BODYGUARD DADAKAN

BODYGUARD DADAKAN
Makan Malam


Hari sudah menjelang sore saat akhirnya Amira dan tuan Sam keluar dari kamar mereka. Bahkan si kembar sudah terbangun dan sedang bermain dengan Sandra dan Dave. Amira tampak sangat malu karena ulah suaminya membuat ia merasa telah mengabaikan kedua putranya hingga harus merepotkan Sandra dan juga Dave membuatnya melirik tajam ke arah tuan Sam.


"Kenapa? toh karena kita tak keluar akhirnya mereka jadi bersatu... lihat saja!" ujar tuan Sam tanpa rasa bersalah sambil menunjuk kearah Dave dan Sandra dengan dagunya yang memang terlihat mesra dengan duduk berdampingan dengan tangan yang saling bertautan sambil mengawasi si kembar. Jika dilihat mereka seperti sepasang orangtua yang sedang memgawasi anaknya bermain.


"Ehem... maaf sudah merepotkan kalian..." ucap Amira saat sudah berada di depan keduanya.


"Ga pa-pa kok Ra... kamu pasti capek karena tadi kita sudah seharian berkeliling" sahut Sandra polos.


Amira yang tengah menahan rasa tidak enak dan malunya pada Sandra dan Dave membuat wajahnya terlihat memerah. Sedangkan tuan Sam sang tersangka pembuat semua masalah malah terlihat tenang. Lain lagi dengan Dave, ia hanya tersenyum simpul dengan tingkah Amira dan Sandra yang sebelas dua belas.


"Sam hari sudah sore jadi aku pulang dulu ya... " kata Dave memecah kecanggungan Amira.


"Kau tidak makan malam sekalian saja disini Dave?" tanya tuan Sam.


"Iya... makan malam disini saja..." sambung Amira yang sengaja memberi kesempatan pada Dave dan Sandra.


"Baiklah asal itu tidak merepotkan kalian..."


"Tentu saja tidak..." ucap Amira.


"Ayo San San kita mandikan Sahir dan Samir dulu... baru kita memasak makan malam..."


"Iya Ra..." sahut Sandra.


Kedua wanita itu pun lalu memandikan si kembar baru kemudian mereka memasak makan malam seadanya sebab seharian keduanya tak ada di rumah. Selesai memasak Amira dan Sandra membersihkan diri mereka. Sedangkan tuan Sam dan Dave juga sudah mandi dan berganti pakaian. Dave mengenakan pakaian tuan Sam yang kebetulan seukuran dengannya.


Selesai makan malam tuan Sam dan Dave berbincang sejenak sementara Amira tampak berusaha menidurkan kedua putranya yang tak mau berhenti untuk bermain. Meski Sandra sudah berusaha membantunya dengan ikut membujuk keduanya namun sia-sia. Barulah saat tuan Sam menghampiri keduanya, Sahir dan Samir akhirnya mau juga diantar tidur asal ditemani ayah dan juga bundanya.


Alhasil Dave dan Sandra pun kembali ditinggal berdua di ruang keluarga. Walau tadi keduanya sudah terlihat akrab namun kembali berdua dalam satu ruangan membuat keduanya kembali merasa canggung. Keduanya tampak terdiam tak tahu harus berkata apa. Setelah beberapa saat akhirnya Dave pun membuka suaranya.


"San San... bagaimana jika Sabtu besok kita makan malam sekaligus memperkenalkanmu dengan keluargaku?" tanya Dave.


"Hah? kenapa cepat sekali Dave?" ungkap Sandra yang tak menyangka akan secepat itu diajak Dave untuk diperkenalkan dengan keluarganya.


"Bukankah lebih cepat lebih baik San San... jadi kita bisa segera menikah..." sahut Dave sambil membelai wajah Sandra yang terlihat cemas.


"Tapi Dave... bagaimana jika keluargamu tak menyukaiku? apa lagi statusku..." kata Sandra tercekat.


Ia sadar dengan statusnya yang seorang biasa saja membuatnya sulit percaya jika orangtua dan keluarga Dave yang lainnya akan menyetujuinya menikah dengan Dave. Apa lagi ditambah ia yang seorang janda meski masih perawan. Tapi Dave dan keluarganya kan tak tahu...


"Kau jangan rendah diri begitu San San... keluargaku tidak pernah memandang seseorang dari status atau pun kekayaannya..." terang Dave berusaha menenangkan Sandra.


