BODYGUARD DADAKAN

BODYGUARD DADAKAN
Persiapan


Makan malam kali ini berlangsung cukup meriah karena kehadiran tuan Sam yang baru pulang dari London. Bu Wati pun baru tahu jika tuan Sam sangat perhatian pada Amira saat melihat interaksi keduanya sekarang. Didalam hatinya ia sangat bahagia melihat Amira yang telah menemukan jodohnya. Padalah dulu gadis itu terkesan cuek dan bahkan menutup diri dengan yang namanya lelaki karena kurang percaya diri dengan tubuhnya. Tapi kini ia sudah akan menikah dan bahkan pria yang berhasil mencuri hati gadis itu pun bukan orang sembarangan.


Mungkin inilah hasil dari kebaikan dan ketulusan yang ditunjukkan oleh gadis itu selama ini sehingga kini ia mendapatkan seseorang yang mau menerimanya apa adanya tanpa memandang fisiknya saja.


"Ra... bisa kita bicara sebentar?" tanya bu Wati saat mereka baru selesai makan.


Amira pun mengangguk sambil menggandeng tangan bu Wati pelan. Keduanya pun perlahan berjalan ke teras belakang dan duduk di kursi yang ada di sana.


"Ada apa bu? Sepertinya ada yang penting?" tanya Amira.


"Begini ... ibu ingin pamit pulang Ra, karena sekarang ibu sudah sembuh gak enak berlama-lama berada disini" ucap bu Wati pelan.


"Tapi bu...."


"Ga pa-pa Ra... ibu juga kangen rumah" sambung bu Wati.


Amira terdiam ia tak dapat melarang bu Wati apalagi ini bukan rumahnya sehingga ia tak mungkin menahan bu Wati agar tetap tinggal.


"Nanti ibu juga akan pamit pada nyonya Sarah dan keluarganya hanya saja ibu ingin kamu tahu terlebih dahulu" ucapnya lembut.


Amira mengangguk lemah sesungguhnya ia masih ingin bu Wati tinggal karena walau sudah dapat berjalan namun belum sempurna. Karena itulah ia masih khawatir jika bu Wati memaksa pulang sekarang. Tak lama nyonya Sarah datang menghampiri keduanya. Setelah berbincang sebentar bu Wati pun mengatakan keinginannya untuk pulang pada nyonya Sarah.


"Saya mengerti bu akan keinginan ibu untuk pulang, tapi apa tidak sebaiknya ibu tunda dulu sampai Amira menikah? Dua minggu lagi pernikahannya akan dilaksanakan" ucap nyonya Sarah yang membuat Amira sedikit terkejut pasalnya ia sendiri belum tahu jika pernikahannya itu akan dilaksanakan dalam waktu dua minggu ke depan.


"Saya tahu jika ibu sudah dianggap Amira sebagai pengganti orangtuanya jadi alangkah baiknya jika ibu juga mendampinginya saat akan melangkah ke pelaminan sebagai pengganti orang tuanya karena Amira tak punya keluarga yang lain" sambung nyonya Sarah yang membuat bu Wati kemikirkan kembali keinginannya untuk pulang.


"Baiklah.... saya akan tetap di sini sampai Amira melangsungkan pernikahannya" ucap bu Wati yang mebuat Amira langsung memeluknya karena bahagia.


Sedang nyonya Sarah tersenyum melihat pemandangan yang ada didepannya.


"Terima kasih bu..." kata Amira setelah melepas pelukannya.


Bu Wati pun mengangguk sambil mengelus kepala Amira lembut. Kemudian mereka pun kembali membicarakan kelanjutan rencana pernikahaan Amira yang sudah diputuskan akan dilaksanakan dua minggu lagi. Tak terasa malam pun semakin larut membuat mereka memutuskan untuk beristirahat. Dengan perlahan Amira menuntun bu Wati untuk kembali ke kamarnya.


"Ra ... ibu bahagia sekarang kau sudah menemukan jodohmu... rasanya ibu seperti akan melepas putri ibu sendiri untuk menikah" ucap bu Wati saat Amira membaringkannya diatas tempat tidur.


