ISTRI PENGGANTI CEO: Season 2

ISTRI PENGGANTI CEO: Season 2
Aroma Pelakor


"Ampun Reno! sudah cukup ampun! teriak Thomas dengan suara tercekat, saat terdengar suara Thomas minta ampun baru Reno menghentikan pukulannya.


Nafas Reno tersengal-sengal, ia sedang meluapkan segala amarah dan emosinya.


"Aku sudah pernah mengatakan padamu berulang kali! menyerah sebelum macan bangun dari tidurnya!


Reno mengikat erat kedua tangan Thomas.


"Saat itulah orang-orang Ninja bayangan datang. "Tuan kami sudah menghabisi mereka semua!


"Bagus! bawa orang ini ke markas bersama kita, dan malam ini juga kita ke Jakarta!


"Baik Tuan!


Reno bersama orang-orangnya dan juga Thomas, berangkat menuju Jakarta menggunakan pesawat pribadi milik Reno.


Pesawat sudah mendarat dengan sempurna di bandara. Reno turun dari pesawat. sebelum masuk kedalam mobil, Reno berbicara pada orang kepercayaan nya.


"Joe! bawa Thomas ke markas kita, ingat! jangan sampai lepas, perketat penjagaan untuk pria sialan itu! jangan biarkan ia lolos lagi untuk kesekian kalinya.


"kenapa tidak kita langsung habisi saja pria Amerika itu, bos!"


"Tidak! aku masih ingin dia hidup, keluarga ku masih membutuhkannya dia untuk mengembalikan aset milik keluarga Mahesa, terutama perhotelan di Bali milik tanteku, Thomas harus mengembalikannya kepada keluargaku."


"Aku pastikan lagi, jangan biarkan ia bunuh diri, aku akan kehilangan informasi darinya!"


"Baik bos! kami berangkat ke markas!"


Reno mengangguk. Setelah berbicara Reno masuk ke dalam mobil, dalam perjalanan menuju mansion ia begitu kangen dan rindu pada istrinya Delena."


"Delena aku sangat merindukanmu, rasanya aku tak bisa jauh darimu lagi, apa aku nelpon saja Delena, dan mengatakan kalau aku sudah arah pulang ? saat ingin menelpon Reno berubah pikiran. "Tidak, sengaja aku tidak menelpon, aku ingin memberikannya kejutan." Reno tersenyum simpul.


Sementara malam itu Davina tidak bisa tidur, kebiasaan dia setiap malam berada di bar saat tinggal di Amerika, karena itu adalah salah satu pekerjaannya disana, Davina pemilik saham terbesar di Bar dan casino di Amerika bersama tiga orang temannya. sebenarnya ia terbilang sukses bersama teman temannya membuka bisnis Bar, dan meraup banyak keuntungan, tapi dua temannya berkhianat setelah mendapat hasil dari usaha itu, mereka kabur membawa uang Davina dan meninggalkan banyak hutang, karena tidak bisa menutupi hutang temannya yang mencapai 100 Milyar, Davina menjual Bar dan casino nya, akhirnya ia menjadi jatuh miskin.


karena sifat iri dan egois Davina, ia ingin merebut segalanya dari Delena dan menghalalkan segala cara, kini ia sudah berada di Jakarta dan tinggal di rumah mewah Davina. sebenarnya ia merasa bosan dan jenuh, untuk menghilangkan kejuhan nya seringkali Davina membawa minuman kedalam kamar, tapi ia sadar tidak bisa sembarang membawa minuman alkohol itu kedalam kamar karena ia takut tiba-tiba Reno datang dan melihat tumpukan botol bir, ia berusaha tampil menjadi wanita baik dan sempurna, bekas botol minum itu langsung ia buang tanpa orang lain tahu. Davina berdiri diatas balkon sambil menghisap rokok di tangannya, kebulan asap tebal yang dihisap dari bibir seksinya, mengepul mengitari didepan wajahnya, ia terperanjat kaget saat melihat mobil Reno sudah masuk ke dalam mansion.


"What! Reno sudah pulang?! Davina tampak panik, buru-buru rokok itu ia matikan dan ia lempar ke bawah, sementara ia berlari ke dalam kamar mandi, mengambil pakaian lingerie di dalam lemari berwarna merah maroon untuk dia pakai saat bertemu dengan Reno. didalam kamar mandi Devina menggosok gigi, ritual terakhir menyemprotkan mulutnya dengan formula cair dan berhias menggunakan lipstik merah. setelah lingerie nya terpasang di tubuh seksinya, Davina memakai parfum milik Delena dan menyemprotkan di seluruh tubuhnya.


"Reno kau sudah pulang?" tanya Helena yang sudah berdiri di depan pintu.


"Iya Bu..? ibu kenapa bangun? ini sudah jam setengah empat."


"Tadi ibu terbangun saat mendengar suara mobil, ternyata benar dugaan ibu kau yang pulang."


"Ya sudah, aku mau ke kamar dulu bu."


Reno berjalan kearah lift, setelah berada di depan kamar, ia membuka pintu.


Ceklek!


"Sayang..."


Reno mengedarkan pandangannya mencari sosok istrinya.


"Mas Reno? kau sudah pulang? Davina masuk dari balkon dengan senyum sumringah."


Reno tampak terkejut, ia mengerutkan alisnya dan menatap Davina dari atas sampai bawah dengan memakai lingerie "Kenapa jam segini kau berada didepan balkon? dengan pakaian tipis itu? aku takut kau masuk angin."


