
Pagi ini setelah melakukan pemeriksaan pada luka di kakinya Kartika meminta pada perawat yang merawatnya untuk mengizinkannya berjalan-jalan keluar dari kamar perawatannya karena ia merasa bosan terus berada di dalam sana sendirian. Ya... berkat posisinya di tempatnya bekerja ia mendapatkan perawatan di kelas VIP sehingga ia hanya sendirian di dalam ruang perawatannya. Dia tidak memiliki keluarga yang akan menjenguknya dan semua rekan kerjanya telah mengunjunginya sehingga tak ada lagi yang menemaninya selama ia di rawat.
Ia pun akhirnya diizinkan untuk sekedar berkeliling di dalam rumah sakit untuk menghilangkan kejenuhannya dengan menggunakan kursi roda. Meski begitu Kartika merasa senang sebab ia bisa menghilangkan rasa bosan yang sudah dialaminya selama ini. Cukup lama Kartika berkeliling disekita tempatnya dirawat. Hingga tanpa sengaja ia melihat tuan Sam yang tengah tergesa menuju ruangan salah satu dokter yang ada rumah sakit.
Kartika pun langsung merasa penasaran. Dalam fikirannya ia khawatir jika tuan Sam mungkin saja sudah menemukan Amira. Namun ia tampak lega saat melihat tuan Sam ternyata keluar dari sana bersama seorang dokter dan terlihat berbincang sangat akrab seperti teman lama. Kartika pun kemudian berusaha untuk mengikuti keduanya dan mencuri dengar apa yang tengah mereka berdua bicarakan saat keduanya duduk di ruang kantin rumah sakit.
Namun belum sempat Kartika mendekati keduanya untuk mencuri dengar pembicaraan mereka tiba-tiba seorang perawat menghentikannya.
"Maaf nona Kartika... sudah saatnya anda kembali ke kamar anda sekarang!" kata perawat itu sambil mendorong kursi roda Kartika.
Meski dalam hatinya kesal Kartika tidak bisa menolak perintah perawat itu agar tidak menimbulkan kegaduhan sehingga malah membuatnya ketahuan jika sedang mengikuti tuan Sam. Kartika hanya bisa mendengus kesal karena rencananya gagal. Sedang tuan Sam yang tengah berbincang dengan dokter Leon yang ternyata memang temannya semasa kuliah di London tak menyadari jika sedari tadi Kartika mengikutinya. Jika saja ia tahu bisa dipastikan bahwa wanita itu sudah mendapatkan pembalasan dari tuan Sam atas perbuatannya meninggalkan Amira sendirian dan mencuri cincin istrinya itu.
Bukan tanpa alasan tuan Sam menemui dokter Leon yang merupakan teman lamanya itu. Pasalnya dokter Leon adalah seorang dokter Obgyn yang menangani Amira. Tuan Sam tengah berkonsultasi bagaimana menghadapi keadaan Amira yang amnesia dan tengah mengandung. Ia ingin mencari solusi cara aman mengingatkan kembali memori Amira dengan tanpa mengganggu kandungannya. Dan setelah mendapatkan nasehat dari temannya itu ia pun menerima ajakan dokter Leon untuk menikmati kopi bersama di kantin rumah sakit sambil sekedar mengingat masa kuliah mereka dulu sambil menunggu Amira selesai pemeriksaannya oleh dokter yang mengoperasinya apakah hari ini ia bisa keluar dari rumah sakit.
Setelah menghabiskan kopinya dokter Leon dan tuan Sam pun segera menuju ruangan Amira karena dokter Leon juga harus memeriksa keadaan kandungan Amira sebelum wanita itu bisa pulang. Saat keduanya masuk ke dalam ruang perawatan Amira tampak ia baru saja menyelesaikan pemeriksaan luka bekas operasinya. Dokter yang merawatnya pun menyatakan jika kondisi luka Amira tampak sudah mulai mengering dan dalam beberapa hari sudah bisa dilepas jahitannya.
Pemeriksaan kandungan Amira pun berjalan lancar. Janin yang dikandungnya tampak sehat dan tidak terpengaruh dengan kejadian yang menimpa ibunya. Dengan begitu akhirnya Amira benar-benar bisa keluar dari rumah sakit. Setelah tuan Sam mengurus administrasinya Amira pun sudah bersiap untuk kembali pada keluarga kecilnya. Namun sebelumnya ia pun berpamitan pada Salma yang telah memberinya mukena dan Al-Qur'an saat berada di rumah sakit.
"Terima kasih Salma atas kebaikanmu selama ini" ucap Amira sambil berkaca-kaca.
"Sama-sama Ra... semoga saja kau cepat mendapatkan kembali ingatanmu... agar kau dan keluargamu mendapatkan kebahagiaan" sahut Salma.
"Iya... sekali lagi terima kasih... dan semoga Allah juga cepat mengangkat penyakitmu agar kau juga bisa berkumpul dengan kekuargamu..." do'a Amira.
