BODYGUARD DADAKAN

BODYGUARD DADAKAN
Like Mother Like Daughter


Ayana dan Deni tidak dapat berkutik di dalam mobil bersama Jihan. Bukan tanpa sebab... ternyata di dalam mobil itu bukan hanya ada mereka bertiga tapi juga sudah ada dua pria dewasa lainnya yang bersembunyi di jok paling belakang. Dan kedua pria itu kini sudah mengarahkan sejata apinya pada kedua bocah yang duduk di kursi depan mereka.


"Bagaimana? kalian terkejut melihatku bisa bebas dengan cepat hem? kalian fikir hanya kalian yang memiliki orang yang akan membantu di saat sulit? aku juga punya... dan bisa aku pastikan jika orang yang mendukungku itu lebih kuat dari orang yang telah membantu kalian" ucap Jihan sambil terkekeh.


Ayana dan Deni hanya terdiam. Bukan apa-apa... keduanya tengah berfikir bagaimana caranya agar bisa terlepas dari ketiga orang jahat itu. Sementara di belakang mobil tampak Sadira sudah mulai mendekati mobil yang dibawa oleh Jihan. Dan dengan gerakan nekat gadis itu pun langsung memacu motornya agar bisa mendahului mobil Jihan. Sekilas ia dapat melihat wajah-wajah yang berada di dalam mobil itu saat ia melewati mobil Jihan dari samping. Meski kaca jendela mobil itu tertutup namun ternyata mobil itu tidak menggunakan kaca film sehingga Sadira masih bisa melihat ke dalam mobil meski tidak terlalu jelas.


Sadira terus mempercepat laju motornya hingga mendahului mobil Jihan. Dan setelah mendapat jarak yang cukup jauh meninggalkan mobil Jihan, Sadira menghentikan motornya di tengah jalan. Untung saja jalanan itu sepi karena berada di daerah pinggiran hutan. Dan dengan tenang gadis itu pun turun dari motornya dan bersiap untuk menghentikan laju mobil Jihan yang sudah semakin dekat.


Sementara itu di tempat lain tampak tuan Sam dan Amira dibuat syok dengan berita yang baru saja mereka dengar. Bagaimana tidak, putri bungsu mereka kini sudah menjadi trending topic di seluruh media baik televisi maupun online. Bukan hanya gambar-gambar tapi juga siaran langsung yang memperlihatkan aksi gadis itu saat menerabas berbagai rambu lalu lintas demi mengejar sebuah mobil. Tuan Sam langsung bisa menduga jika itu mobil yang telah menculik Ayana dan Deni.


"Db... bagaimana ini? Dira belum punya SIM, dan dia sudah...." ucap Amira sambil memegangi dadanya pertanda ia sangat terkejut.


"Tenanglah Meyaa..."


"Bagaimana aku bisa tenang Db... dia baru 15 tahun dan dia sudah..."


"Dia itu seperti dirimu Meyaa... ingat?" potong tuan Sam mengingatkan Amira saat dirinya mengendarai moge dan hendak menyelamatkan nyonya Sarah.


"Tapi saat itu situasinya genting Db..." sahut Amira tak mau kalah.


"Saat ini Sadira juga dalam situasi genting Meyaa... sahabatnya sedang diculik, dan seperti dirimu dulu... dia juga tidak akan membiarkan orang yang disayanginya terluka..." terang tuan Sam lembut sambil memeluk istrinya itu.


Ia tahu, Amira menjadi sangat protektif jika itu menyangkut tentang anak-anaknya. Terutama Sadira. Dia bagai duplikat dirinya jika soal keras kepala dan juga keberaniannya. Karena itulah Amira begitu memperhatikan putrinya takut jika gadis itu salah pergaulan dan berbuat kesalahan. Bukannya ia tak memperhatikan kedua putra kembarnya... tapi memang sebagai orangtua tugas menjaga seorang putri tentu lebih berat karena salah sedikit saja maka akan jadi penyesalan seumur hidup.


Sahir dan Samir yang sedang berkumpul dengan teman kuliah mereka pun tak kalah terkejut saat salah satu temannya memperlihatkan rekaman seorang cewek bar-bar yang ngebut di jalanan. Tentu saja... sebab cewek bar-bar yang mereka bicarakan adalah adik mereka Sadira. Tanpa ba bi bu... kedua kakak Sadira itu pun langsung menyusul sang adik dengan menggunakan mobil.


"Apa kau tahu kenapa anak mama itu bisa berbuat nekat seperti ini Sam?" tanya Sahir pada saudara kembarnya itu sambil mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


"Pasti karena temannya itu kak..." sahut Samir sambil memeriksa GPS untuk mengetahui dimana lokasi sang adik kini berada.


