
"Arrggh!" Sadira menjerit lirih saat kakinya terpeleset dan tubuhnya pun langsung jatuh terguling ke dasar lembah. Sekuat tenaga Sadira berusaha untuk melindungi bagian kepalanya dengan menggunakan kedua lengannya. Entah sudah berapa lama ia terguling dan membentur beberapa tanaman dan juga akar pohon. Hingga akhirnya tubuhnya terhenti saat berada di dasar lembah. Sadira yang masih tersadar berusaha untuk bangkit. Namun ia kembali terjatuh saat hendak berdiri karena ternyata salah satu kakinya terkilir. Sadira pun berusaha untuk menenangkan dirinya sambil memperhatikan sekitar.
Sayup-sayup ia mendengar suara orang yang memanggilmya. Sadira pun berusaha mendongakkan kepalanya karena suara itu berasal dari arah atas. Tak tampak seorang pun diatas sana. Saat mendengar suara itu kembali ia pun segera berteriak berusaha meminta pertolongan. Namun semuanya sia-sia, karena tak seorang pun yang mendengar suaranya dari atas sana. Sadira tidak ingin putus asa... dia pun berusaha memaksakan dirinya untuk berdiri meski salah satu kakinya terkilir. Lalu ia pun berusaha untuk memanjat ke atas. Tapi usahanya gagal karena tanah yang licin dan lembab.
Ia malah kembali terjatuh dan kakinya yang terkilir bertambah sakit. Ia pun memutuskan untuk duduk bersandar di sebatang pohon besar. Ia pun teringat dengan tas Dora Emonnya. Untung saja tas itu masih melekat kuat di pinggangya. Sehingga Sadira tidak terlalu khawatir karena di dalam sana ada perlengkapan sederhana dan juga obat luka. Tapi saat ini kakinya terkilir dan bukannya terluka, sehingga ia hanya bisa mengoleskan salep tanpa bisa memijatnya karena ia buta pada hal itu. Dan jika dipaksakan ia takut akan bertambah parah.
Sadira memandang ke sekitarnya. Entah apakah teman-temannya bisa cepat menemukannya atau tidak. Setelah merasa kakinya lebih baik, Sadira mulai melihat peralatan yang ada di dalam tas Dora Emonnya. Karena tadi suaranya tidak terdengar sampai ke atas, maka bisa dipastikan bahwa kemungkinan ia akan ditemukan dengan segera itu sangat kecil. Oleh karenanya Sadira harus mulai bersiap.
Pertama-tama ia harus mencari bahan makanan untuk bisa mengisi perutnya yang mulai terasa keroncongan. Begitu juga dengan air agar dia tidak dehidrasi. Sadira mencoba mempertajam pendengarannya untuk mencari suara sungai atau pun air terjun. Karena sebelumnya saat mereka akan berangkat mendaki, para senior mengatakan jika di tempat itu ada sebuah curug kecil yang jadi tempat favorit para pendaki. Sadira berharap ia bisa menemukannya karena dengan demikian peluangnya selamat akan lebih besar karena tempat itu pasti dikunjungi para pendaki lainnya.
Dengan sedikit terpincang, Sadira mencoba untuk berjalan. Namun tiba-tiba ia mendengar suara gemuruh seperti ada sesuatu yang jatuh dari atas lembah. Sadira langsung mencoba berlindung dibalik sebuah pohon besar. Karena ia takut jika itu adalah longsoran tanah atau batu karena daerah pengunungan seperti ini memang rawan terjadi longsor. Tapi ternyata dugaannya salah, karena tak lama setelahnya ia malah mendengar sesuatu menabrak salah satu pohon yang ada di dekatnya dan juga suara erangan seseorang.
"Arrgghh!"
