ISTRI PENGGANTI CEO: Season 2

ISTRI PENGGANTI CEO: Season 2
Akhir Dari Segalanya


"Maaf Nyonya bisa kerungan Dr Arman, beliau sedang menunggu disana."


"Baiklah aku akan segera kesana!


"Ibu Andini, Mas Ramon, Dena juga semuanya, aku pamit sebentar keruangan Dr Arman yang menangani operasi Davina."


"Silakan ibu Helena! ujar Andini.


"Ibu aku ikut!


"Dena tidak usah, kau jaga Zevano."


"Zevano ada Mama dan papa juga yang lainnya."


"Aku juga akan ikut! ujar Reno


Helena mengangguk. Mereka bertiga pergi Ke ruangan dokter Arman untuk mengetahui kondisi Davina setelah di operasi.


Mereka bertiga berjalan menyusuri lorong rumah sakit menuju ruangan Dokter Arman.


"Suster aku ingin bicara dengan Dr Arman, tadi ia memanggil ku."


"Baik Nyonya tunggu sebentar."


"Ceklek!


"Maaf Dokter, ada seorang ibu ingin bertemu."


"Silakan masuk!


Diluar ruangan.


"Silakan Nyonya." dengan sopan suster itu mempersilahkan Helena, Delena dan Reno untuk masuk."


"Selamat siang Dr Arman."


"Tuan Reno? Dr Arman beranjak dari duduknya dan menghampiri Reno, mereka saling berjabat tangan "Silakan duduk Tuan, dan Nyonya.


"Sungguh suatu kehormatan Tuan Reno datang ke tempat ini sebagai anak pemilik rumah sakit."


"Aku kesini mengantarkan ibu mertuaku Nyonya Helena untuk mengetahui kondisi Nona Davina."


"Jadi Nyonya Helena ini adalah ibu mertua dari tuan Reno?"


"Iya betul!


"Baiklah kalau begitu aku akan memberi keterangan tentang kondisi Nona Davina." Arman mengambil sebuah file di atas meja kerjanya dan menunjukkan gambar foto Rontgen pada Helena, Reno dan Delena "Ini adalah salah satu pemeriksaan penunjang dan diagnosis di samping pemeriksaan laboratorium. Rontgen ini tidak pernah salah, ini gambar batok kepala Nona Davin yang retak dan mengenai urat syarafnya dan mengakibatkan kelumpuhan."


"Apa? kelumpuhan! Helena terpekik. jatuh sudah airmata Helena.


"Ibu jangan bersedih, aku yang bersalah." Delena memeluk ibunya yang terlihat syok.


"Tidak sayang, kau jangan terus-terusan merasa bersalah, ini udah takdir Davina harus mengalami semua ini." Reno terus memberikan ketenangan pada istrinya.


"Lalu apakah Davina bisa kembali normal paling tidak lumpuhnya bisa sembuh Dok." tanya Helena terharu.


Dokter Arman melepas kacamatanya dan ia menghela nafas dalam "Bukan hanya mengalami kelumpuhan saja bu tapi ia belum sadarkan diri, untuk memulihkan kondisinya tergantung motorik otaknya untuk bekerja, kami terus berusaha tapi semuanya kita kembalikan lagi pada Tuhan.


"Ibu yang sabar ya mungkin ini sudah takdir Davina." Reno mengelus punggung Helena.


"Bolehkah aku melihat anakku."


"Silakan Nyonya."


Mereka bertiga bersama Dr Arman pergi kerungan rawat inap Davina. Helena berjalan ke ranjang Davina sambil menitikkan air mata, kini Davina terbaring tak berdaya dengan selang infus dan alat mesin di sekujur tubuhnya.


"Nak, ibu sudah pasrah apa yang sudah terjadi pada dirimu, semoga kau diberikan kekuatan, maafkanlah ibu yang tidak bisa jadi ibu yang terbaik untuk mu, penyesalan ibu adalah harus berpisah dengan ayahmu dan kau berpisah dari ibu dan Dena.. hiks.. hiks.. andai waktu bisa di ulang kembali aku tidak akan meninggalkan mu bersama Darwin dan Sonya."


ibu tidak usah mengungkit masa lalu lagi, yang terpenting sekarang Kak Davin sudah berada sama kita, semoga Allah mengampuni kak Davin dan ia bisa bertobat, kondisinya seperti ini karena aku yang bersalah, aku sudah membuat saudara kembarku lumpuh! hiks.. hiks...