Devina salah tingkah "Bukan begitu mas, aku menunggumu dan berharap kalau kau akan pulang hari ini." Davina langsung masuk kedalam pelukan Reno dengan kedua tangan memegang erat pinggangnya, menyandarkan kepala di dada bidang Reno.


"Darimana kau yakin, kalau aku akan pulang hari ini..?!


Mendongakkan wajahnya, menatap mata Reno dan kedua mata itu saling bersitatap, Davina tetap tersenyum "Karena itu adalah insting seorang Istri."


Reno mencium aroma parfum kesukaan istrinya, ia terhanyut dalam buaian jemari lentik tangan nakal Davina yang bermain di dadanya, Reno tak tahan dengan pesona istrinya malam itu walau sebenarnya ada keanehan yang ia rasakan. Seperti kebiasaan Reno sebelum berciuman dengan istrinya ia pasti mengigit kecil leher Davina sampai istrinya mendesah dan menggeliat, tangan Reno menarik rambut panjang istrinya kesamping hingga terlihat kulit putih dan leher jenjang yang menggoda, Reno mulai ingin memberikan sentuhan kecil seperti yang biasa ia lakukan, saat bibirnya ingin menyentuh leher itu, tiba tiba ia melihat kejanggalan di punggung belakang leher Davina, ada bekas seperti tato yang sudah dibersihkan tapi tetap masih terlihat bekasnya, Reno seorang pengamat yang baik karena ia seorang mafia kelas Asia, dulunya di sebelah bahu kanannya ia pernah membuat tato bergambar Naga hitam, tapi setelah menikah dengn Delena, dan istrinya meminta untuk menghapus tato itu, Reno berani membuang tato itu demi istrinya yang sangat ia cintai.


Reno sangat tau tiap inci tubuh istrinya, dari ujung rambut sampai kaki, tubuh Delena sangat mulus dan bersih tanpa ada noda apalagi goresan sedikitpun, Reno mulai curiga ia mengangkat wajahnya dan melepas kedua btangan Davina dari pinggangnya.


"Reno ada apa? menatap dalam mata hitam itu.


Reno berusaha tersenyum dan berbicara seperti biasanya "Aku sangat lelah, seharian di Bali aku tidak mandi aku ingin bersih-bersih dulu!" Reno pergi begitu saja meninggalkan Davina, ia masuk kedalam kamar mandi.


"Ada apa dengan Delena, kenapa aku merasa dia bukan Delena? istriku tidak memiliki bekas luka tato, atau jangan jangan dia Davina?! mata Reno terbelalak, seakan ia tak percaya dengan ucapannya sendiri, "kalau wanita itu adalah Davina lalu dimana istriku? apa maksudnya dari semua ini? tubuh Reno bergetar dan nafasnya memburu, keringat jagung keluar dari pori-pori tubuhnya, "Tidak! aku tidak boleh mencurigai nya sekarang, aku harus tenang dan tidak boleh gegabah, kalau dia memang Davina yang menyamar jadi istriku pasti tidak memiliki tahi lalat di telinga belakang sebelah kanan. Aku harus membuktikannya sendiri agar aku yakin.'


"Tik, tok, tok...


"Mas, apa masih lama didalam kamar mandi?


"Iya ini sudah selesai!


Reno keluar dari kamar mandi dengan rambut basah dan memakai kimono, lalu ia duduk di pinggir ranjang.


"Mas apa mau aku pijitkan? tawar Davina.


"Tidak perlu, aku mau langsung tidur, aku sangat lelah."


Davina duduk di samping Reno, saat itulah kesempatan Reno untuk membuktikan keraguannya, ia mendekat pada Davina kedua tangannya menyentuh pipinya, Davina tersenyum ia menutup matanya mengira Reno akan mencium nya. Dari pipi, tangan itu meraba ke daun telinganya, jantung Reno berdebar kencang saat tidak menemukan tahi lalat milik istrinya di daun telinga Davina. ia langsung melepas tangannya.


"Kenapa sayang?" Davina membuka mata.


Reno merubah ekspresinya yang terlihat tegang menjadi datar kembali. "Tidak apa-apa sayang, tidurlah sudah mau subuh."


"Aku ingin tidur bersama mu." bergelayut manja di pundak Reno.


"Aku buatkan susu ya, kau selalu minum susu sebelum tidur."


"Tapi mas aku....?


"Tidak, Reno tidak boleh curiga kalau aku tidak suka susu." batinnya.


"Iya mas."


Reno berjalan ke meja, khusus untuk menaruh dispenser dan gelas yang berada di dalam kamar, Reno membuat susu dan memasukkan dua butir obat tidur kedalam susu itu, lalu mengaduknya sampai larut.


"Ini minumlah, tidak terlalu panas, aku membuatnya hangat biar bisa langsung di minum." tersenyum manis.


Davina menerima gelas itu, dia meminumnya perlahan, sebenarnya ia sangat enek dan mual, tapi Reno terus memaksa.


"Cepat habiskan!


"Tapi aku mual mas!"


"Sialan ini pemaksaan! gerutu Davina dalam hati.


Susu ditangan Davina habis juga, tiba tiba tubuhnya terasa lemas, matanya gelap dan berkunang kunang, Reno mengambil gelas itu, dan Davina langsung jatuh keatas kasur.


"Hah! akhirnya kau pingsan juga, dasar ular berani kau menukar dirimu dengan istri ku! dimana Delena sekarang, aku harus menghubungi orang orang ku!


Reno berjalan keluar kamar menuju ruangan kerjanya.


'


'


'


'


'


'


'


'


'


@Bersambung......