan Bella ajah, kak!
"Kasihan Mommy dan Daddy takut kelamaan, mereka belum sempat ganti baju, kakak naik taksi saja."
"Ya sudah kalau begitu, Vana berangkat dulu kak!"
"Oke, hati-hati di jalan, jngan lupa bilang ke wali kelas ya, kakak izin dulu."
Vana dan Isabella masuk kedalam mobil. Dan pergi meninggalkan mansion.
Setengah jam kemudian, mobil sudah berhenti di depan gerbang sekolah. Diluar gerbang sekolah tampak sepi, murid-murid sudah masuk kedalam kelas masing-masing, tidak ada satupun yang berkeliaran di depan sekolah. Hanya ada dua orang penjaga sekolah, sedang duduk di dalam pos yang berada di depan gerbang Sekolah.
"Non! nanti Bapak jemput jam berapa? tanya Pak Danang, biasanya yang menjemput Vana dan Vano, adalah Pak Yanto.
"Jam setengah satu sudah berada didepan gerbang ya pak!
"Baik, Non!
Vana dan Isabella turun dari mobil. Mobil pak Danang langsung pergi meninggalkan sekolahan favorit.
"Van! sepertinya kita terlambat deh, ini sudah jam setengah delapan, berarti kita telat setengah jam." ucap Isabella merasa bersalah "Semua ini karena aku, Van! ma'afkan aku ya, sudah membuat mu susah."
"Sudah Bell, jangan merasa bersalah begitu, nama juga musibah, nanti kita jelaskan ke ibu guru jam pelajaran pertama."
Bella mengangguk pelan.
"Ayok kita masuk! ajak Vana, menarik tangan Isabela. Disaat mereka akan melangkahkan kaki menuju pintu gerbang, yang jaraknya 40 meter dari tempat mereka berdiri. Tiba-tiba ada sebuah mobil SUV berhenti tepat di samping mereka berdua. Pintu mobil terbuka, dan keluar tiga orang pria memakai topeng dari dalam mobil. Melihat gerak gerik tiga orang bertopeng itu mendekati mereka berdua, Vana berteriak "Mau apa kalian! pergiiiii...!! Dengan spontan mereka mengeluarkan sapu tangan dan membekap keduanya dari belakang.
Vana sempat berontak dan menendang pria yang membekap mulutnya, pria itu sempat terjatuh, saat Vana ingin kabur dan berlari ke arah satpam penjaga sekolah. Satu pria lainnya menarik tas punggung Vana dan satu temannya langsung membekap dengan saputangan yang sudah di bius.
Seketika pandangan mata Vana berbayang dan kabur, hingga ia merasakan tubuhnya lemas dan gelap gulita.
Ketiga Pria itu berhasil melumpuhkan Vana dan Isabella tanpa perlawanan lagi. Dengan gerakan cepat, mereka bertiga membopong Vana dan Isabell masuk kedalam mobil. Mobil SUV berwarna putih itu pergi meninggalkan sekolahan favorit.
πππ
@Yuk terus dukung Bunda dengan cara...
πLike
πVote
πGift
πKomen
@Bersambung......ππ