BODYGUARD DADAKAN

BODYGUARD DADAKAN
Bebas


Pagi hari saat Amira sibuk mengurus keperluan dua bocil yang akan berangkat ke sekolah, tiba-tiba nyonya Sarah mendekatinya.


"Ra ... hari ini kamu yang antar anak-anak lagi ya...soalnya aku mau jemput mas Bram" ucap nyonya Sarah.


"Jadi tuan Bram bebas hari ini kak?" tanya Amira dengan tangan yang masih sibuk menata dan memasukkan bekal untuk kedua anak asuhnya ke dalam tas. Nyonya Sarah mengangguk.


"Aku ingin memberi kejutan buat anak-anak Ra..." sambungnya sambil tersenyum.


Amira membalas senyuman nyonya Sarah. Ia juga tahu jika kedua anak asuhnya itu sebenarnya juga rindu pada ayah mereka namun tak pernah mereka tunjukkan setelah diberi tahu jika ayah mereka sedang dinas keluar kota. Seluruh penghuni rumah nyonya Sarah memang menyembunyikan kenyataan tuan Bram yang terkena masalah dan harus ditahan karena penggelapan.


"Lalu apa sebelumnya nyonya akan mengantar tuan Sam ke bandara terlebih dahulu?" tanya Amira.


"Ga perlu Ra .... dia kan udah besar lagi pula sebenarnya bukan aku yang diharapkannya untuk menemaninya ke bandara" ujar nyonya Sarah sambil tersenyum jahil.


Amira terdiam mendengar penuturan nyonya Sarah, wajahnya langsung memerah karena tahu maksud dari perkataan nyonya Sarah.


"Sudah selesai kak aku akan panggil anak-anak untuk sarapan" ucap Amira mengalihkan pembicaraan.


Lalu ia pun bergegas memanggil kedua anak asuhnya itu. Sedang nyonya Sarah sudah tersenyum simpul melihat sikap Amira yang menurutnya lucu. Selesai sarapan Amira langsung membawa anak-anak untuk masuk ke dalam mobil sedang nyonya Sarah sengaja tidak ikut agar dapat menjemput suaminya dengan diantar sopir lain. Saat mereka sudah masuk ke dalam mobil tiba-tiba tuan Sam menyuruh sopir untuk keluar dan digantikan olehnya.


"Anak-anak bagaimana jika pagi ini uncle yang antar kalian ke sekolah?" tanyanya begitu sudah duduk dibelakang kemudi.


"Yey... !!" teriak kedua bocil itu senang.


Amira yang terkejut menoleh ke arah tuan Sam.


"Tapi bukankah arah bandara dan sekolah anak-anak itu berlawanan arah? Sedang pagi ini seharusnya kan kamu pergi ke bandara?" tanyanya bingung.


Tuan Sam tak menjawab pertanyaan Amira dan malah melajukan mobil keluar dari rumah. Selama perjalanan Anna dan Adit sibuk bercerita dengan tuan Sam sedang Amira hanya menjadi pendengar. Setelah 15 menit perjalanan mereka pun sampai di depan sekolah. Amira dan tuan Sam pun turun mengantar kedua anak itu hingga ke depan gerbang.


"Uncle jangan pergi lama-lama ya..." ucap Anna. "Iya sayang" balas tuan Sam sambil mengelus kepala keponakannya itu lembut.


"Jangan lupa bawa oleh-oleh ya uncle" sambung Adit.


"Hemm... uncle janji tapi kalian juga harus janji ga akan nakal dan merepotkan bunda dan mama kalian selama uncle pergi, janji?"


"Janji" sahut keduanya sambil menautkan jari kelingking mereka.


Setelah keduanya masuk ke dalam sekolah Amira dan tuan Sam pun kembali ke dalam mobil. Tanpa berkata tuan Sam langsung melajukan mobilnya menuju arah bandara. Untuk beberapa saat keduanya terdiam.