"Amin... terima kasih Ra..."
Keduanya pun saling berpelukan. Setelah itu Amira pun duduk di kursi roda dan didorong oleh tuan Sam untuk menuju ke mobilnya yang sudah menunggu di luar rumah sakit. Saat keduanya tiba di pintu depan rumah sakit tampak Sahir dan Samir sudah menunggu keduanya di sana ditemani oleh Lukas dan juga Lusi. Kedua bocah itu sangat senang saat melihat bunda mereka keluar dari dalam rumah sakit. Pasalnya keduanya tidak diperbolehkan masuk ke dalam karena masih dibawah lima tahun.
"Mereka..." ucap Amira pada tuan Sam saat melihat kedua buah hatinya itu.
"Benar... mereka putra kita... Sahir dan Samir..." terang tuan Sam.
"Bunda!" seru keduanya sambil berlari dan langsung memeluk Amira secara bersamaan.
"Aku kangen sama bunda..." kata Sahir sambil memeluk Amira.
"Aku juga bunda... jangan sakit lagi yah!" sambung Samir ikut memeluk Amira.
"Iya sayang... bunda janji..." sahut Amira yang tak dapat membendung air matanya.
Meski ia belum mengingat keduanya namun ikatan batin antara ibu dan anak itu terlihat jelas dimata sekelilingnya. Bahkan Lusi pun ikut meneteskan air matanya karena terharu.
"Ayo kita masuk ke dalam mobil..." ajak tuan Sam.
Mereka pun lalu menaiki mobil tersebut. Lukas duduk dikursi kemudi dengan Lusi di sampingnya. Sedangkan di belakang tuan Sam duduk bersama Amira dan kedua putra mereka. Sepanjang jalan Sahir dan Samir berceloteh dengan riang. Bahkan keduanya mengungkapkan jika saat ini mereka akan memilih tempat yang akan menjadi rumah baru mereka.
"Ayah sudah janji pada kita akan cali lumah yang ada putel-putelnya kayak di kamal bunda dulu lho" kata Samir bahagia.
"Putar-putar?" tanya Amira tak mengerti dengan ucapan Samir.
"Maksudnya London Eye... Meyaa" terang tuan Sam.
"O..."
"Nanti kita pilih sama-sama ya bunda..." kini Sahir yang berkata.
"Iya sayang..." sahut Amira yang disambut dengan tepuk tangan dan seruan hore dari kedua bocah itu.
Keluarga kecil itu pun segera menuju ke tempat tujuan pertama ditemani Lukas dan juga Lusi. Ternyata tempat yang mereka tuju merupakan sebuah gedung apartemen yang cukup megah dan setiap unitnya memiliki lebih dari dua kamar. Lukas memang sengaja memilih unit yang memiliki empat kamar tidur dan tiga diantaranya memiliki pemandangan London Eye dari jendela kamar.
Saat baru turun dari mobil tampak Amira sedikit bergetar. Sepertinya wanita itu tengah melawan rasa traumanya saat melihat gedung tinggi yang ada dihadapannya saat ini.
"Maaf sayang... hanya hunian dengan ketinggian seperti ini yang memiliki pemandangan London Eye dengan indah... sedang kedua putra kita sangat menginginkan pemandangan itu di kamar mereka..." ucap tuan Sam sambil mengelus pundak Amira agar wanita itu merasa tenang.
Tuan Sam ikut tersenyum dan menggandeng tangan Amira agar wanita itu merasa nyaman. Mereka pun kemudian masuk ke dalam lift dan memulai tur mereka. Hampir seharian mereka melihat-lihat hunian yang akan mereka beli. Dan dari ketiga hunian yang mereka datangi Sahir dan Samir paling menyukai hunian terakhir yang mereka datangi. Bagaimana tidak hunian yang merupakan sebuah kondominium dengan luas bangunan satu lantai untuk setiap unitnya memiliki pemandangan London Eye paling indah di ketiga kamarnya. Sedangkan jumlah kamar disana ada lima buah.
Selain itu ada sebuah kolam renang yang berada diluar ruangan membuat Sahir dan Samir langsung memilih hunian itu sebagai rumah baru mereka. Sedang Amira sedari pertama mereka melihat setiap hunian yang akan mereka beli tampak belum bisa menghilangkan rasa kagum dan terkejutnya. Memangnya seberapa kayanya pria yang menjadi suaminya itu? batin Amira. Apa lagi saat melihat hunian yang dipilih oleh kedua putranya itu.
"Db... sebenarnya apa pekerjaanmu itu hingga kau bisa membeli tempat semewah ini? apa kau seorang mafia?" tanya Amira polos pada tuan Sam saat keduanya hanya berdua setelah tuan Sam menandatangani surat jual beli.
"Aku bukan orang seperti itu sayang... mana mungkin aku memberikan nafkah anak istriku dengan uang haram hem?" sahut tuan Sam sambil tersenyum mendengar perkataan polos istrinya.