"Terima kasih bu... sudah mau menganggapku sebagai putri ibu" kata Amira tanpa ia sadari air matanya lolos membasahi pipinya.


"Berbahagialah selalu nak... hanya itu yang ibu harapkan" ucap bu Wati tulus.


Amira pun mengangguk dengan tegas meyakinkan bu Wati. Kemudian Amira merapikan selimut bu Wati dan berpamitan untuk kembali ke kamarnya. Bu Wati pun mempersilahkannya. Saat Amira selesai sholat dan akan merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur tiba-tiba terdengar ketukan dari arah jendela kamarnya. Saat Amira membuka gorden tampak tuan Sam sudah berdiri diluar jendela. Dengan isyarat tangannya tuan Sam menyuruh Amira untuk menemuinya. Dengan hati yang bertanya-tanya Amira pun pergi keluar dari kamar untuk menemui tuan Sam yang sudah menunggunya di samping rumah tepat di depan jendela kamarnya.


"Ada apa?" tanyanya begitu sudah berada didepan tuan Sam.


Tanpa aba-aba tuan Sam langsung memeluk tubuh Amira. Amira yang terkejut hanya terdiam dengan perlakuan tuan Sam. Namun perlahan akhirnya ia pun menggerakkan tangannya untuk membalas pelukan tuan Sam.


"Ada apa?" ulangnya.


"Aku masih merindukanmu" kata tuan Sam mengeratkan pelukannya.


"Hemm.." balas Amira sambil mengelus punggung pria itu perlahan.


"Apa kau sudah tahu jika pernikahan kita dua minggu lagi?" tanya tuan Sam masih dalam posisinya itu.


"Iya... baru saja kak Sarah mengatakannya padaku" jawab Amira masih dalam dekapan tuan Sam.


"Apa itu tidak terlalu lama?" ungkap tuan Sam yang membuat Amira terkejut dan mengurai pelukannya.


"Kau ini ... memangnya mengurus pernikahan itu mudah? Bahkan kurasa waktu dua minggu itu terlalu cepat" kata Amira.


"Ck... bukankah Sarah juga sudah mengurusnya sejak lama, hanya tinggal menentukan tanggalnya saja" ucap tuan Sam kesal.


"Bahkan jika aku mau besok pagi pun kita bisa langsung menikah" sambungnya lalu kembali memeluk tubuh Amira.


"Kenapa?" tanya Amira.


"Kenapa kau buru-buru?"


"Buru-buru? Aku tidak buru-buru" sanggah tuan Sam.


"Aku hanya tidak ingin kita begini terlalu lama... aku ingin kau segera menjadi milikku seutuhnya" sambungnya dengan suara sedikit serak.


"Kau kenapa? Apa kau sakit?" tanya Amira saat mendengar suara tuan Sam yang sedikit aneh.


"Tidak... aku tidak apa-apa. Masuklah ke kamar" kata tuan Sam.


Amira terdiam dan memandang tuan Sam.


"Ayo masuklah ini sudah terlalu malam" sambungnya yang langsung membuat Amira pun menurutinya.


Setelah gadis itu masuk ke dalam rumah tuan Sam mendesah kasar.


"S**t kenapa aku jadi begini" umpatnya sambil mengacak rambutnya kasar.


Kemudian ia pun bergegas kembali ke kamarnya. Sedang Amira yang baru saja melepaskan hijabnya dan merebahkan tubuhnya diatas kasur pun merasa gugup karena memikirkan jika sebentar lagi ia akan menikah. Terbayang olehnya jika saja ayah dan ibunya masih hidup. Mereka pasti akan merasa sangat bahagia putrinya akan segera menikah.


"Ayah... ibu.... apa kalian bisa melihat Amira sekarang? Amira akan menikah... " ucapnya lirih sambil memandang langit-langit kamar.


Tak terasa kembali air matanya luruh mengingat jika nanti bukan ayahnya yang akan menjadi wali nikahnya namun wali hakim karena kini ia tak punya siapa-siapa. Ia sangat bersyukur tuan Sam dan keluarganya mau menerimanya apa adanya tanpa memandang status.


