BODYGUARD DADAKAN

BODYGUARD DADAKAN
Pernikahan


Setelah nyonya Sarah keluar dari dalam kamar Amira pun segera menutup pintu dan membuka gorden kamarnya. Tak ada sosok tuan Sam diluar sana... lalu dibukanya jendela kamarnya. Dilongokkannya kepalanya keluar untuk mencari namun nihil tuan Sam sama sekali tak tampak batang hidungnya.


"Apa dia marah dan kembali ke kamarnya?" batin Amira.


Ditutupnya lagi jendela dan gorden kamarnya. Lalu ia pun mengambil walkie talky pemberian tuan Sam. Di pandanginya benda itu ada keinginan untuk memanggil tuan Sam namun di sisi lain ia juga agak takut jika ternyata benar tuan Sam marah padanya. Dihembuskannya nafas pelan dan menghubungi tuan Sam. Terdengar bunyi gemeresak...


"B... apa kau mendengarku...?" lama tak ada jawaban.


"B... apa kau marah?" ucap Amira.


"Aku tidak marah" terdengar suara tuan Sam.


"Lalu?"


"Aku hanya sedang ada urusan sekarang..." sambung tuan Sam.


Amira pun menarik nafasnya lega.


"Baiklah aku tutup sekarang karena aku masih sibuk"


"Ya baiklah" jawab Amira lalu ia pun mematikan sambungan.


Setelah itu ia pun merebahkan tubuhnya di tempat tidur dan mulai memejamkan mata. Sementara tuan Sam sedang sibuk menghafalkan ikrar ijab kabulnya. Berkali-kali ia mengulangi namun ada saja yang membuatnya salah menyebut dan membuatnya frustasi.


"Bagaimana bisa menghafal ijab saja aku kesusahan" gumamnya frustasi.


Entah sampai jam berapa ia terus menghafal sampai ia tak dapat menahan rasa kantuknya dan akhirnya tertidur. Saat azan subuh tuan Sam terbangun dan segera membersihkan dirinya untuk melaksanakan sholat subuh. Setelah selesai ia kembali menghafal dan ternyata cukup berhasil. Akhirnya ia bisa merasa sedikit lega.


Besok adalah hari pernikahan Amira dan tuan Sam oleh karena itu kesibukan di rumah nyonya Sarah kembali bertambah. Sekitar pukul 9 pagi pelukis henna pun datang untuk melukis tangan Amira. Kedua anak nyonya Sarah yang sengaja ijin dari sekolah mereka pun sangat bersemangat melihat tangan bundanya dilukis. Bahkan Anna juga ikut di hias tangannya begitu juga dengan nyonya Sarah. Ketiganya secara bergantian diberi hiasan henna di tangan mereka masing-masing. Dan saat melihat hasilnya ketiganya merasa sangat puas dengan lukisan yang indah pada tangan mereka.


"Terima kasih mbak... cantik sekali hasilnya saya sangat suka..." ucap Amira yang di disetujui oleh yang lainnya.


"Sama-sama nona ..." jawab penghias henna yang merasa senang hasil karyanya disukai.


Sedang tuan Sam yang sudah tak lagi berangkat ke kantor juga disibukkan dengan kegiatan menghafalnya. Kini ia ditemani Lukas dan tuan Bram. Merasa waktu untuk menghafalnya semakin menipis tuan Sam bertambah gugup dan membuatnya tak konsentrasi. Berkali-kali ia salah menyebut dan mengulang kembali hafalannya.


"Yang tenang kak... jangan gugup dan panik" nasehat tuan Bram kepada kakak iparnya itu.


Tak biasanya tuan Sam hanya mengangguk dan menuruti nasehat adik iparnya itu. Lukas yang melihatnya pun membuka mulutnya tak percaya dengan penglihatannya saat itu. Namun sejurus kemudian tatapan horor menghujam Lukas ketika tuan Sam menyadari kelakuan asistennya itu. Lukas pun langsung menundukkan kepalanya tak ingin membuat tuannya marah. Tuan Bram yang melihat itu pun hanya terdiam tak ingin menambah masalah. Karena besok adalah hari pernikahan membuat kedua calon pengantin semakin gugup. Amira yang baru saja merebahkan dirinya di tempat tidur merasa sedikit sendu... besok hari pernikahannya dan ia akan menjalaninya sendiri tanpa kedua orangtuanya.