"Dan aku yakin begitu mereka mengenalmu mereka akan langsung menyukaimu sama seperti aku dulu yang langsung jatuh hati padamu..." sambung Dave tersenyum.


"Baiklah... aku bersedia Dave..." jawab Sandra akhirnya.


Meski dalam hatinya masih ragu akan penerimaam dari keluarga Dave, namun Sandra merasa tak ada salahnya mencoba toh mungkin saja mereka tak seperti yang ia takutkan. Dave tersenyum senang mendengar jawaban Sandra yang mau makan malam dengan keluarganya.


Saat itulah Amira dan tuan Sam kekuar dari kamar si kembar. Rupanya kedua bocah itu sudah tertidur karena ditemani kedua orangtuanya. Ketika keduanya ikut duduk bersama Dave dan Sandra, Dave pun mengungkapkan keinginannya mengajak Sandra makan malam bersama kekuarganya. Amira dan tuan Sam pun tak keberatan Dave mengajak Sandra asal mereka tak pulang terlalu malam. Bukan apa-apa tuan Sam merasa Sandra sudah seperti adiknya sendiri yang harus ia jaga dan pertanggungjawabkan pada pak Dahlan jika terjadi sesuatu padanya selama di London. Sandra terharu dengan perhatian Amira dan juga tuan Sam yang selalu menjaga dan sudah menganggapnya saudara. Amira langsung memeluk sahabatnya itu. Ia tahu perasaan yang kini Sandra rasakan.


Tak terasa hari itu pun tiba...


Sandra tengah mematut dirinya di depan cermin ketika terdengar ketukan di pintu kamarnya. Setelah dipersilahkan masuk tampak Amira menghampiri sahabatnya itu.


"Kamu cantik sekali San San..." ungkap Amira sambil menatap sahabatnya itu.


"Terima kasih Ra..." sahut Sandra setelah menghadap Amira yang duduk di tepi tempat tidur Sandra.


"Kau jangan takut San San... dari cerita Db aku yakin keluarga Dave adalah orang-orang baik yang tidak akan membedakan orang dengan status dan juga harta" ucap Amira memberi semangat pada Sandra.


"Iya Ra..." sahut Sandra sambil tersenyum berusaha menutupi rasa gugupnya.


"Bukan hanya kamu Ra yang merasa bersalah pada abah... aku juga..." sahut Sandra.


"Aku merasa gagal sebagai anak karena sudah membuat malu karena hanya dalam hitungan jam aku sudah berstatus janda..." sambungnya.


"Hemm... sudah jangan sedih lagi... sekarang kamu harus tampil ceria karena sebentar lagi kamu akan bertemu dengan keluarga Dave... ingat San San, jangan minder... kau juga sangat berharga hanya orang bodoj yang menganggapmu rendah" ucap Amira.


Mereka pun saling berpelukan. Kemudian mereka pun keluar dari kamar Sandra terlihat Dave sudah datang dan menunggu di ruang tamu ditemani tuan Sam dan duo bocil. Setelah berpamitan pada tuan Sam dan Amira juga si kembar Sandra dan Dave pun segera pergi ke rumah kedua orangtua Dave. Selama perjalanan di dalam mobil tampak Sandra semakin gugup. Dave yang melihatnya pun menghentikan mobilnya sebentar dinpinggir jalan tak jauh dari rumahnya.


"Kau tidak usah takut San San... ada aku disampingmu... disana aku tidak akan meninggalkanmu sendirian... dan yakinlah keluargaku bukan monster yang perlu kau takuti" gurau Dave mencoba membuat Sandra rileks.


Sandra pun tersenyum barulah Dave melajukan kembali mobilnya menuju ke rumah orangtuanya. Saat sampai di rumah Dave tampak rumah itu sangat megah dan ramai seperti tengah mengadakan pesta. Namun ia salah karena ternyata mereka semua adalah keluarga Dave yang sengaja datang untuk ikut makan malam. Dave yang dulu jarang datang karena sibuk dengan dunianya sendiri sejak menjadi mualaf sering menghabiskan waktu dengan keluarga besarnya meski mereka sudah berbeda keyakinan.


Sambutan keluarga Dave pun sangat hangat pada Sandra membuatnya langsung merasa nyaman bersama mereka. Bahkan sepupu Dave yang juga mualaf sudah bisa akrab dengan Sandra karena sama-sama wanita dan usia mereka yang tak jauh beda. Bahkan orangtua Dave sudah meminta Sandra untuk memanggil mereka dengan sebutan mama dan papa karena ternyata sebelumnya Dave sudah menceritakan tentang Sandra terlebih dahulu pada kedua orangtuanya.