"Tidak Dena! kau jangan terus merasa bersalah mungkin sudah takdir Davina harus seperti ini." Helena terus memberikan keyakinan pada anaknya.


*****


Seminggu telah berlalu, seluruh keluarga mengantarkan Zevano pulang ke mansion. kini Zevano dan Zevana bisa berkumpul kembali setelah satu minggu lebih berpisah, kini mereka bisa berkumpul kembali.


Setelah mengobrol sebentar Ramon, Andini, Siska dan Tommy berpamitan pulang.


Mama Pulang dulu ya sayang." mencium kedua cucu kembarnya.


"Dena jaga dirimu baik-baik, maafkan mama tidak pernah tahu apa yang sudah terjadi pada dirimu." mereka berpelukan.


"Sudah Mah jangan minta maaf begitu, ini adalah ujian buat kelurga kecil kami."


"Reno titip cucu papah baik baik, jaga kelurga dan ibu mertuamu dengan baik."


"Iya pah, ibu mertua, istri dan anak anak ku sudah menjadi tanggung jawab ku!"


"Bu Helena aku pamit dulu, Terima kasih sudah menjaga kedua cucuku."


"Sama-sama Bu Andini, aku akan selalu menjaga kedua cucuku, karena mereka adalah hidupku." mereka saling berpelukan.


"Tante pulang dulu Reno, Delena, jaga diri kalian baik baik, terutama si kembar mereka masih terlalu kecil untuk mendapat musibah ini, perketat mansion kalian kadang musuh ada di depan kita."


"Iya terima kasih Tante." Delena dan Siska saling berpelukan.


"Terima kasih banyak Tom, kau telah menolong keluargaku, bahkan kau menolong zevano saat jatuh ke kolam, kalau saja waktu itu kau tidak datang entah apa yang terjadi dengan anakku, aku berhutang nyawa padamu."


"Reno kita ini keluarga, sudah seharusnya kita saling membantu bukan? kau tenang saja aku selalu ada untuk kalian berdua, karena Delena sudahku anggap seperti adikku sendiri, sebagaimana tuan Darwin dulu telah mengangkatku menjadi anaknya."


Mata Reno berkaca kaca, mereka saling berangkulan "Tidak salah Papaku menikahkan kau dengan tanteku."


Reno dan Delena mengantar mereka sampai depan teras, hingga mobil mereka hilang dari pandangan.


Didalam kamar Reno sudah merubah seluruh barang barangnya, bahkan ranjang mereka sudah di ganti.


"Mas, Kenapa didalam ruangan ini jadi berubah semua, bahkan panjang ini bukan milik kan?"


"Sayang.." memeluk pinggang istrinya "Aku sengaja merubah semuanya karena aku tidak ingin mengingat kalau Davina pernah berada di kamar ini, bahkan ranjang tidur sudah kubuang dan aku tidak ingin kau trauma, bahkan aku tidak ingin menyentuh barang barang yang pernah ia pegang, Maafkan aku sayang aku lakukan ini untuk kebaikan kita semua.


Delena tersenyum dan membalikkan tubuhnya, memeluk erat suaminya "Mas apapun yang akan kau lakukan aku percaya padamu, semua itu demi kebaikan kita semua, semoga semua ini sudah berakhir dan tidak ada lagi musuh-musuh yang akan terus mengusik keluarga kita."


"Tidak akan sayang, karena Mr Black sudah tertangkap, sekarang ia berada di markas. Setelah Thomas mengembalikan aset milik tante Sisca, aku akan membawanya ke kantor polisi untuk menghukumnya seumur hidup."


Mencium lembut kening Delena "Tidak ada yang bisa memisahkan kita berdua, kau adalah tulang rusukku yang diciptakan Tuhan untuk takdirku, sebanyak apapun mereka ingin memisahkan kita, justru itu adalah kekuatan kita, terus berada disisi ku sampai menua bersama ku."


"Hiks... hiks... iya Mas, aku akan selalu mendampingi mu seumur hidupku, tidak ada yang bisa memisahkan kita berdua, kau adalah milikku seutuhnya."


Sudah jangan menangis lagi." mengusap air mata Delena "Sudah lama kita tidak mandi bersama, maukah kau mandikan suamimu ini?' tersenyum sumringah.


Delena mengangguk cepat dan tersenyum penuh kehangatan.


Reno mengangkat tubuh istrinya dari masuk kedalam kamar mandi.


'


'


'


'


'


'


'


Bersambung......💃💃💃