"Ayah ... ibu... besok Amira akan menikah... semoga tuan Sam jodoh terbaik untuk Amira..." batinnya tak terasa air matanya pun menetes.


Di pandanginya foto kedua orangtuanya yang agak lusuh. Andai mereka masih hidup.... pasti mereka akan bahagia melihat putri semata wayangnya menikah. Dihapusnya perlahan air mata yang terlanjur keluar.


"Aku tidak boleh sedih... ayah dan ibu pasti sudah bahagia... " gumamnya lalu ia pun berusaha untuk memejamkan matanya agar besok bisa bangun dengan segar.


Sedang dikamarnya tuan Sam sudah tak karuan dadanya seakan mau meledak karena gugup.


"Bagaimana ini.... besok adalah saatnya sedang aku seperti orang bodoh susah sekali untuk berkonsentrasi" ucapnya gusar.


Diambilnya ponselnya sambil merebahkan dirinya diatas tempat tidur. Lalu dibukanya ponselnya dan dilihatnya foto Amira saat di pantai. Tuan Sam tersenyum seketika hatinya merasa tenang.


"Kau memang selalu bisa membuatku merasa tenang Ra..." ucapnya sambil mengusap foto Amira dengan telunjuknya pelan.


Lama dipadanginya wajah Amira yang menggemaskan saat bermain air. Tak terasa ia pun tertidur masih dengan menggenggam ponselnya.


Pagi hari semua semua penghuni rumah tampak sibuk. Amira yang sejak pagi sudah diantar ke hotel tempat akad akan digelar bersama bu Dewi agar bisa segera dirias. Sedang nyonya Sarah nanti akan berangkat bersama dengan rombongan pengantin pria. Suasana di tempat pelaksanaan ijab kabul sedah mulai ramai dengan kehadiran para tamu undangan. Dekorasi pernikahan yang dipilih kedua pengantin terkesan simple namun elegant membuat para tamu terpesona.


Tibalah saat dimana tuan Sam mengucapkan ijab kabulnya. Dan semua berjalan lancar dalam satu tarikan tuan Sam berhasil melafazkan ijab kabulnya. Setelah itu pengantin wanita yang sedari tadi menunggu di dalam ruangan sebelah diampit untuk menemui pengantin pria yang sudah resmi menjadi suaminya. Melihat penampilan Amira pertama kali setelah selama tiga hari tak melihatnya membuat tuan Sam terpana. Apalagi dengan balutan kebaya modern dengan hijab putih membuat penampilan Amira sangat mempesona. Terlihat pipi chubbynya bersemu merah membuat wajahnya tampak sangat menggemaskan.


Tuan Sam terlihat sangat bahagia dan tak pernah melepas genggamannya pada tangan Amira. Keduanya menemui para tamu yang kebanyakan adalah rekan bisnis tuan Sam. Namun Amira terkejut saat ia juga melihat teman-teman SMUnya juga hadir bahkan Yuda dan Maya pun ada diantara mereka.


"Apa kau sengaja mengundang mereka B?" tanya Amira berbisik pada tuan Sam.


"Tentu saja sayaang..." jawab tuan Sam juga berbisik.


Tampak Yuda yang terlihat kecewa memandang kearah Amira. Sedang tuan Sam malah sengaja menghampiri pria itu sambil menggandeng mesra Amira.


"Selamat ya Amira... tuan..." kata Yuda tampak sekali jika ia sedang menahan rasa kecewanya.


"Terima kasih..." jawab tuan Sam tersenyum sedang Amira hanya tersenyum terpaksa karena merasa tak enak telah berbohong pada Yuda.


Tiba-tiba Lukas menghampiri tuan Sam dan mengajaknya untuk berbicara berdua. Dengan enggan ia pun meninggalkan Amira dan Yuda.