Sadira langsung mencari sumber suara meski dengan kaki terpincang. Dan alangkah terkejutnya ia saat melihat Bara tengah meringis menahan sakit sambil mengusap punggungnya. Sepertinya punggung cowok itulah yang tadi terbentur pohon. Untung saja cowok itu mengenakan tas ransel sehingga benturannya tidak terlalu keras pada punggungnya.
"Kak Bara?" panggil Sadira lirih namun Bara masih dapat mendengarnya.
"Dira?" sahut Bara yang kaget saat melihat gadis pujaannya yang sedari tadi membuatnya panik.
"Kamu ga pa-pa?" tanya Bara sambil bangkit dan menghampiri Sadira.
Sadira mengangguk pelan.
"Kakak juga ga pa-pa?" tanyanya khawatir.
"Aku ga pa-pa... hanya punggungku sedikit sakit karena tadi terbentur pohon. Untung saja pohon itu relatif kecil jadi tidak terlalu menyakitkan..." sahut Bara sambil tersenyum.
Akhirnya ia merasa lega karena sudah bisa menemukan Sadira dalam keadaan selamat. Meski tadi ia sempat terpeleset dan jatuh ke tempat itu. Setidaknya kesialannya membawa keberuntungan karena bisa menemukan Sadira.
"Ayo kita coba untuk kembali ke atas..." ajak Bara.
Sadira tampak ragu, membuat Bara agak bingung.
"Kenapa?" tanyanya.
"Aku ga bisa ke atas... tadi aku sudah mencobanya tapi gagal..." terang Sadira.
"Tadi kan kamu sendirian... tapi sekarang kan ada aku... aku bisa membantumu untuk bisa keatas..." bujuk Bara.
"Tapi..."
"Tapi kenapa?"
"Ka... kakiku..."
"Kenapa dengan kakimu, Ra?"
"Eumm... kakiku terkilir karena jatuh tadi kak..." terang Sadira dengan wajah menunduk.
Sebenarnya ia tengah malu karena kini Bara mau menolongnya. Padahal ia pernah menampar cowok itu di sekolah. Ya... meski itu juga akibat perbuatan cowok itu sendiri yang sudah berani mencium pipinya. Bara langsung melihat ke arah kaki Sadira. Tampak gadis itu berdiri hanya dengan satu kaki, sedang yang lainnya tampak menggantung.
"Ayo duduklah disini..." titah Bara sambil menuntun Sadira untuk duduk dibawah sebuah pohon.
"Mana yang sakit? coba aku periksa..." ujarnya lembut setelah Sadira duduk dengan nyaman.
Perlahan cowok itu membuka sepatu Sadira dikakinya yang sakit. Gadis itu mendesis lirih saat merasakan sakit ketika sepatu itu dilepaskan dari kakinya.
"Apa begitu sakit?" tanya Bara lembut.
Sadira kembali mengangguk pelan, mulutnya seakan terkunci karena perlakuan lembut Bara padanya. Kemudian Bara mulai memeriksa pergelangan kaki Sadira setelah menyingkap celana panjang gadis itu sedikit. Sebelum melakukannya Bara pun meminta izin terlebih dahulu pada gadis itu, agar kejadian di sekolah kemarin tidak terulang lagi. Setelah tahu bagian mana yang terkilir Bara pun menawarkan untuk memijat kaki Sadira agar bisa segera sembuh. Sadira pun tampak pasrah dan langsung bersedia ditolong Bara sebelum kakinya membengkak.
"Baiklah... ini mungkin akan sedikit sakit... tapi setelahnya kamu akan merasa lebih baik dan kakimu tidak akan bengkak..." ucap Bara sambil memegangi pergelangan kaki Sadira yang sakit.
Sadira pun mengangguk dan bersiap untuk merasakan sakit seperti yang dikatakan oleh Bara. Gadis itu pun memejamkan matanya agar tidak merasa gugup. Bara pun memulai pengobatannya. Ia menekan pergelangan kaki yang terkilir itu dengan perlahan lalu dengan sekali entakan ia pun menariknya dengan sangat keras membuat Sadira yang berniat menahan suaranya langsung berteriak karena merasakan sakit.