"Ck... gadis itu sungguh merepotkan selalu saja membuat Dira berbuat nekat..." sungut Sahir sambil terus melajukan mobilnya.


Ya... Sahir memang kurang menyukai Ayana karena sejak mengenal gadis itu adiknya yang tipe gadis rumahan jadi berani melakukan hal-hal yang tidak pernah dilakukan sebelumnya... seperti nekat berbohong dan pergi ke club. Meski kedua gadis itu pergi ke sana bukan untuk bersenang-senang, tapi tetap saja hal itu sangat beresiko bagi keduanya yang baru berusia 15 tahun. Jika ada yang bertanya mengapa Sahir bisa mengetahui hal itu padahal tuan Sam sama sekali tidak pernah memberitahukan hal itu pada keluarganya, maka itu karena tidak sengaja ia memergoki sang adik saat keluar dari dalam club.


Sedang dia saat itu tengah mengendarai mobilnya sepulang dari kosan temannya untuk mengerjakan tugas kuliahnya. Dan tanpa fikir panjang saat itu ia pun langsung mengikuti sang adik yang terlihat menaiki taksi bersama Ayana. Dan ia pun semakin terkejut saat melihat kedua gadis itu malah pulang ke sebuah kosan. Saat melihat ada mobil sang ayah yang terparkir di depan kosan kedua gadis itu akhirnya Sahir tahu jika sang ayah pasti juga mengetahui kelakuan keduanya. Meski tahu jika sang ayah sudah turun tangan maka tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi, tapi Sahir masih penasaran dengan alasan sang adik bisa berbuat senekat itu. Maka dari itu diam-diam ia pun mendekat dan mencuri dengar apa yang dibicarakan oleh sang ayah dengan Sadira dan Ayana.


Dan setelah tahu alasan keduanya berbuat nekat seperti itu membuat Sahir salut atas rasa setia kawan yang dimiliki oleh sang adik. Meski pun jika di rumah Dira terlihat sangat manja sebagai anak bungsu, namun saat dihadapkan pada masalah gadis itu seketika berubah menjadi dewasa. Ia juga merasa iba pada nasib sahabat adiknya itu yang memiliki masalah rumit dalam keluarganya. Di tempat Sadira... tampak gadis itu tengah bersiap melakukan sesuatu saat melihat mobil yang membawa Ayana dan Deni mendekat.


"Bersiap-siaplah nenek sihir... kali ini kamu tidak akan lolos..." desis Sadira sambil mencengkram sebuah batu yang tadi sempat ia ambil dipinggir jalan.


Bukan batu kerikil... tapi batu sebesar genggaman orang dewasa. Meski terlihat feminim, namun Sadira cukup mahir dalam pelajaran olah raga. Dan saat ini ia tengah mempraktekkan cabang tolak peluru. Karena ia tak memiliki senjata api, maka ia fikir melemparkan batu akan cukup membuat orang yang mengemudikan mobil yang membawa sahabatnya itu terkejut dan berhenti.


Saat melihat mobil yang membawa sahabatnya itu mendekat, Sadira mulai melakukan ancang-ancang. Dengan memutar tubuhnya ia pun mulai melemparkan batu yang tadi digenggamnya itu ke arah kaca depan mobil. Dan...


Praakk!


Kaca depan mobil itu pun langsung pecah dan Jihan yang sedang menyetir pun tampak kaget hingga mobil yang dikendarainya pun oleng dan Jihan langsung mengerem mobilnya dan langsung berhenti di pinggir jalan. Hal ini membuat penumpang yang duduk di belakang pun terantuk ke depan. Hal ini tidak di sia-siakan oleh Ayana dan Deni. Kedua kakak beradik itu langsung membuka pintu samping dan keluar dari dalam mobil. Melihat ada yang keluar dari dalam mobil, Sadira langsung mengenali sebagai Ayana dan Deni.


"Ay!" panggil Sadira sambil melambaikan tangannya pada Ayana.


Melihat jika Sadira ada disana, Ayana pun langsung menarik tangan Deni dan mengajaknya berlari ke arah Sadira. Melihat itu, Sadira langsung kembali ke motornya dan mulai menghidupkannya. Ayana dan Deni pun langsung membonceng Sadira. Tak menunggu lama, Sadira pun langsung tancap gas begitu kakak beradik itu berhasil membocengnya.


Sementara Jihan yang tadi sempat terantuk stir mobil, mulai bisa menguasai dirinya. Kedua anak buahnya yang tadi juga sempat terantuk jok yang ada didepan mereka pun terlihat mulai sadar dari rasa terkejutnya.


"Heh... dimana kedua anak itu?" tanya salah satu anak buah Jihan.