"B... kenapa kau mengantarkan anak-anak terlebih dahulu? apa nanti tidak terlambat sampai bandara?" tanya Amira yang sejak tadi penasaran dengan tingkah tuan Sam.


"Aku sudah merubah jadwal keberangkatanku jadi penerbangan siang" jelas tuan Sam sambil terus mengemudi.


"Kenapa?"


"Aku ingin kau mengantarku sampai bandara" jawab tuan Sam.


Amira pun terdiam sesungguhnya ia pun ingin mengantar kekasihnya itu namun ia tak berani berucap. Lama keduanya terdiam hingga tiba-tiba tuan Sam membelokkan mobilnya kearah lain.


"Kita mau kemana? bukankah ini bukan arah bandara?" tanya Amira.


"Kita mampir ke suatu tempat sebentar" kata tuan Sam.


Tak lama mereka pun sampai ditempat yang tuan Sam tuju. Ternyata mereka tiba di area pemakaman. Walau pun masih bingung dengan maksud tuan Sam membawanya ke pemakaman namun Amira tetap mengikuti langkah tuan Sam yang membawanya ke salah satu lokasi pemakaman keluarga.


Kini keduanya telah berdiri di depan tiga nisan yang berjejeran. Saat membaca nama-nama yang ada di ketiga nisan itu Amira dapat menarik kesimpulan jika dua diantaranya adalah makam kedua orangtua tuan Sam dan nyonya Sarah. Namun ia tak dapat menebak hubungan tuan Sam dengan makam ketiga yang bertuliskan nama Karina. Tuan Sam yang tahu jika gadisnya sedang bertanya-tanya dalam hati pun buka suara.


"Kenalkan Ayah, Ibu, Karina... ini Amira calon istriku..." ucapnya. Amira pun terdiam dan hanya mendengarkan apa yang dikatakan tuan Sam.


"Amira ... kedua makam ini adalah makam kedua orangtuaku" terangnya.


"Sedang yang ini makam Karina mantan tunanganku dulu..." sambungnya.


Amira memandang tuan Sam dengan sendu... kini ia tahu kenapa tuan Sam sengaja menunda keberangkatannya.


Lalu keduanya pun memanjatkan do'a untuk mereka.


"Maaf aku tidak bilang dulu akan mengajakmu kemari" kata tuan Sam saat keduanya sudah kembali berada didalam mobil.


"Ga pa-pa..." ucap Amira.


Lalu tuan Sam pun kembali melajukan mobilnya kali ini langsung ke arah bandara.


Sementara setelah tuan Sam dan Amira pergi bersama anak-anak, nyonya Sarah bersama Lukas pergi untuk menjemput tuan Bram dengan diantar pak sopir. Saat tuan Bram keluar dari tahanan, nyonya Sarah tak dapat membendung rasa bahagianya. Tuan Bram pun langsung memeluk istrinya itu.


"Maafkan mas... Sarah..." ucapnya dengan suara parau menahan air mata.


"Iya mas...aku sudah memaafkan kamu" jawab nyonya Sarah yang sudah berlinang air mata.


"Kita ke bandara dulu mas... mengantar kak Sam" ucap nyonya Sarah setelah keduanya saling melepas pelukan.


"Kak Sam kembali ke London?" tanya tuan Bram.


Nyonya Sarah menggeleng.


"Gak mas... kakak cuma mengurus beberapa hal lalu kembali lagi kemari. Dia akan menetap disini" terang nyonya Sarah dengan wajah berbinar.


"Benarkah? syukurlah kalau begitu" ucap tuan Bram yang ikut bahagia karena ia tahu jika selama ini istrinya itu sangat ingin kakaknya kembali tinggal bersama mereka.


Setelah mengurus semua administrasi ketiganya pun berangkat ke bandara.


