ISTRI PENGGANTI CEO: Season 2

ISTRI PENGGANTI CEO: Season 2
Istri Posesif


Didalam kamar fanny yang sedang merenung lngsung kaget mendengar suara pelayan yang mengatakan ada Frans datang.


"Tidak! aku sudah tidak ingin menemuinya lagi, kau sudah begitu dalam menyakiti ku Frans"


"Bilang padanya mba!! aku tidak ingin bertemu dengannya lagi!


"Tapi Nona Tuan tetap ingin ketemu?"


"Usir dia mba! aku tidak sudi melihatnya lagi!


"Baik Nona"


Tring,, tring,,, tring,,,


"Siapa yang menelpon ku? kenapa tidak ada namanya" fanny menerima panggilan itu.


"Hallo,,,"


"Fan, ini aku frans, tolong jangan kau matikan teleponnya?!


"Untuk apa kau telpon aku frans! aku sudah bilang padamu tadi, kalau aku sudah tidak ingin melihat mu!"


Tut!


"Fanny kenapa telponnya kau matikan, sebenci itu kah kau padaku?


Frans mencoba menelpon lagi tapi telpon sudah tidak aktif kembali, frans menghela nafas berat ia hanya bisa pasrah dan terus menunggu di bawah teras sambil menatap kamar fanny dari bawah.


"Fan, temui aku sebentar agar aku bisa pulang dengan tenang, saat Frans mendongak ke atas lampu kamar Fanny sudah padam, jam sudah menunjukkan pukul 12 malam frans masih terus berdiri di bawah jendela fanny, hingga jam sudah menunjukkan pukul dua dini hari.


"Baiklah fanny bila kau masih marah padaku, semoga kau maafkan aku"


Frans memutar balik tubuhnya dan melangkah pergi meninggalkan teras, ia berjalan kearah gerbang pintu, dar dalam kamar Fanny berdiri ia membuka gorden jendela sambil menatap kepergian Frans.


"Maafkan aku Frans terpaksa melakukan ini, hatiku begitu sakit melihati kau bersama Riska"


*****


"Sayang... ayo bangun" mencium kening istrinya


"Mas sudah bangun? ahh.. maaf aku bangun kesiangan"


"Tidak apa-apa sayang, pasti kau lelah melayani suami mu semalam" merapikan anak rambut Delena dan menyelipkannya di telinga.


"Mas sudah rapih, apakah sudah mulai masuk kerja?"


"Iya sayang, hari ini ada presentasi sama clien' Frans sedang sakit dua hari ia tidak masuk kantor"


Delena beranjak dari ranjang dan merapikan dasi suaminya "Mas kapan aku mulai bekerja di kantor papa?"


"Kau kan belum sembuh total yank, masih harus terapi untuk memulihkan kondisi tubuh mu dan nutrisi pada otakmu"


"Jadi mas berpikir, aku ini istri yang bodoh"


"Yang bilang istri mas bodoh siapa?" kan mas bilang harus memulihkan kondisi mu, bekerja dikantor itu menguras tenaga, emosi dan otak yank, kau tidak usah khawatir ada Tommy asisten Papa mu yang meneruskan pekerjaan Papa mu Darwin tentu dengan pengawasan mas"


Nadine tersenyum dan memeluk tubuh Reno.


"Hmmm,, istri mas sudah mulai manja"


"Kok aku kaya gak rela gitu mas jauh dariku, aku ingin mas terus ada disamping ku, ngobrol berdua, bercanda bersama si kembar, jalan jalan mengitari mansion, main ke danau, tapi sekarang mas sudah mulai bekerja" rengek Delena mngerucut kan bibirnya.


"Haiii,," menarik hidung mancung Delena "Kalau Mas gak bekerja lagi siapa yang akan membahagiakan mu, memberi karyawan gajih, mereka juga butuh biaya untuk hidup"


"Iya Mas aku paham, kalau sudah bekerja mas suka lupa diri kadang pulang larut malam"


"Sayang, sudah hampir Lima bulan mas gak masuk kantor, semua pekerjaan Mas limpahkan pada frans, frans juga butuh istirahat, tapi mas janji akan membagi waktu untuk mu dan si kembar, Mas nggak setiap hari masuk kantor ko, kalau urusan mendesak baru masuk"


"Benarkah mas" Delena mngangkat wajahnya, melihat rahang tegas Reno yang trlihat sempurna "Suamiku memang sangat tampan dan gagah, ahh.. aku begitu tidak rela bila ada wanita mendekatinya" bahin Delena menatap lekat wajah suaminya.


Reno tersenyum sumringah.


"Apa yang sedang kau pikirkan sayang? apakah kau mau bilang suamimu ini tampan? perkasa diatas ranjang..? ya.. ya.. pasti begitu kata hatimu bukan"


"Ish kenapa ia bisa tau sih isi hatiku" gerutu hati Delena.