Dan saat melihat pintu samping yang terbuka, ketiganya pun yakin jika kedua anak itu sudah melarikan diri.


"Dasar bodoh! menjaga dua anak kecil saja tidak becus!" seru Jihan jengkel.


"Sial! berani sekali mereka..." seru Jihan geram.


Dengan cepat ia pun menjalankan mobilnya dan menyuruh salah satu orang suruhannya itu untuk pindah ke depan.


"Cepat tembaki mereka!" perintahnya saat salah satu anak buahnya itu saat sudah berhasil pindah di sampingnya.


Tak membantah pria itu pun lalu mengeluarkan sebagian tubuhnya melalui jendela mobil. Kemudian ia pun mulai menembaki ketiga orang yang tengah berboncengan mengendarai motor di depannya itu.


Dor!


Dor!


Dor!


"Kakak!" teriak Deni ketakutan saat mendengar suara letusan senjata.


Bocah sepuluh tahun itu tampak mengeratkan pelukannya pada perut sang kakak. Ayana pun langsung menangkup tangan sang adik dengan salah satu tangannya untuk memberikan rasa aman. Sementara tangan yang lain ia lingkarkan ke perut Sadira. Mendengar suara tembakan, Sadira pun tahu jika para penculik itu tengah mengejar mereka bertiga. Oleh karena itu ia pun langsung membelokkan motornya dan mengambil jalan menembus hutan. Tindakannya ini pun langsung diikuti oleh Jihan yang terus membuntuti ketiganya. Anak buahnya pun tak henti memuntahkan peluru dari senjatanya pada ketiga bocah yang ada di depannya.


Namun pengejaran mereka harus terhenti saat Sadira kembali berbelok dan mengambil jalan yang semakin sempit hingga mobil yang ditumpangi oleh Jihan dan anak buahnya tidak dapat menembusnya.


"B***g**k! kalian berani main-main dengan seorang Jihan?" umpatnya marah sambil keluar dari dalam mobilnya.


Anak buahnya pun ikut keluar dari dalam mobil dan langsung memeriksa tempat mereka berada.


"Mereka tidak mungkin bisa menggunakan motor itu sampai jauh nona..." kata salah satu anak buahnya itu.


"Bagus! kita susul mereka dengan berjalan kaki!" sahut Jihan langsung melangkahkan kakinya di depan.


Di dalam mobil, Samir mendapati jika sang adik kini mengarah ke hutan melalui GPS yang terpasang di kalung Sadira. Ia pun langsung memberitahu sang kakak, dan mereka pun segera menuju ke sana. Di tempat lain, tuan Sam juga tengah menyusul Sadira dengan membawa Lukas dan yang lainnya. Amira yang semula bersikeras untuk ikut dengan tuan Sam pun akhirnya luluh untuk tetap tinggal dan menunggu di rumah setelah nyonya Sarah dan bu Dewi berhasil membujuknya. Bahkan keduanya bersedia menemani Amira. Begitu juga dengan Ara dan juga Anna. Keduanya langsung mendatangi kediaman Amira saat mengetahui tentang Sadira.


Di hutan...


Sadira berusaha untuk tetap melajukan motornya agar mereka bertiga bisa terlepas dari kejaran Jihan dan anak buahnya. Namun semakin lama jalan yang ia tempuh semakin sulit karena kini bukan jalanan mulus lagi yang ditemuinya. Melainkan jalanan tanah yang tak terjamah, bahkan sesekali Sadira menerabas tumbuhan semak dan akhirnya ia tak bisa lagi mengendalikan motornya saat salah satu lengannya tersenggol batang pohon yang melintang dan melukai lengannya itu, sehingga motor yang dikendarainya pun oleng dan akhirnya ketiga bocah itu pun terjatuh dari atas motor.


Sedangkan motor yang mereka kendarai masih saja berjalan terseok meski sudah tak lagi ditunggangi pengendaranya.


Sreek!


Brak!


"Augh!"


"Aarrgh!"


"Aaaahhh!"


Seru ketiga bocah itu bersamaan saat tubuh mereka membentur tanah dan juga semak-semak.


Hening....


"Kalian tidak apa-apa?" tanya Sadira yang terlebih dahulu bisa terbangun dari jatuhnya.


"Tidak apa-apa... kami tidak apa-apa..." sahut Ayana setelah memeriksa tubuh adiknya yang ternyata hanya menderita luka ringan begitu juga dengan dirinya.


"Alhamdulillah..." ucap Sadira bersyukur mereka selamat setelah terjatuh dari motor tadi.


"Kita harus segera pergi dari sini... mereka pasti akan menyusul kita..." sambung Sadira, mengajak Ayana dan Deni untuk segera pergi agar tidak ditemukan oleh Jihan dan anak buahnya.