Keesokan harinya kesibukan untuk persiapan pernikahan tuan Sam dan Amira pun mulai terlihat. Walau semua sudah diserahkan pada jasa WO namun tetap saja nyonya Sarah turun tangan untuk mengawasinya. Sedang urusan persyaratan di kantor KUA sudah di urus oleh tuan Bram dan tuan Sam sendiri. Untuk Amira nyonya Sarah hanya menyuruhnya untuk banyak melakukan perawatan agar dapat tampil sempurna di hari pernikahannya. Namun begitu saat pengecekan terakhir Amira dan tuan Sam lah yang melakukannya karena bagaimana pun juga mereka berdua adalah pengantinnya agar semuanya sesuai dengan keinginan keduanya. Saat mengecek persiapan terakhir tempat diadakannya akad dan resepsi, Amira tak dapat menyembunyikan rasa kagum dan bahagianya sebab dekorasi yang dibuat sungguh sangat indah dan megah.


"B... apa ini tidak terlalu berlebihan?" ucapnya lirih pada tuan Sam yang sedari tadi selalu menggenggam tangannya.


"Tidak.... memangnya kenapa? Apa kau tidak suka?" tanya tuan Sam.


"Suka... sangat suka...." jawab Amira.


Ya konsep pernikahan mereka memang mengusung dua tema indoor dan outdoor. Untuk akad mereka sengaja menyewa gedung sedang untuk resepsi mereka memilih alam terbuka sehingga mereka sengaja menyewa tempat yang memiliki dua fasilitas tersebut. Agar setelah akad mereka bisa langsung mengadakan resepsi karena tempatnya tidak berjauhan. Setelah mengecek persiapan terakhir untuk pesta pernikahan mereka, keduanya pun memutuskan untuk makan siang bersama. Tuan Sam sengaja mengajak Amira untuk makan siang di restoran yang berada di salah satu mall yang ada. Karena setelahnya tuan Sam ingin mengajak Amira untuk nonton bersama.


Setelah makan keduanya pun menuju bioskoo yang ada di mall tersebut. Karena jam tayang yang masih lama keduanya pun memutuskan untuk sholat terlebih dahulu di tempat yang sudah disediakan di mall tersebut. Setelah selesai keduanya pun kembali ke bioskop untuk menonton. Sengaja tuan Sam memilih genre action karena ia tahu gadisnya itu tak masalah dengan tema tersebut. Keduanya pun sangat menikmati film yang mereka tonton karena keduanya menyukai tema film itu. Saat keduanya keluar dari pintu bioskop Amira pamit untuk ke toilet sebentar. Sedang tuan Sam menunggunya di bangku yang ada di dalam mall tersebut. Sambil menunggu ia pun memainkan hpnya untuk menghabiskan waktu. Tiba-tiba seseorang memanggil namanya.


"Sam? Kau kah itu?" tanya seorang wanita cantik yang memgenakan mini dress warna maroon.


Tuan Sam pun menoleh ke arah wanita itu.


"Siska?" ucap tuan Sam sambil berdiri dari tempatnya.


"Jangan bilang jika kau sudah melupakanku Sam..." ucap wanita itu manja dan berusaha untuk merangkul tuan Sam namun langsung ditepis olehnya.


"Kenapa?" tanya wanita itu tak senang dengan perlakuan tuan Sam.


"Tidak apa-apa" jawab tuan Sam datar.


Saat itulah ia melihat Amira yang baru keluar dari toilet. Dengan segera ia meninggalkan wanita itu dan bergegas menuju kearah Amira.


"Kau mau kemana Sam?" tanya wanita itu yang melihat tuan Sam meninggalkannya.


"Saamm..." panggilnya. Namun tuan Sam tak menggubrisnya dan terus berjalan ke arah Amira.


"Kau sudah selesai?" tanya tuan Sam pada Amira yang sedang merapikan tas selempangnya.


"Iya ..." sahut Amira sambil mengangguk.


"Baiklah kalau begitu kita langsung pulang" ajak tuan Sam.


Amira pun kembali mengangguk menyetujuinya. Melihat tuan Sam berjalan bersama seorang gadis dengan mesra membuat wanita tadi menjadi geram.


"Siapa gadis gendut itu? Kenapa Sam sangat manis padanya?" sungutnya dalam hati.