"Kenapa kau berbohong Ra?" tanya Yuda begitu tuan Sam pergi dengan Lukas.


"Karena aku tak tahu alasan apa lagi yang bisa membuatmu berhenti mengejarku" jelas Amira.


"Apa saat itu kau sudah bersamanya?"


"Ya ... karena itu aku menolakmu" sambung Amira.


"Lalu anak-anak itu?"


"Mereka anak dari adik suamiku" ucap Amira.


"Baiklah ... semoga kau bahagia dengan pilihanmu Ra..." ucap Yuda akhirnya.


"Terima kasih..." kata Amira lalu segera meninggalkan Yuda yang masih terpaku di tempatnya.


Amira meninggalkan Yuda dan segera mencari tuan Sam karena sebagian besar tamu tak ia kenal. Namun tiba-tiba matanya terpaku pada seseorang yang sedang berjalan diantara para tamu undangan.


"Dia..." gumam Amira dengan detak jantung yang sudah mulai tak karuan. Wajahnya seketika berubah cemas.


"Kakak..." ucapnya lirih sambil bergegas menyusul orang itu.


Dalam fikirannya sudah terbayang sesuatu yang buruk akan terjadi pada nyonya Sarah. Dan benar saja ia melihat nyonya Sarah yang sudah dalam keadaan tak sadarkan diri di papah oleh dua orang yang salah satunya adalah yang ia lihat tadi di salah satu sudut yang sepi. Dengan cepat Amira berusaha mengikuti kedua orang itu yang membawa pergi nyonya Sarah ke arah mobil yang ternyata sudah mereka persiapkan. Amira melihat kiri dan kanannya mencari sesuatu yang bisa ia gunakan untuk mengejar mereka.


Saat itulah ia melihat sebuah sepeda motor besar yang terparkir dengan kunci kontak yang masih tergantung. Tanpa pikir panjang ia pun menaiki motor tersebut. Namun karena ia sedang menggunakan gaun pengantin terpaksa ia menarik gaun panjangnya itu keatas agar bisa menaiki motor besar itu. Untung saja gaun yang ia gunakan cukup simple sehingga cukup mudah ditarik keatas dan juga dibawah gaun tersebut Amira telah mengenakan celana panjang sehingga tak takut saat menarik tinggi gaunnya. Lalu dengan cepat ia pun menyalakan motor tersebut dan segera menyusul mobil yang membawa nyonya Sarah. Ia tak ingin kehilangan jejak mereka walau kini ia yang menjadi pusat perhatian orang-orang di sepanjang jalan karena menaiki moge dengan masih memakai gaun pengantin.


Sedangkan tuan Sam yang diajak Lukas untuk bicara berdua sangat terkejut saat mendengar laporan asistennya tersebut.


"Apa? Mela melarikan diri dari penjara?"


"Iya tuan... kejadiannya tadi malam saat ia berpura-pura sakit dan saat diantar petugas ke rumah sakit ia berhasil mengecoh petugas rumah sakit dan melarikan diri" terang Lukas.


"Maaf tuan saya juga baru dapat berita tersebut baru saja dari pihak kepolisian..." sambungnya tak ingin mendapat masalah dari tuannya.


"Cepat perketat penjagaan terutama untuk Sarah aku pikir perempuan itu pasti masih mengincar adikku..." perintah tuan Sam.


Tapi belum lagi Lukas beranjak dari tempat itu ia sudah mendapat laporan dari para pengawal jika Amira dan nyonya Sarah menghilang.


"Tuan..." Lukas pun melaporkan apa yang baru saja terjadi pada tuannya.


Dengan cepat mereka berdua menuju ruang cctv yang berada di gedung sebelah tempat acara dilaksanakan. Tuan Bram yang sudah diberitahu pun ikut bersama keduanya. Dari pantauan kamera cctv tempat resepsi yang berada di bagian belakang hotel terlihat jika pintu masuk dan keluar tetap melalui gerbang hotel sehingga cukup memudahkan mereka untuk mencari.