"Arrgghh!"
Namun setelahnya gadis itu mulai merasakan jika kakinya yang terkilir itu sudah tidak begitu sakit lagi dan bahkan sudah bisa digerakkan.
"Bagaimana? apa kamu merasa baikan?" tanya Bara.
"Iya kak... terima kasih..." sahut Sadira dengan mata berkaca-kaca.
Ya... gadis itu tadi sempat mengeluarkan air matanya saat merasakan sakit pada kakinya ketika Bara menarik pergelangan kakinya.
"Hei... jangan menangis... setelah ini kau sudah akan bisa berjalan lagi..." ucap Bara sambil menghapus air mata yang sempat menggenang dikedua sudut mata Sadira.
Sadira terpaku atas perlakuan Bara yang lembut dan romantis padanya. Gadis itu tak mengira jika Bara akan memperlakukannya selembut ini meski ia telah melukainya.
"Maaf..." ucapan itu langsung lolos dari bibir Sadira.
Ya... gadis itu langsung memberanikan diri untuk mengucapkan kata maaf pada cowok yang sudah menolongnya itu.
"Untuk?"
"Hem... seharusnya aku yang meminta maaf karena sudah menciummu lebih dulu... maaf... tapi aku benar-benar reflek saat itu..." ungkap Bara.
"Tapi kenapa kakak melakukannya?"
"Karena aku menyukaimu Sadira... bahkan bisa dikatakan jika aku sudah mulai mencintaimu..." ungkap Bara.
Wajah Sadira langsung memerah mendengar pengakuan dari Bara. Gadis itu sama sekali tidak menduga jika Bara benar-benar menaruh hati padanya. Melihat Sadira yang terdiam, Bara berinisiatif untuk menggenggam tangan Sadira. Tak ada penolakan dari gadis itu... membuat Bara semakin berani. Ia pun mengangkat tangan gadis itu dan mengecup punggung telapak tangannya dengan lembut. Hati Bara berdebar kencang... ia sudah merasa jika sebentar lagi Sadira pasti akan menamparnya lagi karena kembali mencium gadis itu meski hanya dipunggung tangannya. Tapi hal itu sungguh tidak terjadi... Bara bahkan tadi sempat memejamkan matanya pasrah menerima jika Sadira benar menamparnya.
Perlahan Bara membuka matanya, dan terlihat olehnya Sadira yang tengah menundukkan kepalanya. Tapi ia masih dapat melihat semburat merah dikedua pipi gadis itu yang membuat Bara semakin gemas padanya.
"Apa kamu ga marah?" tanyanya lembut.
Seakan baru saja tersadar dari apa yang baru saja terjadi, Sadira langsung mengangkat wajahnya.
"Kenapa?" tanya gadis itu ambigu.
"Karena baru saja aku kembali menciummu..."
Wajah Sadira kembali merona lalu ia pun kembali menundukkan wajahnya. Bara yang melihat itu tampak tersenyum samar.
"Ehem... lebih baik kamu beristirahat saja dulu... baru sesudahnya kita cari jalan lain agar bisa kembali ke atas..." ucap Bara mengalihkan pembicaran setelah tadi Sadira tak juga memberikan jawaban.
Sadira lagi-lagi hanya mengangguk. Dan tiba-tiba saja...
Kruuyuuuk!
Bunyi perut Sadira mengagetkan keduanya. Wajah Sadira langsung memerah karena menahan malu. Sedang Bara langsung tersenyum menyadari jika ini mungkin sudah lewat waktu makan siang karena perut Sadira juga mulai berdemo.
"Maaf..." ucap Sadira sambil menahan rasa malu.
"Ga pa-pa... aku juga sudah lapar kok... lagi pula ini sudah lewat waktu makan siang..." sahut Bara sambil melihat jam dipergelangan tangannya.
