ISTRI PENGGANTI CEO: Season 2

ISTRI PENGGANTI CEO: Season 2
Cari jalan keluar


"Sekarang di mana dia! Aku ingin melihat wujudnya, bila tidak ada disana berarti benar Anjali datang kemari untuk merusak keluargaku!"


"Baiklah, baik, aku akan menemui Anjali."


Robert meninggalkan ruangannya, ia terus berjalan kesuatu tempat sambil memegang ponsel ditangannya, terlihat sebuah taman luas. Ada seorang gadis ditemani dua orang suster duduk di bangku kayu.


"Ini Anjali.." Robert mengarahkan ponselnya pada wajah Anjali, seketika mata Reno terbelalak sempurna, ia terlihat syok melihat Anjali masih di Bali.


"Sekarang kau sudah percaya bukan?


"Entahlah aku bingung, baiklah Bro aku tutup telponnya. Masih banyak pekerja yang harus aku urus, terimakasih kau masih menjaganya."


"Okeh baiklah, kalau ada apa-apa hubungi aja aku."


klik'


Reno terduduk lemah dikursi, memijit bibirnya yang bervolume. "Aku harus cari tau kebenaran nya, kenapa aku masih ragu ada dua Anjani. Untuk sementara baiklah aku ikuti keputusan istriku, Arneta menggantikan Anita.


****


Waktu terus bergulir, diruangan keluarga Ramon dan Andini sedang berdiskusi tentang kedatangan Justin dan Brian.


"Dimana Fanny?"


"Masih didalam kamar, tadi Mama sudah suruh kesini."


Tak lama Fanny datang dengan raut wajah datar. "Malam Mah, Pah.."


"Fanny kemarilah." Ramon menepuk nepuk sofa di sampingnya. Fanny menurut ia duduk berdampingan dengan Ramon.


"Dua hari lagi Justin dan ayahnya akan berada di Indonesia. Papa harap kau bisa mengenal Justin lebih baik lagi."


Fanny tertunduk sedih, ia sudah tidak bisa apa-apa lagi selain menerima keputusan ayahnya. Fanny males berdebat dengan kedua orangtuanya, apalagi Mamanya ada dipihak Papanya.


"Pah! biar aku mengenal dulu Justin, aku harap Papa dan Mama bijak dalam mengambil suatu keputusan, aku tidak ingin Papa menjodohkan aku dengan Justin."


"Fanny sudah berulang kali Papa bilang! kau sudah dijodohkan oleh kakek Mahesa. Papa pun tidak bisa menolaknya mengertilah! semua ini demi kebaikanmu."


Fanny beranjak dari duduknya "Kalau memang semua ini demi kebaikan ku, biarlah aku menentukan jalan hidupku sendiri pah!


"Sudah berkali-kali Papa berikan kau kesempatn untuk mencari jodoh mu sendiri, tapi Apa? kau selalu gagal dan buat masalah."


"Bisakah Papa jangan selalu menyalahkan aku terus, aku juga ingin hidup bahagia bersama pria pilihanku?!


"Atau jangan-jangan kau sudah memiliki pria lain tanpa sepengetahuan kami berdua?! tanya Ramon penuh selidik.


Fanny benarkah perkataan Papamu? apakah kau sudah memiliki pilihan lain?! alis Andini mengeryit.


Fanny terdiam sejenak, wajahnya tertunduk dalam. akhirnya ia mengangguk pelan.


"Siapa pria itu? tanya Ramon sedikit emosi.


"Dia...fra


"Tuan besar maaf menggangu." ucapan Fanny menggantung tiba tiba pak Amar datang.


"Ada apa?!"


"Ada telpon dari Tuan besar Mahesa."


"Baik!"


"Mah, Papa terima telpon dulu." Ramon beranjak dari duduknya menuju ruangan kerjanya.


"Fanny kau belum makan sejak pulang kuliah, makan lah dulu."


"Iya Mah, aku banyak tugas kampus. Fanny ke kamar dulu."


Fanny merebahkan tubuhnya diatas ranjang, airmata terus menetes dari sudut matanya.


"Frans, mengapa begitu banyak ujian kita. Aku yang salah, sudah melakukan kesalahan di masa lalu. Hingga kedua orangtua ku tidak mau aku melakukan kesalahan kedua kalinya."


Mengambil ponsel dan membuka galeri, terlihat wajah tampan Frans sedang tersenyum kepadanya. "Frans, maafkan aku.. hiks.. aku sangat mencintai mu, karena kesalahan ku dimasa lalu, kedua orangtua ku sudah tidak percaya lagi padaku."


*****


Mansion.


Didalam kamar yang mewah, sepasang suami istri sedang berpelukan, mereka baru saja selesai menghabiskan malam yang panjang. Aktivitas mereka baru selesai subuh dini hari. jam sudah menunjukkan pukul empat.


"Sudah Mas aku lelah, jangan kau tambah lagi hukumannya." Delena merajuk, matanya masih terpejam karena kantuk yang begitu kuat hingga tak berdaya. Tapi dasar suaminya masih tidak pernah puas, ia terus menggerayangi tubuh istrinya. Delena tidak merespon ia malah tertidur karena lelah.