Tuan Sam dan Amira yang sudah terlebih dahulu sampai di bandara kini sudah duduk berdampingan di ruang tunggu bandara. Selama itu pula tuan Sam tak pernah melepaskan genggamannya pada tangan Amira. Walau pun agak risih dengan kelakuan tuan Sam tapi Amira hanya bisa pasrah atas perlakuan tuan Sam kepadanya. Bahkan saat nyonya Sarah dan suaminya beserta Lukas datang pun tuan Sam tak juga menghentikan aksinya. Melihat itu tuan Bram yang belum tahu apa-apa memandang istrinya dengan heran.


"Nanti aku jelaskan di rumah" bisik nyonya Sarah pada suaminya sambil tersenyum kecil.


Tuan Bram pun hanya bisa mengangguk. Sedang Lukas yang melihat tingkah tuannya itu hanya bisa memutar bola matanya jengah.


"Bucin banget sih... kayak anak ABG aja..." gerutunya dalam hati.


Setelah semua koper diantar oleh pak sopir mereka pun menuju area pemberangkatan.


"Kamu jaga diri baik-baik ya selama aku ga ada" ucap tuan Sam sambil mengelus kepala Amira pelan.


Amira pun hanya bisa mengangguk mengiyakan. Kini mata gadis chubby itu sudah mulai mengembun. Rasanya berat sekali melepas orang yang baru saja menjadi kekasihnya itu.


"Jangan bersedih aku ga akan lama" sambung tuan Sam lembut.


"Udah kak...jangan buat kita jadi obat nyamuk deh" celetuk nyonya Sarah yang membuat wajah Amira seketika memerah.


"Sirik aja kamu..." balas tuan Sam.


"Bram tolong jaga adikku ... jangan ulangi kesalahanmu yang lalu" kata tuan Sam menatap adik iparnya tajam.


"Iya kak... aku berjanji, dan terima kasih sudah memaafkanku dan memberiku kesempatan kedua" jawab tuan Bram.


"Ya sudah kalau begitu aku berangkat dulu" pamit tuan Sam.


Lalu ia dan Lukas pun beranjak menuju pesawat. Setelah pesawat yang membawa tuan Sam lepas landas nyonya Sarah dan tuan Bram pun langsung pulang ke rumah sedang Amira menjemput Anna dan Adit di sekolah dengan diantar pak sopir. Beruntung Amira sampai di sekolah tepat saat bel pulang sekolah berbunyi sehingga Anna dan Adit tak perlu menunggunya. Amira sengaja tak memberitahu kedua bocah itu tentang tuan Bram agar menjadi kejutan. Dan benar saja saat sampai di rumah keduanya sangat senang dapat bertemu kembali dengan papa mereka. Melihat kebahagiaan keluarga kecil itu membuat Amira sangat terharu.


"Semoga kalian selalu bahagia seperti ini..." do'a Amira dalam hati.


Malam itu keluarga nyonya Sarah tampak sangat bahagia saat makan malam. Maklum ini makan malam pertama mereka bersama setelah semua masalah yang terjadi.


Setelah menidurkan kedua anak asuhnya Amira pun melangkahkan kakinya ke kamar untuk beristirahat. Direbahkannya tubuhnya yang terasa lelah diatas tempat tidur setelah sebelumnya ia melaksanakan sholat isya'.


"Tuan Sam sudah sampai atau belum ya?" gumamnya dalam hati.


Melihat kebahagiaan keluarga nyonya Sarah mau tak mau membuat hati Amira tersentil. Ia jadi rindu pada tuan Sam. Namun ia tak berani menghubungi pria itu terlebih dahulu. Entah berapa lama ia hanya berguling diatas tempat tidurnya tanpa bisa memejamkan matanya sedetik pun. Rasa resah yang baru kali ini ia rasakan sudah membuatnya tak bisa tidur. Entah sampai jam berapa hingga akhirnya ia dapat tertidur. Namun tidurnya itu pun terganggu dengan suara ponsel yang tiba-tiba berdering di pagi buta.