Bara pun membuka tas ranselnya yang memang dia bawa, lalu ia pun mengeluarkan dua buah roti isi dan beberapa snack dari dalam sana.
"Ini... makanlah!" ujar Bara sambil menyodorkan sebuah roti isi pada Sadira.
"Terima kasih kak..." sahut Sadira menerima pemberian Bara.
Bara juga memakan roti isi lainnya untuk mengganjal perutnya. Keduanya makan dalam diam. Tak lama Sadira sudah menghabiskan rotinya dan tampak sekali jika gadis itu agak kehausan. Reflek Bara langsung mengambil sebotol air mineral dari dalam tas ranselnya dan memberikannya pada Sadira. Kembali gadis itu mengucapkan terima kasih sebelum meminum air itu. Setelah selesai ia pun mengembalikan botol air mineral yang isinya tinggal setengah. Dan tanpa merasa jijik Bara langsung meminum sisa air dalam botol itu.
"Kak..."
"Hem?"
"Itu... kan... sisa aku..."
"Ga pa-pa... lagi pula aku cuma bawa sebotol jadi ga ada yang lainnya lagi, apa kamu mau aku tersedak karena makan dan tidak minum?" sahut Bara membuat Sadira menggelengkan kepalanya.
"Ayo kita lanjutkan perjalanan... mungkin kita bisa mencari jalan lain untuk bisa ke atas..." sambung Bara.
Bara pun meraih tangan Sadira agar gadis itu tidak kesulitan berjalan karena kakinya yang belum sembuh. Dengan sedikit tertatih Sadira pun mengikuti langkah Bara. Keduanya berjalan perlahan. Melihat Sadira yang agak kesulitan, Bara berinisiatif untuk melingkarkan lengan Sadira dilehernya. Hingga kini tubuh keduanya saling menempel. Gadis itu pun tampak tak menolak. Berdekatan seperti itu membuat jantung keduanya berdebar sangat cepat. Hal ini membuat keduanya saling diam, dan melanjutkan perjalanan.
Setelah berjalan hampir 20 menit, Bara dapat mendengar nafas Sadira yang terengah-engah karena kelelahan.
"Apa kau capek?" tanya Bara khawatir.
"Sedikit kak..."
"Kalau begitu kita istirahat saja dulu..." ujar Bara.
Keduanya pun kemudian mencari tempat untuk beristirahat di bawah pohon. Bara mengeluarkan peta dari dalam tas ranselnya dan memperkirakan dimana tempat mereka kini berada. Sadira tampak memperhatikan apa yang dilakukan oleh Bara. Ada rasa kagum di dalam hati gadis itu pada cowok yang ada dihadapannya itu karena sikapnya yang selalu tenang saat keduanya dalam kesulitan.
Setelah membaca petanya, Bara pun mulai mencari arah dengan menggunakan kompas. Sadira tampak tertarik dengan benda itu yang bentuknya tampak agak kuno.
"Itu kompas milik kakak?" tanyanya penasaran.
"Iya... ini pemberian dari kakekku saat aku kecil dulu..." ungkap Bara sambil tersenyum.
"Apa kau menyukainya?" sambungnya.
"Heumm... itu seperti milik kakakku... mereka juga suka mendaki..."
"Benarkah? jadi apa kau juga suka?".
"Tidak begitu... aku lebih suka memasak di rumah" sahut Sadira tanpa malu.
"Jadi kamu pintar memasak?"
"Tidak juga... hanya bisa..." sahut Sadira merendah.
Bara tersenyum mendengar jawaban Sadira. Keduanya pun akhirnya bisa mengobrol akrab sambil melanjutkan perjalanan. Sementara itu di tempat perkemahan semua orang tengah khawatir, karena Sadira yang belum juga ditemukan. Para senior yang ikut mencari kini bahkan juga kehilangan Bara.