"Sayang, kalau kau tidur akan ku tambah hukumannya.


"Dasar macan memang nggak ada puasnya." celetuk Delena kesal.


"Apa kau bilang? kau panggil Mas macan!"


"Nggak ada sayang? mungkin kau salah dengar." Delena tersenyum manis walau matanya masih terpejam.


"Hammmppp...


Setelah Reno puas bermain, ia membaringkan tubuhnya disamping istrinya. Kembali memeluk Delena erat dalam dekapan hangatnya.


Matahari menyinari bumi semenjak tadi, sinarnya masuk melalui celah jendela. hawa panas diluar sana begitu menyengat, membuat orang malas untuk keluar rumah.


Delena melepas pelukan suaminya, membuka mata perlahan, menoleh pada jam weker di sampingnya, matanya dikejutkan oleh angka jam. "Ya Tuhan Mas, sudah jam setengah dua belas?!


"Ya sudah sayang, Mas lelah. Kau hubungi saja Frans aku tidak masuk hari ini. suruh Frans teruskan pekerjaan ku, datanya ada di laptop. ujarnya sambil memejamkan mata.


Delena menarik nafas dalam-dalam, mengambil ponsel diatas nakas dan menghubungi frans.


"Siang Nona."


"Frans kau berada di mana?


"Diruangan ku Nona."


"Hari ini Mas Reno tidak masuk kantor, tolong selesaikan tugas Mas Reno, semua datanya masih berada di laptop."


"Baik Nona."


"Frans tunggu!


"Iya Nona?"


"Apa wanita Pengganti Anita sudah berada di sana?


"Tadi aku lewat tidak bertemu dengannya. tapi sepertinya ia sudah datang, mungkin sedang ketoilet."


"Kau pasti kaget melihat Pengganti sekertaris Anita?'


"Maksud Nona? Frans sedikit mengeryit.


"Kau lihat saja sendri. Oke frans terima kasih, selamat bekerja."


Frans dibuat penasaran oleh Delena, ia merapikan semua berkas diatas meja kerjanya. berjalan keluar menuju ruangan Reno. Frans melihat sekertaris baru Reno sedang duduk dikursi sambil menulis diatas meja, wajahnya tertutup rambut panjangnya.


"Selamat siang Nona, maaf apa kau sudah membuat jadwal meeting siang ini." ujar frans berdiri di meja kerjanya.


"Sedang ku buat Tuan..!"


Wajah Arneta terangkat, menatap frans dan tersenyum manis.


"Anjalii!! Pekik Frans, membelalakan bola matanya.


"Maaf Tuan, perkenalkan saya Arneta." wanita itu mengulurkan tangannya pada frans, sungguh frans terlihat kaget dan tercengang.


"Tuan apa ada yang salah dengan ku? tanya Arneta penasaran.


"Tidak ada, teruskan tugasmu."


Frans buru buru beranjak dari tempat Arneta dan berjalan masuk kedalam ruangan Reno.


"Gila! apa aku tidak salah lihat? atau mataku yang bermasalah? Frans mendudukan tubuhnya dikursi presdir.


"Apa Tuan Reno tidak salah, pekerjakan Anjali? bagaimana dengan perasaan Nona Delena? heh' bukanya tadi dia bilang bernama Arneta? apa mungkin dia bukan Anjali? Frans membuka laptop, otaknya masih terus berpikir tentang anjali.


Disisi lain, fanny sudah sampai di gedung perkantoran milik Reno, ia memarkirkan mobil nya dengan terburu-buru.


"Aku harus menemui kak Reno, semoga kak Reno bisa bicara pada Mama dan Papa kalau pria yang kucintai adalah Frans.


Fanny masuk kedalam gedung dan berjalan menuju pintu lift, semua karyawan yang mengenal fanny membungkuk saat berpapasan dengannya.


Pintu lift terbuka, Fanny masuk kedalam ruangan kotak sempit itu, hatinya dipenuhi ribuan pertanyaan, apakah kakany Reno akan membantunya dan memperjuangkan cintanya pada Frans.


Ting!


Pintu lift terbuka, ia keluar dari sana dan berjalan menuju ruangan Reno. fanny terus berjalan tanpa pedulikan sekertaris Reno.


"Siang Nona, maaf anda ingin bertemu siapa? kalau ingin bertemu Presdir harus ada janjian pertemuan dulu!" ujarnya panjng lebar.


Langkah Fanny terhenti, Ia masih berdiri menyamping tanpa menoleh pada Sekertaris barunya.


"Anita! kau sedang bersandiwara atau pura pura bodoh! apa kau pikir wajahku operasi plastik sampai kau tidak mengenal diriku? menoleh kearah wanita yang ia pikir adalah Anita. mata keduanya saling bersitatap dan Fanny langsung tergagap dengan mata melebar.


"Kak An-ja-liiii...


'


'


'


'


'


'


Bersambung......