Dave juga tidak menutupi status Sandra yang seorang janda. Dan seperti yang sudah Dave duga kedua orantuanya sama sekali tidak keberatan dengan status Sandra yang janda. Bagi mereka perubahan Dave yang kini lebih kalem dan dekat dengan keluarga sudah menunjukkan jika Sandra memberi pengaruh baik bagi putra mereka. Ya Dave juga menenceritakan tentang awal pertemuan keduanya hingga Dave jatuh hati pada Sandra.


Keakraban Sandra dan keluarga Dave terlihat nyata meski ada kendala bahasa namun itu semua tak mengurangi keakraban yang sudah tercipta.


"Tolong jaga putra kami dan selalu bimbing dia agar tak kembali seperti dulu... kami percaya padamu..." ucap mama Dave saat Sandra berpamitan untuk pulang.


Sandra yang saat berbicara selalu menggunakan mode translate pada ponselnya dan selalu ia dibawa pun mengangguk mengerti.


"I'll try mom..." sahut Sandra yang langsung mendapat pelukan hangat dari Clayre mama Dave.


"Thank you dear..." bisik mama Clayre.


Sandra pun mengangguk sambil tersenyum pada mama Clayre setelah itu ia diantar oleh Dave untuk pulang ke apartemen tuan Sam.


"Bagaimana? apa sekarang kau masih takut pada keluargaku?" tanya Dave saat keduanya sudah berada di dalam mobil.


"Tidak... seperti katamu... mereka sangat baik dan mau menerimaku apa adanya..." sahut Sandra sambil tersenyum pada Dave.


"Syukurlah..." kata Dave sambil menggenggam tangan Sandra dengan satu tangannya sedang yang lain masih memegang stir kemudi.


Sandra yang khawatir menyuruh Dave untuk melepas genggamannya agar ia dapat mengemudi dengan benar namun pria bermata biru itu malah keras kepala dan menolaknya membuat Sandra pun pasrah selama perjalanan pulang tangan mereka saling menggenggam. Sampai di depan pintu apartemen tuan Sam tampak Dave seakan tidak rela membiarkan Sandra masuk ke dalam.


"Kenapa?" tanya Sandra saat Dave tidak juga melepaskan tangannya untuk masuk ke dalam apartemen.


"Aku masih ingin bersamamu..." rengek Dave yang mirip anak kecil.


"Tapi ini sudah terlalu malam Dave... aku tidak enak dengan Amira dan kak Sam..." sahut Sandra.


"Kalau begitu beri aku hadiah agar bisa tenang..." ucap Dave lirih sambil mendekatkan wajahnya pada Sandra.


"A... apa... maumu..." kalimat terbata Sandra pun terputus saat bibir Dave sudah menempel sempurna di bibir Sandra.


Sandra yang semula terdiam karena terkejut pun akhirnya mau membalas ciuman dari Dave. Untuk sesaat keduanya saling m****s*p hingga akhirnya saling melepaskan setelah kehabisan oksigen. Keduanya saling menatap dengan nafas yang masih memburu. Dave pun mengusap dengan lembut bibir Sandra yang sedikit basah.


"Selamat malam San San... mimpi yang indah dan pastikan aku juga berada didalamnya... assalamualaikum...." ucapnya lembut sebagai salam perpisahan.


"Waalaikum salaam..." sahut Sandra.


Kemudian Sandra pun masuk ke dalam apartemen tuan Sam yang sudah terlihat sepi dengan lampu yang sudah berganti temaram.


"Sepertinya semua orang sudah tertidur..." batin Sandra sambil melangkah pelan menuju kamarnya.


Sesampainya di dalam kamar Sandra langsung kenjatuhkan tubuhnya diatas tempat tidur. Matanya masih terbuka lebar dan tak merasakan kantuk. Hatinya tengah berbunga karena pertemuannya dengan orangtua Dave dan keluarganya terbilang lancar dan mereka menerimanya apa adanya serta memberikan restu mereka. Kini yang harus difikirkannya adalah meminta restu pada abah dan juga uminya.


Mengingat itu timbul rasa rindu Sandra pada kedua orangtuanya. Meski mereka sering melakukan vidio call namun tetap saja tidak sama seperti saat mereka bersama.