"Percaya dirimu terlalu tinggi Mas, tapi aku akui Suamiku itu seorang Ceo yang tampan dah maha sempurna di mataku, makanya aku tidak ingin jauh darimu Mas..."


"Hahahaha..." Reno tergelak "Akhirnya istriku mengakuinya, tentu saja sayang aku juga tidak ingin jauh darimu, karena cintaku sudah habis untukmu" Reno mencium bibir Delena, mereka berciuman mesra.


"Kenapa istriku begitu menggoda, kau lebih bernafsu dari pada aku Sayang"


"Tentu saja aku ingin memberikan pelayanan yang terbaik untuk suamiku, karena saingan ku banyak wanita luar disana, apalagi di kantor mu Mas, banyak setan betina bersepatu high heels!"


Reno tergelak lagi "Sekarang istriku sudah mulai posesif dan curiga pada suaminya" Reno tersenyum puas.


"Sudah lah aku mau mandi dulu, baru kita sarapan bersama"


"Iya sayang, apa perlu mas mandikan?"


"Tidak usah, mas kan sudah pakai baju kerja, mas tunggu saja dibawah"


"Kenapa istriku jadi garang begitu? ada apa dengan dirinya? ia tidak seperti Delena yang lembut dan banyak mengalah, Delena sekarang lebih agresif dan posesif walau sifat manjanya tidak pernah hilang, apa karena ia pernah mengalami koma jadi terbentuk dirinya menjadi wanita yang kuat dan tidak lemah, tapi walau kau sedikit berubah aku tetap mencintai mu Delena" Reno tersenyum sumringah sambil berjalan keluar kamar.


*****


Di ruangan meja makan semua sudah berkumpul, Reno menyuapi kedua anak kembar nya dibantu baby sister sambil bersenda gurau, helena menaruh hidangan diatas meja.


"Dimana Delena?"


"Dia masih mandi bu"


"Ahh.. kenapa dia sekarang sering bangun siang, malah suaminya lebih dulu bangun" helena geleng-geleng kepala.


"Aku disini ibu"


Suara Delena menggema sambil berjalan menuruni anak tangga, ia menarik salah satu kursi dan duduk disamping Reno


"Hallo sayang mommy" Delena mencium kedua si kembar bergantian.


"Haii.. Mba apa yang kau lihat dari wajah suamiku?"


Baby sister itu tertunduk malu saat kepergok oleh majikannya "Ahh maaf nyonya tidak ada"


"Ya sudah bawa Devano dan Denis bermain"


Kedua suster itu mengambil si kembar dari pangkuan Reno.


"Mas kan sudah menyuapi Devano dan Denis bukan? sekarang gantian aku yang akan menyuapi mas"


"Sayang,, kau ini seperti anak kecil saja"


"No,, no.. kau tidak boleh membantah"


"Ibu, apakah ibu sudah makan?


Helena menggeleng sambil menatap anaknya yang terlewat posesif.


"Ibu Ayo makan bersama, aku tidak ingin ibu sakit"


Delena mengambil piring dan menaruh beberapa lauk serta sayur, ia mulai menyendok nasi dan menyodorkan kebibir Reno.


"Sayang mulai sekarang, kau tidak usah makan siang diluar, setiap hari bila kau di kantor aku sendiri yang akan mengantarkan untuk suamiku"


"Apa tidak akan merepotkan mu yank?"


"Apa mas tidak ingin aku datang ke kantor mas, atau biar mas bisa bebas dengan karyawan wanita dikantor mas?!"


"Delena, kenapa kau securiga itu dengan Reno? tidak mungkin Reno seperti itu" kata helena memperingati.


"Ibu sayang, sekarang ini zaman nya pelakor! aku sebagai istri seorang Ceo harus waspada jangan sampai kecolongan, ibaratnya sedia payung sebelum hujan"


Reno terbahak "Pikiran mu sudah traveling Kemana mana yank, aku tidak akan tergoda dengan wanita manapun selain dirimu"


"Mas jangan yakin dulu, sekarang mas bisa bilang begitu, tapi mana tau nantinya" ucap delena sambil memberikan suapan terakhir.


"Kau tidak makan yank"


"Aku akan makan selesai suamiku makan"


"Cup! Reno mencium kening Delena. "Kau memang istri terbaik"


"Aku berangkat dulu yank"


"Iya Mas, hati hati dijalan" Delena mencium punggung tangan suaminya, yang disambut pelukan hangat Reno.


"Bu.. aku berangkat kerja dulu"


"Iya Reno, hati hati dijalan.


Delena mengantar Reno sampai depan pintu mansion.



'


'


'


'


'


BERSAMBUNG 😍


jangan lupa untuk


LIKE, VOTE/ GIFT, RATE BINTANG 5, SERTAKAN KOMENTAR MU.