"Habisnya kau seperti biasa saja saat membayar harga yang sangat mahal itu untuk membeli tempat ini bahkan kau tidak menawar sedikit pun" terang Amira.
"Aku juga tidak sekaya itu untuk membeli tempat ini tanpa perhitungan Meyaa... Lukas sudah menawarkannya untukku sebelumnya..." sahut tuan Sam.
"Tapi tetap saja harga itu sangat mahal untukku" kata Amira sambil mengerucutkan bibirnya.
Andai saja ingatan Amira sudah kembali maka saat itu juga tuan Sam akan m*l*m*t bibir Amira yang sangat menggoda itu. Tuan Sam menghampiri Amira dan membawanya ke kamar utama yang akan menjadi kamar tidur mereka. Ia mengajak Amira untuk melihat pemandangan luar dari atas balkon kamar mereka. Sengaja tuan Sam memilih hunian yang memiliki balkon pada kamar utamanya karena ia ingin bisa menikmati suasana romantis bersama Amira nantinya.
" Bagaimana... apa kau menyukainya?" tanya tuan Sam sambil memeluk Amira dari belakang saat keduanya berada di atas balkon.
Deg...
Entah mengapa Amira merasa pernah mengalaminya... berada pada posisi yang sama seperti saat ini dengan tuan Sam.
"A... aku... menyukainya..." sahut Amira terbata saat merasakan geleyar aneh pada dirinya saat berdekatan dengan tuan Sam.
"Kalau begitu mulai malam ini juga kita tinggal disini..." kata tuan Sam sambil menjatuhkan kepalanya dipundak Amira.
Pemandangan matahari senja membuat suasana semakin romantis diantara keduanya meski kini dalam keadaan saling diam. Keduanya seakan menikmati kenyataan jika kini keduanya saling berdekatan. Bahkan Amira sedari tadi tak menunjukkan penolakan atas perlakuan tuan Sam padanya.
"Ayah... bunda... kalian dimana?" terdengar suara si kembar yang mencari keduanya.
"Ayo kita masuk ke dalam sebelum mereka masuk kemari..." ajak tuan Sam sambil menarik tangan Amira.
Sahir dan Samir tampak gembira saat tuan Sam mengatakan jika mereka sudah pindah ke tempat itu malam ini juga. Mereka pun langsung memikih kamar tidur yang akan mereka tempati masing-masing.
"Apa mereka sudah tidur terpisah sejak dulu?" tanya Amira saat melihat kedua putranya yang ingin tidur sendiri di kamar mereka masing-masing.
"Sebenarnya tidak... meski mereka tidak tidur dengan kita tapi mereka tetap tidur dalam satu kamar" terang tuan Sam.
Amira tampak sedikit sedih dengan kenyataan jika ia tak mengingat apa pun tentang keluarga kecilnya. Tuan Sam mengelus pundak Amira pelan.
"Kau jangan khawatir Meyaa... suatu saat ingatanmu tentang kami pasti akan kembali..." ucapnya lembut yang membuat Amira kembali menyunggingkan senyumnya.
Sementara di sebuah pulau pribadi yang ada di lautan Karibia tampak seorang pria tengah menikmati koktailnya sambil berjemur di samping kolam renangnya. Tiba-tiba salah seorang pelayannya datang dengan tergopoh-gopoh dan mengatakan jika seseorang yang dinantinya sudah datang. Dengan senyum yang mengembang pria itu langsung mengenakan kimono handuknya dan bergegas menyambut orang yang sangat dinantinya itu.
Namun seketika senyuman orang itu langsung lenyap saat sampai di ruang tamu bukan hanya orang yang dinantinya yang berada disana... tapi juga sepasukan orang yang tampak sangat marah padanya. Dan bahkan semua anak buahnya yang menjaga kediamannya itu sudah bergelimpangan tak bernyawa. Sedang dihadapannya ia melihat dengan mata kepalanya sendiri adiknya Vallery tengah berdiri dengan pistol yang mengarah ke kepalanya.
"Senang akhirnya berjumpa denganmu Castillo..." ucap seorang pria yang sudah duduk diatas sofanya.
"Siapa kalian? kenapa kalian menodongkan pistol pada adikku hah?" seru Castillo tak terima adiknya di perlakukan bak tawanan.
"Ck... apa kau lupa kau yang sudah membuat kami harus repot-repot datang kemari?" sahut pria itu tenang.
"Apa maksudmu?"
"Hah... dasar orang Amerika b***g**k! setelah membuat keributan seenaknya saja kalian mengkambing hitamkan kami..." hardik pria itu marah.
"Ka... kalian..." kata Castillo sambil tergagap.
"Ya... kami orang yang kau gunakan sebagai tameng untuk menutupi kelakuanmu dalam membalas dendam... dan sekarang kau akan merasakan bagaimana pedihnya balasan dari kami bagi orang-orang yang ingin bermain-main menggunakan nama kami!"